Moving On

Moving On
S2 Bab 61



Kenzo memperhatikan sosok misterius itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Alisnya saling bertaut sebelum tawa yang cukup keras terdengar di lorong itu.


Dari kejauhan, Lukas terlihat bingung dengan ekspresi wajah Kenzo malam itu. bukan menangkap penyusup justru pria itu menertawakannya seperti ada yang lucu.


"Sayang, kau tidak bisa menipuku. Setiap detail tubuhmu sudah aku ketahui," ucap Kenzo dengan tangan terlipat di depan dada.


Lukas tampak syok saat mendengar kalimat yang diucapkan Kenzo malam itu. jika mengatakan kata sayang sudah bisa dipastikan kalau sosok misterius itu adalah istrinya. Shabira.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini? Aku memintamu untuk duduk tenang di Sapporo. kau sedang hamil. Apa kau tidak memikirkan kesehatan anak kita?" protes Kenzo terus-terusan. Walau sosok misterius yang ada di hadapannya belum membuka topengnya.


"Sayang," ucap Kenzo dengan suara yang semakin lembut. Pria itu berjalan mendekati sosok misterius itu. Ia mengukir senyuman sebelum membuka topeng hitam yang ada di wajah wanita itu.


Shabira menatap tajam wajah Kenzo. Wanita itu cukup kesal karena penyamarannya ketahuan dengan begitu cepat, "Aku ingin melihat wanita yang bernama Mia."


Kenzo menghela napas. Pria itu menatap wajah Lukas dengan seksama, "Silahkan jika kau ingin. Tapi, jangan salahkan aku jika kau terkena racun. Karena wanita itu cukup jahat dan beracun?" Kenzo memutar tubuhnya.


Kenzo tahu, kalimat larangan tidak akan berhasil untuk menghalangi Shabira. Ia tahu bagaimana keras kepala istrinya. Ia tidak ingin berdebat malam itu.


Shabira hanya diam mematung. Langkahnya juga terasa berat jika harus membantah perintah suaminya.


"Kenzo," teriak Shabira.


Kenzo menghentikan langkah kakinya. Pria itu tidak mau memutar tubuhnya. Ia hanya berdiri seolah tidak peduli dengan keberadaan Shabira, "Ada apa?"


"Maafkan aku," ucap Shabira sebelum berlari untuk memeluk Kenzo dari belakang. Wanita itu bahkan membenamkan kepalanya di punggung Kenzo dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.


Kenzo menarik tangan Shabira. Pria itu memposisikan istrinya agar berdiri di hadapannya, "Dia bukan Mia yang kau kenal. Mereka memiliki wajah dan sifat yang jauh berbeda. Kenapa kau tidak percaya padaku?"


"Kau melarangku untuk ikut ke Spanyol. Aku cukup curiga padamu." Shabira menyipitkan kedua matanya.


Lukas menggeleng kepalanya. Pria itu memandang pasukan Gold Dragon yang tergeletak di lantai. Shabira memang wanita tangguh yang cukup hebat. Tanpa jejak dan suara ia berhasil menerobos pertahanan Gold Dragon. Padahal menurut Lukas, pertahanan mereka cukup kuat malam itu.


Tidak ingin mengganggu keharmonisan sepasang suami istri yang ada di hadapannya, Lukas memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Apa kau tidak lagi percaya padaku?" Kenzo mengukir senyuman kecil.


"Bukan seperti itu. Hanya saja ...." ucapan Shabira tertahan. Wanita itu terlihat bingung saat memilih kata pembelaan untuknya.


Kenzo mendaratkan satu kecupan di bibir Shabira. Pria itu tidak peduli dengan tempat yang kini ia lalui. Bagi Kenzo, kerinduannya harus terbalaskan walau hanya dengan ciuman mesra tersebut.


"Kau memang wanita yang hebat, Shabira. Bahkan beberapa pengawal yang aku perintahkan untuk menjagamu saja tidak ada yang berhasil mengetahui keberadaanmu saat ini," gumam Kenzo di dalam hati.


Beberapa jam yang lalu.


Kenzo berbaring di atas tempat tidur dengan hati yang di penuhi kerinduan. Wajah Shabira muncul di dam ingatannya. Kenzo sangat ingin memeluk istrinya.


Tiba-tiba ponsel Kenzo berdering. Orang yang di gunakan oleh Kenzo untuk menjaga Shabira menghubunginya dengan nada bicara yang khawatir.


"Bos, Nona Shabira menghilang. Kami sudah mencarinya tapi tidak berhasil menemukan keberadaannya." Begitulah kira-kira kalimat khawatir yang di dengarkan oleh Kenzo.


Shabira tidak lagi bisa memikirkan kalimat lain saat itu. Ia memutuskan untuk memeriksa keberadaan Mia karena memang sangat penasaran sejak waktu itu.


"Sayang, istirahatlah." ucap Kenzo kepada Shabira saat mereka telah tiba di sebuah kamar.


"Kenzo, apa kau ingin menjebakku?" tanya Shabira dengan alis saling bertaut, "Kau meninggalkanku karena kau tidak ingin aku mengetahui sesuatu? Apa kau mengkhianati kepercayaanku?"


Wajah Kenzo berubah serius, "Apa kau mengira aku pria seperti itu? Tentu saja aku tidak akan pernah mengorbankan kehidupan pribadi kita."


Shabira diam sejenak. Sejak dulu, Kenzo adalah pria yang bisa ia percaya. Cukup mustahil jika saat ini Kenzo menutupi satu rahasia terhadap dirinya.


"Maafkan aku," jawab Shabira sebelum menunduk dalam.


Kenzo menghela napas. Pria itu duduk di tepian tempat tidur. ia membungkuk untuk mengecup bibir Shabira. Baginya tidak ada yg perlu di bahas lagi. Semua sudah jelas.


"Sayang, aku sangat merindukanmu," ucap Kenzo dengan nada yang lirih. Pria itu berhasil menyentuh bibir Shabira dan mengecupnya dengan mesra.


Shabira sudah cukup paham dengan keinginan suaminya malam itu. Kedua tangannya mengunci leher Kenzo. Ia juga membalas kecupan-kecupan mesra yang diberikan Kenzo malam itu.


"Aku tahu kau telah menutupi satu rahasia dariku. Aku akan menyelidikinya nanti, Kenzo," gumam Shabira di dalam hati.


"Sayang, maafkan aku karena harus berbohong. Mia bukan wanita yang layak untuk kau dekati," gumam Kenzo di dalam hati.