
Zeroun memukul Arron dengan wajah yang cukup tenang. Agen Mia yang sejak tadi sudah bertarung dengan Arron lebih dulu, harus mengatur napasnya agar kembali normal. Wanita itu juga menghilangkan bercak darah yang ada di sudut bibirnya. Setelah merasakan tubuhnya jauh lebih baik, Agen Mia membantu Zeroun untuk menyerang Arron.
Arron pria yang cukup tangguh. Sangat berbeda jauh dari Arion. Meskipun sudah berulang kali pria itu mendapat pukulan dari Zeroun, tapi tetap saja tidak membuatnya goyah atau menimbulkan tanda-tanda kekalahan. Kali ini memang lawan Zeroun bukan pria yang biasa. Walau tubuhnya tidak terlalu besar, tapi Arron mampu mengalahkan beberapa orang yang menyerangnya hanya sekali pukulan.
Arron di bantu dua pria tangguh berbadan kekar. Pria-pria itu cukup setia melindunginya dari incaran peluru dari pasukan Gold Dragon. Berulang kali para sniper Zeroun berusaha menyerang Arron, tapi dengan mudahnya Arron menghindar.
Lana dan Lukas yang baru saja tiba terlihat syok melihat kekacauan di dalam kamar berukuran luas itu. Di lantai lainnya juga sudah banyak orang bertarung. Ada darah dan beberapa orang tergeletak di sana. Lukas melepas genggaman tangannya pada tangan Lana. Pria itu mengagguk pelan sebagai kode kepada Lana untuk siap menyerang. Lana mengangguk pertanda setuju. Sepasang kekasih itu mulai membantu menyerang Arron. Big Bos White Tiger.
Zeroun melayangkan satu pukulan dengan kaki. Pukulannya kali ini ia incar di bagian dada Arron. Walau hanya membuat Arron mundur beberapa langkah, tapi sudah cukup membuat Zeroun puas.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Zeroun Zein,” ucap Arron penuh kesombongan. Dua pria yang sempat melindunginya kini berdiri di sisi kanan dan kirinya. Mereka bertiga cukup yakin kalau bisa mengalahkan Zeroun dan Agen Mia saat itu.
Belum sempat pertarungan itu di mulai, Lukas dan Lana telah berada di sisi samping Arron dan dua pengawalnya. Kini posisi mereka cukup kuat, empat lawan tiga. Seharusnya tidak ada kata lain yang mereka pikirkan selain kata menang.
Zeroun mengukir senyuman kecil. Sorot matanya yang tajam memperhatikan anak buahnya yang masih bertarung. Sekilas ia memandang Emelie yang masih baik-baik saja. Hatinya juga puas melihat Lana dan Lukas datang tepat waktu. Kini pertahanannya cukup kuat, walau ia belum tahu, bisa atau tidak mengalahkan musuhnya kali ini.
Tidak banyak kata yang ingin di ucapkan Zeroun pagi itu. Gerakan penyerangan Zeroun sudah membuat satu aba-aba kalau penyerangan mereka telah di mulai. Lukas dan Zeroun mengambil alih untuk menyerang Arron. Sedangkan Lana dan Mia mengambil alih untuk melawan pria berbadan kekar itu.
Emelie memandang pertempuran itu dengan wajah bingung. Tangannya secara perlahan mengangkat pistol yang ada di genggaman tangannya. Semua kalimat yang di ucapkan Zeroun kembali mengiang di telinganya.
“Aku pasti bisa membantunya,” ucap Emelie pelan.
Belum sempat Emelie menarik pelatuk pistolnya, suara tembakan dari sniper lagi-lagi terdengar. Kali ini karena ada pasukan White Tiger yang ingin menyerang Emelie secara diam-diam. Emelie memandang pria yang tiba-tiba tergeletak di lantai. Wanita itu lagi-lagi bernapas lega saat merasa nyawanya kembali selamat.
“Cukup sulit bertahan di areal perang seperti ini,” ucap Emelie sebelum mengangkat lagi pistol itu lalu mengincar ke arah musuh yang berserak di hadapannya.
Lana menyerang pria berbadan kekar itu dengan sekuat tenaga. Sudah cukup lama ia tidak bertarung seperti itu. Jika sebelum-sebelumnya ia selalu kalah, kali ini Lana ingin menang. Walaupun musuh yang ia hadapi bukan main-main tenaganya. Bisa di bilang tiga kali lipat dari kemampuan yang di miliki Lana.
Lana berulang kali terjatuh namun ia berulang kali juga bangkit dan menyerang balik. Tenaganya masih mampu untuk melawan musuh. Lana sangat yakin kalau ia pasti bisa menang minimal bertahan dari serangan musuh yang kini menyerangnya.
Sama halnya dengan Agen Mia, wanita itu terlihat cukup kesulitan dalam melawan musuh yang berdiri di hadapannya. Seluruh trik bela diri yang ia miliki telah ia keluarkan agar bisa menang melawan musuh yang ada di hadapannya. Tapi, tidak ada satu trikpun yang berhasil. Justru membuat Agen Mia semakin berada di posisi yang cukup sulit dan terpojokkan.
Musuh yang berdiri di hadapan Agen Mia mengeluarkan belati. Agen Mia berusaha mengeluarkan senjata api, namun senjata api itu terhempaskan begitu saja saat pria yang ada di hadapannya, menendang tangannya. Belati panjang dan tajam itu siap menusuk bagian perut Mia.
Kedua bola mata Agen Mia melebar saat ia belum siap menghindar dari serangan senjata tajam tersebut. Detik ituia pasrah jika sebentar lagi malaikat maut menjemputnya.
DUARR!
“Kenapa dia bisa menembak?” batin Agen Mia di dalam hati. Cukup lama ia berdiri sambil memperhatikan Emelie, hingga akhirnya ia tidak sadar kalau lagi-lagi ada musuh yang ingin menyerangnya.
Sekali lagi tembakan di layangkan Emelie. Pria yang sempat menyerang Agen Mia lagi-lagi harus tertembak pada bagian perutnya. Walau tidak langsung membuat pria itu tewas, tapi cukup berhasil menyadarkan Agen Mia kalau di belakangnya ada bahaya.
Agen Mia memandang pria yang berdiri dan terluka di belakangnya. Tidak lagi menunggu lama, Agen Mia menyerang dan mengalahkan pria itu.
Dari kejauhan, Emelie mengukir senyuman dengan napas terputus-putus. Tubuhnya di penuhi keringat hingga basah. Ia cukup bangga karena bisa menembak dua orang dalam jarak yang cukup dekat. Setelah itu ia kembali mengincar ke arah lain dengan penuh semangat.
Emelie membuat tubuhnya tenang dan tidak panik. Hanya dengan trik seperti itu ia berhasil menguasai keadaan yang ada. Rasa takutnya hilang dan ia menjadi jauh lebih berani dari sebelumnya.
Zeroun menghentikan pertarungannya sejenak. Pria tangguh itu memandang wajah cantik istrinya yang terlihat bahagia karena sudah berhasil menembak. Zeroun mengukir senyuman kecil, “Bravo!” Pria itu kembali melanjutkan pertarungannya yang belum juga selesai.
Lukas terus mengincar bagian-bagian vital Arron agar bisa segera menakhlukan pria itu. Tapi, tidak ada satupun usahanya yang berhasil. Sama halnya dengan Zeroun. Pria itu juga menyerang Arron tanpa ampun. Namun tidak juga bisa membuat Arron kalah.
Big Bos mafa White Tiger yang kini mereka hadapi terlihat sangat hebat. Sepertinya Arron sudah latihan cukup lama untuk menghadapi Gold Dragon. Usaha balas dendamnya kali ini memang tidak main-main.
Satu tendangan yang di layangkan Arron berhasil membuat Zeroun jatuh terduduk hingga mengeluarkan darah dari mulut. Lukas menatap wajah Zeroun dengan begitu panik. Belum pernah ia melihat Zeroun sampai kalah dan terjatuh hingga seperti itu. Di sela-sela itu Arron juga menyerang Lukas dengan gerakan berputar yang cukup cepat dan kuat.
Tendangan itu juga membuat Lukas terpental dan terduduk di lantai. Terdengar tawa kemenangan dari Arron saat melihat dua pria yang menghadapinya jatuh tergeletak.
“Selamat tinggal,” ucap Arron sebelum memutar tubuhnya dan siap berlari.
Zeroun dan Lukas saling memandang satu sama lain sebelum beranjak dari posisi mereka. Satu hal yang kini memenuhi pikiran mereka adalah wanita yang mereka cintai.
Arron pasti sudah menyiapkan satu rencana buruk sebelum pria itu pergi. Walau kini berada dalam posisi yang cukup bahaya, tapi setidaknya mereka masih memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Waktu yang di gunakan Arron menjauh mereka manfaatkan untuk kabur dan melindungi wanita yang mereka cintai.
Lukas menembak ke arah pria tangguh yang di hadapi Lana. Pria itu gagal kabur saat kakinya terluka karena tembakan. Dengan gerakan cepat Lukas menarik pinggang Lana dan membawa wanita itu melompat lewat jendela.
Zeroun berlari kencang ke arah Emelie. Sekilas ia memberi perintah kepada Agen Mia agar segera berlari dan meninggalkan rumah itu. Agen Mia mematung saat melihat Zeroun melewati tubuhnya begitu saja. Ia menatap Zeroun yang memeluk Emelie dan membawa wanita itu melompat dari jendela.
Ada rasa iri di dalam hati Agen Mia saat melihat semua orang diselamatkan sementara dirinya harus sendirian berlari. Tapi, seepat mungkin ia tersadar dan ikut berlari untuk menyelamatkan diri.
Dentuman kuat terdengar hingga membuat api berkobar dan asap hitam mengepul. Rumah pertahanan Gold Dragon harus meledak dalam waktu hitungan detik. Tidak hanya satu, beberapa yang lainnya juga mengalami nasip yang sama. Menjadi rata dengan tanah dan tidak lagi memiliki sisa sedikitpun.
Arron memang memiliki niat untuk mengalahkan Zeroun sejak awal. Tapi, ia tdak ingin membuat Zeroun tewas secepat itu. Ia ingin Zeroun menderita saat mmelihat senjata dan Markas Gold Dragon tidak tersisa satupun. Peristiwa ini pasti cukup membuat Zeroun kebingungan dalam mengatur strategi selanjutnya.