Moving On

Moving On
S2 Bab 96



Beberapa saat kemudian.


Pesta di pantai telah selesai. Semua orang kembali ke rumah Zeroun untuk beristirahat. Tidak dengan Lana dan Lukas. Pengantin baru itu harus tinggal di hotel yang menjadi tempat resepsi selanjutnya berlangsung.


Serena berdiri didepan foto miliknya. Dulu, kamar itu memang menjadi kamarnya. Zeroun memberikan kamar itu menjadi miliknya. Isi di dalamnya tidak ada yang berubah. Semua masih tertata rapi pada tempatnya. Terakhir kali ia berkunjung ke kamar itu bersama dengan Zeroun. Kunjungan terakhirnya telah menjadi keputusan dirinya untuk meninggalkan Zeroun selamanya.


“Sayang,” ucap Daniel sambil melingkarkan tangannya di perut rata milik Serena, “Apa kau memikirkan sesuatu? Kau memikirkan Pangeran Cambridge,” bisik Daniel dengan mesra.


Serena mengukir senyuman sebelum mendaratkan tangannya di wajah Daniel, “Apa aku boleh memikirkannya?”


“Tentu saja boleh. Tapi, ketika dia dalam bahaya saja. Karena saat dia dalam bahaya, bukan hanya kau. Aku juga akan memikirkannya.” Daniel mendaratkan satu kecupan di pipi Serena, “Itu juga kalau kau mau berurusan dengan Ratu Emelie.”


Serena tertawa saat mendengar kalimat yang di ucapkan Daniel. Wanita itu memutar tubuhnya lalu melingkarkan tanganya di leher Daniel, “Aku mencintaimu.”


“Hmm, ya aku tahu itu. Kau memang mencintaiku. Jangan pernah hilangkan nama Zeroun di sini,” ucap Daniel sambil menyentuh dada Serena, “Selamanya Zeroun akan tetap ada di dalam hatimu. Kau tidak bisa melupakan namanya. Dia sahabat kita. Saudaraku. Bagian terpenting dalam hidup kita.”


Serena mendaratkan bibirnya di bibir Daniel. Suaminya pria yang sangat dewasa dan pengertian. Cukup berbeda dengan sikap cemburu yang selama ini ia tunjukkan. Daniel merangkul pinggang Serena lalu memeluk wanita itu dengan begitu erat. Ia juga membalas kecupan mesra Serena.


Pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Ada Emelie yang berdiri di samping pintu dan menguping percakapan suami istri itu, “Apa yang aku pikirkan? Zeroun sudah menjadi suamiku dan Serena sudah menikah dengan Daniel. Tapi, kenapa aku tiba-tiba cemburu mendengar cerita seperti itu,” gumam Emelie di dalam hati.


Emelie memandang pintu kamar itu lagi dengan seksama. Selama tinggal di rumah Zeroun, wanita itu memang belum pernah masuk ke dalam kamar itu. Tidak di sangka, ada kamar Serena di dalam rumah suaminya. Bahkan semua barang-barang wanita itu masih berada pada tempatnya.


“Apa yang aku pikirkan,” ucap Emelie sambil memukul-mukul kepalanya.


Hingga tanpa Emelie sadari. Tangan kekar telah melingkar di perutnya. Ada hembusan napas yang cukup hangat yang bisa ia rasakan saat itu, “Apa yang kau pikirkan?”


Emelie melebarkan matanya. Wanita itu tidak ingin ketahuan kalau kini ia sedang cemburu. Apa lagi itu kepada Serena. Wanita yang sudah ia anggap sahabat, bahkan saudara.


“Aku...” ucapan Emelie tertahan.


Zeroun melepas pelukannya. Pria itu memandang pintu kamar Serena. Ia mengukir senyuman kecil seolah mengerti dengan jalan pikiran istrinya. Tanpa banyak kata lagi, Zeroun menarik tangan Emelie dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar Serena.


Di dalam kamar, Serena dan Daniel kaget saat pintu terbuka tiba-tiba. Sepasang suami istri sedang bercumbu mesra dan hampir saja berlanjut ke babak selanjutnya. Daniel terlihat kesal saat melihat kemunculan Zeroun dan Emelie saat itu. Sedikit lagi, rayuan yang ia buat akan berhasil.


“Kau memang tidak pernah memiliki sopan santun, Zeroun. Kenapa kau masuk ke dalam kamar kami. Bagaimana jika saat ini kami sedang tidak mengenakan busana?” teriak Daniel hingga membuat baby Al terbangun. Diikuti tangis baby El selanjutnya.


Serena merapikan penampilannya sebelum berjalan ke arah tempat tidur. Emelie juga berjalan ke tempat tidur untuk membantu Serena. Sedangkan Zeroun, pria itu hanya diam mematung mengamati kamar yang kini ada di hadapannya. Semua memang masih sama. Tidak ada yang berubah. Sejak pertama kali Zeroun menyerahkan kamar itu untuk Serena, seperti itulah keadaanya saat ini.


Bahkan Zeroun masih ingat betul, bagaimana dulunya ia mengabiskan waktu bersama dengan Serena. Tapi, itu hanya kenangan. Terakhir kali Zeroun berada di kamar itu saat dirinya akan berpisah dengan Serena. Hari dimana pria itu mengalami patah hati hingga menjadi sejarah penting di dalam hidupnya.


“Jangan memikirkan istriku!” sambung Daniel yang seolah mengerti dengan jalan pikiran Zeroun.


Zeroun tersadar dari lamunannya. Pria itu menatap wajah Daniel dengan seksama, “Kau pria yang cerewet. Bahkan jauh lebih cerewet dari seorang wanita.”


Zeroun berjalan ke arah lemari yang ada di dalam kamar itu. Ada sebuah benda yang ia simpan dan tidak pernah ia periksa keadaannya. Secara perlahan, Zeroun membuka pintu lemari. Pria itu berjongkok lalu mengambil sebuah kotak kecil di antara tumpukan jaket yang ada di lemari.


Sebuah kotak biru berukuran kecil. Zeroun tersenyum melihat benda itu. Ia mengambil kotak itu dan membawanya keluar dari lemari. Serena dan Emelie terlihat penasaran dengan kotak biru berukuran kecil tersebut. Seperti kotak cincin. Namun, jika di lihat dari bentuknya. Kotak itu sudah cukup lama di simpan dan tidak pernah di perhatikan.


“Zeroun, apa itu?” tanya Daniel yang tidak kalah penasaran dari Serena dan Emelie.


Zeroun membuka kotak kecil tersebut. Sebuah cincin dengan permata biru tua yang terlihat sangat indah. Pria itu mengukir senyuman saat melihat isinya masih utuh, “Ini cincin warisan keluarga Zein. Aku berpikir kalau Zettaku telah hilang, jadi aku memutuskan untuk memberikan cincin ini pada wanita yang akan menjadi istriku saat itu.”


Zeroun memandang wajah Serena sekilas sebelum mengeluarkan cincin itu dari dalam kotak. Bibirnya tersenyum. Ia memperhatikan lagi keindahan cincin itu dengan seksama.


“Aku tidak pernah tahu, kalau cincin itu ada di sana,” ucap Serena dengan wajah yang serius.


“Itu karena kau tidak memilihku. Aku berencana memberikan cincin ini di malam pertama.” ucap Zeroun masih dengan perhatian ke cincin yang ada di tangannya.


Emelie menunduk. Wanita itu semakin cemburu saat membayangkan batapa romantisnya Zeroun terhadap Serena dulu. Ia meremas dresnya dengan begitu kuat dan menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Serena memeluk Emelie lalu mengusap lembut lengan wanita itu, “Emelie istrimu saat ini. Kau harus memberikan cincin itu kepadanya,” ucap Serena dengan senyuman, “Di jariku sudah ada cincin warisan keluarga Chen.” Serena memamerkan cincin yang terselip rapi di jarinya.


Emelie mengangkat wajahnya lalu memandang wajah Serena. Ia memandang wanita itu dengan seksama, “Serena, maafkan aku. Tapi aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku cemburu melihatmu.”


Serena mengeryitkan dahi saat mendengar kalimat yang diucapkan Emelie. Wanita itu mempererat pelukannya, “Mungkin bawaan bayi. Aku juga seperti itu saat hamil. Aku tidak marah padamu, Emelie. Kau istri Zeroun. Wajar jika kau cemburu padaku. Tapi, satu hal yang harus kau tahu, kalau di hatiku hanya ada nama Daniel dan di hati Zeroun hanya ada namamu. Kami hanya sebatas kakak adik yang akan selalu dekat dan saling menolong.”


Emelie mengangguk pelan, “Mungkin bawaan bayi. Ya. itu hanya bawaan bayi saja.”


Zeroun dan Daniel saling memandang sebelum dua pria itu menghela napas. Mereka sudah pernah melewati masa-masa sulit dan saling menjatuhkan dulunya. Cukup sulit dan berat untuk mereka lalui dulunya.


Serena melepas pelukannya. Wanita itu mengukir senyuman sambil memandang tubuh Emelie yang berjalan mendekati Zeroun. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Daniel berjalan mendekati Serena. Pria itu lebih memilih untuk memeluk istrinya dari belakang. Meletakkan dagunya di pundak sebelah kanan milik Serena.


“Apa kau masih cemburu saat ini?” ucap Zeroun sambil mengusap lembut punggung istrinya.


Emelie menggeleng pelan, “Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sepertinya apa yang dikatakan Serena benar. Ini bawaan bayi.”


Zeroun melepas pelukannya. Pria itu mengambil tangan Emelie lalu menyematkan cincin itu di tangan istrinya, “Cincin ini cocok di jarimu.”


Emelie mengukir senyuman sambil memperhatikan cincin yang sudah ada di jari manisnya, “Ini sangat indah.”


Suasana diruangan berukuran luas itu berubah hening. Mereka fokus pada pasangan mereka masing-masing. Saling berpelukan untuk membuktikan rasa cinta yang mereka miliki. Tapi suasana sunyi itu tidak berlangsung lama.


Kenzo masuk ke dalam kamar dengan sepiring mangga di tangannya. Di sampingnya ada Shabira. Wanita cantik berambut panjang itu tidak mengerti, kenapa suaminya bisa membawa mangga muda di tangannya.


“Kakak ipar, aku punya hadiah untukmu,” ucap Kenzo dengan senyuman jahat.


Zeroun melepas pelukannya. Pria itu melirik potongan mangga muda yang ada di atas piring. Hatinya mengumpat berulang kali. Mangga itu sangat menggugah selera. Tapi, akan cukup fatal jika pria itu meminta mangga muda itu dari adik iparnya yang terkenal jahil dan menjengkelkan itu.


“Buat apa mangga seperti itu. Itu asam,” ucap Serena sambil mengeryitkan dahi. Hanya melihat bentuknya saja sudah membuat mulutnya merasa asam.


“Serena, ini untuk kakak ipar. Aku tahu, biasanya wanita yang hamil menyukai mangga muda.” Kenzo memberikan mangga itu kepada Emelie, “Aku melihat Kakak ipar memakan mangga ini tadi. Ya, walaupun saya tahu kalau Zeroun yang memegang piringnya. Tapi, pasti yang memakan isinya kakak iparkan?” tanya Kenzo dengan penuh keyakinan.


Emelie memandang wajah Zeroun sekilas sebelum mengukir senyuman terpaksa. Wanita itu mengangguk pelan, “Ya. Tentu saja. Mana mungkin dia menyukai makanan seperti ini. Ya, kan Sayang?” ucap Emelie dengan senyuman penuh arti.


Kenzo melirik wajah Zeroun sekilas sebelum memandang wajah Emelie lagi, “Kak, cobalah satu saja. Mangga ini aku pilih secara langsung dengan kualitas terbaik.”


Emelie menerima piring tersebut. Wanita itu memandang aneh mangga muda yang kini ada di tangannya. Ia mengatur salivanya yang tiba-tiba saja menjadi terkumpul di dalam mulut, “Bagaimana ini? Mangga ini pasti sangat masam. Aku tidak suka buah yang masam,” gumam Emelie di dalam hati.


Perhatian semua orang terfokuskan pada Emelie. Seharusnya wanita itu segera memakan buahnya. Tapi, hingga beberapa menit. Emelie hanya diam mematung sambil memandang ngeri buah tersebut.


Zeroun menghela napas, “Aku yang memakan mangga itu. Apa ada masalah?” celetuk Zeroun dengan nada kesal. Pria itu merebut piring yang ada di tangan Emelie lalu memakan satu persatu potongan mangga yang ada di piring.


Kenzo menutup mulutnya dengan ekspresi menahan tawa. Sama halnya dengan Daniel. Pria itu tentu saja tidak ingin ketinggalan untuk meledek Bos Mafia yang kini ada di hadapannya.


Serena dan Shabira memalingkan wajah mereka dengan ekspresi menahan tawa. Mereka tidak tega menertawakan Zeroun. Tapi, pemandangan seperti itu sungguh membuat mereka ingin tertawa.


“Apa kata pasukan Gold Dragon jika mereka tahu kalau pria menyeramkan ini menyidam,” ucap Kenzo dengan tawa yang sudah tidak tertahankan lagi.


Daniel merangkul pundak Kenzo, “Mereka hanya diam di depan Zeroun. Tapi tertawa riang di belakang.”


Emelie memeluk tubuh Zeroun lalu mendaratkan kepalanya di dada bidang pria itu, “Tapi, dia jadi terlihat semakin menggemaskan.”


“Emelie kau sungguh beruntung. Andai saja saat hamil aku seperti itu. Pasti akan menjadi kehamilan yang sangat menyenangkan,” ucap Serena.


“Benar kakak ipar. Kak Zeroun sangat mencintaimu hingga ia menjadi seperti ini saat kakak hamil. Aku pernah membawa satu artikel. Kalau kejadian seperti ini cukup langkah. Kak Zeroun sungguh hebat,” ucap Shabira dengan senyuman manis.


Zeroun memandang wajah Kenzo dan Daniel bergantian. Pria itu mendapat pembelaan dari tiga wanita hebat yang kini ada di hadapannya, “Bukankah itu berarti kalian dua kalah dari aku?”ucap Zeroun dengan senyum kemenangan.


Kenzo dan Daniel menghentikan tawa mereka. Kali ini mereka harus kalah lagi meledek Zeroun karena ada Serena dan Shabira yang membela pria tangguh itu. Jika dilanjutkan lebih jauh lagi, ujungnya pasti mereka yang akan kalah.


“Sayang, ayo kita kembali ke kamar untuk beristirahat. Sepertinya aku tidak perlu memberi pelajaran kepada dua pria ini.” Zeroun merangkul pinggang Emelie. Pria itu memandang wajah Serena dan Shabira secara bergantian.


Serena melipat kedua tangannya di depan dada. Sama halnya dengan Shabira. Dua wanita itu memandang wajah suami mereka dengan seksama, “Kenapa kalian sangat suka meledek Zeroun?” ucap Serena.


“Padahal Kak Zeroun tidak melakukan kesalahan apapun terhadap kalian,” sambung Shabira.


“Sayang, itu hanya lelucon kecil. Jangan dipermasalahkan lagi ya. Kau sedang hamil, jangan marah-marah. Kasian anak kita. Sekarang kita pergi ke kamar lagi yuk istirahat.” Kenzo berusaha membujuk Shabira agar kembali ke kamar.


Kini yang tersisa di kamar hanya ada Serena dan Daniel. Sepasang suami istri itu berdiri saling berhadapan. Daniel melangkah perlahan untuk mendekati tubuh Serena.


“Aku tidak melakukan apapun. Jangan memarahiku.”


Serena memasang wajah yang serius sebelum tertawa keras, “Tapi, itu sangat lucu.”


Daniel mengeryitkan dahinya saat melihat tawa Serena. Ia sempat berpikir kalau kali ini Serena masih tetap ada di pihak Zeroun. Tidak di sangka, wanita itu justru memandang lucu pemandangan seperti tadi. Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya, “Jika keadaan seperti itu bisa di mintak. Saat kau hamil, aku ingin meminta penderitaan yang sempat kau rasakan. Aku sangat mencintaimu Serena. Kau harus tahu itu.”


Serena mengukir senyuman sebelum membalas pelukan Daniel, “Aku tahu, Daniel. Aku juga sangat mencintaimu.”