Moving On

Moving On
Waspada Emelie



Hari kembali terganti. Emelie terbangun dengan wajah ceria. Megerakkan tubuhnya seperti sedang berolahraga. Matanya masih mengantuk dan ingin tidur kembali. Tapi ia tidak ingin menjadi wanita pemalas. Ada banyak kerjaan yang sudah menunggu dirinya. Emelie mengambil gelang pemberian Zeroun di dalam laci. Menatap gelang itu dengan wajah ceria.


“Selamat pagi, Zeroun Zein. Apa kau sudah bangun? pasti kau masih tidur bukan?” Emelie tertawa kecil sebelum meletakkan gelang itu di atas meja. Dengan santai ia berjalan menuju ke arah kamar mandi. Pagi itu ia memiliki semangat yang begitu besar untuk beraktifitas.


Beberapa menit kemudian. Emelie sudah duduk di meja kerjanya. Gelang pemberian Zeroun sudah melekat di tangan kirinya. Emelie memeriksa bisnis sang ibunda dengan begitu teliti. Tidak ingin ada cela sedikitpun. Ponsel Emelie berdering. Wajahnya berubah serisu saat melihat nama pengawal setianya yang terukir di layar itu.


Belum sempat Emelie mengeluarkan kata, ponsel itu terlepas dari genggamannya. Layar ponsel itu pecah begitu saja. Emelie mematung dengan apa yang baru saja ia dengar. Pengawal yang selalu ia anggap tangguh dan tak terkalahkan itu kini sudah tiada. Salah satu anggota keluarganya yang kini memberi kabar kepada Emelie.


Emelie berubaha sedih. Satu-satunya orang yang palingia harapkan dan ia andalkan kini sudah tiada. Tidak akan mudah bagi Emelie untuk mencari pria seperti itu dalam waktu dekat. Emelie menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasakan luka dan kekecewaan yang begitu besar.


“Bagaimana caranya Aku membantu Zeroun Zein. Aku sudah berjanji padanya untuk membersihkan namanya dalam waktu dekat.” Suara Emelie dipenuhi keputus asaan. Ia tidak lagi tahu harus berbuat apa saat itu.


Suara pintu terbuka. Adriana muncul dengan segelas teh di atas nampan. Wajahnya tersenyum ceria seperti biasa. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati meja Emelie.


“Putri, Adriana buatkan teh untuk Putri. Semoga Putri menyukainya.” Dengan hati-hati, Adriana meletakkan teh itu di meja Emelie. Ada raut curiga saat melihat ponsel Emelie tergeletak di lantai.


“Putri, ponsel Putri rusak.” Adriana mengambil ponsel itu memegangnya di hadapan Emelie.


“Ya, ponsel itu terlalu jelek. Aku ingin membeli keluaran terbarunya.” Emelie memandang teh yang ada di hadapannya. Sebelum ia tahu kalau Adriana tidak ada hubungannya dengan kematian sang Ratu, Emelie tidak ingin meminum teh buatan Adriana.


“Adriana, Saya lagi tidak berselera meminum teh. Apa kau mau meminumnya di hadapanku?” Emelie memandang wajah Adriana dengan tatapan penuh arti.


“Apa Putri tidak lagi percaya dengan Adriana?” Adriana memasang wajah sedih ciri khasnya. Ia ingin mengetes rasa kasihan yang selama ini di miliki oleh Emelie.


“Saya sangat percaya dengan Adriana. Hanya saja, saya tidak ingin meminum teh saat ini. Sangat disayangkan kalau teh itu sampai di buang.”


“Baiklah, Putri. Adriana akan meminum teh ini.” Adriana mengambil teh itu.Meneguknyasecara perlahan. Pagi itu, Adriana hanya memberi campuran obat tidur agar Emelie tidak bersemangat untuk bekerja. Jadi, Adriana tidak terlalu khawatir untuk meminum teh itu.


Adriana meletakkan gelas yang sudah kosong, “Putri, apa anda sudah percaya dengan Adriana?”


“Adriana, kau sudah salah paham kepadaku. Sejak dulu Saya selalu percaya kepadamu.” Emelie memegang tangan Adriana agar wanita itu tidak terlalu curiga.


“Kita adik kakak. Suda sepatutnya kita saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. BUkankah begitu?”


Wajah Adriana berubah, “Putri, saya permisi dulu.” Adriana pergi dengan cepat meninggalkan ruangan itu. Reaksi obat dari teh yang ia minum mulai bekerja.


Di sisi lain. Zeroun tertawa dengan wajah penuh bahagia. Semua kelakuan Emelie pagi itu terlihat sangat lucu di mata Zeroun. Bahkan saat Emelie mengatakan perkataan itu kepada Adriana, itu membuat Zeroun tidak lagi bisa menahan tawa.


“Dasar wanita nakal!” ucap Zeroun sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


Tetapi, Zeroun tiba-tiba kembali ingat dengan panggilan masuk sebelum ponsel itu terjatuh. Emelie belum mengeluarkan satu katapun saat itu. Wanita itu berubah sedih dan putus asa. Setelah menerima panggilan masuk.


“Masalah apa yang kini ia alami?” Zeroun terlihat berpikir. Pria berjas hitam itu sangat penasaran dengan masalah yang kini dihadapi oleh Emelie.


“Sudahlah, Aku tidak ingin memikirkan wanita itu lagi.” Zeroun mematikan ponselnya. Memasukkannya ke dalam saku. Ia ingin berjalan-jalan pagi untuk menikmati udara segar dan hangatnya matahari.


Memakai topi dan kaca mata hitam untuk menutupi identitas aslinya.


***


Zeroun memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan. Jalanan itu akan menghubungkan dirinya dengan lapangan luas yang sering di kunjungi orang untuk berlari. Dengan setelan olahraga, Zeroun terlihat bersemangat untuk berlari di pagi hari itu. Sinar matahari yang cerah, terasa menghangatkan kulit. Tidak lagi membawa pistol ataupun ponsel. Pria berusia 29 tahun itu ingin menenangkan pikirannya walau hanya beberapa jam.


Zeroun mulai berlari menuju ke lapangan luas nan hijau. Ada banyak orang yang juga berolahraga di tempat itu. Selain tempat olahraga, lapangan itu juga sering digunakan sebagai tempat acara-acara hiburan. Seperti konser atau kegiatan relawan. Zeroun benar-benar ingin menikamti kehidupannya selama di Cambridge.


“Zeroun ….”


Terdengar suara wanita dari belakang. Zeroun memutar tubuhnya dengan cepat. Wajahnya berubah saat melihat wanita yang kin berdiri di hadapannya. Bagaimana tidak, baru beberapa menit yang lalu wanita itu ada di istana. Namun, detik ini ia berdiri di hadapan Zeroun. Mengenakan topi dengan rambut tersanggul rapi. Mengenakan dres selutut dan tangan panjang berwarna merah. Bibirnya tersenyum manis saat bertemu dengan Zeroun pagi itu.


“Putri?” ucap Zeroun pelan.


“Jangan panggil saya Putri, Tuan. Panggil saya Emelie. Itu jauh lebih akrab.” Emelie mengedipkan sebelah matanya.


Zeroun tersenyum kecil, “Baiklah, panggil saya Zeroun. Terlalu resmi dengan nama Tuan.”


“Setuju,” sambung Emelie cepat.


Zeroun terlihat waspada memperhatikan sekeliling lapangan itu. Jika Emelie ada di tempat itu sudah pasti ada pengawal atau polisi yang akan menjaganya. Tapi, tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Pengawal atau polisi tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


“Mereka menjagaku secara bersembunyi dan tidak akan menangkapmu.” Emelie tertawa kecil.


“Mereka pengawal setia,” sambung Emelie dengan suara pelan.


Zeroun melirik Emelie sebelum memandang arah lain, “Bukannya kau ada di Istana, kenapa bisa tiba di tempat ini dengan begitu cepat?”


“Darimana kau tahu , kalau aku dari istana?”


Zeroun menahan perkataannya, memasang ekspres dingin ciri khasnya.


“Bukankah kau tinggal di Istana. Sudah pasti dari Istana.” Zeroun tidak ingin sampai ketahuan. Kalau selama beberapa hari ini ia mengintai Emelie secara diam-diam.


Emelie terlihat percaya dengan jawaban Zeroun. Wanita itu memandang ke arah matahari yang kini bersinar terang. Membuka kedua tangannya sambil memejamkan mata. Menghirup udara segar dengan penuh penghayatan.


“Sejak kecil, Aku sering ke tempat ini. Di sini aku bisa merasakan kehangatan dari matahari pagi. Rasa hangatnya snagat berbeda dengan sinar matahari yang aku dapat dari istana.”


Zeroun memperhatikan wajah Emelie. Entah kenapa, setiap kali ia menatap wajah Emelie perasaan menjadi tenang. Bahkan ia tidak lagi peduli dengan masalah yang ia miliki.


“Oh iya, Zeroun. Saya tidak bisa lama. Boleh saya mengunjungi anda nanti malam?” Emelie menatap wajah Zeroun.


Zeroun hanya diam tanpa menjawab. Pria itu sedikit berpikirkeras sebelum menjawab alamatnya saat ini.


“Aku akan datang sendirian.” Emelie tertawa kecil. Seolah ia tahu dengan isi pikiran Zeroun saat itu.


Zeroun tersenyum kecil memberikan alamat apartemennya kepada Emelie. Tidak ada kerauan maupun rasa curiga di dalamhatinya. Tanpa alasan, ia memberikan alamat itu. Bahkan di dalam hatinya, ada harapan kalau Emelie benar akan mengunjunginya nanti malam.


Setelah menerima alamat yang diberikan Zeroun. Emelie berpamitan untuk pergi. Masih banyak tempat yang harus ia datangi pagi itu. Lapangan itu hanya sebagai tempat persinggahannya untuk melepas rindu. Samentara Zeroun, melanjutkan jalan paginya dengan penuh semangat dan wajah berseri.