Moving On

Moving On
Rencana Singkat



Dua hari kemudian.


Pagi yang indah kembali muncul. Pagi itu Emelie membawa Shabira berjalan-jalan di taman samping tempat favoritnya. Dua wanita itu berjemur di bawah cahaya matahari pagi dengan senyuman indah. Kicauan burung dan hembusan angin tampak menemani. Ada beberapa minuman hangat lengkap dengan roti kering di atas meja.


Zeroun sengaja meminta tolong kepada Shabira untuk membuat Emelie sibuk hari itu. Dari posisi yang tidak terlalu jauh, sudah ada Zeroun, Kenzo dan Lukas. Tiga lelaki itu telah merencanakan strategi penyerangan penjara yang menahan Agen Mia dan Inspektur Tao.


“Keadaanya cukup sulit. Mereka seperti buronan negara yang tidak akan mungkin memiliki jaminan. Bahkan untuk bisa melihat wajah mereka saja harus melewati tiga sel dengan segala rintangannya,” ucap Kenzo sambil memandang ke arah taman yang di duduki istrinya.


“Jika tidak ada cara lain lagi, kita bisa membuat penjara itu rata dengan api,” sambung Zeroun dengan wajah yang cukup santai.


Kenzo dan Lukas memandang wajah Zeroun dengan seksama. Cukup jarang pria itu memberi perintah dengan pembakaran suatu arena. Biasanya Zeroun selalu berhasil menemukan rencana lain.


“Bukankah kita juga bisa membuat satu kebakaran yang menjadi satu pancingan. Memang apa yang kalian pikirkan?” ucap Zeroun sambil mengeryitkan dahi. Lelaki itu memandang wajah Lukas dan Kenzo secara bergantian.


“Sebaiknya kau tetap di istana, Zeroun. Biar kami yang turun tangan.” Kenzo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Lelaki itu baru saja menerima informasi terbaru dari anak buahnya. Ada senyum tipis di bibirnya. Satu tugas yang ia berikan kepada anak buahnya pagi itu telah terlaksana dengan baik.


“Aku memiliki pertemuan dengan Paman Arnold tepat di hari penyerangan itu. Aku cukup yakin, pihak kerajaan tidak akan mencurigai kita.”


“Ya. Aku akan menyuruh Shabira untuk mengalihkan perhatian pihak kerajaan yang lainnya. Agar pihak kerajaan tidak sadar kalau di luar kita telah berbuat satu kekacauan,” ucap Kenzo dengan tangan terlipat di dada, “Biar aku dan Lukas yang masuk ke dalam dan membawa lari dua tahanan itu.”


“Terima kasih, Kenzo.” Zeroun menepuk pundak Kenzo dengan bibir tersenyum. Napasnya terasa cukup lega karena sahabat terbaiknya mau menolongnya dalam situasi mendesak seperti sekarang.


Dari kejauhan, Emelie dan Shabira berjalan mendekati posisi Zeroun dan Kenzo berada. Dua wanita itu berjalan saling bergandengan. Ada senyuman indah khas perempuan yang terukir di bibir dua wanita itu.


“Zeroun, ayok kita berkuda.” Emelie berjalan mendekati posisi Zeroun. Gandengannya di tangan Shabira juga telah terlepas.


“Kak, aku dan Kenzo tidak bisa ikut. Kami ingin berjalan-jalan menikmati keindahan kota ini.” Shabira mengukir senyuman penuh arti. Ada kode yang ia berikan kepada Zeroun agar lelaki itu memberinya ijin untuk keluar.


Zeroun memandang wajah Kenzo untuk menagih satu penjelasan. Namun, lelaki itu juga terlihat bingung dan tidak tahu kalau istrinya akan mengajaknya berkeliling kota pagi ini.


“Lukas dan Lana akan menemani kalian berjalan-jalan,” jawab Zeroun. Lelaki itu tidak ingin mengambil resiko sama sekali. Walau musuh miliknya sudah musnah dan tidak tersisa lagi, tapi itu bukan berarti kalau ia sudah bebas dan tidak akan bertemu dengan musuh lagi. Sejak bertemu dengan wanita licik seperti Jesica, Zeroun menjadi sosok pria yang cukup waspada. Ia tidak ingin bertemu dengan sosok seperti Jesica kedua tanpa persiapan seperti sebelumnya.


“Terima kasih, Kak,” jawab Shabira dengan senyuman. Wanita itu merangkul lengan Kenzo dengan begitu mesra, “Kak, kami akan pulang sedikit sore.”


Zeroun mengangguk pelan, “Setelah tiba di tempat yang ingin kau kunjungi, kau harus memberi kabar kepadaku.”


“Siap, Bos,” jawab Shabira penuh semangat. Setelah mendapat ijin dari Zeroun, sepasang suami istri itu berjalan pergi dari tempat itu.


“Bos, saya permisi dulu.” Lukas menunduk hormat sebelum mengikuti langkah kaki Kenzo dan Shabira dari belakang. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lana agar wanita itu ikut dengannya berjalan-jalan pagi ini.


Zeroun menatap wajah Emelie sebelum menggandengnya dengan mesra, “Ayo. Aku juga ingin berkuda. Apa kau bisa meminjamkanku salah satu kuda yang ada di istana, putri?”


“Tentu saja,” jawab Emelie dengan tawa kecil. Sepasang kekasih itu berjalan menuju ke arah kandang kuda.


Beberapa menit kemudian.


Zeroun dan Emelie sudah ada di atas kuda. Sepasang kekasih itu menunggang kuda dengan sangat lambat. Mereka berjalan-jalan di padang rumput yang luas sambil menikmati cahaya matahari pagi. Emelie menunggangi kuda favoritnya sedangkan Zeroun menunggang kuda kesayangan milik Raja terdahulu. Sesekali terdengar tawa riang dari sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu. Beberapa pengawal telah berbaris rapi untuk mengawasi keselamatan Emelie dari belakang.


“Tempat ini sangat indah bukan? Aku selalu ke tempat ini jika sedang bersedih.” Emelie menatap setiap meter padang rumput yang kini terbentang luas di hadapannya, “Sejak kecil Raja selalu membawaku ke tempat ini saat aku sedang bersedih. Ia yang mengajariku dan Adriana cara menunggang kuda yang baik dan benar. Pertama kali melihat kuda aku tidak takut. Berbeda dengan Adriana yang langsung menangis saat melihat kuda yang di berikan Raja untuknya.” Emelie kembali mengenang momen-momen masa kecilnya yang terbilang cukup indah.


Zeroun memperhatikan wajah Emelie dengan seksama. Ia tahu kalau kini kekasihnya kembali mengingat kenangan indahnya bersama Adriana. Bagaimanapun juga, Adriana memang selalu menjadi orang terdekat Emelie sejak ia kecil.


“Sayang, aku tidak terlalu ahli dalam berkuda. Apa kau mau menemaniku?” Zeroun menepuk bagian depan punggung kuda yang ia duduki. Lelaki itu memberi kode kepada Emelie agar mau duduk di kuda yang sama dengannya, “Sepertinya setiap kuda sangat jinak kepadamu. Mereka terlihat tidak suka saat aku tunggangi,” sambung Zeroun cepat.


Emelie mengeryitkan dahi sambil memandang kuda yang ada di depan matanya. Tidak ada yang salah dari kuda yang di tumpangi Zeroun, “Tapi, dia terlihat baik-baik saja.”


“Benarkah?” ucap Zeroun sambil melirik kepala kudanya, “Padahal sejak awal aku berpikir ia tidak terlalu akrab denganku. Dia seperti ingin menjauh dariku.”


Emelie mulai mengerti dengan kalimat yang di ucapkan Zeroun. Wanita itu turun dari kudanya lalu naik ke atas kuda yang sama dengan Zeroun. Ada senyuman manis di bibirnya saat lelaki itu segera memeluknya dari belakang.


“Kalau seperti ini rasanya cukup akrab dan dekat,” bisik Zeroun dengan mesra.


Wajah Emelie memerah karena malu. Lelaki itu memang selalu bisa menggodanya, “Ayo kita jalan-jalan ke hutan.”


Zeroun mengukir senyuman sebelum membawa kuda yang ia tumpangi berlari menuju ke hutan. Lelaki itu sengaja membuat Emelie melupakan kenangan indahnya bersama Adriana. Ia tidak ingin Emelie terus-terusan mengingat Adriana. Masalah Adriana akan selalu berhubungan dengan Damian. Zeroun tidak ingin wanita yang ia cintai mengingat nama pria lain. Hanya namanya yang boleh di ingat oleh Emelie.


.


.


.


satu bab nya sengaja aku tahan.. biar like kalian GK numpuk di bab akhir, dua bab sebelumnya terlupakan🤣


Jangan lupa vote dan likenya ya Readers....😘😘