Moving On

Moving On
S2 Bab 92



Cambridge.


Emelie melipat kakinya dengan posisi duduk. Wanita itu menatap wajah Zeroun yang terlihat sibuk dengan layar ponselnya. Bibir Emelie tersenyum. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Berada di istana bersama dengan pria yang ia cintai merupakan impiannya selama ini.


Setidaknya, selama berada di dalam istana. Mereka tidak lagi harus bermain perang-perangan. Suaminya akan menjauh dari senjata api dan senjata tajam. Emelie mengambil majalah yang tergeletak di atas meja. Wanita itu juga mencari kesibukannya sendiri. Ia tidak ingin mengganggu Zeroun tapi tidak ingin duduk diam.


Emelie mengeryitkan dahi saat melihat wajah Daniel terpampang jelas di halaman depan majalah yang ia baca. Sebagai pengusaha sukses memang akhir-akhir ini nama Daniel sering dibicarakan. Bisa di bilang kalau Daniel telah sampai pada titik tertinggi karirnya.


“Serena,” celetuk Emelie sebelum meletakkan majalah itu di bawa.


Zeroun melirik wajah Emelie. Pria itu meletakkan ponselnya lalu meraih tangan Emelie, “Ada apa? Kenapa wajahmu sedih seperti ini?” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie.


“Menjadi seorang Raja dan Ratu tidak akan mudah. Kita memiliki setumpuk tugas yang harus kita selesaikan secepatnya. Tidak akan ada lagi waktu untuk bermain-main.”


Zeroun berusaha menganalisa jalan pikiran Emelie pagi itu. Ia melirik sampul majalah yang baru saja di pegang istrinya. Melihat foto Daniel ada di situ membuat Zeroun mengerti jalan pikiran istrinya.


“Kau ingin berkunjung ke rumah Serena? Kau ingin jalan-jalan ke Jepang, Sayang?”


Emelie mengangguk dengan bibir maju ke depan. Kedua tangannya ia letakkan di pipi, “Tapi itu tidak mungkin. Kita sudah meminta waktu yang cukup lama untuk bulan madu hingga mengundur pelantikanku sebagai Ratu waktu itu. Paman Arnold tidak akan mengijinkan kita lagi untuk pergi meninggalkan Istana. Ditambah lagi, sekarang aku sudah menjadi Ratu.”


Zeroun menghela napas. Memang posisi mereka berdua saat ini cukup sulit. Sepasang suami istri itu seperti berada di dalam sangkar emas. Mereka berada di istana megah namun tidak bisa kemana-mana. Emelie dan Zeroun seperti sebuah permata berharga yang mendapat perhatian lebih dari seluruh pengawal dan penghuni istana.


“Memang cukup sulit. Biasanya Aku selalu memiliki ide untuk kabur dari suatu tempat. Tapi, kali ini aku tidak memiliki solusi apapun untuk ini. Maafkan aku, Sayang.”


“Ya. Sepertinya kita harus bersabar. Mungkin lain kali kita bisa kabur untuk jalan-jalan ke Jepang. Sekarang kita harus memikirkan kemajuan negara ini. Aku cukup khawatir dengan keputusan-keputusan yang aku ambil nantinya.” Emelie memperhatikan gaun indah yang ia pakai semalam untuk acara pelantikan.


“Kau yang terbaik, Sayang. Kau memang pantas mendapatkannya.” Zeroun meraih tangan Emelie. Mengecupnya dengan kecupan singkat, “Emelie, I love you.”


“I love you to, Zeroun.” Emelie mengalungkan tangannya di leher Zeroun. Bibirnya tersenyum dengan begitu indah. Tapi, dalam waktu singkat wanita itu merasa aneh dengan tubuhnya. Ia merasa mual dan ingin segera berlari ke kamar mandi.


“Emelie, apa kau baik-baik saja?” ucap Zeroun panik. Pria itu segera beranjak dan mengejar Emelie dari belakang.


Emelie berdiri di depan wastafel. Wanita itu ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya. Namun, tidak ada yang keluar sedikitpun. Hanya rasa mual dan kepala pusing yang ia rasakan.


“Sayang, apa kau sakit?” Zeroun tiba di belakang tubuh Emelie. Pria itu memutar tubuh Emelie lalu memegang kedua lengan istrinya. Ia menatap wajah Emelie dengan sangat panik.


“Aku,” ucapan Emelie terhenti. Wanita itu merasakan kakinya kehilangan tenaga. Semua yang ada di depan matanya terlihat bergoyang. Hingga akhirnya tubuh Emelie jatuh ke dalam pelukan Zeroun. Ia tidak lagi sadarkan diri.


“Sayang,” ucap Zeroun sambil menepuk pipi Emelie. Pria itu mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan. Membawanya pergi meninggalkan kamar mandi. Zeroun berlari kencang. Meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur dengan hati-hati.


Zeroun berteriak untuk memanggil pengawal yang berjaga di depan pintu kamarnya. Dengan suara yang terlihat takut, Zeroun meminta pengawal itu memanggilkan Dokter. Satu lagi pesannya. Dokter itu harus wanita.


“Sayang, bangunlah,” ucap Zeroun sambil menatap wajah Emelie dengan seksama.


Tidak menunggu waktu yang lama. Seorang Dokter wanita masuk ke dalam kamar. Di belakang Dokter itu ada beberapa keluarga kerajaan, termasuk Paman Arnold. Mendengar Dokter di panggil ke Istana, tentu saja membuat rasa kahwatir bagi seluruh penghuni istana.


“Yang Mulia, apa yang terjadi dengan Ratu Emelie?” ucap Paman Arnold sambil terus berjalan mendekat.


Dokter yang memeriksa Emelie mengukir senyuman. Wanita itu berdiri lalu memandang wajah Zeroun, “Yang Mulia, selamat. Ratu Emelie telah mengandung.”


Kabar baik yang diucapkan Dokter itu membuat Zeroun mematung. Ia seperti tidak percaya dengan kabar baik yang baru saja ia dengarkan. Secara spontan, bibirnya mengukir senyuman, “Hamil?”


Paman Arnold dan seluruh keluarga kerajaan yang ada di dalam kamar itu mengukir senyuman bahagia. Kabar itu memang kabar baik yang sudah mereka nanti-nanti sejak Zeroun dan Emelie menikah.


Paman Arnold memberi perintah kepada bawahannya untuk memberi hadiah kepada Dokter yang baru saja memeriksa Emelie. Bukan hanya itu, ia juga memberi perintah untuk membagikan sebagian harta miliknya kepada rakyat Cambridge. Dengan penuh semangat dan wajah berseri, Paman Arnold mengumumkan kabar kehamilan Emelie kepada seluruh penghuni istana.


Zeroun menatap wajah Emelie dengan wajah haru. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya tersenyum kecil. Harapan istrinya hari ini telah dikabulkan. Tidak ada kata lain yang memenuhi hatinya selain rasa bahagia.


Zeroun duduk di pinggiran tempat tidur. Ia meraih tangan Emelie lalu mengecupnya berulang kali, “Selamat sayang,” ucapnya dengan suara yang pelan.


Paman Arnold meminta semua orang untuk meninggalkan kamar Emelie. Mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat wanita hamil tersebut. Kini, hanya ada Zeroun dan Emelie di dalam ruangan berukuran luas tersebut.


Emelie mulai menggerak-gerakkan jemarinya. Wanita itu juga membuka matanya secara perlahan. Hanya ada wajah Zeroun di hadapannya. Pria itu terlihat sedang bersedih. Bahkan, saat tahu Emelie membuka mata. Zeroun dengan cepat menghapus air matanya.


“Zeroun, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” Emelie berusaha duduk. Ia cukup khawatir dengan wajah sedih suaminya saat itu, “Apa ada sesuatu yang terjadi?”


Zeroun menggeleng sebelum menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Pria itu memejamkan mata dengan bibir yang sulit mengeluarkan kata. Terlalu bahagia. Seperti itulah perasaan Zeroun.


“Sayang, selamat. Kau akan segera menjadi seorang Ibu,” ucap Zeroun sambil mempererat pelukannya.


Emelie segera melepas pelukan Zeroun. Wanita itu memegang kedua pipi Zeroun dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya gemetar karena tidak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar.


“Aku hamil?” suaranya mulai serak.


“Ya, Sayang. Kau hamil. Ada anak kita di dalam sini.” Zeroun memegang perut Emelie dengan wajah berseri.


Emelie meneteskan air mata karena terharu dengan kabar baik yang baru saja ia dengar. Tubuhnya lagi-lagi harus berada di dalam pelukan Zeroun. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zeroun. Ia memejamkan mata karena tidak tahu mau berkata apa lagi. Hanya air mata yang bisa mewakili rasa bahagianya saat itu.


“Selamat, Sayang. Aku berjanji akan selalu menjaga dirimu dan anak kita. Aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia.”


Emelie mengangguk pelan di dalam pelukan Zeroun, “Aku sangat bahagia.”


Sepasang suami Istri itu saling berpelukan. Kamar itu terasa sunyi dan tenang. Tidak ada suara lain selain hembusan angin yang masuk melalui jendela kamar. Impian Emelie telah terwujud. Wanita itu merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Ia bisa menjabat sebagai seorang Ratu yang akan di hormati semua orang. Seorang istri yang selalu di lindungi oleh Zeroun sang Bos Mafia. Lalu, tidak lama lagi ia akan melahirkan seorang baby. Bahagianya Emelie sangat-sangat sempurna.


***


Reader : Thor, Uda tamat?


Author : Belum... Masih ada beberapa part penting yang belum tayang.


Reader : Sampek melahirkan ya, Thor🤗


Author : Lihat saja nanti... pasti happy ending🥰