Moving On

Moving On
Hotel Fessano



Zeroun melajukan mobilnya ke arah pantai Cobacabana. Hotel yang ingin mereka kunjungi malam ini terletak di depan pantai indah itu. Mobil Zeroun berhenti di parkiran hotel yang hanya memiliki 8 lantai. Bos Mafia itu melepas sabuk pengamannya sebelum menatap wajah Emelie.


Kini kekasihnya terlihat sedang memejamkan mata dengan wajah yang begitu indah. Dengan lembut Zeroun menyentuh pipi Emelie agar wanita itu bangun dari tidurnya.


“Apa kita sudah sampai?” Emelie memandang kearah depan.


Zeroun mengangguk sambil melepas sabuk pengaman Emelie, “Kita akan istirahat sebelum pergi ke pesta.”


“Siapa yang pesta?” tanya Emelie dengan wajah menyelidik.


“Rekan bisnis,” jawab Zeroun dengan wajah yang sangat meyakinkan. Tidak ingin menjelaskan terlalu jauh. Pria itu turun dari dalam mobil. Berlari kecil ke arah pintu Emelie. Membuka pintu itu dengan satu tangan yang ia ulurkan untuk Emelie.


“Apa kita akan tidur di hotel ini, malam ini?” Emelie mendongakkan kepalanya.


“Tidak, kita akan pulang setelah acara selesai.” Zeroun menggandeng pinggang ramping Emelie. Terlihat Heels Devils yang sudah tidak sabar menyambut Zeroun malam itu. Namun, sepertinya Heels Devils tidak ingin menyerang Zeroun secepat itu. Mereka membiarkan Zeroun masuk ke dalam hotel tanpa hambatan.


Di sisi Lain. Lana dan Lukas berada di lokasi titik kumpul pasukan Gold Dragon. Sebuah gedung yang hanya memiliki satu lantai dasar. Sebuah markas sementara saat mereka berada di kota Rio.


Beberapa senjata api dan bahan peledak tersusun rapi di ruangan itu. Masing-masing orang mengambil satu senjata dan ratusan peluru.


Lana memilih satu pistol dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya. Wanita itu menembak ke sembarang arah untuk mencoba kualitas tembakan dari pistol itu. Satu belati ukuran kecil juga ia selipkan di pahanya. Ada paper bag yang berisi gaun untuk ia kenakan di pesta nanti.


Sedangkan Lukas. Pria itu masih sibuk membicarakan rencana yang sudah disusun Zeroun. Sesekali ia memandang ke arah Lana.


“Bos Zeroun tidak ingin kita mengambil chip itu. Kita akan membiarkan mereka mengambil chip itu. Malam ini penyerangan kita hanya untuk memberi peringatan kepada mereka. Jangan sampai melakukan kesalahan apapun. Setelah ini, kita akan bertarung dengan polisi lagi.” Lukas mengeluarkan beberapa foto polisi yang akan menyamar nanti malam.


“Hindari mereka. Karena mereka yang akan bertugas untuk menjaga chip itu.”


“Siap, Bos.” Setelah selesai menerima arahan Lukas. Seluruh pasukan Gold Dragon pergi meninggalkan tempat itu. Mereka akan melakukan aksi penyamaran lagi agar bisa masuk ke dalam gedung hotel itu.


Lukas berjalan mendekati Lana. Pria itu duduk di samping Lana sambil memandang ke arah dinding yang dipenuhi coretan pilox. Ia sedikit bingung dengan dinding itu. Sejak tadi, Lana memperhatikan dinding itu tanpa berkedip.


“Apa yang kau pikirkan, Lana?” Lukas menatap wajah Lana.


“Aku selalu menggambar saat sedang bosan. Bukankah gambar itu sangat indah.” Lana memandang wajah Lukas dengan mata berkaca-kaca.


“Setiap gambar yang dibuat oleh anak jalanan seperti ini, memiliki makna yang begitu indah. Lihatlah gambar itu, gambar itu melambangkan rasa luka karena perginya seseorang. Aku sangat yakin, yang menggambar ini seorang wanita yang sedang patah hati.” Ada senyum kecil di sudut bibir Lana.


“Bisa saja pria yang menggambarnya,” sambung Lukas yang kini mulai menghayati gambar di dinding itu.


“Kau salah Lukas. Gambar ini di buat oleh wanita.”


Lukas menghembuskan napasnya dengan kasar, “Ya, terserah kau saja. Sekarang kita harus pergi dari sini.”


Lukas beranjak dari duduknya, melangkah cepat ke arah mobil.


“Lukas, apa Aku boleh meminta sesuatu?” Lana berdiri tegab di belakang Lukas.


Lukas menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya agar bisa memandang wajah Lana dengan jelas.


“Katakan, apa yang kau inginkan?”


“Setelah kita berhasil mengalahkan Heels Devils. Apa Aku boleh pergi meninggalkan Gold Dragon.” Lana mengepal tangannya menahan rasa takut saat mengungkapkan isi hatinya.


“Semua itu diputuskan oleh Bos Zeroun.” Lukas memasukkan tangannya di dalam saku. Mengeryitkan dahi saat melihat Lana menekuk kepalanya. Wanita itu merasa putus asa. Ia juga tidak akan berani mengatakan hal itu kepada Zeroun Zein secara langsung.


“Benarkah?” tanya Lana dengan penuh antusias.


Lukas mengangguk setuju, “Mulai dari sekarang, kau harus memiliki tekad untuk tetap hidup saat melakukan aksi-aksi berbahaya ini. Jika kau berhasil melewati semua ini dengan sempurna, maka kau akan dengan mudah meninggalkan Gold Dragon.”


“Terima Kasih, Lukas.” Lana berjalan mendekati Lukas.


Lukas tidak lagi ingin berbicara dengan Lana. Pria itu masuk ke dalam mobil dengan senyum kecil di bibirnya. Ada wajah bahagia saat bisa melihat Lana tersenyum bahagia seperti itu.


Lana juga masuk kedalam mobil dengan satu paper bag di tangannya. Wanita itu memandang Lukas lagi dengan tatapan menyelidik.


“Apa kita akan berdansa lagi?” Mengeryitkan dahi.


“Tidak akan. Pesta ini bukan pesta dansa.”


“Lalu?”


“Kau bisa melihatnya nanti.” Lukas melajukan mobilnya untuk meninggalkan lokasi itu.


***


Emelie tergeletak di atas tempat tidur. Setelah selesai membersikan dirinya, Putri Kerajaan itu istirahat untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sedangkan Zeroun masih ada di kamar mandi untuk membersihkan diri.


Emelie memandang gelang favoritnya. Bibirnya tersenyum dengan bahagia. Pernyataan cinta yang baru saja disebutkan Zeroun mengiang di telinganya.


“Apa dia juga mencintaiku?” Emelie mengecup gelang itu. Memandang paper bag yang ada di atas meja. Sejak tadi, ia belum melihat gaun yang akan ia pakai nanti malam.


Emelie duduk di sofa dan mengambil paper bag itu. Mengeluarkan gaun berwarna hitam yang begitu indah. Gaun itu panjang hingga menutupi mata kaki. Tangannya di penuhi dengan taburan mutiara dengan bahan brokat hingga menutupi siku. Bagian bawah gaun itu mengenakan bahan sutera yang kilat dan lembut. Sangat dingin saat dikenakan dan mengikuti gerak tubuh Emelie yang indah.


Emelie mengambil pita kristal di dalamnya. Ada juga kalung dan anting-anting berlian untuk ia kenakan malam itu.


“Apa Zeroun yang menyiapkan semua ini?” Emelie meletakkan gaun itu dengan hati-hati di atas sofa. Ia berjalan kearah jendela kaca. Membuka gorden yang menutupi jendela kaca itu. Wanita itu memandang ke arah pantai yang terlihat gelap.


“Pemandangan kota ini sangat indah. Tapi, pantai itu terlihat menyeramkan di malam hari.” Emelie melipat kedua tangannya didepan dada.


“Emelie!” Tiba-tiba saja suara teriakan Zeroun membuat Emelie kaget.


Zeroun muncul di sampingnya dan menarik gorden itu untuk menutupi jendela. Emelie tercengang dengan apa yang baru saja ia lihat.


“Ada apa?” tanya Emelie penasaran.


“Emelie, dengarkan Aku. Jangan pernah berdiri di depan jendela seperti ini. Apa lagi jika kau sedang sendirian. Itu sangat berbahaya.” Zeroun mencengkram kuat pundak Emelie.


“Berbahaya?” Emelie mengeryitkan dahi saat melihat wajah Zeroun yang berubah khawatir.


Zeroun terdiam sejenak. Pria itu mengatur ekspresi wajahnya agar Emelie tidak mencurigainya.


“Maksudku, Itu akan membuat orang lain melihat wajah cantikmu.” Zeroun menyentuh lembut pipi Emelie.


Emelie tersenyum tanpa mengeluarkan kata. Hatinya mulai diselimuti curiga atas prilaku aneh Zeroun hari ini. Namun, wanita itu hanya menyimpan rasa pensarannya di dalam hati.


Aku tahu, kini kau menyembunyikan sesuatu dariku, Zeroun.


Like, Komen, Vote