
Lana berlari kencang untuk menjauh dari Morgan. Wanita itu tidak ingin terus-terusan menjadi bahan ancaman untuk Lukas. Hanya tinggal dirinya yang belum bebas.
Namun, karena kondisi Lana yang belum sembuh total. Larinya berhasil diimbangi oleh Morgan. Pria itu kini sudah berlari kencang di belakang Lana dan siap menangkap Lana kembali.
“Kenapa larinya cepat sekali,” umpat Lana kesal sambil terus berusaha berlari sejauh mungkin.
Morgan masih terus mengejar Lana. Lari wanita itu memang cukup cepat, walau dalam kondisi lemah. Morgan sendiri tidak mau menyerah dengan cepat. Ia terus mengejar Lana walau pasukan miliknya sudah tertinggal jauh di belakang.
Spanyol bukan hanya tempat tinggal bagi Morgan, tapi negara itu juga tempat tinggal Lana selama ini. Setiap lorong dan tiap meter jalan sudah pernah menjadi tempat bermain bagi Lana. Tidak sulit bagi Lana untuk mencari tempat berlari dan bersembunyi nantinya.
“Lana, Berhenti!” teriak Morgan mulai kesal. Pria itu berhenti lalu mengacungkan pistolnya ke arah langit. Ia berpikir kalau ancamannya kali ini akan berhasil menangkap Lana.
DUARRR
Lana berhenti. Wanita itu memutar tubuhnya lalu menatap wajah Morgan dengan seksama. Napasnya tampak terputus-putus. Keringat berkucur deras hingga membuat seluruh tubuhnya basah seperti orang yang habis mandi.
“Aku tidak tahu apa yang kau inginkan saat ini. Apa tujuan hidupmu memaksa wanita yang tidak mencintaimu lagi untuk tetap mencintaimu. Tapi, ada satu hal yang aku yakini hingga detik ini. Kau tidak akan tega menembakku jika kau memang masih mencintaiku. Bukankah kau pria yang baik,” ucap Lana dengan senyum tipis sebelum berlari lagi.
Morgan terdiam saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Lana. Ya. memang benar. Ia masih mencintai Lana dan tidak akan mungkin tega melukai wanita itu. Ia hanya ingin memeluk dan di peluk wanita itu lagi seperti dulu. Bukan melukai atau membuat wanita itu sengsara bahkan hingga menderita.
“Aku bukan pria baik! Lana, berhenti!” teriak Morgan sebelum berusaha mengejar Lana lagi.
Lana terus berlari melewati gang sempit. Ia harus bisa menemukan tempat bersembunyi. Tapi, tiba-tiba tangan seseorang menariknya secara paksa. Mendorongnya dengan begitu kuat hingga tubuh Lana terbentur dengan dinding.
“Siapa kau!” teriak Lana saat melihat pria yang tidak ia kenali kini berdiri di hadapannya. Napasnya masih tetap terlihat terputus-putus.
Pria yang berhasil menangkap Lana adalah Arron. Pria itu mengukir senyuman kecil sambil menatap wajah Lana. Dengan wajah yang cukup tenang ia mengambil pistolnya lalu melekatkannya di dahi Lana, “Jika pria itu tidak bisa membunuhmu. Maka dengan senang hati aku akan mewakilinya untuk membunuhmu.”
Secara perlahan Arron menarik pelatuk pistolnya. Pria itu sangat membenci semua orang yang berhubungan dengan Gold Dragon. Siapapun orangnya akan segera ia habiskan dan tidak akan ia sisakan satu orangpun.
“Aku yang lebih dulu menembakmu, jika kau berani melukainya,” ucap Morgan. Pria itu juga sudah melekatkan pistolnya di pelipis Arron dengan wajah yang cukup menakutkan.
Arron memandang wajah Morgan dengan senyum tipis. Satu tangannya ia angkat ke atas untuk memberi kode kepada pasukan miliknya agar segera keluar untuk membantu. Hanya dengan satu petikan jari, puluhan pasukan white tiger keluar lengkap dengan senjata api mereka. Sorot mata pria-pria itu terlihat membidik Morgan dan siap menghabisi pria itu.
Morgan tertawa kecil saat melihat jumlah pasukan musuhnya yang tidak ada apa-apanya. Pria itu juga memberi kode kepada bawahannya agar segera keluar dari tempat persembunyian mereka.
Tidak hanya muncul di belakang Morgan. Beberapa pasukan milik Morgan juga muncul dari atas atap dan belakang pasukan White Tiger. Semua orang juga memegang senjata dan siap untuk menembak. Di hitung dari jumlah dan posisinya berada, sudah bisa di pastikan kalau Arron akan kalah.
“Spanyol, rumahku. Kau hanya tamu di sini,” ucap Morgan dengan senyum menghina. Pria itu menarik tangan Lana lalu merangkulnya dengan mesra, “Berpikirlah dua kali sebelum melukai wanitaku.” Ia tahu, kalau pria yang berdiri di hadapannya adalah mafia White Tiger. Ia juga tahu, kalau Lana salah satu target yang ingin dihabisi ketua mafia itu.
Morgan memutar tubuhnya lalu membawa Lana pergi dari tempat itu. Bibirnya mengukir senyuman sambil menatap wajah Lana yang hanya menunduk, “Kau gadis nakal, Honey. Ucapkan terima kasih karena aku sudah menolongmu.”
Lana hanya diam membisu mengikuti jejak kaki Morgan. Jika di bandingkan dengan Arron, ia jauh lebih memilih Morgan. Apapun yang ia lakukan, Morgan tidak akan berani melukainya. Berbeda dengan Arron. Pria itu memiliki dendam dan benci atas pasukan Gold Dragon.
“Tunggu!” teriak Arron dengan suara yang cukup lantang.
“Kita bisa bekerja sama. Kita memiliki musuh yang sama. Kau bisa membunuh Lukas dan aku membunuh Zeroun. Bagaimana?” ucap Arron dengan wajah yang cukup tenang.
Lana terbelalak kaget dengan tawaran Arron siang itu. Ini satu keadaan yang tidak boleh terjadi. Jika benar Morgan dan Arron bekerja sama, maka musuh yang akan di hadapai Gold Dragon akan semakin sulit untuk di kalahkan.
“Tidak,” ucap Lana dengan suara yang lantang.
Morgan memandang wajah Lana dengan satu alis terangkat. Pria itu cukup tahu kalau Lana tidak akan setuju jika dirinya bekerja sama dengan Arron. Walau memang tawaran yang di katakan Arron cukup menggiurkan.
“Siapa yang menyuruhmu mengeluarkan kata,” teriak Arron tidak suka.
Morgan menatap sinis wajah Arron. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Lana, “Ayo kita pulang, Honey. Jika kau baik budi seperti ini, aku tidak akan bekerja sama dengannya.”
Lana menghela napas sambil menatap wajah Arron. Setidaknya detik ini ia berhasil mengagalkan rencana kerja sama itu. Tidak tahu ke depannya, akan tetap begini atau tidak. Setelah White Tiger berhasil di kalahkan oleh Gold Dragon, maka Lukas dan Zeroun akan sangat mudah mengalahkan Morgan. Kira-kira seperti itu jalan pikiran Lana.
Arron menggertakkan giginya karena gagal mengajak Morgan untuk kerja sama. Ingin sekali ia juga membunuh Morgan detik itu juga, tapi semua masih ia tahan. Tujuan utamanya saat ini Gold Dragon bukan Morgan.
Morgan membawa Lana ke arah mobil miliknya. Pria itu membuka pintu mobil lalu meminta Lana masuk ke dalam. Tanpa mau membantah, Lana masuk ke dalam mobil. Wanita itu masih harus bersikap baik sampai keadaan benar-benar menguntungkan bagi Lukas.
Morgan duduk di sebelah Lana. Pria itu menatap wajah Lana sekali lagi sebelum menghidupkan mobilnya, “Lana, aku tahu kau melakukan hal ini karena ingin melindungi pria itu. Aku juga tahu segala keuntungan yang aku dapatkan jika aku bekerja sama dengan pria tadi. Kau pasti tahu, kalau aku bukan pria bodoh.”
“Kau bisa bekerja sama dengannya jika kau ingin. Itu tadi jawaban dari hatiku, tidak mewakili hatimu sama sekali,” jawab Lana ketus.
Morgan tertawa kecil saat mendengar ocehan Lana, “Kau masih sakit. Sebaiknya kau banyak-banyak istirahat dari pada bermain-main seperti tadi.” Ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dari kejauhan, Zeroun mengukir senyuman tipis. Sejak tadi, pria itu melihat semua yang terjadi. Walau ia tidak tahu apa yang di bicarakan Morgan dan Arron, tapi hal itu sudah cukup membuatnya tahu sifat Lana saat ini. Emelie duduk sambil menatap wajah Zeroun. Sejak tadi ia bingung, karena suaminya hanya tersenyum sebelum berwajah menyeramkan.
“Sayang, apa yang kau tertawakan?” ucap Emelie mulai bosan.
Zeroun menurunkan snipernya. Pria itu mengukir senyuman sambil memandang wajah cantik istrinya, “Aku sangat mencintaimu.”
Emelie mengukir senyuman, “Aku juga sangat mencintaimu, Zeroun.”
Zeroun membuka kedua tangannya. Pria itu sangat ingin memeluk Emelie. Tanpa lama menunggu, Emelie memeluk tubuh Zeroun, wanita itu juga sangat bahagia, karena masih bisa merasakan momen manis di tengah-tengah pertarungan yang akan mereka hadapi.
.
.
.
Like, Komen, Vote karena itu menentukan up selanjutnya berapa Bab...🤣