Moving On

Moving On
Inisial E?



Emelie dan Zeroun tertawa bahagia pagi itu. Wajah mereka ceria secerah mentari yang bersinar di langit. Walau masalah yang dimiliki Zeroun belum selesai tetapi, dengan hadirnya Emelie di sampingnya sudah cukup meringankan beban yang ia miliki. Sifat jahil dan tawa Emelie selalu bisa membuat Zeroun mengukir senyuman indah miliknya.


Emelie meletakkan garpu ke atas piring yag sudah kosong. Putri Kerajaan itu kembali ingat dengan tato milik kekasihnya. Wajahnya sejak tadi selalu saja memperhatikan bagian dada Zeroun. Walaupun kini tato itu sudah ditutupi kemeja putih yang dikenakan oleh Zeroun.


“Zeroun, boleh Aku bertanya sesuatu?” Emelie bersandar di pundak Zeroun dengan manja.


“Katakan, apa yang ingin kau ketahui, Emelie?” Zeroun meletakkan tangannya di pinggang sang kekasih.


“Hmm ....” Emelie terlihat ragu untuk menyelidiki inisial E yang sejak tadi memenuhi pikirannya.


“Ada apa?” Zeroun mengeryitkan dahi. Bos Mafia itu sudah mulai menyadari perubahan sikap Emelie.


“Aku hanya ingin bertanya. Tapi, berjanjilah untuk mengatakan semuanya dengan jujur.” Emelie memandang wajah Zeroun dengan begitu serius.


Zeroun tersenyum kecil, “ Tergantung pertanyaanmu, Emelie. Aku tidak mau berjanji untuk hal yang belum jelas ini.”


“Zeroun,” ucap Emelie dengan nada lirih.


“Baiklah, Aku berjanji. Katakan, apa yang ingin kau ketahui. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur.” Zeroun menatap dua bola mata biru milik Emelie dengan tajam.


Emelie mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Wanita itu cukup gugup saat dua bola mata hitam Zeroun memandangnya dengan intens seperti itu. Mengatur napas agar rasa gugup itu hilang dan tidak mengganggu kosentrasinya.


“Tato itu.” Emelie menunjuk dada Zeroun dengan wajah memerah. Zeroun mengikuti arah tangan Emelie. Pria itu menekuk kepalanya, memandang bagian dadanya dengan wajah bingung.


“Ada yang salah dengan tatonya?” Zeroun menaikan satu alisnya.


“Apa kau ingin melihatnya?” Zeroun membuka satu kancing kemejanya.


“Tidak, tidak. Bukan itu maksudku.” Emelie menahan tangan Zeroun agar tidak membuka kemeja putih yang menutupi tubuhnya itu. Memejamkan mata beberapa detik sambil berpikir keras untuk menanyakan inisial itu.


Bagaimana ini? kenapa bibir ini terasa sangat sulit hanya untuk menanyakan hal itu saja.


Emelie mengepal tangannya sambil mengumpulkan keberanian yang ia miliki.


“Emelie ....” ucap Zeroun semakin bingung.


“Inisial E itu milik siapa?” ucap Emelie dengan napas terhenti dan debaran jantung yang tidak lagi normal.


“Apa itu mewakili nama seseorang?” sambung Emelie cepat.


Zeroun menyandarkan tubuhnya di sofa yang empuk itu. Di dalam hati, bos mafia itu berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Emelie. Bagaimanapun juga, E itu memang sudah jelas milik Erena.


Tapi, mengingat kekasihnya mudah cemburu dan sangat sulit untuk dibujuk. Membuat Zeroun Zein berpikir dua kali sebelum menjawab pertanyaan sang kekasih.


“Kau tidak bisa menjawabnya. Apa itu nama seseorang yang sangat berarti bagimu?” Emelie terlihat sedih saat menunggu jawaban dari Zeroun yang tidak kunjung terucap.


“Emelie, itu mewakili nama seseorang.” Zeroun memegang tangan Emelie untuk menahan wanita itu agar tidak menjauh dari tubuhnya.


“Erena,” sambung Zeroun dengan senyuman kecil.


Apa ini sebuah takdir? sejak awal Aku tidak pernah menyadari semuanya. Nama Erena dan Emelie memiliki inisial yang sama. Tato ini dibuat secara permanen. Tidak lagi bisa dihapus dengan cara apapun. Sesuai dengan janjiku dulu untuk mencintai Erena di masa lalu. Sekarang, wanita yang ku cintai justru memiliki nama yang sama dengan huruf ini.


Zeroun mengangguk pelan, “Ya, dia seorang wanita.”


Emelie mengatur napasnya agar tidak terasa sesak, “Apa dia kekasihmu, Zeroun Zein?” Dua bola mata Emelie terlihat semakin berkaca-kaca. Bibirnya gemetar untuk mengeluarkan pertanyaan yang paling menyakitkan bagi dirinya pagi itu.


“Emelie, dia ....”


“Ya atau tidak?” Emelie memotong perkataan Zeroun dengan tangan yang terasa dingin.


“Dia tunanganku,” jawab Zeroun dengan wajah sedih. Sekuat mungkin Zeroun melupakan semua luka yang pernah ia rasakan. Tapi, hari ini seseorang membuka luka itu lagi. Mengingatkannya kepada masa lalu yang pernah ia alami.


“Tu-tunangan?”Satu air mata Emelie jatuh membasahi wajahnya.


“Emelie, Erena sudah tidak ada lagi. Dia sudah bahagia dengan seseorang yang membuat hidupnya bahagia.” Zeroun menghapus air mata yang ada di pipi Emelie.


“Sekarang, hanya ada namamu di hatiku. EMELIE! tidak ada lagi nama wanita lain di dalam pikiranku. Apa kau percaya padaku?” Zeroun memegang kedua sisi telinga Emelie dengan wajah penuh harap.


“Kenapa kau tidak menghapusnya? Kau masih mencintainya bukan?” Emelie melepas tangan Zeroun yang ada di pipinya.


“Emelie, tato ini dibuat secara permanen. Tidak bisa lagi dihilangkan. Sama halnya dengan Gold Dragon, Aku pernah meninggalkannya, namun tato ini tidak bisa dihilangkan.” Zeroun membuang tatapannya ke arah lain.


“Kau sangat mencintainya hingga membuat namanya agar selalu melekat di tubuhmu seperti itu.” Emelie memukul dada Zeroun dengan kuat. Melampiaskan rasa kecewanya dengan sekuat tenaga.


Zeroun bersandar untuk mengatur napasnya. Pria itu benar-benar bingung menghadapi kekasihnya. Tuduhan demi tuduhan akan selalu diucapkan oleh Emelie. Zeroun tidak akan mudah lepas dari tuduhan-tuduhan itu. Di tambah lagi, kini Erena adalah sahabat terbaiknya. Wanita yang akan selalu ia lindungi dan ia sayangi seumur hidupnya.


“Zeroun!” protes Emelie saat Zeroun tidak juga mengucapkan kalimat pembelaan.


Zeroun mengenggam tangan Emelie dengan senyuman kecil, “Emelie, Aku tidak pernah bermain-main dengan cinta yang Aku miliki. Setiap kali Aku memiliki Aku tidak ingin kehilangan. Dulu Aku memang sangat mencintainya, Erena permataku yang sangat berharga. Tetapi, sekarang. Dia sudah tidak ada lagi. Hanya kau milikku yang berharga saat ini. Aku tidak akan bisa melakukan pembelaan apapun jika kau tidak mempercayaiku, Emelie.” Kedua bola hitam itu terlihat bersungguh-sungguh. Cinta yang tulus itu tergambar jelas di wajah Zeroun.


Emelie terdiam untuk mencera semua perkataan Zeroun. Putri kerajaan itu berusaha untuk memahami perasaan Zeroun saat ini. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Emelie percaya. Kalau kini hanya ada namanya di dalam hati kekasihnya itu.


“Dimana dia sekarang? lalu wanita yang pernah kau telepon siapa? Zeroun, kau bisa dengan mudah mengetahui semua tentangku. Tapi, Aku kesulitan untuk mengetahui kehidupanmu.” Emelie melipat kedua tangannya di depan dada.


“Bahkan jika Aku membayar seorang detektif belum tentu berhasil menyelidiki semua kehidupanmu. Hanya kau sendiri yang mengetahui semuanya.”


“Emelie, Aku memiliki adik wanita bernama Zetta.” Zeroun menarik tubuh Emelie agar wanita itu melekat di tubuhnya. Kedua tangannya ia kunci di perut Emelie dengan penuh kelembutan.


“Aku sangat menyayangimu, Emelie. Dengan Zetta dan Erena juga, Aku sangat menyayangi mereka. Bahkan hingga detik ini. Tetapi, wanita yang ada di dalam hatiku kini hanya dirimu Emelie. Aku sangat mencintaimu. Masa lalu itu tidak perlu di bahas lagi karena yang terpenting saat ini adalah masa depan kita.” Zeroun mencium pipi Emelie dengan lembut.


“Suatu hari nanti, Aku akan menceritakan semuanya. Untuk saat ini, apa kau bisa berjanji padaku untuk tidak membahas hal itu lagi?”


Emelie mengangguk pelan, “Maafkan Aku.”


“Gadis nakal,”bisik Zeroun.


Zeroun tersenyum sambil mempererat pelukannya. Pria itu menghirup aroma tubuh kekasihnya yang kini sama dengan aroma sabun dan sampo miliknya. Matanya terpejam menikmati kehangatan tubuh kekasihnya.


Vote yang banyak juga ya...😊