
Satu hari kemudian ....
Emelie terbangun dari tidur siangnya. Ia kini berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur Zeroun. Aroma tubuh Zeroun masih terasa di kamar itu. Emelie memeluk bantal yang sering digunakan oleh Zeroun. Bibirnya tersenyum manis dengan penuh kerinduan.
Putri Kerajaan itu memeriksa pistol kecil yang selalu ia bawa. Sejak kejadian itu, selalu ada pistol di bawah bantal tidurnya. Emelie menjadi wanita yang sangat waspada. Ditambah lagi, di rumah itu hanya ada Emelie dan beberapa pengawal wanita.
Walaupun pengawal itu dibekali ilmu bela diri. Tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa waspada Emelie saat itu. Emelie mendengar suara sepatu yang sangat pelan. Perlahan sepatu itu mendekat dengan pintu kamarnya.
Emelie bangkit dari tidurnya. Memandang handle pintu itu dengan jantung berdegub cepat. Pistol itu ia raih dengan posisi siap menembak.
Handle pintunya mulai bergerak lalu seseorang masuk.
Emelie bersembunyi di samping tempat tidur. Pistol itu masih ada di genggaman tangannya. Dengan penuh hati-hati ia mengintip dari bawah kolong tempat tidur. Sepatu hitam yang mengkilat itu mulai berjalan untuk mendekatinya.
Emelie memejamkan mata sejenak. Mengatur napasnya yang tidak lagi teratur. Tiba-tiba saja langkah pria itu terhenti di balik tempat tidur yang bersebrangan dari posisi Emelie bersembunyi.
Suasana kamar itu berubah sunyi seketika. Hanya terdengar suara degub jantung Emelie yang tidak lagi normal. Jemarinya mencengkram kuat pistol itu. Memegang pelatuknya dengan kondisi siap menembak. Di dalam hati Emelie mulai menghitung mundur. Sebelum menodongkan pistol itu di hadapan lawannya.
Sambil memejamkan mata Emelie berdiri. menodongkan pistol itu untuk mengancam lawannya, “Siapa kau?”
Tidak terdengar jawaban dari seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Perlahan, Emelie membuka matanya untuk melihat wajah musuhnya. Wajah pria itu membuat Emelie mematung dan tidak lagi bisa mengeluarkan kata.
Mereka bertatapan satu sama lain. Kedua bola mata itu memandang tanpa berkedip. Suasana itu terasa sangat hening. Emelie terpana dengan apa yang ada di hadapannya.
“Zeroun?” Suaranya serak dan terkejut. Emelie mematung. Tidak ada satu orangpun yang memberi info atas kepulangan Zeroun siang itu. Ini semua seperti sebuah kejutan yang tiada tara.
“Apa kau mau menembakku, Baby?” Zeroun mengangkat alisnya dengan eksprsi dingin ciri khasnya.
Emelie tersadar. Sejak tadi. Ujung pistol itu mengarah langsung ke arah tubuh Zeroun. Dengan cepat, Emelie melempar pistol itu di atas tempat tidur. Seperti baru pertama kali bertemu. Ada rasa canggung dan bingung di dalam hati Emelie. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Emelie memandang wajah Zeroun sekilas sebelum menunduk lagi. Rasa bersalah itu memenuhi hatinya. Menyesakkan dada. Ia sempat mengkhianati janji yang sudah pernah mereka buat bersama. Dengan tega dan berani ia pergi meninggalkan Zeroun saat pria itu tidak berdaya. Kini pria itu ada di hadapannya. Bisa berbicara dengannya.
Emelie tidak tahu, apa Zeroun masih memaafkan kesalahan yang sudah ia perbuat. Melihat wajah bingung Emelie, Zeroun tersenyum kecil. Sepertinya Bos Mafia itu tahu dengan isi pikiran Emelie saat ini.
“Baby, apa kau tidak ingin memelukku?” ucap Zeroun dengan senyuman yang begitu indah. Suara itu seperti kekuatan untuk Emelie untuk bisa kembali mengangkat kepalanya. Zeroun membuka kedua tangannya untuk menyambut tubuh Emelie. Wanitanya, Kekasihnya, Tunangannya, bahkan Permatanya yang berharga.
Tanpa menunggu lagi, Emelie berlari mendekap tubuh Zeroun. Buliran air mata menetes begitu saja membasahi wajahnya. Tangannya ia kunci di pinggang Zeroun dengan begitu erat. Tidak lagi ingin kehilangan sosok cinta pertamanya. Kepalanya ia tenggelamkan di dada bidang milik Zeroun.
Emelie menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan kesedihan dan kerinduannya selama ini. Kini pria yang sangat ia cintai telah kembali dengan selamat. Tidak ada lagi darah di wajahnya. Pria itu kembali dalam keadaan sehat.
“Maafkan Aku, Zeroun.” Emelie memperkuat pelukannya.
Zeroun tersenyum kecil. Memeluk wanita itu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kini ia tidak lagi kehilangan tunangannya yang berharga. Wanita yang sudah mengisi kekosongan di dalam hatinya, kini masih ada di hadapannya. Ia tidak perlu merelakan tunangannya yang berharga lagi kepada orang lain. Tidak ada rasa sakit hati di dalam hatinya. Semua perbuatan yang dilakukan oleh Emelie untuk menyelamatkan nyawanya.
Zeroun mendongakkan dagu Emelie. Menatap wajah sedih itu dengan seksama. Perlahan ia menghapus air mata yang menetes deras di wajah Emelie. Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya lagi. Seakan tidak cukup untuk memeluknya jika hanya beberapa menit saja.
“Jangan menangis,” ucap Zeroun sambil mengelus lembut pundak Emelie.
“Maafkan aku, aku tidak berniat untuk ....” ucapan Emelie terhenti.
Zeroun meletakkan satu jarinya di depan bibir Emelie. Menggeleng pelan agar wanita itu tidak melanjutkan perkataannya.
“Tidak apa-apa.” Zeroun mengukir senyuman kecil.
Mata Emelie berkaca-kaca. Hatinya terasa lega saat Zeroun sudah memaafkan kesalahannya itu.
Zeroun mengecup bibir Emelie dengan penuh cinta. Melampiaskan kerinduannya selama beberapa hari ini. Hampir saja ia kehilangan wanita itu. Tetapi takdir, masih mengijinkan mereka untuk bersatu dan bersama lagi. Jemari Zeroun menelusuri wajah Emelie.
“Tidak akan ada yang memisahkan kita lagi,” ucapan Zeroun bagai sebuah vonis yang tidak bisa di batalkan lagi. Sebuah janji yang tidak bisa untuk di langgar lagi.
“Aku mencintaimu, Zeroun Zein.” Emelie mengecup bibir Zeroun dengan penuh cinta.
“Aku juga sangat mencintaimu, Emelie.” Zeroun melekatkan hidungnya di depan hidung Emelie. Memejamkan mata untuk bertukar oksigen beberapa saat. Lagi-lagi air mata bahagia itu menetes di pelupuk mata Emelie.
“Jangan pergi bertarung lagi. Aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku.” Emelie memandang kedua bola mata Zeroun dengan wajah yang dipenuhi harapan. Wanita itu tidak ingin melihat pria yang ia cintai terluka lagi. Emelie ingin hidup damai dengan pria yang ia cintai. Ia ingin membangun rumah tangga yang hanya dipenuhi ketenangan dan cinta. Hanya ada dia dan Zeroun. Tidak ada lagi Gold Dragon atau apapun itu yang membuat napasnya berubah sesak.
“Tidak akan, ini yang terakhir. Setelah ini kita akan hidup bahagia dan damai di rumah ini.” Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya lagi.
“Janji,” ucap Emelie pelan.
“Janji sayang. Aku hanya akan menggunakan senjata itu untuk melindungi keluargaku. Sampai kapanpun, siapapun orangnya yang dengan berani menyakiti wanitaku. Tetap akan Aku bunuh.” Zeroun mencium bibir Emelie dengan penuh cinta. Pria itu ingin segera menikahi kekasihnya agar bisa memiliki Emelie seutuhnya.
“Aku mencintaimu,” sambung Zeroun, “Sangat sangat mencintaimu.”
Jangan Lupa Votenya ya Reader....