Moving On

Moving On
Kabur Bersama



Zeroun tergeletak di atas tempat tidur dengan pandangan ke langit-langit kamar. Hatinya terus saja mengumpat atas perbuatan yang baru saja ia lakukan. Bahkan, saat dulu ia bersama dengan Erena, Zeroun masih bisa mengontrol dirinya.


Dulu, Zeroun memang sering bergonta-ganti pasangan. Namun, hubungannya tidak pernah sampai berakhir di ranjang. Tetapi tadi, bersama dengan Emelie. Zeroun merasakan satu dorongan yang tidak lagi bisa di kendalian.


Ia tidak ingin terlibat dengan dunia percintaan saat ini. Misi yang akan ia hadapi terlalu berbahaya. Zeroun akan mendapatkan penghalang baru, saat ada wanita yang berhasil masuk kedalam hatinya lagi.


“Aku harus segera menyelesaikan semua masalah ini. Membersihkan istana itu dari orang-orang jahat, agar Emelie bisa kembali ke istana itu. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini.”


Zeroun mulai memejamkan mata. Berusaha untuk melupakan semua yang telah terjadi antara dirinya dan Emelie. Namun, rasa kantuknya seperti hilang entah kemana. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Wajah Emelie terus saja menganggu tidurnya.


“Jika begini terus Aku bisa menjadi gila,” umpat Zeroun kesal sambil mengacak-ngacak rambut. Zeroun beranjak dari tempat tidurnya mengenakan kemeja putih favoritnya. Pria itu mengambil jaket sebelum pergi meninggalkan Apartemen mewah itu.


Zeroun berencana jalan-jalan malam untuk menghilangkan bayang wajah Emelie yang terus saja hadir di dalam pikirannya. Belum sempat pria itu masuk ke dalam mobil, Zeroun sudah melihat hal yang mencurigakan.


Ada banyak polisi dan pengawal kerajaan di lokasi parkir. Mereka terlihat berkumpul untuk mendiskusikan suatu strategi sebelum bertindak. Zeroun kembali ingat dengan Emelie yang masih tertidur di dalam kamar.


Dengan cepat, Zeroun pergi masuk ke dalam lift untuk kembali kedalam kamar Apartemennya. Setelah keluar dari dalam lift, satu pelayan berdiri di depan kamarnya. Pelayan itu terlihat khawatir atas keselamatan Zeroun.


“Tuan, gedung ini sudah dikepung oleh Polisi. Anda masih bisa keluar melewati tangga yang ada di ujung. Tapi, anda tidak bisa mengambil mobil anda.” Pelayan itu mengeluarkan satu kunci mobil dari dalam sakunya.


“Ini, Tuan. Gunakan mobil ini untuk kabur dari kejaran polisi. Mobil ini memiliki kecepatan yang tinggi. Polisi itu tidak akan mudah mengejar anda nanti.” Pelayan itu memberikan kunci mobil kepada Zeroun.


“Terima kasih,” jawab Zeroun cepat sambil berlalu masuk ke dalam kamar untuk menemui Emelie. Dengan hati-hati Zeroun melangkah masuk ke dalam kamar Emelie. Wanita itu terlihat tidur dengan nyenyak. Senyumannya terlihat sangat indah. Matanya tertutup dengan begitu tenang.


Tidur Emelie terganggu saat tangan Zeroun menyentuh lengannya. Emelie terbangun dan terduduk. Menutupi tubuhnya dengan selimut putih. Wajahnya terlihat waspada. Kedatangan Zeroun ke kamarnya sepagi itu menimbulkan rasa curiga yang begitu besar. Di tambah lagi, sebelum tidur tadi Zeroun juga sempat menciumnya.


“Kita harus pergi sekarang,” ucap Zeroun cepat.


“Pergi?” Emelie memperhatikan Zeroun dengan seksama. Ada rasa tidak percaya dengan kalimat yang baru saja diucapkan Zeroun. Hari masih sangat pagi, ia tidak pernah menyangka kalau Zeroun akan mengajaknya pergi saat kedua matanya masih ngantuk.


“Ya, Ayo cepat.” Zeroun berusaha menarik tangan Emelie. Waktu mereka tidak banyak. Ia tidak ingin tertangkap secepat ini.


“Tunggu,” ucap Emelie cepat. Emelie menarik selimut dan membuka bantal. Tatapan matanya seperti mencari sesuatu yang berharga.


Zeroun memandang gelang yang ada di tangan kiri Emelie.


Selain gelang itu, benda apa lagi yang ia cari.


Dahi Zeroun mengkerut dengan penuh penasaran.


“Apa yang kau cari?” umpat Zeroun kesal.


“Ikat rambut, Aku harus mengikat rambutku,” jawab Emelie sambil terus mencari.


Zeroun menarik napas kasar. Dalam situasi genting seperti itu sanggupnya Emelie memikirkan untuk mengikat rambut.


“Kau lebih cantik dengan rambut tergerai,” ucap Zeroun sambil mencari-cari pita milik Emelie di sekitar tempat tidur.


Emelie merasa tersanjung dengan pujian Zeroun. Wajahnya merona malu dengan hati berbunga-bunga. Tapi, wanita itu juga bingung saat Zeroun kebingungan mencari sesuatu.


“Apa yang kau cari, Zeroun?” tanya Emelie gantian.


“Tentu saja membantumu mencari pita itu. Aku tidak ingin tertangkap hanya gara-gara sebuah pita,” jawab Zeroun dengan wajah sedikit kesal.


“Aku tidak membutuhkannya lagi,” jawab Emelie dengan senyum di bibirnya.


Zeroun menghentikan kegiatannya, menatap wajah Emelie dengan penuh amarah. Dengan cepat, ia menarik tangan Emelie untuk keluar meninggalkan Apartemen itu. Belum jauh mereka berlari, polisi sudah mengeluarkan peluru untuk melumpuhkan Zeroun.


Emelie memandang wajah Polisi itu dengan wajah bingung. Ia tidak ingin malam ini Zeroun di tangkap oleh Polisi. Semua bukti sudah ditangan. Sebentar lagi, semua akan terbongkar.


“Pejamkan matamu, Emelie.” Zeroun menarik tangan Emelie hingga wanita itu ada di dekat tubuhnya. Zeroun menembak siapa saja yang ingin menghalanginya. Malam itu Zeroun tidak menggunakan topi atau apapun. Polisi-polisi itu bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas.


Setelah beberapa polisi itu lumpuh. Zeroun turun melalui tangga. Emelie terus saja mengikuti langkah Zeroun. Tangan kanannya berada di dalam genggaman Zeroun. Momen yang melelahkan itu harus ia lewati di jam tidurnya. Mata yang sempat terasa ngantuk juga sudah hilang. Kini yang di rasakan Emelie hanya rasa semangat. Semangat untuk pergi menghindari kejaran polisi berdua dengan Zeroun.


Hingga beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di tepian jalan raya. Zeroun mencari keberadaan mobil yang sudah disiapkan untuknya. Di sudut jalan mobil bugati veyron sport berwarna silver telah terparkir dengan indah. Zeroun tersenyum puas saat melihat mobil itu.


“Ayo kita ke sana.” Zeroun menarik tangan Emelie. Mendorong pelan tubuh wanita itu agar masuk kedalam.


Sebelum masuk, Zeroun memperhatikan keadaan jalan yang sangat sunyi. Sepertinya polisi dan pengawal kerajaan itu tidak mengetahui keberadaannya saat ini. Dengan senyum kecil, Zeroun masuk kedalam mobil. Melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi untuk meninggalkan kota Cambridge.


Emelie memandang wajah Zeroun dengan wajah penuh tanya. Entah kenapa wanita yang biasa berani itu kini terlihat seperti orang kebingungan. Ia tidak berani bertanya apapun untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Zeroun memandang wajah Emelie sekilas sebelum menatap jalanan lurus di depan.


“Kenapa kau terlihat seperti orang bodoh Emelie? apa yang kau pikirkan?” Ada senyum kecil di sudut bibir Zeroun.


“Aku selalu menjadi wanita yang bodoh saat berada di dekatmu,” jawab Emelie sambil memalingkan wajahnya.


Zeroun tertawa kecil mendengar jawaban Emelie, “Tidurlah, kau pasti masih ngantuk. Kita akan pergi ke suatu tempat. Saat kau bangun, mungkin kita sudah tiba di tempat itu.”


Emelie tidak ingin membantah. Wanita itu menuruti perkataan Zeroun untuk memejamkan mata. Rasa dingin itu membuat matanya menjadi lelah dan ingin tidur. Tidak tahu, masalah apa yang akan ia hadapi besok. Tetapi untuk detik itu, Emelie bisa merasa aman saat ia berada di samping Zeroun.


Vote yang banyak ya..Koin dan Poin.😊


Terima kasih sebelumnya.💗