
Emelie tergeletak ditempat tidur dengan posisi miring. Sejak tadi pagi, ia ingin menyendiri. Tidak ada satu orangpun yang boleh menemuinya saat ini. Bahkan, untuk pelayan yang membawa makanan dan minuman juga ia tolak.
Air mata sudah terlihat kering dan tidak bisa keluar lagi. Saat melihat wajah Ratu pertama kali, ia sudah meluapkan seluruh tangisnya. Melampiaskan kesedihannya di depan tubuh Ratu yang tidak lagi bernyawa.
Emelie ingin sendiri menenangkan pikirannya. Walaupun air mata tidak lagi menetes, tapi hatinya masih merasa sedih.
Samar-samar, ia kembali ingat dengan masa-masa kecilnya yang tidak begitu baik. Bahkan untuk perhatian saja, Ratu sangat jarang memberikan perhatian itu kepada Emelie. Begitu juga Emelie, sejak kecil ia memang sangat sayang kepada Raja.
Tapi, hari ini. Saat Ratu pergi. Emelie mulai sadar bagaimana kasih sayang Ratu yang sebenarnya. Wanita itu terlalu sibuk dengan urusan negara hingga tidak ada waktu memperhatikan Emelie. Ada senyum kecil di bibir Emelie. ia berusaha untuk menghibur dirinya agar tidak terjatuh ke dalam keterpurukan yang paling dalam.
Emelie memandang ke arah jendela. Langit sudah gelap. Angin berhembus dengan sangat dingin. Tiba–tiba saja hatinya ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya. Dengan sigap ia mengambil mantel dan syal panjang.
Malam itu Emelie memiliki niat untuk pergi sendiri ke pemakaman. Emelie keluar drai dalam kamar dengan wajah waspada. Memperhatikan sekeliling rumah yang masih ramai. Seluruh keluarga kerajaan masih ada di Istana. Emelie menutup pintu kamarnya tanpa suara.
Sejak dulu, ia sudah biasa untuk kabur dari rumah. Segala teknik kabur sudah ia kuasai dengan begitu sempurna. Tidak sulit bagi Emeli untuk kabur meninggalkan Istana malam itu.
Beberapa menit kemudian, Emelie sudah berdiri di luar Istana. Pemakaman terletak tidak jauh dari lokasi Istana. Setelah berjalan beberapa kilometer, ia akan tiba di lokasi peristirahatan terakhir kedua orang tuanya itu.
Dari kejauhan, Zeroun memandang Emelie dengan seksama. Ada senyum kecil di bibir Zeroun, saat melihat aksi kabur–kaburan Emelie malam itu. Dengan hati–hati, Zeroun memajukan mobil mengikuti Emelie secara diam–diam.
Ada perasaan sedih saat Emelie masuk ke wilayah pemakaman. Zeroun mengenakan topi hitam dan masker untuk menutupi identitasnya berjalan keluar untuk menemui Emelie secara langsung.
Emelie duduk di tanah. Tidak ada yang ia lakukan. Hanya memandang dua makam itu secara bergantian dengan sedih.
Suasana terasa sunyi dan mencekam. Hembusan angin menerbangkan syal yang menutupi rambut Emelie. Kini sudah terlihat jelas wajah Emelie sepenuhnya. Wajah sedih yang dipenuhi harapan untuk dapat kembali bangkit.
Tiba–tiba lokasi itu berubah terang dengan sorot lampu. Entah darimana sorot lampu itu muncul. Emelie kaget saat melihat semua itu. Menutup matanya dari sorot lampu yang menyilaukan mata.
“Jangan bergerak!” teriak seseorang dengan begitu lantang. Suara itu berada tidak jauh dari posisi Emelie berada.
Emelie berdiri, memutar tubuhya. Kini tubuhnya berhadapan langsung dengan Zeroun yang mengenakan topi dan masker. Emelie memandang dengan tatapan serius wajah pria asing yang kini berdiri di hadapannya.
Sekeliling lokasi itu sudah di kepung oleh polisi bersenjata dan pengawal kerajaan. Semua menodongkan senjata dan siap untuk menembak Zeroun malam itu. Emelie memandang wajah Zeroun, menatap dengan seksama kedua bola mata Zeroun.
Emelie tidak berkedip, ia terus saja menatap kedua bola mata itu. Dalam waktu singkat, Emeli mengenali pemilik bola mata hitam itu. Entah kenapa ia ingin memeluk dan menangis ditubuh Zeroun detik itu juga.
Namun, langkahnya terhenti saat Zeroun mengangkat satu tangannya, menahan Emelie agar jangan bergerak. Emelie ingin protes. Namun, ia hanya menyimpan kekesalannya itu di dalamhati.
“Apa kau percaya padaku?” ucap Zeroun dengan suara pelan. Hanya Emelie yang bisa mendengar suara itu.
Zeroun melangkahkan kakinya satu langkah.
“Jangan bergerak atau kami akan menembak anda!” teriak inspektur Tao dengan suara besarnya.
Zeroun menarik tubuh Emelie, meletakan belati di leher jejang Emelie.
“Putri!” teriak Adriana dengan wajah khawatir. Emelie membisu, ia seperti orang bodoh yang tidak tahu apa–apa.
Belati ini, untuk apa Zeroun melakukan semua ini? seluruh polisi ini, ada apa dengan mereka. Apa yang terjadi?
Namun semua pertanyaan itu ia simpan di dalam hati. Emelie tidak bisa mengeluarkan kata saat ini. Bibirnya terkunci dengan perasaan bingung.
“Menyingkirlah. Atau aku akan membunuh wanita ini sekarang juga.” ancam Zeroun gantian. Emelie semakin bingung atas kalimat terakhir yang diucapkan Zeroun. Lagi-lagi hatinya diselimuti sejuta pertanyaan.
“Ingat jawabanmu kalau kau percaya padaku!” bisik Zeroun. Emelie mencengkram dresnya. Ia terus berusaha meyakinkan hatinya kalau Zeroun tidak akan menyakitinya saat itu.
“Berikan jalan!” teriak Emelie.
Mendengar perintah Emelie, para pengawal memberi jalan untuk Zeroun. Dengan hati–hati Zeroun berjalan mendekap tubuh Emelie. Zeroun juga tidak ingin Emelie sampai terluka karena dirinya.
Polisi itu masih waspada dengan ujung pistol yang mengarah langsung ke bagian tubuh Zeroun. Zeroun membuka pintu dengan wajah waspada. Memasukkan Emelie kedalam mobil agar posisinya benar–benar aman. Setelah masuk ke dalam mobil, Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama.
“Keluarlah.” Zeroun mengalihkan pandangannya dari wajah Emelie. Memperhatikan jalan lurus untuknya kabur dari tempat itu.
“Apa yang terjadi.” Emelie tidak ingin keluar begitu saja. Ia harus tahu dengan apa yang terjadi saat itu.
“Apa kau pikir peluru–peluru itu akan menungguku untuk menjelaskan semuanya?” Zeroun mengeryitkan dahinya.
Emelie memperhatikan komplotan polisi yang kini mengepung Zeroun. Seperti tidak ada pilihan kedua, dengan wajah pasrah Emelie turun dari dalam mobil.
Dalam hitungan detik, Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa polisi juga mengikuti mobil Zeroun dari belakang.
“Putri, apa anda baik–baik saja?” Adriana memegang tangan Emelie.
Emelie tidak menjawab pertanyaan Adriana. Tatapannya masih ia fokuskan pada mobil Zeroun yang sudah hilang tertutup kabut malam.