
Emelie menarik tangan Zeroun. Wanita itu juga syok dengan keputusan yang baru saja di ucapkan suaminya. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu di depan pasukan Gold Dragon. Terlebih lagi di depan Lana dan Lukas. Ia lebih memilih mengintrogasi suaminya secara pribadi.
“Aku butuh penjelasan!” ucap Emelie dengan suara yang cukup tegas.
Zeroun menghentikan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya sebelum mengusap lembut pipi Emelie. Walau suasana di luar terlihat sangat kacau, tapi Zeroun masih mampu mengukir senyuman.
“Kau tidak percaya padaku?” ucap Zeroun dengan suara pelan.
Emelie terlihat semakin bingung dengan jalan pikiran suaminya, “Apa maksud semua ini? Lana akan kesulitan jika kita mengusirnya untuk pergi.”
“Dia akan baik-baik saja,” jawab Zeroun dengan wajah yang cukup serius.
“Bukankah White Tiger sedang mengincar semua anggota Gold Dragon. Agen Mia sendiri yang bercerita kalau ia hampir kehilangan nyawanya jika Lukas tidak datang tepat waktu. Bagaimana dengan Lana?” Suara Emelie mulai meninggi. Kini ia tidak sedang berbicara di depan pria yang ia cintai. Ia berdiri untuk mewakili isi hati Lana yang telah di perlakukan tidak adil.
Sorot mata Zeroun terlihat semakin tajam, “Percaya padaku. Lana akan baik-baik saja.”
“Tapi-”
Zeroun melekatkan satu jarinya di depan bibir Emelie, “Percaya padaku. Semua akan baik-baik saja. Termasuk Lana.”
Emelie mulai mengatur napasnya yang terasa sesak. Walaupun jawaban Zeroun malam itu belum sesuai dengan ia harapkan, tapi setidaknya Emelie bisa percaya kalau Lana akan baik-baik saja.
“Sekarang ayo kita tidur. Besok kita harus berjalan-jalan mengelilingi Spanyol,” ucap Zeroun sebelum mendaratkan satu kecupan cinta di pucuk kepala istrinya.
“Jalan-jalan?” celetuk Emelie bingung. Mereka ke sini untuk bertarung melawan White Tiger. Tapi, sekarang suaminya kembali membahas masalah jalan-jalan.
“Ada yang salah dengan jalan-jalan?” tanya Zeroun sambil menaikan satu alisnya.
Emelie menggeleng pelan, “Tidak ada. Mungkin aku terlalu lelah hingga memikirkan hal yang aneh-aneh.”
Zeroun merangkul pinggang Emelie. Pria itu membawa tubuh istrinya menuju ke tempat tidur. Bibirnya mengukir senyuman kecil dengan wajah yang sangat tenang. Tidak sama dengan ekspresi wajah Lana dan Lukas saat ini.
***
Lukas terus saja memukul samsak tinju yang menggantung di hadapannya. Sudah hampir tiga jam ia menghabiskan tenaganya di depan benda berbentuk guling tersebut. Keringat berkucur dengan begitu deras. Bercak darah mulai terlihat jelas di jemari yang ia gunakan untuk memukul samsak tersebut.
Masih teringat jelas keputusan terakhir yang di ucapkan oleh Zeroun. Lukas sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Peperangan masih akan terus terjadi. Bukan saatnya untuk dirinya memilih Lana dan pergi meninggalkan Gold Dragon. Keputusan Zeroun kali ini membuat luka yang sangat mendalam bagi Lukas.
Lana yang sejak tadi duduk tidak jauh dari posisi Lukas terlihat melamun. Wanita itu seperti tidak memiliki pegangan untuk hidup saat ini. Ia tidak tahu, setelah ini harus kemana ia melangkah. Tidak ada tujuan sama sekali di dalam pikiran Lana. Alika satu-satunya saudara yang ia miliki juga sudah tiada.
Lana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya lagi-lagi harus menetes. Sejak tadi, ia tidak menyadari tingkah laku kekasihnya. Lana mengeryitkan dahi saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Detik itu ia sadar, kalau Lukas telah berjam-jam menyiksa dirinya.
Lana berlari kencang untuk menghentikan perbuatan Lukas malam itu. Walau ia juga tahu, kini Lukas masih dilema. Pria itu juga tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Zeroun.
“Hentikan,” ucap Lana dengan suara serak.
Lukas tidak peduli. Pria itu terus saja melanjutkan kegiatannya.
Lukas menghentikan kegiatannya. Pria itu menatap wajah Lana dengan seksama sebelum mencium Lana secara paksa. Tidak ada kelembutan. Ciuman itu seperti sebuah pelampiasan rasa kesal yang kini memenuhi pikirannya.
Lana meneteskan air mata tanpa membalas ciuman Lukas. Wanita itu mematung. Ia tidak tahu, sikap seperti apa yang kini ia terima. Apa Lukas marah atau takut kehilangannya. Semua menjadi tanda tanya besar bagi diri Lana.
“Maafkan aku,” ucap Lukas sambil melepas kecupannya. Pria itu menghapus air mata Lana sebelum memutar tubuhnya untuk pergi.
Lana mencengkram lengan Lukas dengan erat sebelum menarik pria itu. Tidak ada kalimat yang bisa ia ucapkan. Lana melekatkan bibirnya dengan Lukas untuk melanjutkan ciuman mesra yang belum selesai.
Lukas memejamkan mata. Pria itu menarik pinggang Lana lalu memeluk tubuh wanitanya. Wajahnya terlihat sangat sedih saat kembali mengingat, malam ini malam terakhirnya bersama dengan Lana. Ia tidak lagi bisa menjaga Lana mulai besok. Jalan mereka berbeda. Mungkin saja, ke depannya mereka akan berada di pihak yang berlawanan.
“Kau mau menemaniku malam ini?” ucap Lukas sambil menatap wajah Lana dengan seksama.
Lana mengangguk, “Aku akan menemanimu malam ini.”
Lukas menarik tangan Lana. Ia hanya ingin minum yang banyak agar bisa bersenang-senang dengan wanita yang ia cintai. Pria itu mengajak Lana mendekati rak yang berisi aneka minuman keras.
“Malam perpisahan?” ucap Lana dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak ada malam perpisahan. Kita akan berjumpa lagi nanti,” jawab Lukas. Pria itu mengambil dua gelas lalu meletakkannya di depan Lana. Dengan penuh perasaan Lukas menuang minuman beralkohol yang ada di genggamannya ke dalam gelas.
Lana mengukir senyuman saat mengambil gelas yang sudah terisi, “Aku akan membuatmu dalam masalah nanti.”
Lukas tertawa kecil sebelum meneguk minuman yang tersisa di dalam botol. Pria itu terlihat serakah saat meminum minuman beralkhol tersebut. Ia memang sangat ingin mabuk agar bisa melupakan semua yang telah terjadi.
Lana memandang wajah Lukas sebelum meneguk minumannya. Ia tidak tahu, apa ini jebakan yang sengaja di buat Lukas atau pria itu benar-benar membutuhkannya. Rasa cintanya terhadap Lukas membuat Lana percaya. Kalau Lukas tidak akan mungkin melukainya.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sudah satu jam Lukas dan Lana meminum minuman keras tersebut. Kini sepasang kekasih itu duduk di atas sofa. Masing-masing dari mereka memegang botol minuman yang masih penuh. Ocehan mereka sudah tidak lagi bisa di cerna dengan akal sehat.
“Kau pria yang lemah,” ucap Lana di tengah-tengah kesadarannya yang hampir hilang. Wanita itu kini tergeletak di atas pangkuan Lukas. Sesekali ia kembali meneguk minumannya.
“Kau wanita yang nakal, Lana. Kenapa kau bisa mengkhianati Gold Dragon. Apa kau tahu, bagaimana cintanya aku padamu,” balas Lukas tidak mau kalah. Pria yang tidak biasa minum sampai mabuk itu kini mulai kehilangan kesadarannya.
“Kau tidak percaya padaku,” ucap Lana dengan wajah sedih. Wanita itu beranjak dari posisinya. Ia duduk di atas pangkuan Lukas. Menatap wajah Lukas dengan tatapan yang tidak lagi jelas, “Aku mencintaimu, Lukas.”
Lukas mengukir senyuman kecil, “Jika kau mencintaiku. Kau tidak akan berkhianat seperti ini. Bos Zeroun tidak pernah salah menilai orang lain. Bahkan nyawamu masih selamat saja, itu sudah satu keberuntungan.”
Lana menggeleng sebagai tanda tidak setuju, “Aku di fitnah. Pasti Mia yang melakukan semua ini. Ia sangat membenciku sejak awal.”
“Hei, jangan menyalahkan orang lain.” Lukas menepuk pipi Lana dengan mata yang mulai berat.
Lana mengecup bibir Lukas dengan begitu genit. Sentuhannya berhasil membuat Lukas bergairah. Pria itu bahkan tidak lagi sadar dengan apa yang ia perbuat. Satu tangannya menahan pinggang Lana sebelum satu tangannya yang lain menarik kepala Lana.
Lukas mengecup bibir wanitanya dengan penuh hasrat. Hingga akhirnya malam indah itu terlewati untuk yang kedua kalinya. Sama dengan malam pertama yang pernah mereka lalui. Mereka melakukannya dalam keadaan mabuk dan tidak sadar. Tidak tahu, apa yang terjadi keesokan harinya saat sepasang sejoli itu bangun tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka.