Moving On

Moving On
Tidak Rela



Crazy Up...vote Uda 50k.đź’—


Lana dan Lukas keluar dari dalam kamar secara bersamaan. Wajah mereka berdua terlihat sangat panik. Beberapa detik yang lalu pasukan Gold Dragon telah memberi kabar kalau kini Inspektur Tao dan Agen Mia lagi-lagi di serang. Tidak cukup sampai di situ. Segerombolan Heels Devils kini juga dalam perjalanan penyerangan markas yang mereka tempati. Lukas tidak lagi bisa berdiam diri. Jika Heels Devils berhasil masuk ke dalam kota Salvador dengan selamat, maka semua rencana yang sudah mereka susun akan sia-sia.


“Mungkin Bos Zeroun bersama Nona Emelie sedang sarapan,” ucap Lana sambil terus melangkahkan kakinya.


Lukas hanya diam tanpa kata. Pria itu terus saja berjalan menuju ke arah meja makan. Ia berharap kalau Zeroun benar ada di dapur saat ini. Langkah Lana dan Lukas terhenti saat melihat Zeroun dan Emelie yang kini tertawa dengan satu candaan yang baru saja mereka ciptakan. Wajah Zeroun terlihat berseri saat tangannya terus menjahili tunangannya.


Lukas memandang wajah Lana dengan tatapan penuh arti. Pria itu tidak ingin merusak momen indah bos Zeroun dan tunangannya. Di tambah lagi, jadwal penyerangan mereka memang di atur besok. Kabar yang baru saja ia terima memang cukup mengejutkan. Ia tidak pernah menyangka kalau Jesica sudah mengetahui rencana penyerengannya hingga memilih untuk menyerang lebih dulu.


Zeroun memandang wajah Lukas saat pria itu hanya berdiri mematung. Bos Mafia itu menatap wajah Emelie dengan seksama, “Sayang, pergilah ke pantai lebih dulu. Aku akan menyusul nanti.” Satu tangannya mengusap lembut pipi Emelie.


“Baiklah,” jawab Emelie dengan senyuman indah. Wanita itu mendaratkan satu kecupan cinta di pipi kanan Zeroun sebelum pergi meninggalkan dapur.


Melihat Emelie sudah semakin menjauh, Lukas dan Lana mulai memberanikan diri untuk mendekati Zeroun. Mereka ingin Bos mafia itu segera tahu dengan situasi yang saat ini terjadi.


“Ada apa?” tanya Zeroun tanpa basa-basi. Sorot matanya yang tajam menatap wajah Lukas dan Lana secara bergantian.


“Bos, Heels Devils menyerang kota Rio dan kini berjalan menuju ke kota Salvador.” Lukas menunduk. Pria itu tidak tahu yang harus ia perbuat. Semua keputusan memang selalu ada di tangan Zeroun.


Zeroun membuang tatapannya. Pria itu menghela napas dengan api amarah yang sudah memuncak. Ia juga sudah tidak sabar untuk menghabisi Jesica. Sudah berulang kali wanita itu selamat dari genggamannya. Untuk kali ini, Zeroun Zein tidak ingin melepas Jesica hidup-hidup.


“Bagaimana dengan persiapan penyerangan kita?” Zeroun terlihat berpikir sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.


“Semua sudah siap, Bos. Seluruh pasukan Gold Dragon juga sudah siap untuk misi penyerangan,” ucap Lukas dengan tatapan yang cukup serius.


Zeroun menghela napas sebelum mengeluarkan satu keputusan yang cukup mengambil resiko itu, “Siapkan semuanya. Kita berangkat sekarang.”


“Siap, Bos,” jawab Lana dan Lukas bersamaan. Sepasang kekasih itu memandang punggung Zeroun yang kini berjalan menuju ke arah pantai. Mereka sudah tahu, sebelum pergi bertarung pasti Zeroun ingin menemui Emelie lebih dulu.


“Lukas, apa ini tidak terlalu cepat?” Lana memegang lengan kekasihnya dengan wajah yang dipenuhi keraguan.


Lukas menatap wajah Lana dengan seksama, “Jika kita tidak menyerang hari ini mereka yang akan menyerang kota ini. Itu jauh lebih berbahaya.”


“Tapi ....” Lana menunduk dengan wajah sedih.


“Lana, seharusnya kau tahu resiko apa yang kau dapatkan sebelum masuk ke dalam dunia gelap penuh darah ini. Hanya ada dua pilihan, tetap hidup atau mati.” Lukas menyentuh pundak Lana dengan cengkraman yang cukup kuat, “Aku harap kita semua ada di pilihan pertama.”


“Aku tahu,” jawab Lana sambil menunduk.


“Persiapkan senjatamu. Aku akan menunggu di depan,” ucap Lukas sebelum berlalu pergi meninggalkan Lana sendiri di dapur.


“Aku tidak tahu harus berbicara apa saat ini.” Lana memandang keluar jendela untuk melihat Zeroun dan Emelie yang kini sedang bersama, “Tapi, wanita seperti Putri Emelie tidak akan siap menerima kehidupan yang dipenuhi resiko seperti ini. Di tambah lagi, ia sangat mencintai Bos Zeroun seperti mencintai nyawanya sendiri.” Entah kenapa detik itu Lana merasa sedih melihat hubungan yang terjalin di antara Zeroun dan Emelie. Bahkan ia tidak lagi memikirkan keselamatan dirinya sendiri.


***


Zeroun dan Emelie berdiri sambil memandang indahnya ombak pantai di pagi hari. Cahaya matahari menghangatkan tubuh. Angin yang berhembus terasa sejuk untuk di hirup. Burung-burung berterbangan di atas permukaan laut biru yang cukup indah.


“Emelie, ada yang ingin aku katakan padamu.” Zeroun memandang wajah Emelie yang kini belum menatap wajahnya.


Emelie mengukir senyuman indah. Wanita itu sangat ingin bermain di pinggiran pantai bersama kekasihnya, “Nanti saja. Sekarang temani aku bermain di ombak itu.” Dengan gerakan cepat Emelie meraih tangan Zeroun menuju ke tepian pantai.


Apa yang harus aku katakan. Rasanya sangat sulit untuk mengatakan kalimat itu detik ini. Aku tidak sanggup untuk merusak tawa yang kini terukir di wajahnya. Aku akan lebih kejam dari seorang pembunuh jika membuatnya menangis lagi hari ini. Kenapa ini semua bisa menjadi rumit seperti ini.


Emelie melepas lengan Zeroun. Wanita itu berlari ke tepian pantai sekedar bermain-main air. Gaunnya yang panjang juga sudah basah karena terkena gulungan ombak yang menerjang tubuhnya. Senyuman Emelie cukup indah. Tidak ada lagi hal lain yang ia impikan selain hari bahagia seperti ini.


“Aku mencintaimu, Zeroun Zein ....” teriak Emelie sambil memutar-mutar tubuhnya. Wanita itu benar-benar terlihat kegirangan.


Zeroun melirik jam yang melingkar di lengannya. Hatinya belum siap. Namun, tidak ada lagi waktu untuk berlama-lama. Ia harus segera berkumpul dengan seluruh pasukan yang ia miliki untuk menyerang Jesica. Dengan langkah kaki yang cukup berat, Zeroun berjalan dan meraih tangan Emelie. Lelaki itu menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut Emelie sambil memejamkan mata.


“Sayang, aku harus pergi.” Napasnya seperti berhenti detik itu juga.


Emelie segera melepas pelukan Zeroun. Wanita itu menatap wajah Zeroun dengan seksama, “Kemana? Apa kita mau jalan-jalan lagi?” Walau ia tahu bukan tentang jalan-jalan yang akan di katakan oleh kekasihnya. Tapi, Emelie berusaha untuk menyenangkan hatinya. Ia tidak ingin tunangannya benar-benar akan pergi untuk bertarung.


“Sayang, maafkan aku. Tapi aku berjanji akan kembali sebelum makan siang, bagaimana?” Zeroun mengukir senyuman terpaksa. Pria itu juga tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan. Tidak ada kata lain yang bisa ia katakan selain berbohong.


“Kau mau pergi kemana? Aku ikut,” ucap Emelie dengan wajah dipenuhi harapan.


Zeroun menggeleng pelan, “Tetap di sini dan tunggu aku kembali. Setelah hari ini kita akan kembali ke Hongkong dan membicarakan tentang rencana pernikahan kita.”


“Benarkah, kau akan kembali? Kau tidak akan meninggalkanku seperti Raja dan Ratu kan, Zeroun?” Emelie menyentuh pipi Zeroun dengan mata berkaca-kaca. Rasanya cukup sulit buat membohongi dirinya sendiri agar tidak bersedih dan meneteskan air mata detik itu juga.