Moving On

Moving On
S2 Bab 77



Waktu terus berlalu hingga tidak terasa lagi-lagi hari telah siang. Lana dan Lukas duduk di sebuah sofa. Sepasang kekasih itu sedang bercanda tawa. Mereka terlihat sangat kompak dan romantis.


Lukas mengacak-ngacak rambut Lana hingga berantakan. Pria itu seperti baru saja menemukan mainan terbarunya. Ia cukup bahagia dan gembira hanya dengan melihat Lana berwajah kesal. Semakin kesal wajah Lana maka Lukas justru semakin bersemangat untuk mengacak-ngacak rambut Lana.


“Lukas!” teriak Lana sambil menatap tajam wajah Lukas.


“Apa kau mau marah padaku?” Lukas mendekatkan wajahnya di depan wajah Lana, “Aku ingin lihat kau marah.”


Lana menyipitkan kedua matanya. Wanita itu tiba-tiba saja kembali ingat dengan baju coupel yang akan menyiksa kekasihnya. Ada senyum jahat di bibir Lana siang itu.


Lukas mengeryitkan dahinya saat melihat senyuman Lana yang terlihat sangat mencurigakan. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada sebelum menatap wajah Lana dengan seksama.


“Tunggu di sini,” ucap Lana sebelum beranjak dari sofa. Wanita itu berjalan cepat menuju ke kamar tidurnya. Ada tawa kecil yang terdengar dengan wajah riang yang luar biasa.


Lukas menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Pria itu lebih memilih menunggu dari pada harus mengikuti kekasihnya dari belakang. Ia mengangkat kakinya di atas meja dan menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya terpejam karena posisi itu cukup nyaman baginya. Hanya selang beberapa menit saja sudah terdengar suara.


“Kejutan!” teriak Lana penuh semangat. Wanita itu berdiri dengan mengenakan kaos berwarna hitam bertuliskan Queen. Bagian bawah Lana mengenakan rok hitam pendek yang membuat penampilannya terlihat sangat cantik dan seksi.


Lukas menaikan satu alisnya. Ia memperhatikan penampilan Lana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada yang mencurigakan dari penampilan kekasihnya. Memang selama ini wanitanya selalu mengenakan pakaian yang pendek.


“Ini untukmu,” sambung Lana sambil merentangkan kaos berwarna hitam dengan tulisan King. Ada gambar hati berwarna pink di dalam kaos tersebut.


Lukas mematung melihat kaos yang dipamerkan Lana di hadapannya. Pria itu tidak tahu harus bagaimana. Bibirnya ingin mengeluarkan tawa karena baginya baju itu jelek sekali. Detik itu Lukas belum sadar, kalau Lana memintanya memakai baju coupel.


Lana memajukan bibirnya saat melihat Lukas menertawakannya. Wanita itu duduk di samping Lukas dengan wajah cemberut karena kesal, “Kau menyebalkan. Kau harus memakai baju ini. Aku ingin kita jalan-jalan dengan mengenakan baju coupel.”


“Kau memintaku memakai baju jelek ini?” Lukas terus saja tertawa. Pria itu tidak lagi bisa membayangkan penampilannya yang berubah aneh saat mengenakan kaos bermotif hati dengan tulisan alay ‘King’.


“Biar semua orang tahu kalau kita pasangan,” ucap Lana tidak mau kalah.


“Apa tidak ada cara lain untuk memamerkan hubungan kita selain mengenakan pakaian seperti ini? Baju seperti itu cukup pantas jika kau yang memakainya. Berbeda jika aku yang memakainya.” Lukas berusaha mengatur tawanya. Perutnya sudah sakit karena terlalu banyak tertawa.


“Apa bedanya. Kau dan aku sama-sama manusia. Kita cukup cocok mengenakan kaos seperti ini.” Lana menatap wajah Lukas tanpa berkedip.


“Tentu saja berbeda. Kau memang jelek, jadi cukup pantas mengenakan pakaian jelek seperti ini,” sambung Lukas dengan tawa kecil.


“Lukas ...” rengek Lana.


Lana mendorong tubuh Lukas hingga pria itu tergeletak di atas sofa. Lukas menarik pinggang Lana hingga wanita itu kini ada di atas tubuhnya. Tawanya sudah terhenti. Kini tidak ada lagi suara yang terdengar. Hanya ada dua pasang mata yang saling memandang.


Belum saja momen manis itu berjalan lama, sudah terdengar deheman Emelie dari arah depan sofa. Putri kerajaan itu berdiri bersama dengan Zeroun di sampingnya. Ada senyum manis di bibir Emelie saat melihat kemesraan antara Lana dan Lukas siang itu.


Melihat kemunculan Zeroun dan Emelie, Lana dan Lukas segera bangkit. Dengan gerakan cepat sepasang kekasih itu berdiri dan memberi hormat kepada atasannya.


“Kalian sungguh manis,” ucap Emelie sambil memegang kedua pipinya.


Zeroun melirik Emelie sebelum menatap wajah Lukas, “Jam berapa jadwal pemakaman Mia?”


Lukas melirik jam yang melingkar ditangannya, “Sekitar satu jam lagi, Bos.”


Zeroun mengangguk pelan, “Pastikan seluruh pasukan Gold Dragon berjaga-jaga. Aku cukup yakin kalau Inspektur Tao akan muncul di pemakaman nanti.”


“Baik, Bos,” ucap Lukas dengan penuh hormat.


Emelie melirik kaos yang ada di genggaman Lana. Entah kenapa wanita itu cukup tertarik dengan apa yang di pegang oleh Lana, “Apa itu, Lana?”


Lana mengangkat kaos yang ingin ia berikan untuk Lukas sebelum menyembunyikannya di belakang tubuh, “Ini hanya baju, Nona.”


“Baju? Baju apa? Apa aku boleh melihatnya?” Emelie mengulurkan tangannya untuk meminta baju yang ada di genggaman Lana.


Emelie membuka kaos hitam yang sudah ada di genggaman tangannya. Wanita itu menaikan satu alisnya saat melihat baju aneh yang memang baru itu ia lihat secara langsung, “King?” celetuk Emelie dengan suara yang pelan. Sorot matanya berpindah pada kaos yang dikenakan Lana, “Queen?”


Zeroun melirik ke arah kaos yang di pegang Emelie sebelum beralih pada kaos yang di pakai Lana. Tiba-tiba saja pria tangguh itu merasakan firasat buruk. Akan segera terjadi sesuatu pada dirinya.


“Iya, Nona. Itu baju untuk pasangan,” jawab Lana dengan suara pelan. Bahkan suaranya nyaris hilang dan tidak terdengar.


“Coupel? Kalian ingin memakai baju yang sama?” Emelie terlihat kegirangan saat mendengar jawaban yang baru saja ia dengar.


“Iy-Iya, Nona,” jawab Lana terbata-bata.


“Hmm, so sweet. Lukas, kenapa kau tidak memakainya?” Emelie menatap wajah Lukas dengan wajah berseri.


Lukas menundukkan kepalanya saat mendengar kalimat yang ditanyakan Emelie untuknya. Pria itu tidak lagi tahu harus menjawab apa.


Zeroun terlihat menahan tawa. Dari ekspresi wajah Lukas saja, Zeroun sudah tahu bagaimana jalan pikiran bawahannya saat itu. Wajah Lukas siang itu memang terlihat jelas kalau sedang tersiksa dan tertekan.


“Lukas bilang. Baju itu jelek, Nona. Hanya orang jelek yang pantas memakainya,” ucap Lana dengan suara yang terdengar sangat menyedihkan.


Emelie mengeryitkan dahi, “Itu tidak benar. Baju ini cukup bagus. Bukankah begitu, Sayang?” tanya Emelie kepada Zeroun.


Zeroun tercengang saat istrinya meminta pendapatnya, “Itu ...” Zeroun menatap wajah Lukas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Ya. Itu sangat bagus.”


Emelie mengukir senyuman, “Apa kau dengar Lukas? Zeroun saja bilang baju ini cukup bagus. Apa lagi gambar hati ini. Melambangkan cinta yang luar biasa.” Emelie mengukir senyuman indah, “Lana, dimana kau menemukan baju seperti ini?”


“Saya masih punya baju coupel lainnya, Nona. Ada gambar hati yang terbelah. Jadi ketika kita mendekat dengan pasangan kita, bentuk hati itu akan utuh, Nona.”


Lana terlihat sangat bersemangat dengan penjelasannya. Wanita itu tidak lagi peduli kalau ada dua pasang mata yang menatap wajahnya dengan tatapan mematikan. Tatapan siapa lagi, kalau bukan Lukas dan Zeroun.


“Fantastis. Berikan padaku kaos yang baru saja kau ceritakan,” ucap Emelie penuh semangat. Wanita itu sudah tidak sabar melihat dirinya dan Zeroun memakai kaos yang terbilang unik tersebut.


Zeroun dan Lukas saling memandang satu sama lain. Dua pria itu terlihat saling melempar kode agar bisa lolos dari jebakan aneh wanitanya. Secara diam-diam, Lukas mengambil ponselnya. Pria itu menekan nama Zeroun.


Ponsel Zeroun berdering. Dengan gerakan cepat Zeroun mengangkat panggilan masuknya dan melekatkannya di telinga. Gerakannya sangat cepat karena Zeroun tidak mau Emelie menyadari kebohongannya.


“Apa? Inspektur Tao?” teriak Zeroun dengan ekspresi wajah yang sangat serius dan cukup menyakinkan. Pria itu mematikan ponselnya lalu memasukkannya di dalam saku, “Lukas, ikut denganku. Kita harus bisa mencegah Inspektur Tao pergi. Ada yang melihat wajahnya di bandara. Kau Lana, jaga Emelie. Jangan tinggalkan Emelie sendirian.”


“Baik, Bos,” jawab Lana dan Lukas secara bersamaan.


Zeroun menatap wajah Emelie lalu mengusap lembut pipi istrinya, “Aku akan segera kembali.” Pria itu mendaratkan kecupan cinta di pucuk kepada istrinya.


“Hati-hati,” ucap Emelie dengan suara lembut. Walau bingung, tapi saat melihat wajah serius Zeroun. Membuat Emelie tidak mau banyak tanya.


Zeroun memutar tubuhnya. Pria itu berjalan cepat menuju ke arah pintu. Lukas menunduk hormat kepada Emelie sebelum mengikuti langkah kaki Zeroun dari belakang.


Lana dan Emelie menatap punggung pria yang mereka cintai dengan wajah bingung. Tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh, dua wanita itu memutuskan untuk duduk di sofa dan bercerita-cerita sebelum nanti malam mereka berpisah.


Di pintu depan, Zeroun menghentikan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya untuk melihat keberadaan Lukas di belakangnya, “Kemana kita akan pergi?”


Lukas menatap wajah Zeroun, “Bos, terima kasih sebelumnya. Agar tidak mencurigakan, sebaiknya kita masuk dulu ke dalam mobil.”


Zeroun menaikan satu alisnya, “Ini semua karena ulah kalian berdua.”


“Maaf, Bos.” Lukas membuka pintu mobil untuk memberi jalan kepada Zeroun. Pria itu berlari mengitari mobil dan masuk ke bangku kemudi.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan markas Gold Dragon. Dua priaituterpaksa menjauh agar tidak bisa menghindari permintaan dari wanita yang mereka cintai. Tidak terbayangkan, bagaimana malunya saat seluruh pasukan Gold Dragon melihat dua pria menyeramkan itu menggunakan baju coupel.