
Adriana tidak terlihat takut sama sekali. Wanita itu justru tertawa dengan begitu ceria saat mendengar perintah yang diberikan oleh Emelie. Pengawal-pengawal itu juga tidak bergerak. Mereka hanya berdiri diam di posisi berdirinya.
Emelie menatap satu persatu bawahannya. Ada perasaan yang beda saat itu. Aura pengawal-pengawal itu tidak lagi sama. Dengan cepat, Emelie melebarkan kedua bola matanya. Wajah pengawal yang kini berdiri bukan lagi pengawal setianya.
“Anda kaget, Putri?” Adriana berjalan mendekati Emelie.
“Aku sudah membunuh semua orang yang berusaha melindungimu. Jika mereka ingin tetap hidup, mereka harus menuruti semua perintahku.” Adriana berbisik dengan senyum licik.
“Kau tidak akan bisa membunuhku Adriana. Jika aku mati, seluruh harta ratu akan jatuh ke panti sosial.” Emelie tersenyum. Ada rasa puas ketika ia berhasil mengungkapkan kalimat itu untuk membalas perbuatan Adriana.
Adriana mengangkat tangannya untuk memukul wajah Emelie. Dengan cepat, Emelie menahan tangan Adriana. Menghempaskannya dengan kasar.
“Adriana, kau pikir aku wanita yang bodoh? selama ini aku pergi untuk memberi kesempatan kepadamu agar kau bisa mendapat perhatian Raja dan Ratu. Tapi, tidak di sangka. Kau justru tidak berhasil memenangkan hati mereka.” Emelie melipat kedua tangannya dengan wajah angkuh ciri kasnya. Tidak peduli dengan situasi yang kini mengancam nyawanya.
“Itu karena, kau hanya anak angkat,” sambung Emelie tanpa ampun.
Seperti gelegar petir yang menyambar di siang bolong. Adriana berada di posisi terpojok saat itu. Selama ini ia hanya tahu, kalau cuma dirinya yang mengetahui identitas aslinya. Ia tidak pernah menyangka, kalau Emelie juga mengetahuinya.
“Selama ini Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Kau wanita yang baik dan lembut. Tapi, hari ini kau membongkar identitas aslimu. Identitas wanita kelas rendah yang memang tidak akan pernah pantas berada di dalam istana.” Emelie membalas tawa Adriana. Wanita itu terlihat sangat puas dengan luapan isi hatinya pagi itu.
Adriana mengepal kuat kedua tangannya. Kalimat-kalimat pedas yang dikatakan Emelie memang telah menusuk hatinya. Hatinya seperti berdarah dan terasa perih.
“Pengawal, kurung putri Emelie di kamarnya. Katakan kepada siapa saja yang ingin menemuinya,” ucapan Adriana semakin pelan.
“Kalau Putri sakit dan tidak bisa menemui siapapun,” sambung Adriana sambil memutar tubuhnya. Ia tidak lagi sanggup menatap wajah Emelie. Hatinya benar-benar luka dan merasa kecewa.
Dengan cepat, satu pengawal menyuntikan cairan di leher Emelie. Membuat Emelie tidak bisa berontak dan melawan pengawal itu. Dalam waktu cepat, Putri Kerajaan itu kehilangan kesadarannya. Matanya terpejam dengan tubuh yang terasa lemah.
Samar-samar Emelie masih bisa merasakan kalau kini dirinya di bawa oleh pelayan Adriana. Bayangan masa kecil dirinya bersama Adriana seperti sebuah bayangan indah yang tiba-tiba berubah. Semua tawa dan pelukan hangat itu hilang dan bertukar dengan sebuah kekecewaan.
Adriana, Aku sangat menyayangimu. Kenapa kau berpikiran seperti ini padaku. Bahkan jika kau meminta seluruh harta ini, Aku akan merelakannya dengan hati bahagia. Apa yang sudah Aku lakukan hingga Kau berubah menjadi wanita jahat seperti ini?
Emelie meneteskan air mata saat kesadarannya hampir hilang. Wanita itu tertidur dengan air mata yang jatuh ke permukaan lantai. Hatinya benar-benar sedih dan kecewa.
Adriana melempar semua barang yang ada di hadapannya. Hatinya kini di sulut emosi yang begitu besar. Semua yang dikatakan Emelie sangat melukai hatinya. Tapi, kini ia tidak memiliki keberanian untuk membunuh Emelie. Seluruh harta itu akan hilang begitu saja saat ia membunuh Emelie.
Adriana teriak dengan sangat kuat hingga suara memenuhi ruangan bawah tanah itu. Setelah berteriak, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Wanita itu terjatuh di lantai dengan penampilan yang sangat berantakan.
“Aku pasti akan mengalahkanmu, Emelie. Aku tidak akan kalah atas pertarungan kita kali ini.” Mata Adriana membulat dengan rencana jahat di dalam hatinya.
Malam telah kembali. Sudah seharian Emelie tertidur. Kini, sudah waktunya ia kembali bangun. Matanya teras perih saat ia melihat sorot lampu yang ada di hadapannya. Satu tangannya menutupi wajah, Emelie kembali menyatukan kepingan-kepingan peristiwa yang terjadi.
“Apa aku masih hidup?” Emelie menjatuhkan kakinya di lantai. Menatap sekeliling kamarnya. Di meja sudah terhidang makanan dan minuman untuknya. Di jendela, Emelie memandang cahaya malam yang begitu indah.
“Apa aku tertidur hingga malam,” ucap Emelie sambil memperhatikan penampilannya.
Pakaiannya tidak lagi sama. Kini Emelie mengenakan baju tidur yang biasa ia gunakan. Wanita itu tahu, kenapa Adriana mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Setiap kali Emelie mengenakan baju tidur, itu tandanya ia sedang sakit dan tidak ingin di ganggu. Trik itu cukup berhasil untuk mengelabuhi keluarga kerajaan yang ingin menemui Emelie.
“Aku harus kabur dari tempat ini. Membongkar kejahatan Adriana agar polisi tidak lagi mengejar-ngejar Zeroun.” Emelie berjalan ke arah pintu. Belum sampai di depan pintu, wanita itu sudah tahu kalau pintu itu pasti di kunci.
Emelie memutar tubuhnya untuk mengambil kunci cadangan yang selama ini ia sembunyikan. Dengan penuh hati-hati dan waspada, Emelie membuka pintu kamar miliknya. Di depan kamar tidak ada penjaga yang mengawasinya. Ada senyum kecil dibibir Emelie.
“Sejak dulu, Aku tidak pernah memberitahu Adriana cara kabur dari Istana. Semoga saja wanita itu tidak mengetahui jalan rahasia yang selama ini aku lalui.
“Putri,” teriak salah satu pelayan.
Emelie berhenti sejenak, ia tidak ingin memutar tubuhnya. Dengan cepat Emelie berlari menuju ke arah tangga yang ada di sudut lantai dua.
“Putri, tunggu!” teriak pelayan itu sambil terus mengejar. Pelayan itu tidak berani berteriak memanggil pengawal. Di lantai bawah, ada banyak anggota kerajaan yang berkunjung. Dengan penuh upaya, pelayan itu mengejar Emelie sendirian.
“Lepaskan,” teriak Emelie kesal saat pelayan itu berhasil memegang tangannya.
“Maafkan saya, Putri.” Pelayan itu terlihat ketakutan.
“Kau harus membiarkanku pergi. Cepat atau lambat, kau juga akan di bunuh oleh Adriana. Dia sanggup dan tega membunuh Ratu, apalagi pelayan rendahan sepertimu.” Emelie terus berusaha melepaskan tangannya. Ia tidak ingin sampai ketahuan dengan pengawal lainnya.
Satu tendangan di layangkan oleh Emelie. Membuat pelayan itu melepas tangan Emelie dan terjatuh di rumputan. Emelie tidak tahu, dapat darimana ide menendang itu. Gerakan itu terjadi begitu saja sebagai naluri membela diri.
Emelie melanjutkan langkah kakinya meninggalkan istana. Pelayan itu sudah tahu jalan rahasia miliknya. Jika suatu hari ia tertangkap, Emelie tidak lagi bisa menggunakan jalan itu.
Malam yang gelap dengan udara yang sangat dingin. Emelie terus berlari untuk menjauhi istana. Tidak ada rasa lelah di dalam dirinya, hanya saja rasa takut itu membuat napasnya terasa sesak.
Emelie berhenti di pinggiran jalan saat sudah berada cukup jauh dari posisi Istana. Menatap kakinya yang ternyata tidak menggunakan alas kaki sama sekali.
“Aku sudah sering kabur dari istana itu. Tapi, ini adalah kabur pertama yang sangat menegangkan.” Emelie mengatur napasnya agar bisa normal kembali.