Moving On

Moving On
S2 Bab 58



Markas Gold Dragon.


Agen Mia baru saja tiba di markas Gold Dragon. Wanita itu mematikan mesin mobilnya lalu turun dan berjalan dengan langkah gusar. Wajahnya terlihat tidak bersahabat. Ia cukup kesal dan sakit hati dengan kelakuan Morgan.


“Aku tahu, kau tidak benar-benar benci dengan Lana. Kita lihat saja, apa yang akan terjadi jika besok kau melihat kematian Lana yang cukup mengenaskan. Aku mau menyiksa wanita itu dan mengirimkan fotonya nanti sebagai hadiah perpisahan kita,” gumam Agen Mia di dalam hati. Wanita itu mempercepat langkah kakinya menuju ke kamar milik Lana.


Langkahnya terhenti saat melihat beberapa pasukan Gold Dragon yang berkumpul. Wanita itu tidak ingin rencananya di ganggu oleh siapapun. Ia merancang ide untuk mengusir seluruh pasukan Gold Dragon agar meninggalkan markas. Rencana Agen Mia berhasil. Menjadi orang kepercayaan Zeroun dan Lukas membuat Agen Mia bisa dengan mudah mengatur pasukan Gold Dragon.


“Ok. Saatnya pertunjukkan.” Agen Mia memegang sebuah belati. Kali ini ia berniat untuk merusak wajah Lana sebelum menusuk dan membuat wanita itu meregang nyawa dengan penderitaan.


Agen Mia menutup pintu kamar dengan hati-hati. Malam itu Lana telah terlelap dalam tidurnya. Posisi tidurnya terlihat sangat nyaman. Wajahnya yang cantik dan manis sudah mulai terlihat pucat.


“Wanita tangguh yang malang. Aku harap setelah ini kau tidak akan pernah membuka mata lagi,” gumam Agen Mia di dalam hati. Wanita itu mulai memainkan belatinya dan siap untuk menyayat wajah Lana. Pergerakannya terhenti saat seseorang menggenggam tangan Agen Mia malam itu.


Wajah Agen Mia terlihat sangat serius. Kini tangannya telah di cengkram kuat oleh Emelie, “Apa yang ingin kau lakukan?” teriak Emelie dengan suara yang cukup kuat.


Tidak ingin ketahuan oleh seluruh pasukan Gold Dragon, Agen Mia membungkam mulut Emelie. Wanita itu bahkan mengancam Emelie dengan melekatkan belati itu di bagian perut Emelie.


“Jika kau mengeluarkan suara lagi, maka benda ini akan berada di dalam tubuhmu,” ancam Agen Mia dengan sorot mata yang menakutkan.


Emelie terlihat tidak takut sama sekali. Wanita itu justru tertawa kecil dan kembali menantang Agen Mia, “Coba saja kalau kau berani.”


Lana mulai membuka mata saat mendengar keributan di dekatnya. Wanita itu melebarkan kedua matanya saat melihat Emelie kini berada di bawah ancaman Agen Mia. Wanita itu beranjak dari posisi tidurnya lalu berusaha menolong Emelie.


“Apa yang kau lakukan Mia!” ucap Lana sambil menarik paksa tangan Agen Mia. Setelah berhasil menarik tangan Agen Mia Lana mendorong tubuh Agen Mia hingga terjatuh. Malam itu Lana mengeluarkan seluruh sisa tenaganya. Lana kembali terduduk di lantai setelah berhasil membuat Agen Mia terjatuh di lantai.


“Lana, apa kau baik-baik saja?” ucap Emelie dengan wajah khawatir.


“Saya baik-baik saja, Nona. Apa Nona baik-baik saja?”


“Dasar wanita jal*ang!” umpat Agen Mia tidak terima. Wanita itu beranjak dari posisinya terjatuh. Ia berdiri dan siap melangkah untuk menyerang Emelie dan Lana lagi. Tidak di sangka, langkahnya harus terhenti lagi. Lengan kekar menahannya dan menariknya paksa.


Zeroun berdiri di hadapan Agen Mia dan menatap wajah wanita itu dengan seksama, “Berani sekali kau menyentuh istriku!”


Emelie terus saja membantu Lana untuk kembali ke tempat tidur. Agen Mia terlihat takut saat melihat wajah Zeroun. Wanita itu memutar tubuhnya dan berlari kencang. Ia ingin kabur dari markas Gold Dragon untuk menyelamatkan nyawanya.


Zeroun juga keluar dari kamar itu. Ia ingin melihat. Sampai mana usaha Agen Mia kabur dan menyelamatkan dirinya.


Agen Mia berdiri di depan kamar Lana. Ia melihat seluru pasukan Gold Dragon telah berkumpul di ruangan berukuran luas itu. Wanita itu berlari ke arah kanan dari posisinya berdiri. Langkahnya terhenti saat ia melihat Lukas berdiri di sana. Pria itu melipat kedua tangannya sambil menatap tajam wajah Agen Mia. Jika tidak ada Zeroun di ruangan itu, mungkin Lukas sudah menghadiahkan Agen Mia sebuah tembakan.


Tidak ingin tertangkap secepat itu. Agen Mia memutar tubuhnya dan berusaha lari ke sisi kiri. Langkahnya lagi-lagi harus terhenti saat melihat Kenzo berdiri dengan senyuman menghina. Pria itu memainkan sebuah pistol di hadapan Agen Mia.


Agen Mia mundur dengan wajah ketakutan. Baginya malam itu adalah malam terakhirnya untuk hidup. Napasnya terasa sesak. Pikirannya kacau hingga tidak tahu harus bagaimana lagi.


Emelie menatap wajah Agen Mia dengan tatapan kebencian. Wanita itu berjalan maju beberapa langkah untuk memaki wanita jahat yang ada di hadapannya. Zeroun berdiri tidak jauh dari posisi Emelie berada. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku dengan ekpresi cukup tenang.


“Kau wanita yang tidak tahu diri! Kami sudah berbaik hati menolongmu di penjara tapi kau masih memiliki niat untuk mencelakai Lana,” ucap Emelie dengan tangan terkepal kuat. Ingin sekali wanita itu melayangkan satu pukulan ke arah wajah Agen Mia untuk memberinya pelajaran.


“Bukan hanya Lana. Bahkan aku juga ingin membunuhmu, Emelie!” teriak Agen Mia dengan mata memerah dan siap untuk menangis, “Hidupku seperti ini juga karena kalian. Jika sejak awal Kak Tao tidak memiliki hutang budi kepada kalian maka kami tidak akan pernah menjadi buronan seperti sekarang.”


“Kau menyalahkan Kakak Iparku. Besar sekali nyalimu sebagai seorang wanita.” Kenzo menatap sinis ke arah Agen Mia sebelum membuang tatapannya ke arah lain.


“Kau memang wanita jahat, Agen Mia. Wanita sepertimu tidak pantas ada di antara kami. Kau harus pergi dari sini!” teriak Emelie dengan penuh emosi.


“Kakak Ipar, ayolah. Jangan bercanda. Kau hanya mengusirnya? Apa kau yakin? Kita harus membunuhnya malam ini. Mencincang tubuhnya menjadi makanan ikan di lautan. Ini juga cukup menjadi peringatan bagi seluruh Anggota Gold Dragon. Bukankah sudah cukup lama, Bos Mafia kita ini tidak memberi hukuman kepada penghianat?” Kenzo menatap wajah Zeroun dengan seksama. Ada senyum tipis di bibirnya, “Aku juga bisa mewakilimu.”


Agen Mia memejamkan matanya. Wanita itu sudah pasrah dengan keputusan akhir hidupnya malam itu. Jika memang benar, ia akan mati malam itu juga. Maka Agen Mia sudah siap. Kedua tangannya terkepal kuat. Satu persatu air matanya menetes.


Zeroun mengangkat tangannya. Memberi perintah kepada beberapa pasukan Gold Dragon yang ada di ruangan itu untuk maju, “Bawa dan kurung dia. Aku akan memikirkan hukuman yang pantas untuknya nanti.”


Beberapa pria berbadan kekar memegang tangan Agen Mia dan menyeret paksa tubuh wanita itu untuk meninggalkan ruangan. Kenzo dan Lukas terlihat tidak terima dengan keputusan Zeroun malam itu. Mereka ingin Agen Mia segera meregang nyawa agar tidak ada lagi namanya di muka bumi ini.


Emelie mengukir senyuman. Wanita itu berjalan pelan mendekati Zeroun, “Aku tahu kau tidak sekejam itu.”


Zeroun menatap wajah Emelie dengan senyuman. Ia menyentuh pipi wanita itu dengan kelembutan, “Maafkan aku, Emelie. Aku tidak akan membunuhnya di hadapanmu. Penghianat tetap penghianat. Sampai kapanpun ia tidak layak untuk di biarkan hidup. Setelah malam ini aku akan memikirkan cara yang tepat untuk menghabisi nyawanya,” gumam Zeroun di dalam hati.


Lukas menunduk hormat, “Saya permisi dulu, Bos.”


Zeroun mengangguk pelan sebelum menatap wajah Kenzo, “Beristirahatlah. Kau harus membantuku untuk mencari penawar racun untuk Lana.”


“Ya. Baiklah,” jawab Kenzo malas. Pria itu berjalan menuju ke kamar tidurnya untuk beristirahat. Beberapa pasukan Gold Dragon juga sudah tidak ada di ruangan luas itu.


“Sayang, apa ada yang terluka?” ucap Zeroun sambil memeriksa tubuh istrinya.


Emelie menggeleng pelan, “Aku baik-baik saja. Tapi, aku tidak tega melihat Lana.”


“Kita akan segera mendapatkan penawarnya. Jangan di pikirkan. Sekarang sudah sangat malam. Sebaiknya kita segera beristirahat. Tubuhmu juga kurang sehat. Jangan terlalu banyak pikiran,” ucap Zeroun sambil mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya.


“Baiklah. Sekarang ayo kita tidur.” Emelie menjatuhkan kepalanya di dada bidang suaminya sambil memejamkan mata. Kedua tangannya melingkar indah di leher jenjang milik suaminya.