Moving On

Moving On
Misi Penyelamatan



Zeroun dan yang lainnya telah bersiap di depan kantor polisi. Lelaki itu bersandar di depan mobil sambil memeriksa senjata yang ia bawa. Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Zeroun sengaja memilih jam tengah malam agar kantor polisi tidak terlalu ramai. Zeroun dan yang lainnya menggunakan masker dan topi sebagai bentuk penyamaran mereka.


“Apa semua sudah siap?” ucap Kenzo sambil memasukkan peluru ke dalam pistolnya. Lelaki itu memandang wajah Lana dan Lukas yang berdiri tidak jauh dari posisinya berdiri.


“Sudah, Bos,” ucap Lukas dan Lana secara bersamaan.


“Kita akan menyerang setelah kebakaran itu terjadi. Anak buahku akan membuat satu keributan di halaman depan,” ucap Kenzo sambil memandang wajah Zeroun yang terlihat tenang dan santai memperhatikan gedung kantor polisi.


“Kita akan mulai sekarang,” ucap Zeroun sambil berjalan beberapa langkah ke depan. Anak buah Kenzo segera berlari untuk menyerang dan membuat keributan malam itu.


Suara tembakan terdengar di setiap penjuru. Malam itu semua polisi harus di kagetkan dengan kemunculan api yang datang secara tiba-tiba dan tembakan yang memba**bi buta dari rombongan Zeroun.


Tidak menunggu terlalu lama, bagian samping gedung terbuka dan memberi jalan kepada Zeroun dan Kenzo. Sedangkan Lukas dan Lana, berjuang di depan untuk mengalihkan perhatian polisi agar tidak menghalangi Zeroun dan Kenzo di dalam.


Kenzo mengeluarkan kunci yang sudah ia persiapkan sejak awal. Lelaki itu sengaja membebaskan narapidana lainnya agar tidak menimbulkan kecurigaan atas pembebasan Agen Mia dan Inspektur Tao.


“Mereka ada di pintu selanjutnya,” ucap Kenzo penuh semangat sebelum menekan tombol otomatis yang membuka pintu tahanan. Beberapa pria berbadan tegab keluar dari dalam penjara sambil memandang Kenzo dan Zeroun secara seksama.


Zeroun memutar tubuhnya dengan senyuman tipis, “Sepertinya aku bisa menjadikan mereka pasukan Gold Dragon yang baru.”


“Ide yang bagus,” ucap Kenzo sebelum melangkah ke pintu selanjutnya.


Lorong yang mereka masuki terlihat sunyi dan begitu dingin. Udara yang di hirup di lorong itu juga terasa menyesakkan dada. Para tahanan yang ada di lorong itu tidak bisa terlihat secara langsung karena tertutup besi hitam yang kusam. Ada jendela kecil yang bisa menjadi tempat mengintip para tahanan atas sosok pengunjung yang datang. Kenzo tidak berhasil mendapatkan informasi di mana letak Agen Mia dan Inspektur Tao berada.


“Kita harus memeriksa satu per satu,” ucap Zeroun sambil berjalan pelan melihat satu persatu tahanan yang ada di dalam penjara.


“Tidak bisa, kita tidak punya banyak waktu,” protes Kenzo sambil mengeryitkan dahi.


“Tapi, di lorong ini penjara dari penjahat yang cukup berbahaya. Jika salah orang kita bisa membebaskan musuh kita sendiri,” ucap Zeroun dengan wajah serius.


Beberapa polisi muncul dengan puluhan tembak ke arah Zeroun dan Kenzo. Dua lelaki itu segera melawan agar tidak tertangkap di dalam lorong. Mereka mundur sambil memperhatikan setiap jendela kecil yang mereka lewati.


“Agen Mia di sebelah sini,” ucap Zeroun. Lelaki itu meminta kunci yang di pegang oleh Kenzo.


Kenzo melempar kunci yang ada di genggamannya. Lelaki itu masih fokus dengan tembakannya kepada gerombolan polisi yang kini menyerang. Ia juga menghalangi tembakan yang ada agar tidak mengenai tubuh Kakak iparnya.


Zeroun membuka pintu yang menghalangi kebebasan Agen Mia. Wanita itu berbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ada sejumlah luka di sekujur tubuhnya. Mulut dan hidungnya juga mengeluarkan darah yang sudah hampir mengering.


Zeroun belum mau mengangkat tubuh Agen Mia. Lelaki itu memandang polisi yang jumlahnya semakin bertambah, “Kenzo, tidak ada cara lain selain membuka semua sel tahanan di lorong ini.”


Kenzo memutar kepalanya, “Kau pria yang sungguh merepotkan Kakak ipar,” protes Kenzo kesal. Lelaki itu membuka lima pintu lebih dulu. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat wajah Inspektur Tao ada di salah satu pintu yang terbuka.


Empat pria dari empat pintu yang terbuka telah keluar dari dalam tahanan lalu berlari untuk kabur dari dalam penjara. Bahkan wajah narapidana itu tidak sempat di lihat Kenzo.


Setelah melihat polisi-polisi itu telah kalah, Kenzo berjalan masuk ke ruangan Inspektur Tao. Lelaki itu membopong tubuh inspektur Tao yang tidak sadarkan diri. Di bantu beberapa bawahan Kenzo yang baru saja tiba.


Zeroun memandang wajah Agen Mia. Lelaki itu memberi perintah kepada bawahan Kenzo untuk membawa Agen Mia keluar dari dalam penjara. Mereka ingin segera pergi sebelum kantor polisi itu roboh karena api.


Di halaman depan, Lukas dan Lana terus saja menembak untuk menahan polisi-polisi yang ada agar tidak masuk ke dalam ruangan yang kini di tempati Zeroun. Sepasang kekasih itu terlihat kompak dengan tembakan ahli mereka. Bibir mereka juga mengukir senyuman saat gerombolan tahanan keluar lalu membantu mereka mengatasi polisi-polisi itu.


“Sepertinya kita mendapat bantuan secara dadakan,” ucap Lana dengan bibir tersenyum manis.


“Tidak semua orang bisa kita biarkan bebas.” Lukas melirik wajah Lana sebelum mengukir senyuman. Lelaki itu terus saja menembak sambil menunggu wajah Zeroun dan Kenzo kembali muncul.


Lana menurunkan senjata apinya saat melihat sosok pria yang ia kenali berdiri dengan sorot mata menatapnya. Wanita itu mematung dengan debaran jantung yang tidak karuan. Tiba-tiba saja senjata api yang sempat ada di genggamannya terlepas dari genggaman tangannya.


Lana memandang kalung besi yang melingkar di leher lelaki itu. Masih ada mainan berbentuk kunci yang pernah ia berikan kepada lelaki itu. Kalung itu cukup sebagai tanda kalau lelaki itu tidak melupakannya. Tidak meninggalkannya dengan sengaja.


“Morgan,” ucap Lana dengan suara serak. Wanita itu segera memandang ke arah Lukas. Tapi, sepertinya Lukas tidak menyadari kalau Morgan ada di dalam gerombolan narapidana yang kabur. Wanita itu menekuk kepalanya dengan perasaan bingung. Ingin sekali ia memberi tahu Lukas tentang keberadaan Morgan saat ini. Namun, entah kenapa ia tidak berani mengatakannya sekarang.


Lana memandang senjata api yang kini mengarah langsung ke arah punggung pria yang ia kenali. Tepat sebelum Lukas menarik pelatuknya, Lana mengarahkan tembakan itu ke arah lain.


“Apa yang kau lakukan?” protes Lukas dengan wajah marah.


“Sebaiknya kita tidak memperdulikan narapidana yang kabur. Saat ini hal yang lebih penting adalah Inspektur Tao dan Agen Mia,” jawab Lana dengan wajah takut.


Lukas mematung melihat pembelaan yang di lakukan Lana malam itu. Lelaki itu hanya bisa menatap Lana dengan tatapan tidak terbaca. Ia tidak ingin mengeluarkan satu katapun karena tidak ingin berdebat di lokasi perang.


Dari suatu tempat, Morgan memperhatikan Lana dengan seksama. Lelaki itu mengukir senyuman kecil sebelum kabur dari kantor polisi itu. Beberapa pria berbadan tegab yang berstatus sebagai bawahannya mengikutinya dari belakang.


Pada saat yang bersamaan, api berkobar dengan begitu mengerikan. Kebakaran besar telah terjadi. Kenzo dan Zeroun juga muncul setelah kobaran api yang menyala-nyala. Dua lelaki itu segera berlari menuju ke arah mobil.


Lukas memandang Zeroun lalu berlari untuk menolong lelaki itu. Ia tidak lagi mau mengeluarkan kata. Semua yang di katakan Lana memang benar. Saat ini tujuan utama mereka adalah Inspektur Tao dan Agen Mia. Lukas tidak lagi ingin ambil pusing dengan narapidana yang juga berhasil kabur.


Lana hanya bisa diam dengan perasaan campur aduk. Wanita itu juga mengikuti langkah kaki Lukas dari belakang. Ia tahu kalau ia telah salah malam itu. Namun, Lana sendiri juga tidak tahu, kenapa tangan kirinya secara spontan terangkat untuk membela Morgan beberapa detik yang lalu. Ia cukup yakin, kalau sudah melupakan bahkan membenci Morgan.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku membelanya di depan Lukas. Aku bahkan tidak tega melihat Lukas menyakitinya. Sepertinya masalah hubungan kami kali ini cukup sulit di atasi. Kenapa aku harus selalu terjebak ke dalam kebohongan yang jauh lebih sulit lagi. Bagaimana caranya menjelaskan semuanya kepada Lukas?


.


..



Thor, kapan Zeroun dan Emelie nikah?


Sabar, karena gak bisa crazy up jadi alurnya sedikit lambat. Tapi ini action terakhir di season 1. Jadi kalian hanya tinggal nunggu part-part bahagianya.


Karena hubungan Lana, Morgan dan Lukas akan di bahas dia season 2.


Oiya, jangan lupa like, komen dan Vote. Terima kasih