
Emelie mengukir senyuman kecil. Tidak ada lagi wajah takut saat ini. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Tapi, dibalik hatinya yang hancur, ada perasaan ingin membalaskan dendam kepada Damian dan Adriana.
“Tembak wanita ini!” perintah Adriana dengan tangan terlipat di dada.
Seluruh pasukan Gold Dragon keluar dari persembunyiannya. Kini mereka tidak bisa lagi berdiam diri. Emelie sudah berada di posisi yang sangat berbahaya.
Adriana dan Damian terbelalak kaget saat melihat jumlah Gold Dragon yang jauh lebih banyak dari jumlah pengawal yang mereka miliki. Emelie memutar tubuhnya.
Memandang satu persatu wajah Gold Dragon. Wanita itu tidak kenal dengan wajah-wajah pria yang kini melindunginya. Namun, tato yang ada di tangan membuat Emelie kembali ingat dengan Gold Dragon.
Bentuk tato itu sama dengan tato yang ada di tubuh Zeroun. Berarti, mereka adalah Gold Dragon.
Emelie kembali tersenyum kecil. Kali ini keberuntungan berpihak kepadanya.
“Apa kalian masih memiliki rasa percaya diri untuk menang malam ini?” Emelie memasang wajah angkuh dengan tangan terlipat di dada. Sekuat mungkin ia hapuskan rasa kecewa yang kini memenuhi isi hatinya.
“Emelie, semua ini belum berakhir. Aku akan membalas semua perbuatanmu.” Damian menarik tangan Adriana. Membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
“Nona, apa kami harus menembak mereka?” tanya salah satu pasukan Gold Dragon.
“Jangan, biarkan mereka pergi dan tinggalkan Aku sendiri.”
“Baik, Nona.” Pasukan Gold Dragon menunduk sebelum pergi bersembunyi untuk melindungi Emelie secara diam-diam lagi.
Emelie berjalan ke ujung gedung dengan wajah sedih. Semua kejadian malam itu membuat pikirannya benar-benar kacau. Rencana liburan dan bersenang-senang yang ia bayangkan seakan hilang begitu saja.
“Kenapa kau harus membohongiku Zeroun? apa kau sudah tahu sejak awal hubungan Damian dan Adriana? kenapa kau tidak menceritakan semua ini padaku?”
Emelie memandang lautan dari ketinggian gedung itu. Pikirannya terbang kemana-mana. Lamunannya pecah saat Emelie mendengar suara sepatu yang berjalan mendekatinya.
“Emelie, apa kau baik-baik saja?” tanya Zeroun dengan wajah khawatirnya.
Emelie tidak ingin memutar tubuhnya. Wanita itu masih kesal dengan sifat kekasihnya yang jelas-jelas telah membohonginya. Di tambah lagi, kedekatan Zeroun dengan wanita yang ada di club tadi. Membuat Emelie benar-benar marah malam itu.
“Emelie ....” ulang Zeroun saat ia tidak mendengar jawaban dari bibir kekasihnya.
“Hei.” Zeroun menyentuh pundak Emelie hingga membuat tubuh Emelie berputar dan menghadap ke Zeroun. Tidak ingin memandang wajah Zeroun, Emelie memilih untuk menundukkan wajahnya.
“Kau marah padaku?” Zeroun menunduk untuk mengintip wajah Emelie.
“Kau sudah membohongiku, Zeroun.” Emelie masih tetap menunduk.
Zeroun mengangkat tubuhnya. Memberi perintah kepada Lana dan Lukas untuk menunggu di bawah. Dua pengawal setianya itu menunduk sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
“Emelie, Aku tidak membohongimu.”
“Kau berbohong!” Emelie masih belum mau menatap wajah Zeroun. Kini wanita itu menggenggam dresnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kau berselingkuh dan berbohong padaku.” Emelie menurunkan tangan Zeroun dengan kasar. Wanita itu tidak ingin Zeroun menyentuh tubuhnya.
“Kau menyebalkan,” sambung Emelie sambil berlalu pergi meninggalkan Zeroun di tempat itu.
Zeroun menarik napasnya dengan kasar. Memijat dahinya saat kepalanya sedikit pusing. Tidak banyak bicara lagi, Zeroun mengikuti jejak langkah Emelie dari belakang. Sepertinya Zeroun mengurungkan niatnya untuk merayu Emelie malam ini. Ia sangat tahu, kalau suasana hati Emelie kini sedang tidak baik. Zeroun memberi waktu kepada Emelie untuk menenangkan pikirannya.
Emelie masuk kedalam lift. Wanita itu ingat dengan perkataan Zeroun kalau malam ini mereka akan kembali ke rumah persembunyian. Dengan wajah kesal, Emelie menekan lantai 1 saat berada di dalam lift. Di sampingnya sudah ada Zeroun yang kini hanya diam memandang wajahnya. Putri kerajaan itu tidak peduli. Ia tetap menyimpan rasa kesal atas sikap Zeroun.
Pintu lift terbuka. Emelie keluar dari lift itu dengan langkah yang gusar. Ia terus saja berjalan ke arah parkiran dan meninggalkan Zeroun jauh di belakang.
Di depan mobil. Lana dan Lukas sudah berdiri dengan wajah yang dipenuhi luka. Emelie kembali ingat dengan Zeroun. Sejak tadi, ia belum melihat keadaan kekasihnya itu. Dengan wajah gengsi, Emelie memutar tubuhnya untuk melihat wajah Zeroun. Hatinya sedikit lega saat melihat pria yang ia cintai kini baik-baik saja.
Zeroun tersenyum memandang wajah Emelie, “Ayo kita pulang.”
Lukas membuka pintu mobil. Dengan bibir cemberut Emelie masuk kedalam mobil. Zeroun berjalan ke arah bangku kemudi. Pria itu merasakan lelah yang luar biasa. Namun, mereka harus segera pergi meninggalkan kota Rio. Kini, aparat kepolisian Kota Rio sedang mencari keberadaannya. Zeroun tidak ingin tertangkap oleh polisi.
“Maafkan Aku,” ucap Zeroun pelan sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Emelie masih tidak peduli. Wanita itu membuang tatapan matanya keluar jendela.
Lukas dan Lana juga masuk kedalam mobil dan mengikuti mobil Zeroun dari belakang. Beberapa pasukan Gold Dragon sebagian sudah ada yang tiba di rumah. Sebagian lagi masih dalam perjalanan.
Lukas mengotak-atik ponselnya dengan senyum kecil. Setidaknya malam ini mereka berhasil menyelesaikan misi kedua. Kini Heels Devils akan mempercepat penyerangan gudang senjata itu. Sesuai dengan rencana Zeroun. Jesica akan memiliki pemikiran kalau Zeroun juga menginginkan chip berharga itu.
“Apa Nona Emelie baik-baik saja?” Lana memandang Lukas yang terlihat asyik dengan ponselnya. Melihat tidakada respon dari Lukas, membuat wanita itu kesal.
“Kau bisa membuatku celaka jika menyetir dengan cara seperti itu,” protes Lana.
Lukas melirik Lana sebelum memandang jalan depan. Ponselnya ia masukkan ke dalam saku.
“Semua akan baik-baik saja. Nona Emelie hanya salah paham.” Lukas tidak tahu, kalau kini Emelie bukan hanya marah karena wanita itu. Putri kerjaan itu marah karena Zeroun telah membohonginya.
“Kenapa kita tidak jujur saja? apapun yang terjadi, wanita tidak ingin dibohongi oleh pria yang ia cintai.”
Tiba-tiba saja perkataan Lana membuat Lukas berpikir dua kali. Ya, baru kali ini Bos Gold Dragon itu tidak jujur kepada wanitanya. Sangat berbeda dengan sikap Zeroun yang selalu terbuka dan jujur kepada wanita sebelumnya. Kini, ada rasa ragu di dalam hati Lukas, kalau bosnya itu benar-benar mencintai Emelie.
“Kenapa Kau diam saja?” Lana memecah lamunan Lukas.
“Diam dan jangan ikut campur. Apa Kau mengerti? atau Aku harus menulisnya di keningmu agar kau tidak melupakan kalimat itu. He?” Lukas mengangkat satu alisnya.
“Tidak, tidak.” Lana memalingkan wajah ke arah luar. Wanita itu tidak lagi ingin mencari masalah dengan Lukas.
Lukas menambah laju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jarak mobilnya sudah semakin jauh dengan mobil Zeroun saat ini. Dengan wajah dingin, kini Lukas kembali fokus pada laju mobilnya.
Lana memejamkan matanya untuk melepaskan rasa lelahnya. Perjalanan dari kota Rio menuju markas memakan waktu sekitar dua jam. Lana ingin memanfaatkan waktu dua jam itu untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Like, Komen, Vote.