
Kuda merupakan salah satu olahraga favorit keluarga kerajaan. Sejak kecil, Emelie dan Adriana sudah dilatih untuk menunggang kuda. Emelie memiliki kuda kuartal Amerika berwarna putih bernama Aca. Kuda Emelie termasuk kuda tercepat dan memiliki sifat yang ramah.
Sedangkan Adriana lebih menyukai kuda berjenis Thoroughbred. Kuda yang gagah dan berotot. Sangat cocok digunakan untuk keperluan balap. Adriana memberi nama kudanya dengan nama Joe.
Siang yang begitu cerah. Adriana sudah duduk manis di atas punggung kuda sambil menatap ke arah hutan hijau yang ada di hadapannya. Angin berhembus dengan sejuk. Adriana mengukir senyuman saat membayangkan wajah Pria yang ia cintai.
“Sayang ....” ucap Damian yang tiba-tiba muncul di belakang Adriana.
Adriana memutar arah kudanya dengan senyuman manis. Terlihat jelas Pangeran Damian yang baru saja tiba dengan kuda berwarna cokelat dengan jenis yang sama dengan Adriana.
“Aku sangat merindukanmu,” jawab Adriana dengan penuh bahagia.
Tanpa banyak bicara lagi, Damian mengemudikan kudanya menuju ke hutan. Sama halnya dengan Adriana, wanita itu juga melajukan kudanya menuju ke hutan. Mencari tempat yang paling aman, untuk berbicara dengan pangeran Damian.
“Sayang, bersabarlah. Untuk sementara waktu kita harus menjauh, jangan sering-sering memintaku seperti ini.” Damian menghentikan laju kudanya setelah berjalan puluhan kilo meter.
“Sepertinya kau sudah mulai jatuh cinta pada Emelie,” jawab Adriana dengan wajah cemberutnya.
Damian tertawa kecil, lalu turun dari kuda. Berjalan ke arah danau biru yang terbentang di hadapannya. Adriana juga turun dari kuda untuk mengikuti langkah Pangeran Damian.
“Aku tidak akan mungkin jatuh cinta padanya,” jawab Pangeran Damian dengan kedua tangan di dalam saku.
“Aku sangat takut.” Adriana memeluk Damian dari belakang.
“Bersabarlah sayang.” Damian memegang kedua tangan Adriana dengan penuh cinta.
“Sayang, aku punya kabar baik.” Adriana kembali ingat dengan perkataan Ratu.
Damian tertarik dengan kabar baik yang akan di sampaikan oleh Adriana. Ia memutar tubuhnya untuk memandang wajah Adriana secara langsung. Menyentuh dagunya agar Adriana bisa memandang jelas wajahnya. Sentuhan Damian terasa sangat lembut. Membuat Adriana merona malu saat kedua mata Damian memandangnya dengan intens.
“Katakan,” ucap Pangeran Damian sambil mengelus lembut pipi Adriana yang merah.
“Ratu akan membunuh semua orang yang menolong Putri Emelie. Semua yang ada di Hongkong, termasuk Zeroun Zein.” Adriana tersenyum penuh percaya diri.
“Sayang, apa kau percaya dengan perkataan Ratu?” Kedua tangan Pangeran Damian kini ada di sisi kanan dan kiri telinga Adriana. Ada keraguan di wajah Pangeran Damian. Wajahnya tidak berubah bahagia, saat mendengar kabar baik dari Adriana.
“Apa maksudnya Pangeran? apa ada sesuatu yang salah?” Wajah Adriana berubah gugup.
Damian menarik napas sebelum mengeluarkan suara.
“Ratu tidak akan berbuat seceroboh itu. Apa lagi, kalau sampai Emelie tahu, itu akan menghilangkan kepercayaan Emelie pada dirinya. Di tambah lagi, Emelie anak kandung Raja dan Ratu. Aku Cuma khawatir, ini jebakan untuk dirimu, Sayang.”
Wajah Adriana semakin pucat. Tidak pernah ia memiliki pemikiran yang sama dengan Pangeran Damian. Baginya Ratu adalah orang yang mudah untuk dipengaruhi.
“Jangan ikut campur lagi dengan urusan Emelie. Biar Aku yang mengatur semuanya. Yang terpenting saat ini, kau harus percaya padaku. Semua akan menjadi milik kita nanti.” Damian tersenyum kecil.
Adriana mengangguk setuju. Damian mengecup bibirnya tanpa permisi. Melampiaskan kerinduannya selama ini. Tempat itu sunyi, tidak ada seorangpun yang mengetahui hubungan terlarang mereka berdua. Momen indah itu mereka habiskan untuk memadu kasih. Sambil menyusun rencana-rencana jahat selanjutnya.
***
Emelie keluar dari dalam kamar tidurnya. Ia berjalan menuju ke arah kamar Putri Adriana. Sudah lama ia tidak bercerita dengan penuh canda tawa dengan adik kesayangannya itu. Hari ini ia putuskan untuk mengunjungi Adriana lebih dulu.
Emelie mengetuk pintu kamar Adriana berulang kali. Tidak ada jawaban dari dalam. Dengan penuh rasa penasaran, Emelie masuk ke dalam kamar Adriana.
“Adriana ....” ucap Emelie dengan nada merdu sambil mendorong pintu kamar itu.
Hanya ada kamar kosong yang begitu rapi. Tidak ada seorangpun di dalam kamar itu. Emelie melanjutkan langkah kakinya. Ia juga merasakan rindu pada kamar bercat merah muda itu. Waktu kecil, ia sering tidur di kamar itu untuk menemani Adriana. Adriana wanita yang penakut. Ia tidak pernah berani tidur sendiri sewaktu masih kecil.
Emelie berjalan ke arah meja rias milik Adriana. Memperhatikan buliran obat yang tersimpam di dalam botol. Hatinya diselimuti rasa penasaran dengan kesehatan Adriana. Dengan cepat, ia meraih botol itu untuk memeriksa obat itu.
“Pil kontrasepsi,” ucap Emelie dengan debaran jantung yang tidak karuan.
“Adriana belum menikah, bagaimana mungkin seorang wanita yang belum menikah meminum obat seperti ini.” Emelie meletakkan botol itu kembali ke atas meja, lalu berjalan cepat meninggalkan kamar Adriana.
“Aku harus menyelidikinya,” ucap Emelie sebelum menutup rapat pintu kamar itu.
“Putri Emelie, apa yang anda lakukan?” tanya salah satu pelayan pribadi Adriana.
Emelie memutar tubuhnya untuk melihat pelayan yang ada di belakangnya. Memasang wajah datar dengan posisi yang tegak.
“Saya ingin menemui Putri Adriana. Tapi dia tidak ada di kamar, apa kau tahu? Dimana Putri Adriana berada saat ini?” Emelie melipat kedua tangannya di depan dada.
“Putri Adriana berlatih kuda, Putri Emelie.” Pelayan itu menjawab sambil menunduk.
Emelie tidak lagi mau berbicara dengan pelayan itu. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar pribadi miliknya.
Pelayan itu masuk ke dalam kamar Adriana untuk memeriksa kamar majikannya. Tidak ada yang berubah, semua masih pada posisinya masing-masing. Namun, wajahnya berubah kaget, saat melihat pil kontrasepsi yang tergeletak bebas di atas meja rias. Pelayan itu berlari untuk menyembunyikan obat terlarang itu.
“Gawat, bagaimana kalau sampai Putri Emelie melihat ini tadi. Aku harus memberi tahu Putri Adriana.” Pelayan itu memasukkan obat ke dalam laci sebelum berlalu pergi untuk menemui Adriana di hutan.
Di sisi lain. Di dalam kamar Emelie menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya masih dipenuhi dengan obat yang baru saja ia temui. Selama ini, Adriana belum pernah dekat dengan pria manapun. Adriana termasuk putri yang penurut dan lemah lembut. Bahkan sangat jauh berbeda dengan dirinya yang suka membangkang sejak kecil. Sekuat mungkin, Emelie menghapus pikiran buruk tentang Adriana.
“Tidak, tidak. Pasti ada alasannya kenapa obat itu ada di kamar Adriana. Mungkin saja ada orang yang ingin menjebak Adriana. Ya, aku yakin ... ini semua tidak seperti yang ada di dalam pikiranku.” Emelie beranjak dari tidurnya. Duduk di tepi ranjang sambil memandang ke arah luar jendela.
“Aku juga ingin berkuda. Sepertinya cuaca hari ini sangat mendukung untuk olahraga. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Aca. Aca pasti sangat merindukanku.” Emelie berjalan ke arah ruang ganti, untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian berkuda.