
Suasana di mobil itu berubah hening beberapa saat ketika Emelie mengucapkan kata Spanyol. Zeroun cukup kenal dengan nama negara itu. Ia memiliki banyak musuh di tempat yang sangat ingin di kunjungi istri tercintanya. Zeroun takut, bulan madunya bukan lagi satu perjalanan romantis tapi perjalanan action yang akan mengeluarkan tetes darah.
“Ada apa di Spanyol hingga kau terlihat bersemangat untuk mengunjunginya?” tanya Zeroun dengan wajah penuh selidik. Satu tangannya meraih tangan Emelie sebelum mengucupnya dengan lembut.
“Ada banyak. Alcazar Sevilla, Taman Guell, Alhambra dan masih banyak lagi. Aku suka melihat bangunan di Spanyol. Desainnya terlihat unik dan cukup mengagumkan. Aku juga memiliki banyak tempat bersembunyi jika sudah kabur ke Spanyol.” Emelie tertawa kecil saat membayangkan aksi konyolnya beberapa bulan yang lalu, “Aku ingin ke sana bersamamu, Baby.”
“Kau sangat ingin mengunjungi Spanyol, Sayang?” Zeroun menyelipkan rambut Emelie di balik telinga.
Emelie mengangguk cepat penuh semangat, “Bukankah itu tujuan kedua. Berarti kita akan pergi ke Dubai lebih dulu bukan?” tanya Emelie sekali lagi untuk memastikan.
“Ya. Aku sudah mempersiapkan bulan madu terindah kita di Dubai.” Zeroun mengukir senyuman agar kecemasan di dalam hatinya tidak terlihat. Apapun yang akan ia hadapi di Spanyol nanti, tentu saja tidak ada yang ia takutkan sama sekali. Hanya saja, momen kepergiannya ke negara itu untuk berlibur dan bersenang-senang. Zeroun tidak suka jika ada orang lain yang mengganggu momen kebersamaannya dengan wanita yang ia cintai.
“Sayang, Aku merindukan baby Al dan baby El?” ucap Emelie sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Wanita itu menghitung waktu perpisahannya dengan kedua bayi kembar serena.
“Kita akan ke sana nanti untuk mengunjungi mereka. Setelah semua urusan bulan madu kita berhasil,” jawab Zeroun dengan senyuman penuh arti.
Tiba-tiba saja Emelie kembali ingat dengan keharmonisan rumah tangga Daniel dan Serena, “Daniel pria yang cukup kaya. Ia sangat menyayangi Serena dan rela memberikan apa saja kepada Serena.”
“Dia Putra Edritz Chen,” sambung Zeroun dengan wajah serius, “Salah satu konglomerat terkaya di dunia ini. Tentu saja ia bisa dengan bebas melakukan apapun yang ia inginkan.”
“Keluarga Chen?” tanya Emelie sambil mengeryitkan dahi.
Zeroun mengangguk, “Ya,” jawab Zeroun singkat sebelum melajukan mobilnya lagi. Pria itu membuat kecepatan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia ingin menikmati perjalanannya saat itu.
“Aku sempat ingat saat Raja membahas nama-nama konglomerat yang memiliki kekayaan yang tidak akan ada habisnya hingga turunan ke tujuh. Ada keluarga Chen, William, dan-” Emelie menghentikan kalimatnya. Wanita itu menatap wajah Zeroun dengan seksama. Kedua bola matanya tidak berkedip. Tatapannya terlihat menuduh dan penuh selidik, “Zein,” celetuk Emelie ragu.
Zeroun menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Jika saja Emelie tidak mengenakan sabuk pengaman, mungkin saja wajah wanita itu sudah terbentur langsung dengan dashboard mobil.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” ucap Zeroun dengan wajah khawatir.
“Kenapa kau menghentikannya secara mendadak,” protes Emelie dengan wajah kesal.
“Ada sesuatu yang melintas,” ucap Zeroun asal saja.
“Kau berbohong padaku,” sambung Emelie tidak percaya. Detik itu Emelie tahu, kalau kekasihnya tidak pernah mengalami kebangkrutan. Zeroun masih tetap kaya dengan harta berlimpah yang ia miliki.
Zeroun mengukir senyuman, “Maafkan aku. Aku tidak pernah berniat untuk membohongimu. Aku hanya ingin Paman Arnold merestui hubungan kita saat keadaanku sama dengan pria biasa.”
“Kau masih kaya ternyata. Aku tidak perlu khawatir kalau membuat masalah di Istana kalau begitu. Jika aku di turunkan dari tahtaku, aku masih bisa hidup senang dengan harta suamiku,” ucap Emelie dengan senyuman penuh semangat. Ada tawa kegirangan yang tidak bisa ia tahan saat itu.
“Karena aku bukan wanita yang gila harta. Aku tidak pernah memikirkan status sosial seseorang sebelum mengenalnya.” Emelie meletakkan telapak tangannya di pipi Zeroun, “Sama seperti saat aku mengenalmu. Aku bahkan rela mengorbankan kehidupanku agar bisa mendapatkan hati dan cintamu. Aku tidak perna peduli kalau kau adalah seorang penjahat berbahaya yang selalu di musuhi seluruh orang di istana.”
Zeroun meraih tangan Emelie sebelum mengecupnya berulang kali, “Aku sangat mencintaimu. Sejak mengenalmu, semua terasa kembali indah. Rasa dingin yang menghantuiku terganti dengan sebuah kehangatan.”
“Hidupku juga kembali berwarna dengan bunga-bunga cinta yang seakan bermekaran dengan indah,” sambung Emelie dengan senyum bahagia. Secara perlahan ia melekatkan bibirnya di bibir Zeroun untuk memberikan kecupan singkat pada suaminya.
Zeroun mengukir senyuman kecil, “Apa kau ingin menggodaku di tempat seperti ini. He?!”
Emelie memandang lingkungan sekitar yang menjadi tempat mereka berhenti. Jalanan itu terlihat sunyi dengan lapangan luas di sekelilingnya. Dengan gerakan pelan namun pasti, Putri kerajaan itu memundurkan tubuhnya untuk menghindari hal yang tidak di inginkan. Tidak terbayangkan di benaknya jika ia harus melewati malam keduanya di dalam mobil.
“Kau mau menjauh dariku,” ucap Zeroun sambil menahan pinggang Emelie. Dengan gerakan cepat ia melanjutkan ciuman Emelie yang terasa belum sempurna. Emelie bersandar dengan tubuh di tindi*h oleh suaminya. Zeroun mengecup Emelie dengan begitu ahli hingga membuat Emelie kesulitan untuk bernapas. Bibirnya terus saja mencicipi bibir atas dan bawah milik istrinya secara bergantian. Sentuhan Zeroun memang selalu lembut dan memabukkan.
Emelie sendiri tidak pernah menyangka kalau dirinya mulai bisa mengimbangi cumbuan mesra Zeroun. Namun, di tengah-tengah suasana romantis itu Emelie kembali ingat dengan sesuatu. Wanita itu melepas kecupannya dengan napas tersengal. Satu tangannya ia letakkan di dada bidang suaminya dengan gerakan mendorong.
“Tidak di sini,” protesnya dengan nada yang tegas.
Zeroun mengeryitkan dahinya dengan wajah tidak suka. Namun, apa yang di katakan istrinya memang benar. Ia tidak bisa melakukannya di dalam mobil tersebut. Di tambah lagi, setiap detiknya ada pengawal yang selalu mengintai mereka. Zeroun juga tidak mau jika adegan mesranya di lihat oleh pengawal yang berjaga.
“Hmm, baiklah. Kita lakukan di kamar,” ucap Zeroun penuh semangat. Ia kembali duduk dengan posisi siap dan stir di cengkramannya. Pria itu tidak lagi mau melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kecepatan full yang di miliki mobil itu ia manfaatkan agar segera tiba di depan istana.
Emelie tertawa ceria saat melihat tingkah laku suaminya siang itu. Wajahnya kini tidak lagi khawatir saat melihat Zeroun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Emelie justru menikmati perjalanan cepatnya dengan suami. Satu kecupan ia daratkan lagi di pipi Zeroun agar pria itu semakin semangat melajukan mobilnya.
“Let Go, Baby!” teriak Emelie kegirangan.
.
.
.
**Author ada kesibukan di dunia nyata. Mungkin up satu bab selama beberapa hari. Mungkin nanti saat part action akan crazy up. Maafkan Author yang tidak bisa menepati janji untuk membuat Zeroun hidup dengan tenang🤣 Jari author gak bisa tenang kalau gak ngetik yang berantem2.
Sekali lagi terima kasih atas pengertiannya..
Like dan Komen juga vote jangan lupa. Terima kasih**.