
Morgan berdiri di ruang berukuran luas dengan napas terputus-putus. Semua barang yang ada di hadapannya ia lempar hingga berserak memenuhi lantai. Beberapa pria yang menjadi orang kepercayaan Morgan berdiri sambil menunduk. Mereka tahu bagaimana suasana hati Morgan malam itu.
Bahkan luka yang ada di sekujur tubuh Morgan tidak bisa mereka obati seperti biasa. Morgan menolak keras untuk di sentuh dan berbicara dengan tenang. Pria itu kecewa, sakit hati.
Perasaan Morgan terluka parah. Jantungnya seperti di remas saat wanita yang paling ia puja dan ia cintai berkhianat. Morgan benci dengan Lana. Bahkan kini wanita itu tidak lagi memiliki tempat dihatinya. Nama Lana telah masuk ke dalam daftar orang yang harus ia kalahkan. Bahkan ia bunuh.
Tidak ada lagi belas kasih terhadap wanita yang telah melukai hatinya. Cintanya yang tulus terasa seperti di nodai dengan bentuk pengkhianatan. Morgan tidak terima. Sejak awal ia sudah menyiapkan penawar untuk virus yang telah ia berikan kepada Lana.
Tapi, sebuah botol kaca yang berisi obat penawar itu juga telah berserak di lantai. Morgan memilih untuk melihat Lana tersiksa dengan rasa sakit yang luar biasa. Seperti itu rasa sakit hati yang setimpal bagi Morgan.
“Apa kau sudah membuang penawar yang lainnya?” ucap Morgan sambil memandang wajah bawahannya yang berdiri tidak jauh dari posisinya.
“Sudah Bos,” jawab Pria itu sambil menunduk takut.
“Bagus,” ucap Morgan dengan senyum licik, “Kita akan lihat. Bagaimana pria itu bersujud di hadapanku nanti untuk meminta penawar itu.”
“Bahkan kami sudah menyekap pria yang membuat virus itu, Bos. Apa anda ingin kami membunuhnya malam ini, Bos?” ucap salah satu pria berbadan tegab.
“Tidak perlu. Amankan pria itu di suatu tempat yang tidak di ketahui oleh Gold Dragon. Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk menjauh dari mereka. Permainan ini akan semakin seru saat Lana menderita dan tersiksa. Bukankah menyiksa Lana sekarang sama saja menyiksa Lukas? Rasa sakit saat melihat seseorang yang kita cintai tersakiti itu jauh lebih menyakitkan dari luka apapun.”
Morgan berjalan pergi menuju ke arah pintu untuk meninggalkan markas miliknya. Bibirnya mengukir senyuman licik.
“Aku sudah pernah bilang. Kau tidak akan pernah menang dariku. Kali ini kita lihat. Sebesar apa perjuanganmu untuk mempertahankan nyawa wanita sial*an itu.”
Malam itu juga Morgan memutuskan untuk bersembunyi di suatu tempat agar bisa menghindar dari kunjungan Lukas. Pria yang sempat memiliki hati nurani itu harus berubah kejam. Semua karena cinta. Cinta bisa mengubah seseorang menjadi baik atau sebaliknya.
***
Rumah Sakit
Beberapa Dokter terlihat sangat serius memeriksa sampel darah Lana. Dokter yang menjadi kepercayaan Gold Dragon duduk di sebuah kursi besi. Pemeriksaan seperti itu bukan bagian dari tugasnya. Ia membutuhkan bantuan beberapa rekannya untuk mengetahui hasil akhir dari racun yang kini memenuhi seluruh tubuh Lana.
Seorang pria paruh baya dengan kaca mata berjalan sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Pria tua itu meletakkan hasil pengamatannya di atas meja yang ada di hadapan Dokter Gold Dragon.
“Racun ini cukup langkah. Sepertinya sengaja di buat bersamaan dengan vaksinnya. Saya sudah berusaha untuk mencocokkannya dengan beberapa Vaksin yang hampir serupa dengan jenis virusnya. Tapi, tidak ada yang cocok. Bahkan, jika di paksakan. Bisa membuat pasien kehilangan nyawanya.” Wajah Dokter itu terlihat sangat serius, “Hanya orang yang membuat virus ini yang bisa membuat vaksinnya.”
“Kelumpuhan bahkan rasa sakit yang luar biasa. Untuk seorang wanita akan sangat sulit untuk menahan rasa sakitnya.” Dokter itu melingkari beberapa gambar yang ada di atas selembar peta, “Beberapa ahli di kota ini bisa menjadi pembuat racun ini. Jika kita berhasil menemukan pembuat racun yang asli, maka masalah ini akan cepat di atasi.”
Dokter yang menjadi tangan kanan Gold Dragon memandang beberapa nama kota yang ada di Spanyol. Pria itu mengangguk pelan, “Aku berharap, Gold Dragon bisa dengan mudah menemukan pembuat racun ini.”
“Gold Dragon mafia yang sangat terkenal. Saya cukup yakin. Jika racun ini di buat untuk mencelakai anggota Gold Dragon sudah pasti yang membeli racun ini juga bukan orang biasa.”
Dokter itu beranjak dari kursi yang ia duduki, “Selama saya bergabung dengan Gold Dragon, belum pernah sekalipun saya melihat mereka kalah. Walau kalah di awal mereka akan menang di akhir. Saya cukup yakin, kalau kali ini mereka akan berhasil menemukan orang yang membuat racun ini.”
Dokter itu pergi meninggalkan laboratorium. Tangannya menggenggam sebuah peta yang berisi beberapa nama kota yang harus segera di periksa oleh Lukas. Walau terdengar lari dari jalur. Tapi, semua ini harus mereka lakukan demi menyelamatkan rasa sakit yang akan di derita oleh Lana.
Dari ujung lorong rumah sakit Lukas berjalan dengan tenang. Pria itu memasang wajah dingin sedingin es dengan sorot mata yang cukup tajam. Beberapa pasukan Gold Dragon yang ada di rumah sakit itu menunduk hormat menyambut kedatangan Lukas.
Dokter yang baru saja keluar dari laboratorium mengukir senyuman. Ia berjalan mendekati posisi Lukas berada. Mereka berdiri saling berhadapan. Dokter itu kembali menceritakan keadaan Lana saat ini.
Wajah Lukas terlihat sangat serius saat mendengar cerita yang di sampaikan Dokter tersebut. Di penghujung cerita, ada harapan yang kini memenuhi hati Lukas. Pria tangguh itu memandang beberapa kota yang harus ia periksa. Ia cukup yakin, kalau akan berhasil menemukan pembuat virus di salah satu kota yang tertulis.
Ada lima kota yang menjadi target Lukas malam itu. Madrid, Granada, Toledo, Alicante dan Valladolid. Lukas mencengkram kuat kertas yang ada di genggaman tangannya setelah berhasil menghafal nama-nama kota tersebut.
“Dok, apa tidak ada obat untuk mengurangi rasa sakitnya?” tanya Lukas dengan wajah yang cukup serius.
Dokter itu menggeleng, “Jika saya salah memberi obat maka nyawa Nona Lana sendiri yang akan menjadi taruhannya.”
“Tadi Lana sempat demam tinggi,” sambung Lukas.
“Ya. Itu salah satu efek ringan sebagai bentuk penolakan obat yang saya berikan.”
Lukas menggertakkan giginya. Setelah berhasil menemukan vaksin itu Lukas ingin segera mencabik-cabik tubuh Morgan. Bahkan ia ingin membuat pelajaran yang jauh lebih menyakitkan dari penyiksaan yang kini di berikan Morgan kepada kekasihnya.
Tanpa banyak kata lagi Lukas memutar tubuhnya. Pria itu pergi meninggalkan rumah sakit. Ia ingin kembali ke sisi Lana untuk menemani wanita itu saat ini. Hatinya sedih dan terluka. Lukas tidak sanggup melihat Lana lumpuh dan merasa kesakitan tiap kali virus itu bereaksi nantinya.
“Aku yang salah. Seharusnya aku tidak pernah memberi kesempatan kepada pria itu untuk tetap hidup dan menghirup udara segar. Maafkan Aku, Lana.”
Sejak dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.