
Morgan tidak terlalu peduli dengan kehadiran Lukas saat itu. Pria yang menjadi orang kepercayaannya kini telah mengambil alih untuk menghalangi Lukas. Dengan wajah tenang dan santai, Morgan masuk ke dalam lift. Ada senyum licik yang terukir di bibir pria itu sebelum pintu lift tertutup rapat.
Lukas memperhatikan keadaan sekitar. Gedung itu adalah lantai bawah dari sebuah apartemen berlantai 30. Lukas terus saja mengumpat di dalam hati. Di depan matanya, wanita yang ia cintai pergi bersama dengan pria lain. Ia cukup yakin kalau Morgan sudah merencanakan rencana buruk untuk Lana.
Satu tembakan di lepaskan oleh bawahan Morgan. Pria itu terus saja berusaha mencelakai Lukas. Beberapa pasukan Morgan juga keluar dan mulai melakukan penyerangan kepada Lukas.
“Sia*l! Aku harus segera masuk ke dalam lift itu. Tidak ada waktu lagi,” umpat Lukas sebelum melayangkan beberapa peluru miliknya ke arah tubuh musuh. Tembakan jitu Lukas berhasil menancap dan melumpuhkan lawannya.
Lukas melawan satu persatu pasukan Morgan yang memang berusaha menghalanginya. Pria itu terlihat kesulitan menghadapi sejumlah pria bersenjata api yang kini mengincar nyawanya. Walaupun dengan gerakan cepat dan linca Lukas berhasil menghindari peluru-peluru yang mengincarnya. Namun, ia memiliki kesulitan untuk masuk ke dalam lift dan mengejar Morgan.
Tidak hilang akal, Lukas berlari menuju tangga. Mungkin cukup mustahil bagi semua orang untuk tiba di lantai 30 dengan menggunakan tangga. Tapi, bagi Lukas. Tidak ada yang mustahil. Ia terus berjuang keras untuk menyelamatkan Lana dan membawa wanita itu kembali ke sisinya. Hanya tangga yang tidak di jaga dan di halangi oleh pasukan Morgan saat itu.
“Kejar dia!” teriak tangan kanan Morgan sambil terus mengeluarkan tembakan.
Lukas menjejaki anak tangga dengan gerakan cepat. Lorong yang ia masuki adalah lorong yang di penuhi pintu. Lukas terus berjalan menjejaki anak tangga. Pria itu mengincar lift yang ada di lantai lima agar bisa segera tiba di lantai tertinggi tempat Lana dan Morgan kini berada.
DUARRR DUARRR
Suara tembakan itu seakan tiada henti. Dari bawah tangga, peluru-peluru berwarna emas itu terus mengejarnya. Kali ini Lukas memang telah mengalami kesulitan yang cukup serius.
***
Inggris.
Zeroun dan yang lainnya makan malam di sebuah restoran berbintang yang ada di pusat kota London. Wajah semua orang terlihat ceria dan berseri. Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi kota London seharian, malam ini mereka semua memutuskan untuk menginap di rumah milik Daniel yang ada di London.
“Sayang, apa kau mau mencobanya?” ucap Daniel sambil menyuapi Serena dengan potongan daging yang ada di garpu.
Emelie mengukir senyuman indah. Kemesraan Daniel dan Serena memang selalu membuatnya iri. Walaupun suami yang ia miliki juga terkadang terlihat sangat mesra dan cukup perhatian. Emelie mencengkram garpu dan pisau. Tiba-tiba saja Zeroun menarik tangan kanannya. Dengan gerakan spontan, Emelie menjatuhkan pisau yang baru saja ia genggam.
“Sayang, kau mau mencobanya?” ucap Zeroun dengan nada yang cukup lembut. Tangan kiri Zeroun mencengkram tangan kanan Emelie sebelum tangan kanannya mendaratkan satu suapan. Pria itu mengukir senyuman indah sambil memperhatikan wajah cantik istrinya.
Daniel berdehem sambil meledek, “Apa kau tidak punya cara lain untuk merayu istrimu selain meniru gayaku?”
Kenzo yang terlihat serius mengunyah makanannya terlihat menahan tawa. Pria itu menggeleng pelan sebelum memasang wajah tidak peduli. Sudah cukup baginya untuk meledek Zeroun maupun Daniel. Malam itu Kenzo ingin segera menyelesaikan makan malamnya agar bisa segera pulang dan beristirahat.
“Emelie, besok kami akan kembali ke Sapporo. Maafkan kami karena tidak bisa berama-lama di sini.” Serena mengukir senyuman manis.
“Kenapa harus besok? Ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi bersama dengamu, Serena.” Emelie memasang wajah sedih karena besok ia akan berpisah dengan sahabat terbaiknya.
“Maafkan aku. Lain kali kami akan berkunjung lagi,” jawab Serena sambil memandang wajah Zeroun, “Atau kau bisa mengunjungi kami di Sapporo.”
Emelie menghela napas kasar, “Aku bahkan tidak memiliki waktu luang untuk berbulan madu dengan suamiku.”
Zeroun mengukir senyuman, “Kami akan berkunjung ke Sapporo setelah semua masalah di sini selesai.”
Serena dan yang lainnya kembali melanjutkan makan malam mereka. Mereka tidak ingin berlama-lama di momen makan malam itu. Ada Baby Al dan baby El yang sudah menunggu di rumah. Restoran yang mereka kunjungi memang berada tidak jauh dari rumah Daniel.
Serena mengotak-atik ponsel miliknya. Wanita itu ingin menghubungi baby sister yang kini menjaga kedua buah hatinya. Ia tidak pernah bisa merasa tenang sebelum mendengar kabar tentang buah hatinya.
“Serena, sebaiknya kita segera kembali ke rumah itu. Aku juga sangat mengkhawatirkan baby Al dan baby El. Walaupun baru saja berjumpa dengan mereka setengah jam yang lalu,” ucap Emelie sebelum meneguk air putih.
“Ya. Sepertinya kita harus segera kembali,” ucap Serena sambil beranjak dari duduknya.
Zeroun mengetuk-ngetuk meja dengan perasaan aneh. Entah kenapa, pria itu merasa kalau sesuatu telah terjadi kepada Lukas. Dua pria itu memang sudah memiliki ikatan batin. Jika salah satu dari mereka terluka maka yang lainnya akan tahu.
“Sayang, ayo,” ajak Emelie sambil memegang pundak Zeroun. Wanita itu cukup bingung saat melihat wajah Zeroun yang tiba-tiba saja melamun.
Zeroun menatap wajah Emelie sebelum beranjak dari duduknya. Pria itu memandang Serena dan yang lainnya yang sudah berjalan mendekati pintu. Wajahnya kembali cemas saat pikirannya di penuhi nama Lukas.
“Zeroun Zein, siapa yang kau pikirkan?” tanya Emelie dengan wajah penasaran. Ia tahu kalau kini ada yang mengganggu pikiran suaminya.
“Lukas,” jawab Zeroun singkat, “Mungkin hanya perasaanku saja karena dia biasa ada di sampingku selama ini.”
“Kau merindukan Bos Lukas?” ledek Emelie sebelum merangkul lengan kekar Zeroun.
Zeroun tertawa kecil, “Bukankah dia pria yang cukup sulit untuk di lupakan?”
“Ya, kau benar. Dia pria dingin yang cukup sulit di lupakan karena terlalu menyebalkan. Senyumnya sangat mahal. Bahkan suaranya juga sangat langkah untuk di dengar. Ia lebih sering mengatakan. Iya, Bos. Siap, Bos.” Emelie mempraktekkan gaya bicara Lukas dengan ekspresi lucunya.
“Aku rasa ia sedang istirahat malam ini. Aku akan menghubunginya besok pagi.” Zeroun mengukir senyuman sebelum membawa Emelie menuju ke arah mobil. Walau detik itu hatinya sangat ingin menghubungi Lukas, tapi ia masih mengurungkan niatnya. Ia cukup tahu kalau kini adalah jam istirahat bagi semua orang yang ada di Hongkong.
.
.
.
Kira-kira Zeroun turun tangan gak sama masalah Lukas? Dia kan udah jadi Pangeran, gak bisa suka-suka hati lho…
Ok, Vote yang banyak dan terima kasih buat like dan komennya. Author sayang reader.