
Pagi yang mendung. Matahari tampak malu-malu keluar dari persembunyiannya. Awan biru yang biasa terlihat seperti lukisan kini telah tertutup awan putih. Rintik hujan terlihat membahasi pepohonan dan semua yang terbentang di permukaan tanah.
Zeroun terbangun dengan tubuh sedikit lelah. Pria itu terlihat bingung saat melihat istri tercinta tidak ada di pelukannya lagi. Dengan tatapan yang belum jelas Zeroun duduk di atas tempat tidur. Selimut yang sempat ia gunakan untuk menutupi tubuhnya terjatuh hingga kepinggang.
Terdengar suara percikan air di dalam kamar. Zeroun mengukir senyuman kecil. Ia tahu kalau wanita yang ia cari pasti ada di dalam kamar mandi. Zeroun meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Sejak malam ponsel pria tangguh itu mati. Baru pagi ini ia aktifkan kembali.
Berpuluh-puluh pesan telah memenuhi kotak masuknya. Bibirnya mengukir senyuman saat nama Kenzo dan Serena ada di salah satu list pesan tersebut. Zeroun membuka satu persatu isi pesan sahabat-sahabat terbaiknya.
Semua hanya berisi pesan yang menannyakan kabar. Mereka ingin tahu bagaimana kabar terbaru Zeroun setelah kabar White Tiger kembali jaya. Zeroun melekatkan ponselnya di telinga. Pria itu ingin memberi kabar terbaru tentang kemenangannya melawan Arron. Ia cukup bangga dan bahagia.
“Kakak Ipar, aku tahu kau menang. Apa kau mau pamer?” celetuk Kenzo dari kejauhan sana.
Zeroun mengusap wajahnya dengan telapak tangan dengan bibir tersenyum, “Kau adik ipar yang cukup perhatian. Sampaikan pada Serena untuk tidak mengkhawatirkanku lagi. Dan untukmu, aku akan melanjutkan bulan maduku. Sebaiknya kau jangan menggangguku.”
“Baiklah. Aku akan menemui Serena dan Daniel nanti. Jaga kesehatan kakak ipar Emelie,” ucap Kenzo sebelum panggilan telepon itu terputus.
Zeroun menggeleng dengan tawa kecil. Pria itu belum tahu kabar duka yang kini di alami oleh Lukas. Dengan gerakan tenang Zeroun turun dari tempat tidur. Pria itu berjalan ke arah jendela. Ia berdiri di depan jendela untuk melihat rintik hujan yang ada di luar rumah.
Suara pintu terbuka. Emelie keluar dari dalam kamar mandi dengan bibir tersenyum indah. Wanita itu mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sebelum menggunakan hair dryer nantinya. Sesungguhnya Emelie sangat rindu pelayan yang selama ini melayaninya untuk berias. Tapi, ini keputusannya. Ia ingin melewati bulan madu yang bebas tanpa aturan dari kerajaan.
“Sayang, apa yang kau lihat? Kau tidak mau mandi?” Emelie melingkarkan kedua tangannya di perut Zeroun. Wanita itu memeluk Zeroun dari belakang. Satu kecupan cinta ia daratkan di pundak Zeroun yang terbuka.
“Kenapa tidak membangunkanku?” ucap Zeroun sambil memegang kedua tangan Emelie. Pria itu melepas pelukan Emelie lalu berputar. Ia ingin menatap wajah istrinya dengan jarak yang cukup dekat.
“Kau terlihat sangat lelah. Aku tidak ingin mengganggu tidurmu,” ucap Emelie dengan bibir tersenyum.
Zeroun memandang penampilan istrinya. Putri kerajaan itu hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih. Rambutnya yang basah masih menyisakan tetesan air. Wajahnya terlihat cantik walau tanpa sentuhan make up sedikitpun. Alisnya terlukis dengan bentuk yang sangat pas. Bibirnya merah dan basah walau belum di lapisi lisptik.
Zeroun terpesona. Memang setiap kali menatap wajah cantik istrinya ia selalu kagum. Kedipan mata yang di lakukan Emelie seperti sebuah godaan tersendiri baginya.
“Kau sangat cantik. Aku sangat mencintaimu, Emelie.” Zeroun mengukir senyuman.
Emelie membalas senyuman Zeroun sebelum berhambur ke dalam pelukan Zeroun. Kepalanya ia benamkan di dada yang tidak tertutup sehelai benangpun itu. Satu tangannya mengusap lembut tato indah yang selama ini ia kagumi.
“Aku juga mencintaimu,” jawab Emelie dengan suara yang lembut.
Zeroun menunduk. Jemarinya mulai menjelajahi wajah mulus istrinya. Sentuhan itu terhenti di dagu. Secara perlahan Zeroun menarik dagu Emelie dan melekatkan bibirnya di bibir Emelie.
Sentuhannya lembut namun tetap saja menggoda. Emelie membalas sentuhan Zeroun yang kini bermain di bibirnya. Kecupan Zeroun terganti di bibir atas dan bibir bawah. Bahkan sesekali pria itu memberi gigitan kecil yang menggoda.
Rasa mint dan manisnya bibir Emelie membuat Zeroun ingin lagi dan lagi. Tangannya menarik pinggang Emelie agar wanita itu semakin dekat dengan tubuhnya. Sedangkan tangannya yang lain telah berusaha menarik tali handuk kimono agar bisa melihat dengan bebas lekuk tubuh istrinya.
“Sayang, aku menginginkanmu,” ucap Zeroun dengan wajah frustasi.
“Maafkan aku. Tapi, sepertinya sejak hari ini hingga tujuh hari ke depan aku tidak bisa melayanimu.” Emelie mengedipkan sebelah matanya.
Zeroun melipat kedua tangannya di depan dada. Pria itu tidak mengerti dengan kalimat yang di ucapkan oleh Emelie. Namun, ia ingat akan sesuatu. Sudah satu bulan saat terakhir kali wanita itu merengek kesakitan saat datang bulan.
“Kau sedang ...” ucapan Zeroun terhenti.
Emelie mengukir senyuman sebelum menunduk, “Ya. Aku berharap kalau aku telah hamil. Tapi, semua gagal saat aku memeriksanya tadi pagi.” Emelie menunduk sedih.
Zeroun berjalan mendekati Emelie lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Satu tangannya mengusap lembut punggung Emelie sebelum mendaratkan satu kecupan cinta di pucuk kepala Emelie, “Jangan bersedih.” Kecupan Zeroun turun ke pipi kanan, “Ada aku di sini.”
Kecupan Zeroun berpindah lagi ke pipi kiri Emelie, “Aku akan selalu ada untuk menemanimu, apapun yang terjadi pada dirimu.”
Emelie mengukir senyuman, “Mungkin karena stress, jadi tidak hadir tepat waktu. Kita harus mencobanya lebih giat lagi.”
Zeroun tertawa kecil saat mendengar kalimat yang di ucapkan Emelie, “Hmm, baiklah. Setelah satu minggu. Kita harus banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.”
Emelie memeluk Zeroun dengan hati yang tenang, “Terima kasih.”
“Sayang, saat itu kau terlihat kesakitan. Kenapa sekarang tidak terlihat kesakitan?” tanya Zeroun dengan nada curiga.
“Sebentar lagi. Setelah beberapa jam aku akan mengalami rasa sakit itu,” jawab Emelie dengan bibir cemberut.
“Aku akan menyuruh Dokter wanita untuk tinggal di rumah ini agar bisa memeriksa keadaanmu,” ucap Zeroun penuh semangat.
“Hmm, ide yang bagus.” Emelie mempererat pelukannya pada tubuh Zeroun.
Walau wajah Emelie masih terlihat sedih tapi ia bisa merasa bahagia kembali. Sudah beberapa hari dari tanggal seharusnya ia datang bulan terlewat. Emelie sudah menyimpan harapan besar kalau ia hamil. Namun, ia sadar. Kalau stress yang ia alami akhir-akhir ini membuat siklusnya menjadi tidak lancar.
“Pernikahan kami baru berjalan satu bulan. Bagaimana mungkin aku berharap kalau akan hamil. Emelie jangan berharap secepat itu,” gumam Emelie di dalam hati.
.
.
.
Episode ini di buat untuk memberi tahu kepada reader Moving On. Nanti malam gak update. Akan di usahakan update besok pagi. Terima kasih atas pengertiannya. Author sudah berusaha sebaik mungkin.