
Emelie duduk di sebuah sofa yang ada di teras depan kamar. Wanita itu menaikan kedua kakinya di atas sofa dengan kaki tertekuk. Kedua tangannya mengunci kedua kakinya yang kini cukup merasa dingin. Wanita itu menikmati setiap hembusan angin malam yang kini menerpa tubuhnya. Rambutnya sengaja ia gerai untuk menyempurnakan kecantikannya malam itu.
Matanya menatap kosong ke arah rembulan yang kini bersinar terang untuk menemani malamnya. Sesekali Emelie mengalihkan tatapan matanya ke arah kolam renang yang terbentang luas menghadap ke lautan malam. Rumah itu berada tepat di pinggiran pantai. Riak ombak terdengar begitu jelas saat suasana sunyi menyelimutinya.
Tiba-tiba saja Emelie merasakan kehangatan saat dingin menusuk tubuhnya. Wanita itu menoleh ke arah samping untuk melihat satu tangan kekar yang ada di pundaknya. Bibirnya mengukir senyuman sebelum menatap wajah sang pemilik tangan. Zeroun menyelimuti tubuh Emelie dengan selimut yang sangat lembut.
“Zeroun,” ucapnya lirih. Emelie menurunkan kedua kakinya agar kembali berada di bawah.
“Baby, apa yang kau pikirkan?” Zeroun menundukkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Emelie dari belakang. Pria itu mengecup rambut kekasihnya berulang kali, “Jangan dipikirkan lagi,” sambung Zeroun yang seolah mengerti dengan isi pikiran Emelie malam itu.
“Kenapa kita harus pindah?” tanya Emelie tanpa mau membahas pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh pria itu. Putri Raja itu mengusap lembut tangan Zeroun sebelum mengecup punggung tangannya.
“Karena tempat ini jauh lebih indah,” jawab Zeroun sambil melepas pelukannya. Pria itu berputar mengitari sofa tempat Emelie duduk. Tubuhnya ia jatuhkan tepat di sisi Emelie berada, “Bukankah kau suka pantai? ini pantai kita. Hanya kita yang bisa datang untuk melihat pantai ini. Tidak akan ada wanita berbikini lagi,” ledek Zeroun sambil mencubit pucuk hidung Emelie dengan lembut.
Emelie mengukir senyuman sebelum menatap cahaya rembulan itu lagi, “Apa aku boleh tinggal di sini dalam waktu yang lama?” Ada harapan di raut wajah Emelie malam itu. Wanita itu memang sangat merindukan ketenangan. Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti malam ini. Hari-harinya beberapa hari ini dipenuhi dengan ketegangan dan kekhawatiran.
“Aku akan memilihkan tempat yang jauh lebih indah dari pada tempat ini. Jika kau suka dengan rumah di pinggir pantai.” Zeroun menganggap serius perkataan Emelie. Pria itu memang bersedia melakukan apa saja asal wanitanya bahagia. Baginya materi buka satu penghalang.
“Bukan karena tempatnya, tapi aku suka dengan ketenangannya. Saat kau tidak pergi bertarung dan meninggalkanku, di saat itulah letak kenyamananku.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan seksama.
“Hatiku diselimuti ketakutan saat melihatmu bertarung mempertaruhkan nyawa seperti semalam. Rasanya, setiap hembusan napas yang kau keluarkan saat bertarung seperti sebilah pisau yang menyayat hatiku. Terasa perih tanpa darah yang mengalir. Aku tidak ingin kehilanganmu, Zeroun. Aku tidak ingin kehilangan LAGI!” Emelie meletakkan kedua tangannya di pipi kanan dan kiri Zeroun, “Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau tetap ada di sisiku hingga akhir hayatku.”
Perkataan Emelie adalah sebuah permintaan yang tidak dapat dikabulkan dengan materi. Zeroun tahu tujuan utama kekasihnya mengucapkan kata itu. Pria itu memegang kedua tangan Emelie dengan perasaan campur aduk. Dulu, dirinya pergi meninggalkan dunia gelap itu karena ingin melupakan kekasihnya. Tapi, malam ini justru kekasihnya langsung yang memintanya untuk meninggalkan dunia penuh darah itu.
Di dalam hati terdalam. Zeroun sangat ingin meninggalkan dunia gelap ini. Tapi, itu tidak akan mudah. Ia sudah menghidupkan kembali Gold Dragon saat semua pasukannya sudah hidup dengan tenang. Bahkan, demi menyelamatkan keluarganya. Zeroun berjanji untuk menjayakan geng mafia itu kembali.
Bukan hanya itu saja alasan Zeroun. Di dalam hatinya, ia masih menyimpan dendam atas nama geng mafia yang sudah berani mengusik hidupnya. Selama pria itu masih bernapas, Zeroun tidak pernah membiarkan musuhnya hidup dengan bebas.
“Baby, aku ....”
Emelie menutup bibir Zeroun dengan satu jari. Wanita itu mengukir senyuman menatap wajah Zeroun, “Jika kau berpikir begitu lama. Itu artinya kau sangat berat untuk meninggalkan duniamu saat ini. Aku tidak memaksa. Aku tidak ingin membuat beban dalam hidupmu.” Emelie mengecup bibir Zeroun, “Baby.”
Emelie kembali mengukir senyuman indah miliknya. Walau hanya berbicara beberapa kalimat malam itu bersama Zeroun. Namun sudah berhasil mengobati kesedihan di hatinya.
Emelie, aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik agar kau tidak bersedih lagi. Percayalah padaku, kalau aku akan membuatmu hidup dengan bahagia nantinya.
Memberikan ketenangan yang kau impikan. Tunggu saatnya tiba, maka semua keinginanmu akan menjadi nyata.
“Aku sangat mencintaimu, Emelie.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Zeroun Zein.” Emelie memejamkan matanya untuk merasakan kehangatan tubuh Zeroun malam itu. Rasa dingin yang sempat menusuk tulangnya kini sudah tidak terasa lagi, “Seharusnya aku tidak membuatmu merasa sulit seperti ini.”
“Baby ....” Zeroun melepas pelukannya. Kedua bola mata hitamnya menatap intens kedua bola mata biru milik Emelie, “Kau tidak pernah menyulitkan hidupmu. Justru karena hadirnya dirimu, hidupku selalu mengalami kemudahan.”
“Tapi akar permasalahan ini karena kau menolongku waktu itu,” sambung Emelie yang masih dipenuhi rasa bersalah. Bagaimanapun juga, titik permasalahan yang dialami Zeroun bermula karena dirinya.
“Jika tidak menolongmu, aku tidak akan pernah merasa jatuh cinta lagi. Kau yang membuat hatiku kembali menerima rasa cinta itu, Emelie. Hati ini sempat mati karena terbunuh oleh rasa kehilangan. Setelah bertemu denganmu, ia kembali terbuka untuk menerima rasa itu.”
Zeroun menyatukan kedua alisnya. Wajahnya cukup serius malam itu, “Kau sumber kebahagiaanku saat ini.”
“Kau juga sumber kebahagiaanku saat ini, Zeroun Zein,” ucap Emelie dengan senyuman.
Zeroun menelusuri setiap inci wajah Emelie dengan jarinya. Pria itu kini menatap kagum wajah cantik yang cukup sempurna milik kekasihnya. Pipi Emelie yang begitu lembut dengan bibir yang terlihat sangat kenyal.
Zeroun memang selalu tergoda saat melihat wajah Emelie. Tetapi, pria itu selalu berusaha untuk menahannya. Setiap wanita yang ia cintai adalah wanita yang sangat berharga. Seperti berlian yang tidak sembarang orang bisa menyentuhnya.
Dengan lembut Zeroun menarik dagu Emelie agar wajah wanita itu jauh lebih dekat dengannya. Bibirnya mulai terbuka untuk mengecup bibir Emelie yang terlihat sedikit membiru karena dingin.
Emelie memejamkan mata saat bibir hangat Zeroun menyatu dengan bibirnya. Wanita itu membalas kecupan Zeroun dengan kelembutan. Zeroun mengeryitkan dahinya sebelum melepas ciumannya malam itu, “Baby, kau tidak memaksaku untuk melakukannya lagi kan?”
Emelie tertawa saat mendengar pertanyaan Zeroun malam itu, “Aku akan membunuhmu jika kau berani berbuat lebih terhadap tubuhku, Zeroun Zein.” Kedua bola mata angkuh milik Putri kerajaan itu telah kembali.
“Ini baru wanitaku.” Zeroun kembali melanjutkan ciumannya malam itu. Pria itu memang selalu di buat gila saat menyentuh bibir kekasihnya.