Moving On

Moving On
Penculikan Emelie



Damian menyeret Emelie dengan kasar. Genggaman yang sangat kuat Pangeran Monako itu membuat pergelangan tangan Emelie kemerahan. Emelie terus saja meneteskan air mata dan berusaha melepaskan tangannya. Damian membawa Emelie ke sebuah kamar dengan ukuran yang tidak terlalu luas. Melemparkan tubuh Emelie ke atas tempat tidur. Amarah pria itu memuncak. Wajahnya memerah dengan tangan terkepal kuat. Ada senyuman licik di bibir Damian.


“Apa yang ingin kau lakukan, Damian!” Emelie berusaha melawan Damian detik itu.


“Tentu saja melakukan hal yang seharusnya Aku lakukan sejak dulu. Untuk memberi pelajaran kepada wanita arogan sepertimu, Emelie.”


Damian mulai menaikan kakinya ke atas tempat tidur. Membuat Emelie secara spontan mundur untuk menjauhinya.


“Kau pria brengsek, Damian,” umpat Emelie dengan wajah marah bercampur takut.


Damian menarik tubuh Emelie, mencekik lehernya tanpa perasaan. Membuat Putri Kerajaan itu menjadi sulit untuk bernapas. Namun, Emelie tidak mau terlihat kalah. Kedua bola mata biru itu masih melebar untuk melawan Damian.


“Jika Aku mati, Zeroun akan membunuhmu untuk membalaskan kematianku!” Kalimat Emelie membuat Damian tersadar.


Dengan cepat ia melepas cekikannya dan menghempaskan tubuh Emelie hingga terbatuk–batuk. Bekas kuku–kuku Damian membekas di leher Emelie yang putih.


“Kau benar, Emelie. Aku tidak bisa membunuhmu sekarang. Tapi, aku bisa menikmati tubuhmu detik ini juga.” Damian lagi–lagi tersenyum licik. Pria itu melonggarkan dasinya dengan tatapan sensual.


Membuat Emelie jadi takut dan sangat sulit mengeluarkan kata. Emelie menatap ke arah jendela. Ia berpikiran untuk melawan Damian dan kabur dengan cara melompat dari jendela kaca itu.


Tetapi, lagi-lagi usahanya sia-sia. Tenaga Damian tidak sebanding dengan kekuatan yang ia miliki. Wanita itu kini hanya bisa menangis dengan wajah putus asa.


Emelie kembali ingat dengan gelang yang kini ia kenakan. Harapan Emelie saat ini adalah Zeroun. Putri kerajaan itu berharap kalau Zeroun datang tepat waktu sebelum semua terlambat.


Aku harus bisa mengulur waktu.


Emelie menatap wajah Damian dengan tangan terkepal kuat.


“Apa yang Kau pikirkan putri, apa Kau sekarang sudah pasra dan rela melayaniku?” Damian mengangkat satu alisnya.


“Aku lebih baik mati dari pada harus menyerahkan tubuhku kepadamu!” teriak Emelie sambil berlari untuk menghindari tubuh Damian lagi. Tapi, bukan berhasil lari. Putri kerajaan itu justru tergeletak di atas tempat tidur saat tangan Damian menariknya. Kedua kakinya sudah di duduki oleh Damian, membuat Emelie tidak bisa memiliki cara untuk lari.


“Damian jagan lakukan ini!” Buliran air mata menetes. Ia tidak memiliki kekuatan apapun untuk menjauhkan Damian dari tubuhnya.


“Emelie, bukankah ini jauh lebih menakutkan dari pada kematian?” Damian tidak ingin menunggu lebih lama lagi.


Dengan kasar ia tarik gaun yang di kenakan Emelie hingga terkoyak dan menampakan bagian dadanya. Emelie terus berusaha melepaskan diri dengan terus berontak. Kedua tangannya di kunci oleh Damian. Pria itu mencium bibir dan leher Emelie dengan penuh nafsu. Bibirnya tersenyum puas saat melihat penderitaan yang dialami Emelie detik itu.


“Sayang, apa Zeroun belum pernah menyentuhmu seperti ini? apa Aku pria pertamamu?” Damian berbisik dengan nada sensual dan tangan yang terus saja merobek gaun Emelie.


Seluruh gaun Emelie compang–camping. Kini hanya tersisa pakaian dalam Emelie yang menutupi bagian sensitifnya. Damian terus menjejaki seluruh bagian tubuh Emelie. Pria itu takjub dengan keindahan tubuh yang di miliki Emelie.


“Aku kan membunuhmu!” teriak Emelie di penuhi dendam.


Kedua matanya menghitam sambil menggertakan gigi. Bos mafia itu benar–benar marah atas perbuatan Damian terhadap Emelie. Pukulan demi pukulan ia layangkan untuk melampiaskan amarahnya. Damian tidak mau kalah, ia juga membalas setiap pukulan yang diberikan leh Zeroun. Saat Zeroun terjatuh, dengan cepat pria itu mengeluarkan belati dan menusuk lengan Zeroun.


Tapi spertinya Zeroun tidak bergeming. Walaupun darahnya kini berkucur deras. Dengan sekuat tenaga, Bos Mafia itu memukul wajah Damian hingga pria itu mengeluarkan darah dari hidungnya.


Emelie menangis. Tubuhnya ia tutupi dengan selimut yang ada di tempat tidur itu. Putri kerajaan itu sangat takut ketika belatih itu tertancap di salah satu lengan Zeroun.


Damian berusah sekuat tenaga mendorong Zeroun. Hingga ahirnya Zeroun terjatuh lagi dan menjauh dari tubuhnya. Saat melihat Zeroun lengah, dengan cepat Damian berlari untuk kabur. Satu tembakan di lepaskan oleh Zeroun ke arah kaki Damian. Pria itu masih berusaha untuk kabur.


Beberapa anak buah Damian datang untuk menolong majikannya. Zeroun menarik belatih yang tertancap di lengannya tanpa Ekspresi. Dengan cepat ia berjalan ke arah tubuh Emelie. Menggendong tubuh kekasihnya yang kini di balut dengan selimut. Tembakan demi tembakan ia layangkan untuk melindungi nyawanya.


Jendela kaca juga ia tembak hingga kaca jendela itu berserak di lantai. Dengan darah yang terus menetes, Zeroun membawa Emelie kabur dari jendela. Melompat begitu saja meski mereka kini ada di lantai dua. Satu tangannya melindungi Emelie agar kepala kakasihnya tidak terluka.


Zeroun dan Emelie jatuh di atas tumpukan rumput yang sangat tebal, dengan posisi Emelie di atas tubuhnya. Zeroun memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang ia derita. Tulang–tulangnya terasa remuk saat tubuhnya terbentur langsung dengan rumput itu.


“Zeroun, bangun.” Emelie menangis sambil memukul–mukul dada Zeroun.


“Jangan menakutiku seperti ini.”


Emelie mendongakkan kepalanya ke atas. Beberapa anak buah Damian menodongkan senjata untuk menembak dirinya dan Zeroun. Emelie memeluk tubuh Zeroun untuk melindungi kekasihnya dari tembakan itu.


DUARR! DUARR!


Terdengar suara tembakan yang sangat memekakan telinga. Emelie mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Zeroun.


“Apa kau baik–baik saja, Emelie?” tangannya yang terluka mengelus–elus rambut Emelie.


“Aku ... Aku ....” Emelie menangis sejadi–jadinya memeluk lagi tubuh Zeroun yang masih berbaring diatas rumput.


Zeroun mengusap lembut punggung kekasihnya. Hatinya juga merasakan sakit atas perbuatan Damian terhadap Emelie.


“Emelie kita harus segera pergi dari tempat ini.”


Emelie menyingkir dari tubuh Zeroun. Duduk dengan wajah sedih yang tertunduk dalam. Zeroun melepas jas hitam yang ia kenakan. Memperlihatkan dengan jelas kemeja putih yang sudah berganti warna menjadi merah.


“Maafkan Aku tidak bisa menjagamu.” Zeroun memakaikan jas itu di tubuh Emelie.


Tanpa membuag-buang waktu, Zeroun mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya dan berlari meninggalkan tempat itu. Emelie mengalungkan kedua tangannya di leher Zeroun. Kepalanya ia sandarkan di dada bidang kekasihnya.


Air mata masih menetes saat Emelie mengingat kejadian yang mengerikan itu. Napasnya terasa sesak dengan hati yang sangat perih. Emelie memperhatikan luka tusukan di lengan Zeroun. Menyentuh luka itu dengan tangan gemetar. Sentuhan itu terlepas saat tiba–tiba dirinya tidak sadarkan diri.


Vote dan Like. terima kasih😊