Moving On

Moving On
Sahabat Lama



Mobil yang di kemudikan Lukas berhenti di depan istana. Shabira berjalan lebih dulu saat sudah keluar dari dalam mobil. Wanita itu masih memasang wajah marah dan kesal pada suaminya. Sudah sejak bangun tidur ia merencanakan semuanya.


Namun, dalam hitungan detik Kenzo telah mengagalkan semua rencana yang ia susun. Ia juga berniat untuk memasang beberapa alat agar bisa menguasai kantor polisi. Hingga memudahkan kerja Kenzo dan Lukas esok harinya. Tidak di sangka, karena cemburu suaminya semua rencana itu harus gagal.


“Shabira!” teriak Kenzo sambil berusaha mengejar.


Shabira tidak peduli dengan teriakan Kenzo. Wanita itu berjalan cepat menuju ke arah tangga. Belum sempat kakinya menjejaki tangga, tangan seseorang menahannya. Dengan rasa kesal, Shabira menghempaskan tangan itu dan berteriak, “Pergi!”


“Zetta, apa yang terjadi?” Zeroun berdiri di belakang Shabira dengan wajah bingung. Ada Emelie tidak jauh dari lelaki itu berdiri.


Kenzo, Lukas dan Lana yang baru saja tiba di ruangan itu juga menghentikan langkah kakinya. Bagi Kenzo, detik itu ia akan mengalami masalah. Dengan wajah frustasi, lelaki itu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan.


Shabira tidak mengeluarkan kata. Wanita itu justru memeluk tubuh Zeroun lalu menangis. Hal itu berhasil membuat Zeroun semakin panik. Ia memandang wajah Kenzo dengan tatapan menuduh. Belum juga lelaki itu mengeluarkan kata, tapi semua orang sudah tahu kalau lelaki itu akan segera meluapkan amarahnya.


“Aku berharap wanita itu Mia,” ucap Shabira pelan.


“Mia? Apa maksudmu Agen Mia? Kau pergi ke penjara hari ini?” ucap Zeroun sambil mengeryitkan dahi.


Emelie memandang keadaan sekitar. Wanita itu berjalan pelan mendekati Zeroun, “Kita bisa bicarakan di suatu tempat. Di sini terlalu banyak orang yang akan mendengarnya.”


Zeroun mengangguk pelan sebelum melepas pelukan Shabira. Lelaki itu menghapus air mata yang menetes di pipi adiknya tercinta, “Jangan bersedih lagi. Kita bisa membicarakan semuanya.”


Shabira mengangguk setuju. Wanita itu mengikuti Zeroun dan Emelie ke sebuah ruangan yang ada di lantai satu. Kenzo dan yang lainnya juga mengikuti langkah Zeroun dari belakang.


Sebuah ruangan luas yang memiliki banyak lemari buku. Ada sofa besar yang melingkar rapi di tengah ruangan. Lampu kristal hidup dengan begitu indah untuk menyinari ruangan luas tersebut.


Zeroun duduk di sebuah sofa yang sama dengan Emelie. Shabira memilih sofa tunggal karena ia masih belum ingin berdekatan dengan Kenzo. Semua orang duduk dengan pikiran masing-masing. Zeroun memperhatikan satu persatu bawahannya sebelum beralih ke arah Shabira dan Kenzo.


“Untuk apa kalian ke penjara?” ucap Zroun pelan.


“Penjara? Apa maksudnya itu tempat Agen Mia saat ini di tahan?” Emelie menatap wajah Zeroun untuk menagih satu penjelasan.


Zeroun memandang wajah Emelie. Ia cukup takut jika nanti Emelie tahu rencana penyelamatan Agen Mia dan Inspektur Tao. Wanita itu akan meminta Zeroun untuk membatalkan semuanya. Tapi, sebentar lagi mereka akan menikah. Lelaki itu juga tidak ingin berbohong dengan wanita yang ia cintai.


Satu tangannya ia letakkan di atas punggung tangan Emelie. Menatap wajah wanita itu dengan seksama, “Sayang, maafkan aku. Aku tidak memberi tahumu sebelumnya. Tapi, aku telah menyusun rencana dalam pembebasan Agen Mia dan Inspektur Tao besok.”


Emelie memandang wajah Zeroun dengan tatapan bingung, “Besok? Bukankah besok kita akan pergi menemui Paman Arnold?”


Zeroun memandang ke arah lain sebelum memandang wajah Emelie lagi, “Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap menemanimu untuk menemui Paman Arnold. Biar Lukas, Kenzo dan Lana yang beraksi besok.”


Emelie memandang wajah Lukas dan Lana dengan tatapan tidak terbaca. Tatapannya berjalan hingga memandang wajah Kenzo dan Shabira dengan seksama, “Aku tidak setuju.” Kepalanya menunduk.


Zeroun menghela napas lalu bersandar di sofa. Kedua tangannya sengaja ia angkat di atas sandaran sofa agar amarah di dalam hatinya berangsur hilang. Lelaki itu menatap wajah Kenzo dengan tatapan penuh arti. Walau Emelie melarang, tetap semua harus berjalan sesuai rencana.


Ruangan itu berubah hening seketika. Zeroun belum mau mengeluarkan kata untuk meminta ijin dari Emelie. Sedangkan yang lainnya, tidak memiliki keberanian yang cukup untuk merayu Emelie. Rencana mereka memang cukup beresiko bagi kedudukan Emelie saat ini.


“Kenapa kalian semua diam? Tidak ada yang mau berbicara lagi?” Emelie memandang wajah Zeroun dengan satu senyuman, “aku tidak mengijinkan mereka menyerang besok. Kenapa tidak hari ini saja. Lebih tepatnya malam ini. Bukankah kau tidak memiliki kegiatan apapun malam ini? Jadi, kau bisa turun tangan langsung untuk membantu Kenzo.”


“Sayang, kau mengijinkanku bertarung malam ini?” ucap Zeroun penuh keraguan.


Emelie mengangguk pelan, “Kau harus berjanji untuk kembali tanpa luka sedikitpun.” Satu tangannya mengusap lembut pipi Zeroun.


Zeroun, aku tidak ingin kau berbohong lagi. Aku tahu kalau laranganku tidak akan bisa mencegahmu. Aku tidak ingin kau memiliki beban karena bersamaku.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Zeroun sambil mengecup punggung tangan Emelie.


“Kakak. Bagaimana denganku,” protes Shabira dengan wajah kesalnya, “Aku ingin melihat wajah Mia yang ingin kalian selamatkan. Aku yakin itu Mia yang pernah menjadi sahabatku.”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Zeroun penasaran.


“Shabira ingin menemui wanita itu dengan cara menyamar. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri di dalam kantor polisi hingga mengikutinya untuk masuk. Namun, saat aku masuk ia justru membiarkan polisi itu menciumnya.” Kenzo menatap sinis wajah Shabira.


“Dia tidak menciumku. Dia hanya berbisik. Kenapa kau tidak mempercayaiku!” protes Shabira dengan suara yang cukup kuat.


Hal itu berhasil membuat Lana dan Lukas menahan tawa. Hal yang serupa pernah juga di alami oleh Zeroun dan Emelie. Bahkan menimbulkan efek yang sama juga.


Emelie menunduk malu saat mendengar cerita yang di katakan Kenzo dan Shabira. Wanita itu terlihat menahan tawa di bibirnya. Zeroun mengangkat satu alisnya saat melihat reaksi Emelie, “Apa kau bisa membantu Zettaku kali ini, Sayang.”


Emelie mengangguk dengan bibir yang masih menahan tawa, “Kenzo, itu memang berbisik. Aku cukup yakin kalau Zetta tidak mungkin mau di cium dengan begitu mudah oleh pria lain. Ia sangat mencintaimu. Kau harus percaya padanya.”


“Kakak ipar, dia adikmu. Pasti kau membelanya saat ini.” Kenzo masih belum terima. Hatinya masih panas karena cemburu.


“Aku juga mengalami hal yang sama sepertimu,” ucap Emelie dengan suara pelan, “Begini saja, aku akan mempraktekkan apa yang sudah kau lihat dengan caraku. Mungkin kau akan mengerti kalau ini hanya berbisik bukan ciuman.”


Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama. Wanita itu mendekatkan kepalanya di samping kepala Zeroun. Bibirnya yang merah sangat dekat dengan telinga lelaki itu, “Apa seperti ini posisi yang kau lihat?”


Zeroun menggerakkan wajahnya agar pipi kirinya melekat sempurna di bibir Emelie. Lelaki itu mengukir senyuman puas setelah berhasil mendapat ciuman Emelie saat itu.


“Zeroun, apa yang kau lakukan. Jika seperti ini akan terlihat seperti ciuman sesungguhnya,” protes Emelie dengan wajah merona malu. Ia tidak menyangka Lelaki yang ia cintai akan melakukan itu di hadapan semua orang.


Kenzo menaikan satu alisnya. Lelaki itu mulai paham dengan apa yang terjadi. Sorot matanya yang sempat dipenuhi dengan amarah telah memandang wajah Shabira dengan tatapan merasa bersalah, “Maafkan aku. Kau tahu aku tidak pernah suka kau dekat dengan lelaki lain. Di tambah lagi, permintaanmu tadi cukup beresiko.”


Shabira menghela napas. Wanita itu mulai luluh dengan kalimat yang di ucapkan Kenzo. Kepalanya menunduk tanpa mau mengeluarkan kata.


“Nona, ini foto Agen Mia dan Inspektur Tao. Mungkin anda bisa mengenali wajahnya melalui foto ini.” Lana beranjak dari duduknya. Wanita itu meletakkan dua lembar foto di atas meja yang ada di hadapan Shabira.


Secara perlahan, Shabira meraih foto itu. Matanya dipenuhi kesedihan dan kekecewaan saat melihat wanita yang ada di foto tidak sama dengan sahabat yang ia kenal.


“Sayang, Mia yang kau kenal memang sudah tiada. Kau harus bisa merelakannya,” ucap Kenzo pelan. Lelaki itu beranjak dari duduknya lalu menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya, “Aku orang pertama yang akan memberitahumu jika memang Agen Mia adalah wanita yang sama dengan sahabatmu.”


“Siapa Mia yang di maksud oleh Zetta?” ucap Zeroun bingung.


“Aku juga tidak terlalu mengenalnya. Dia wanita jalanan yang sama seperti Shabira. Mereka berpisah saat Mia mengalami kecelakaan dan meninggal,” ucap Kenzo.


Zeroun mengangguk pelan. Ia menatap wajah adiknya dengan seksama. Detik itu ia tahu, kalau semua hanya salah paham. Tidak ada hal serius yang perlu di perdebatkan di ruangan itu. Semua masalah telah mendapatkan solusinya.


“Baiklah. Malam ini kita akan lakukan penyerangan. Aku ingin semua ini cepat berlalu agar rencana pernikahanku dengan Emelie bisa berjalan lancar.” Zeroun mengukir senyuman sambil memandang wajah Emelie. Emelie dan yang lainnya membalas senyuman Zeroun.


“Hanya sebuah kejujuran yang menjadi kekuatan suatu hubungan,” ucap Lukas pelan.


Lana melirik wajah Lukas sebelum memandang ke arah lain.


Tiba-tiba saja hatinya di selimuti rasa bersalah.


.


.


.


Like, Komen dan Vote. Terima kasih.