Moving On

Moving On
Biarlah Berlalu



Siang yang terik telah berganti dengan malam yang dingin. Bintang bertabur indah di angkasa mengelilingi rembulan yang bersinar terang. Emelie memandang pemandangan yang tersaji selama perjalanan. Ia terus saja membayangkan wajah Adriana sebelum wanita itu terjatuh. Ada rasa kasihan dan rasa benci yang kini menyatu menjadi satu. Bahkan Emelie sendiri tidak tahu kini harus senang atau menangis untuk Adriana.


Hamparan laut yang begitu gelap kini terbentang di depan mata. Tidak lama lagi mereka akan tiba di markas yang selama ini mereka tempati. Sejak pertama kali masuk ke dalam mobil, Emelie tidak mengeluarkan satu katapun. Bahkan ia juga tidak memandang wajah Zeroun kekasihnya.


Sama halnya dengan Zeroun Zein. Pria itu juga tidak mau mengganggu kekasihnya. Dengan tenang dan senyuman penuh kemenangan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hatinya benar-benar puas saat ini. Musuh besarnya akan segera merasakan kehilangan cinta dan harta. Tidak cukup sampai di situ. Bahkan bos mafia itu bertekad untuk membuat Damian kehilangan tahtanya sebagai seorang Pangeran.


Satu tetes darah akan ia balas dengan jutaan tetes yang jauh lebih menyakitkan. Untuk masalah musuh, sejak dulu Zeroun memang tidak pernah memiliki toleransi. Siapapun yang berstatus menjadi musuhnya akan ia habiskan hingga ke akar paling kecil.


Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan markas Gold Dragon. Zeroun melepas sabuk pengamannya diikuti dengan Emelie. Wanita itu membuka pintu mobil dan dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah.


Zeroun menghela napas sambil memandang luka tembak yang hanya ia ikat dengan kain kecil. Bahkan peluru di dalamnya juga belum sempat ia keluarkan.


“Apa dia marah padaku karena aku memberi hadiah ulang tahun dengan kematian Adriana?” ucap Zeroun sambil berpikir keras. Tidak ingin terus menerka-nerka, Zeroun keluar dari dalam mobil. Ia berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Ia menghentikan langkah kakinya.


Emelie berjalan dari arah dapur. Di tangannya ada kotak P3K dan wadah yang berisi air. Dengan senyuman indah putri kerajaan itu meletakkan peralatan medisnya di atas meja.


“Sayang, kemarilah,” ucap Emelie sambil melambaikan tangan kepada Zeroun. Beberapa saat yang lalu Emelie kembali ingat dengan luka yang di derita Zeroun. Dengan segera ia berlari ke dapur mengambil peralatan yang ia butuhkan.


Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama. Ini pertama kalinya ia mengenal wanita dengan sifat yang tidak mudah di tebak seperti Emelie. Kadang mudah marah, tapi tiba-tiba kembali ceria.


“Sayang, cepat. Kemarilah,” ucap Emelie sekali lagi.


Zeroun mengukir senyuman sebelum berjalan menuju ke arah sofa yang saat itu diduduki oleh Emelie. Menjatuhkan tubuhnya tepat di samping tubuh Emelie berada.


“Apa ini terasa sangat sakit?” Emelie memegang kain berdarah yang kini melilit lengan Zeroun. Melepaskan ikatan kain itu dengan sangat hati-hati.


“Tidak,” jawab Zeroun sambil menggeleng pelan.


“Buka bajumu,” ucap Emelie dengan wajah merona. Sangat sulit baginya untuk mengatakan hal seperti itu. Terlebih lagi, wajahnya akan selalu memberi reaksi saat melihat dada bidang milik kekasihnya.


“Tanganku sakit, aku tidak bisa membukanya. Apa kau mau membantuku?” ucap Zeroun dengan wajah menahan tawa. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain menggoda kekasihnya.


“Zeroun,” ucap Emelie dengan pipi yang sudah tidak bisa dikondisikan. Hanya membayangkan tubuh kekar kekasihnya saja sudah membuat wajahnya memerah bagai kepiting rebus.


Bukan memulai untuk membuka bajunya, Zeroun justru merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa. Pria itu memberi kode kepada Emelie agar segera membukakan kancing kemeja putih yang saat itu ia kenakan.


“Kau ini,” ucap Emelie pelan. Dengan ragu-ragu, jari-jari lentiknya mulai membuka satu persatu kancing kemeja Zeroun saat itu. Masih tergambar jelas wajah sedih di raut wajah cantiknya. Tetapi, dengan segera Emelie membuang rasa sedih yang ingin memenuhi pikirannya. Baginya, itu semua memang sudah menjadi takdir untuk Adriana. Bahkan wanita itu berniat untuk membunuhnya sebelum ajal berbalik menjemputnya.


“Sayang, apa kau tidak marah padaku?” tanya Zeroun sambil menatap tajam wajah kekasihnya dari jarak yang cukup dekat.


“Tidak,” jawab Emelie cepat.


“jika bukan dia yang mati mungkin tadi aku yang akan-”


“Ssttt, tidak akan ada yang bisa mencelakaimu selama aku masih bernapas.” Zeroun menarik pinggang Emelie. Memeluk tubuh kekasihnya dengan penuh kehangatan.


“Terima kasih,” ucap Emelie dengan suara yang cukup lembut.


Zeroun mengukir senyuman kecil sebelum mengusap lembut pundak kekasihnya, “Aku sangat mencintaimu, Emelie.”


“Aku juga sangat mencintaimu, Zeroun. Sangat-sangat mencintaimu. Hanya kau yang aku punya. Aku harap kau selalu menemaniku seperti ini.”


“Aku janji akan selalu berada di sampingmu,” jawab Zeroun penuh keyakinan. Ia melepas pelukannya sebelum mengusap lembut pipi Emelie.


“Sekarang buka kemeja kotor ini. Aku akan segera mengobati lukamu.” Emelie membantu Zeroun membuka kemeja penuh darah. Meletakkan kemeja itu di permukaan lantai. “Luka ini sangat megerikan,” ucap Emelie dengan wajah sedih dan takut.


“Ini hanya luka kecil,” jawab Zeroun sambil melirik luka tembak di lengannya.


“Bagaimana cara mengeluarkan pelurunya?” Emelie memandang peluru yang masih terlihat jelas di dalam lengan kekasihnya.


“Berikan padaku belati itu,” perintah Zeroun pada Emelie.


“Belati?” tanya Emelie tidak percaya.


“Ya.” Zeroun mengangguk setuju.


Dengan penuh keraguan, Emelie mengambil belati yang tergeletak di atas meja. Matanya masih menatap ngeri pada luka itu.


Zeroun menggenggam belati ukuran kecil dengan penuh perhitungan, “Sayang, apa kau mau melakukan sesuatu lagi untukku?”


“Apa?” tanya Emelie penuh semangat.


“Ambilkan aku air putih. Aku sangat haus.” Zeroun sengaja memberi perintah itu agar Emelie menjauh darinya. Bos mafia itu tidak ingin kekasihnya melihat adegan mengerikan yang akan segera ia lakukan.


“Hmm, baiklah.” Emelie beranjak dari sofa. Ia tidak curiga sama sekali dengan perintah Zeroun.


Emelie berjalan cepat ke arah dapur. Mengambil gelas berukuran sedang dan mengisinya dengan air putih dari sebuah teko. Namun, tiba-tiba saja putrid kerajaan itu di kagetkan dengan teriakan Zeroun dari arah depan. Dengan langkah cepat Emelie berlari untuk melihat keadaan kekasihnya. Gelas berisi air putih itu masih ada di genggaman tangannya.


“Zeroun!” teriak Emelie. Gelas yang ada di genggamannya terjatuh dan pecah di lantai. Pemandangan yang kini ia lihat sungguh mengerikan. Peluru itu telah terlepas dan jatuh di lantai. Darah berkucur deras dari lengan Zeroun saat peluru itu berhasil ia keluarkan. Bahkan belati di genggaman kekasihnya juga terlepas dan berada di bawah kaki.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Emelie dengan wajah menahan tangis. Dengan cepat, ia mengambil kapas untuk menahan darah yang keluar dengan cukup deras.