
Sudah hampir setengah jam Emelie bermain air di pinggiran kolam itu. Wajahnya mulai terlihat bosan untuk menunggu. Ia sudah tidak sabar untuk mandi di dalam kolam biru nan jernih itu. Tubuhnya seperti tidak bisa lagi menahan godaan untuk menenggelamkan tubuhnya di dalam kolam renang.
Emelie memandang keadaan sekitar yang terlihat sangat sunyi. Dengan wajah penuh semangat, Putri Kerajaan itu terjun ke kolam renang dengan pakaian yang masih utuh. Wajahnya semakin berseri. Emelie mengusap wajahnya dengan air kolam yang terkumpul di telapak tangannya. Dres putih yang ia kenakan terapung di permukaan kolam renang.
Emelie melompat dan tertawa dengan penuh bahagia. Ia tidak pernah berpikir, kalau setelah ini pakaian apa yang akan ia kenakan. Bahkan Lana belum juga tiba membawa baju ganti untuknya.
Emelie tidak bisa mandi terlalu lama. Air kolam renang itu terasa sangat dingin di pagi hari. Hanya beberapa menit saja, sudah membuat bibir Emelie membiru. Dengan bibir tersenyum, Emelie naik melalui tangga besi yang ada di pinggiran kolam. Air menetes deras dari dres putih yang ia kenakan. Putri kerajaan itu segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Di dalam kamar mandi, Emelie mengatur suhu airnya menjadi air hangat. Lagi-lagi semua produk yang ia temukan adalah produk favorit milik Zeroun. Di bawah pancuran shower, Emelie sedikit mengumpat di dalam hati. Ia tidak pernah memakai produk pria sebelumnya. Tapi, kali ini keadaan sangat mendesak. Dengan terpaksa, Putri Kerajaan itu menggunakan sampo dan sabun milik Zeroun. Kini aroma tubuhnya sama seperti aroma tubuh Zeroun.
Emelie tersenyum dengan wajah merona. Tiba-tiba saja sampo dan sabun itu menjadi produk favoritnya saat ini. Memakai wewangian yang sama dengan Zeroun, membuat Emelie merasa selalu dekat dengan Zeroun.
Setelah selesai membersihkan diri. Emelie menggunakan handuk kimono dengan ukuran badan pria. Handuk itu menenggelamkan tangan dan menutupi tubuhnya layaknya long dress. Kali ini, Emelie berkecak pinggang di depan kaca.
Rambutnya ia lilit dengan handuk putih yang ia temukan di kamar mandi. Tidak ada lagi barang wanita di kamar itu. Bahkan di dalam lemari hanya tersusun rapi kemeja putih, jas hitam dan celana katun hitam. Sudah bisa dipastikan semua barang itu milik Zeroun Zein.
“Apa ada yang ingin mengerjaiku?” Emelie melangkah ke arah pintu. Namun, niat itu ia urungkan karena ia tahu kini penampilannya yang bisa menjadi bahan tertawa orang lain. Tanpa pikir panjang, Emelie mengambil kemeja putih milik Zeroun. Emelie naik ke atas tempat tidur membungkus tubuhnya dengan selimut.
Wajahnya tidak terbaca. Antara malu, kesal, marah, semua bercampur menjadi satu.
“Apa yang Zeroun pikirkan jika Aku mengenakan pakaiannnya.” Emelie semakin Frustasi. Wajahnya ia benamkan di dalam bantal dengan rambut masih terlilit handuk.
Terdengar suara pintu terbuka. Emelie kembali berseri. Ia sangat yakin, jika yang baru saja tiba di kamarnya adalah Lana. Tapi, dalam sekejab tubuhnya mematung. Zeroun yang muncul dari balik pintu itu. Pria itu terlihat tenang dan terus berjalan mendekat ke tempat tidur.
“Emelie, apa yang terjadi?” Zeroun memperhatikan Emelie yang kini membungkus tubuhnya dengan selimut. Di tambah lagi, lilitan handuk yang ada di atas kepalanya.
Handuk kimono putih tergeletak di permukaan lantai. Bahkan dari arah pintu kaca hingga kamar mandi lantai itu ada banyak genangan air.
“Maaf,” ucap Emelie pelan.
Zeroun semakin khawatir dengan keadaan Emelie saat ini, “Apa kau baik-baik saja?”
“Jangan-jangan, jangan kemari.” Emelie menahan langkah Zeroun dengan tangannya.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” Zeroun tidak peduli dengan larangan apapun. Pria itu terus saja berjalan untuk melihat wajah Emelie dengan jarak yang lebih dekat.
“Zeroun!” teriak Emelie semakin frustasi.
Zeroun menarik selimut Emelie. Namun, Emelie menahan selimut itu. Ia tidak ingin tubuh seksinya kini terlihat oleh Zeroun. Di tambah lagi, ia tidak memakai pakaian dalam saat ini. Satu perbuatan konyol yang sudah merusak reputasinya sebagai putri kerajaan.
“Emelie, ada apa? apa yang kau sembunyikan?” Zeroun justru semakin penasaran dengan Emelie yang terus saja menahan selimut itu. Ia ingin tahu, apa yang kini di sembunyikan oleh Emelie.
Emelie tidak mau kalah, ia terus saja menahan selimut itu agar tubuhnya tidak terlihat oleh Zeroun. Hingga akhirnya, Zeroun terjatuh dan berada di atas tubuh Emelie. Wajah mereka sangat dekat dengan hembusan napas yang saling beradu. Bahkan, debaran jantung mereka terdengar dengan begitu jelas.
Terlihat jelas kemeja putih Zeroun yang kini dikenakan Emelie. Namun, Zeroun tidak lagi fokus pada penampilan Emelie pagi itu. Bos Mafia itu hanya fokus pada wajah kekasihnya yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Wajah merona bagai kepiting rebus itu membuat hatinya menjadi bahagia.
Lagi-lagi bibir merah Emelie menggodanya. Zeroun mencium bibir basah itu sambil memejamkan mata. Satu tangannya menahan tubuhnya agar tidak memberi beban berat kepada Emelie. Sedangkan satu tangannya yang lain mencengkram rambut basah Emelie dengan penuh kerinduan.
Setelah beberapa saat mereka saling berciuman dengan penuh hasrat yang menggoda. Zeroun melepas cumbuannya. Menatap wajah Emelie dengan seksama. Emelie terlihat mengatur napasnya agar kembali normal.
“Emelie, apa kau menggunakan sampoku?” Zeroun mengeryitkan dahinya, mengambil sedikit rambut Emelie menghirupnya dengan seksama.
Emelie tersadar dengan keadaannya saat ini. Ia mendorong tubuh Zeroun dan menarik lagi selimut itu dengan duduk membelakangi Zeroun. Matanya terpejam untuk menekan rasa malu atas penampilannya saat ini.
Zeroun memperhatikan kemeja putih miliknya. Mengeryitkan dahi dengan wajah bingung.
“Emelie, kemana bajumu?” Zeroun menarik tangan Emelie hingga wanita itu berhadapan langsung dengan dirinya.
“Basah,” jawab Emelie dengan suara sangat pelan. Bahkan ia berharap Zeroun tidak mendengarnya.
“Basah?”
Emelie mengangguk, “Semua basah karena aku masuk ke dalam kolam renang itu. Setelah selesai mandi, Aku tidak menemukan pakaian untuk ganti. Jadi, Aku menggunakan kemeja ini untuk sementara.”
Zeroun meletakkan satu tangannya di kepala. Lagi-lagi kelakuan Emelie membuat Zeroun menahan tawa.
“Maafkan Aku, karena tidak mempersiapkan semuanya.” Zeroun mengambil sesuatu dari dalam jas hitamnya.
“Ini, pakailah.” Zeroun menarik tangan kiri Emelie, memakaikan gelang yang sempat ia berikan kepada Emelie waktu itu.
“Jangan pernah lepaskan gelang ini lagi,” sambung Zeroun dengan satu senyuman kecil.
Emelie mengangkat tangan kirinya dengan wajah berseri, “Aku akan memakainya kemanapun dan kapanpun itu.” Dengan penuh cinta, Emelie mengecup gelang itu.
Membuat Zeroun semakin bahagia dengan hati yang sangat tenang.
“Aku akan memesan baju untukmu, Emelie.” Zeroun beranjak dari tempat tidur.
“Lana sudah pergi untuk membelinya. Tapi, sudah 1 jam lebih ia tidak kembali. Padahal tadinya ia bilang hanya membutuhkan waktu 30 menit.”
“Lana?” Mendengar cerita Emelie, ada rasa curiga di dalam hati Zeroun.
“Emelie, tetap dikamar. Jangan keluar dengan penampilanmu yang sekarang. Hanya Aku yang boleh melihatmu seperti ini.”
Emelie mengangguk. Zeroun berjalan cepat menuju kearah pintu.
Vote, like, komen...
biar author semangat.
Terima Kasih untuk Reader setia.
Love u Pulll....💗