
Dia datang dengan senyuman manisnya, dan tawa yang indah, membuat sekelilingnya merasakan kebahagiannya. Dia makhluk kecil dan polos, bagaikan malaikat tak bersayap. Dia adalah Arabela Laetitia yang artinya anak perempuan yang membawa kebahagian. Dia putri dari mama Almira Laetitia.
Ara,panggilannya, sosok gadis kecil yang kini beranjak umur lima tahun. Memiliki rambut sebahu yang kecoklatan, mata hitam dan senyuman yang indah memikat hati. Dan dia tumbuh dengan baik bersama Almira.
Almira laetitia adalah single mother.Dia hanya hidup bertiga bersama bibi Emma. Saat dia berangkat kuliah, Ara bersama bibi Emma.Bibi Emma lah yang membantu mengasuh dan mengurus rumah. Dan selain menjadi mahasiswa,dia juga berkerja paruh waktu, untuk memenuhi kebutuhan anaknya dan dirinya. Dia nggak bisa,selalu mengandalkan uang tabungannya, lama-kelamaan uangnya akan habis.
Ara menjadi motivasi bagi Almira untuk mencapai kesuksesannya. Dia tak ingin anaknya kekurangan apapun. Sebisa mungkin,Almira memberikan yang terbaik untuk putri kecilnya.
Saat ini,rumah Almira penuh dengan canda dan tawa. Diandra datang bersama orang tuanya. Ini adalah pertemuan pertama bagi Paman dan Bibi dengan cucunya,Ara. Hanya Diandra yang sering bertemu dengan Ara,karena pekerjaan.
Di ruang tamu,ada Diandra, Paman dan Bibi menemani Ara bermain.Keseruan meraka, terdengar di ruang dapur. Almira tersenyum,mendengar keluarganya begitu bahagia. Dan Ara menjadi hiburan bagi mereka karena kelucuannya. Suasana hati Almira kian membaik,setelah kepulangannya.
Di ruang dapur, Almira dan bibi Emma sedang menyiapkan makan malam.Setelah beberapa jam berkutat di dapur, akhirnya makanan tersaji di meja makan.
Almira berteriak memanggil mereka, "Makanan siap... "
Mereka yang berada di ruang tamu,berhenti aktifitas setelah mendengar suara Almira.
Ara berlarian menuju keruang makan, dibelakangnya ada Diandra yang mengikutinya. Keponakan Diandra memang sangat aktif, jadi ada aja tingkah yang Ara lakuin.
" Araa... Jangan larian dong, " teriak Diandra yang mengikuti keponakannya.
Bukannya berhenti,Ara hanya ketawa mendengar teguran dari tante Diandra. Dia semakin berlari menuju Almira. Dia memeluk kaki Almira yang sedang berdiri menyiapkan makan malam.
"Sweety, hati-hati," kata Almira.
"Hehehe.. Iya mom." jawabnya.
Kemudian,Almira mendudukkan Ara di kursinya. Menyiapkan makanan untung Ara.Paman dan bibi sudah berada di kursi masing-masing, begitu juga dengan Diandra. Di susul bibi Emma dan Almira.
"Selamat makan. Paman. Bibi ," ujar Almira.
Semua orang makan dengan hening. Hanya terdengar dentingan piring. Di keluarganya, aturan saat makan tak boleh berbicara. Karena lebih baik makan dengan tenang, kalau sambil berbicara takutnya tersedak makanan.
Setelah acara makan, semua berkumpul di ruang tamu. Berbincang-bincang dengan nyaman dan santai.Hingga tak sadar, langit berubah menjadi gelap gulita. Paman, Bibi dan Diandra pamit pulang. Diandra, sudah tidak lagi tinggal di rumah Almira, karena dia harus menemani ibunya agar tidak kesepian.
"Sayang,tante pulang dulu,ya. Makasih untuk makan malamnya, " kata Bibi Sasa sambil memeluk Almira.
Almira tersenyum dengan Bibi sasa dan membalas pelukannya.
"Bye-bye, Kak." Diandra melambaikan tangan.
Sedangkan, Paman Sam masih berada di sebelah Almira. Dia tersenyum kepada Almira. Membelai pucuk rambut Almira dengan punuh kasih sayang.
"Welcome Home, Almira. Jangan pergi lagi, Ya nak," ucap Paman sam dengan lirih.
Mata Almira mulai berkaca-kaca mendengarnya. Bagi dia ,Paman Sam adalah sosok pengganti Ayahnya. Ayah yang selalu ia rindukan. Almira memeluk Paman Sam dengan erat. Tak kuat menahan Air mata, Almira menangis di pelukannya.
"Sudah...Sudah... Jangan menangis lagi. Sudah jadi mama kok cengeng"
Dengan wajah cemburut, Almira merajuk "Ish... Paman kok gitu!Salah Paman buat aku melow. "
"Kok, jadi salah paman," keluh paman sam. Melihat tingkah keponakannya,Paman Sam hanya tersenyum.
"Sana masuk.Paman pulang. Kamu hati-hati di rumah. "
"Siap paman, "jawab Almira dengan semangat. Almira tersenyum dengan Paman Sam,kemudian melambaikan tangan kearahnya.
"Hati-hati, Paman... "
"Iya..."
Akhirnya paman pergi menuju mobilnya. Almira masih berada ditempatnya, melihat paman sudah masuk ke mobilnya. Almira melambaikan tangannya kearah mobil, Diandra membalas dengan melambaikan tangan.
Almira memasuki rumahnya, setelah mobil mereka sudah melaju. Dia mengunci pintu, dan berjalan menuju kamarnya.Di kamarnya, sudah ada Ara tertidur dengan pulas. Perjalanan jauh membuat dia menjadi lelah. Almira menutup pintu kamarnya, kemudian menyusul Ara di sampingnya.
Di belai wajah Ara dengan penuh sayang. Raut wajahnya berubah menjadi sendu, seperti ada yang mengganggu pikiran Almira.
"Kenapa, kamu mirip sekali dengan Ayahmu, nak..." ujarnya dengan lirih
"Padahal, mama yang mengandung kamu,Sayang."
Almira tersenyum,melihat putrinya yang begitu mirip dengan ayahnya. Padahal, dia yang mengandung selama sembilan bulan.
Raut wajahnya terlihat kelelahan,dan kantuk mulai menyerangnya. Dia mencoba memejamkan matanya. Suasana berubah menjadi hening. Kini Almira sudah berada di mimpinya, menyusul anaknya.