
Emelie berjalan menuruni jalanan berbatu. Hatinya benar-benar kesal saat mendengar perkata Zeroun. Jalanan itu berakhir di sebuah pelabuhan kecil yang menghadap langsung kelaut lepas. Emelie menghentikan langkah kakinya saat sudah tidak ada jalan lagi untuknya.
“Kenapa Aku harus pergi meninggalkannya?” Emelie menghela napasnya dengan kasar.
“Dia tidak salah bukan? semua ini memang hanya sandiwara.” Emelie memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan Zeroun. Namun, pemandangan yang kini ia lihat justru pemandangan yang tidak baik. Dari kejauhan, tepatnya di pinggiran pantai. Zeroun terlihat bertarung dengan beberapa polisi. Salah satunya adalah Inspektur Tao.
Emelie menutup mulutnya dengan kedua tangan sebelum berlari mendatangi posisi Zeroun. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Putri Kerajaan itu tidak ingin jika terjadi sesuatu kepada Zeroun. Apa lagi siang itu ia dikeroyok oleh beberapa polisi.
“Hentikan!” Emelie berdiri di hadapan Zeroun, menghalangi Inspektur Tao yang ingin memberi satu pukulan kepada Zeroun.
“Putri?” Inspektur Tao menghentikan aksinya. Pria itu membungkuk hormat saat melihat Emelie berdiri di hadapannya.
“Apa yang Putri lakukan di tempat seperti ini? kenapa Putri melindungi seorang pembunuh?” Inspektur Tao kini dipenuhi tanda tanya. Ia menyuruh seluruh bawahannya untuk pergi.
“Kami ke sini untuk mencari anda, Inspektur Tao.” Emelie melipat kedua tangannya dengan wajah angkuh ciri khasnya.
Zeroun mengangkat satu alisnya saat melihat Emelie. Ada senyum kecil di sudut bibir Zeroun, saat melihat perubahan sikap Emelie siang itu.
“Untuk apa anda mencari saya, Putri?” Inspektur Tao memandang wajah Zeroun yang kini berubah sangat tenang.
“Kenapa anda bisa datang ke sini dengan pria ini?”
“Apa ada tempat yang lebih baik untuk kita bercerita?”
Inspektur Tao menunduk lagi, “Mari, Putri. Ikuti saya.”
Inspektur Tao membawa Zeroun dan Emelie menuju ke suatu rumah besar yang tidak jauh dari lokasi pantai. Rumah itu terbilang sederhana saat dilihat dari luar. Namun, saat berada di dalamnya. Rumah itu bisa di bilang cukup bagus dan mewah.
Semua barang-barang yang diperlukan ada di dalam ruangan itu. Selain dapur, rumah itu juga memiliki dua buah kamar yang tidak berjauhan. Rumah itu didesain dengan desain bangunan Eropa. Catnya berwarna bata bercampur cokelat tua.
“Apa anda tinggal di sini, Inspektur?” Emelie duduk di salah satu sofa empuk sambil memperhatikan keadaan sekitar.
“Ya. Selama bertugas, Saya tinggal di rumah ini, Putri.” Inspektur Tao berjalan kearah dapur.
Emelie memandang wajah Zeroun Zein, “Kenapa kita tidak bisa tinggal di rumah yang bagus seperti ini?”
“Aku hanya tidak ingin keberadaan kita diketahui oleh pihak musuh. Bagaimanapun juga, kau juga buronan kerajaan saat ini.” Zeroun membuang tatapannya.
Emelie bersandar dengan wajah kesal. Memang semua yang dikatakan Zeroun benar. Kini, bukan hanya Zeroun. Tetapi dirinya yang berstatus Putri Kerajaan juga menjadi orang yang dicari karena sudah melarikan diri dari Istana.
“Beberapa pengawal kerajaan baru saja menghubungi Saya. Mereka memberi perintah kepada Saya untuk mencari keberadaan Putri di wilayah ini.” Inspektur Tao meletakkan dua gelas jus jeruk segar.
“Saya tidak tahu, apa yang telah terjadi di Cambridge. Kenapa Putri bisa bersama dengan Zeroun Zein? Bahkan kini tuntutat untuk Zeroun Zein semakin besar.” Inspektur Tao memandang wajah Zeroun dan Emelie secara bergantian.
“Zeroun Zein dituduh dengan kasus penculikan Putri,” sambung Inspektur Tao dengan wajah menyelidik.
“Saya tidak diculik. Justru diselamatkan oleh Tuan ini.” Emelie memandang waja Zeroun.
“Adriana adalah dalang dari kecelakaan Ratu malam itu. Aku mendengar semua perkataannya dengan jelas.” Emelie menatap meja sambil kembali mengingat momen perkelahiannya dengan Adriana.
Emelie mengangguk dengan wajah sedih, “Saya kabur dari istana karena Adriana sempat mengurung saya di kamar. Saya tidak ingin membiarkan semua rencana yang sudah ia susun berhasil. Saya ingin Adriana di hukum atas perbuatan yang telah ia lakukan.”
“Apa kita memiliki bukti, Putri?”
“Mungkin ini bisa menjadi bukti untuk menangkap Putri Adriana.” Zeroun meletakkan flashdisk di atas meja.
Inspektur Tao mengambil laptop yang ada di sampingnya. Membuka layar laptopnya lalu memasukkan flashdisk itu untuk melihat isi di dalamnya. Rekaman perkelahian Adriana dan Emelie yang menjadi barang bukti Zeroun saat itu.
Emelie membulatkan matanya saat mendengar rekaman itu. Hatinya dipenuhi tanda tanya karena Zeroun bisa mendapatkan rekaman itu secara jelas. Tiba-tiba saja Emelie ingat dengan gelang yang kini melingkar di tangannya.
Apa gelang ini camera cctv yang ia titipkan di tanganku? kalau benar, berarti ....
Wajah Emelie terlihat malu dan bingung.
Apa dia bisa melihat dan mendengar semua yang aku lakukan selama ini? itu semua sungguh memalukan.
Emelie membuang tatapannya ke arah lain. Sedangkan Zeroun hanya tersenyum kecil melihat wajah Emelie yang memerah bagai kepiting rebus.
“Bukti ini sudah sangat cukup untuk menangkap Putri Adriana.” Inspektur Tao menggenggam flashdisk itu. Menatap wajah Zeroun dengan seksama.
“Maafkan saya atas kesalahpahaman ini, Tuan.”
“Bukan hanya Adriana, tapi semua orang yang berada di belakang Adriana sudah ada di flashdisk itu. Saya ingin Istana dibersihkan dari orang-orang yang akan mengancam nyawa Putri Emelie.” Zeroun menekankan keinginannya kepada Isnpektur Tao.
“Baik, Tuan. Saya akan segera mengurus semua ini. Sebelum kami berhasil menangkap Putri Adriana, sebaiknya anda melindungi Putri Emelie. Kalian bisa tinggal di rumah ini. Rumah ini khusus untuk tempat tinggal saya. Tidak akan ada yang mencurigai keberadaan anda dan Putri Emelie.”
“Terima kasih, Inspektur Tao.” Zeroun beranjak dari duduknya sambil mengulurkan tangan.
“Saya harus pergi. Putri bisa beristirahat di kamar.” Inspektur Tao beranjak dari duduknya, membalas uluran tangan Zeroun.
“Senang membantu anda, Tuan.” Inspektur Tao kini bisa tersenyum ramah kepada Zeroun.
Zeroun dan Emelie memandang kepergian Inspektur Tao. Setelah pintu kembali tertutup, mereka memandang satu sama lain. Ada rasa canggung atas sikap mereka berdua. Emelie mengambil jus jeruk itu, meneguknya dengan senyuman manis.
“Aku senang, karena kini kau tidak buronan lagi. Nama baikmu sudah kembali.” Emelie mengaduk-ngaduk sedotan yang ada di gelasnya.
Zeroun mengangguk pelan sambil mengambil jus jeruk itu. Ada banyak kata terima kasih yang ingin ia ucapkan untuk Emelie. Tapi, entah kenapa semua perkataan itu tertahan dibibir. Bos Mafia itu tidak bisa mengeluarkan semua kata-kata yang sudah ia rangkai di dalam hati.
Emelie tersenyum dengan hati yang begitu tenang. Walaupun ia tidak berusaha sendiri membersihkan nama Zeroun. Tapi, kini Zeroun tidak lagi terlibat dengan masalah kerajaannya. Bahkan Adriana, juga akan segera di tangkap oleh pihak kepolisian.
Namun, mengingat Zeroun tidak lagi menjadi buronan. Membuat hati Emelie merasa kesedihan. Tidak ada lagi alasan untuk Bos Mafia itu bertahan di sisinya. Pria itu akan segera pergi meninggalkan dirinya.
Hati Emelie berubah sedih dan perih. Ada rasa tidak rela, kalau Zeroun harus pergi meninggalkan dirinya sebentar lagi. Emelie tidak pernah tahu, kalau masih sedikit masalah yang selesai dalam hidup Zeroun. Sedangkan masalah yang sebenarnya belum selesai sama sekali.
Apa dia akan segera kembali ke Hongkong?