
Langkah Lukas di depan pintu terhenti. Sosok yang cukup ia kenali kini berdiri di hadapannya. Ada wajah waspada atas kunjungan tamu yang tidak di undang pagi itu. Lana mengintip dari balik tubuh Lukas. Wanita itu mengeryitkan dahi saat memandang sosok wanita yang pernah ia benci. Tatapan Lana terlihat menyelidik. Lana memeriksa wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Inspektur Tao, apa kabar?” tanya Lukas dengan ekspresi dinginnya. Pria itu mengulurkan tangan untuk menyapa kedatangan Inspektur.
“Saya baik, Tuan. Senang bertemu dengan anda.” Inspektur Tao membalas uluran tangan Lukas. Inspektur Tao melirik ke arah Agen Mia agar wanita itu mau bersikap ramah saat itu.
“Apa kabar,” ucap Agen Mia dengan wajah gengsi.
“Baik,” jawab Lana. Wanita itu tidak ingin Lukas membalas sapaan Agen Mia pagi itu.
“Apa Tuan Zeroun Zein punya waktu untuk bertemu dengan saya? Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengannya. Termasuk rasa terima kasih saya atas pertolongan kalian malam itu.” Inspektur Tao memegang paper bag yang terlihat aneh.
Lukas mengeryitkan dahi saat memandang paper bag itu. Pria itu sedikit penasaran atas barang yang di bawah oleh Inspektur Tao. Ia juga tidak bisa percaya begitu saja kepada pria yang pernah menjadi lawannya.
Inspektur Tao tahu arti tatapan menyelidik Lukas pagi itu. Dengan satu senyum, Inspektur Tao memberikan paper bag itu kepada Lukas, “Hanya sebuah plasdisk.”
Lukas menerima paper bag itu. Memeriksa isinya dengan seksama. Memang benar, isi dari paper bag itu hanya satu buah flashdisk. Lana juga menatap isi paper bag itu. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat paper bag itu hanya berisi flashdisk.
“Silahan masuk. Saya akan memanggilkan Bos Zeroun.” Lukas memutar tubuhnya untuk membawa tamunya masuk ke dalam. Pagi ini, jadwal latihannya bersama Lana harus gagal karena kehadiran tamu yang tidak terduga itu.
Lana membawa Inspektur Tao dan Agen Mia ke arah sofa besar. Wanita tangguh itu berdiri di ujung sofa sambil menatap tajam ke arah tamunya. Kedua matanya terlihat menyelidik pagi itu.
Apa yang kini direncanakan polisi wanita ini. Bukankah dia yang waktu itu mengejar-ngejarku hingga aku dan Lukas harus melompat ke sungai.
Tidak menunggu waktu yang lama. Dari arah tangga, terdengar suara sepatu Zeroun dan Lukas. Dua pria itu menuruni anak tangga bersamaan.
Zeroun menatap tajam ke arah Inspektur Tao dan Agen Mia. Sejak awal, pria itu sudah memperkirakan kunjungan Inspektur Tao dan Agen Mia pagi ini.
“Selamat pagi, Zoroun Zein. Senang bertemu dengan anda lagi.” Inspektur Tao beranjak dari duduknya untuk menyambut Zeroun.
“Pagi,” jawab Zeroun dengan ekspresi dinginnya. Pria itu duduk di sofa hitam yang ada di hadapan Inspektur Tao. Lukas berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Pria itu ingin mengambil minuman untuk menyambut tamu Zeroun.
“Lana, temani Nona di kamarnya,” perintah Zeroun. Pria itu tidak ingin meninggalkan kekasihnya sendirian, walau hanya beberapa menit.
Dari arah dapur, Lukas muncul dengan beberapa botol wine dan gelas kristal. Pria itu meletakkan gelas-gelas itu di hadapan Zeroun dan tamunya. Dengan hati-hati, Lukas membuka tutup gabus minuman beralkohol itu. Menuangnya ke dalam gelas dengan hati-hati.
“Silahkan di minum, Inspektur Tao.” Zeroun memandang wajah Agen Mia sekilas. Ada senyum puas di dalam hatinya karena polisi wanita itu kini tidak lagi mengincar dirinya.
“Terima kasih,” jawab Inspektur Tao sebelum mengambil gelas itu. Sama halnya dengan Agen Mia. Wanita itu mengambil gelas yang telah berisi dan meneguknya secara perlahan.
“Ada apa anda datang ke sini, Inspektur Tao? Sepertinya kali ini perjalanan anda cukup jauh.” Zeroun mengambil gelas miliknya, “Apa anda mengejar musuh anda hingga ke Brasil?” sambung Zeroun sebelum meneguk minuman itu.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anda.” Inspektur Tao meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
“Hanya itu?” tanya Zeroun penuh selidik sambil mengangkat satu alisnya.
“Ada hal penting lain yang ingin saya bicarakan.” Inspektur Tao sedikit ragu dengan kalimat yang akan ia katakan, “Saya ingin mengajak anda kerja sama untuk melawan Heels Devils,” sambung Inspektur Tao sedikit lega karena berhasil mengatakan tujuan kedatanganya.
“Anda pasti tahu, kalau tanpa bantuan anda saya akan tetap mengalahkan mereka.” Zeroun meletakkan gelasnya dengan ekspresi yang masih sama, “Bukannya polisi tidak pernah bisa menyatu dengan mafia? Eh?” Zeroun menyindir ke arah Agen Mia.
“Maafkan saya atas penyerangan malam itu,” ucap Agen Mia. Wanita itu tidak ingin rencana kakaknya gagal karena kesalahan yang pernah ia lakukan.
“Jangan terlalu menyalahkan diri, Agen Mia. Malam itu anda yang kami jebak. Bukan kami yang terjebak.” Zeroun menyandarkan tubuhnya di sofa dengan posisi nyaman.
“Kami punya lokasi seluruh markas yang dimiliki Heels Devils. Dengan ini, anda akan mudah untuk mengetahui letak persembunyian mereka.” Inspektur Tao memandang paper bag yang ada di atas meja.
“Saya sudah memilikinya lebih dulu,” jawab Zeroun tidak tertarik.
Inspektur Tao menghela napas. Memang sangat sulit untuk menjalin kerja sama dengan pria berbahaya itu. Kini Inspektur Tao berpikir keras untuk mendapatkan kepercayaan dari Zeroun Zein.
Zeroun mengukir senyuman tipis saat melihat sikap bingung tamunya pagi itu, “Hancurkan kasino terbesar milik Damian. Setelah anda berhasil melakukannya, kita sudah menjalin kerja sama untuk mengalahkan Heels Devils.”
“Kasino?” celetuk Agen Mia kaget.