
Lana menghentikan langkah kakinya saat Lukas sudah menentukan tempat pertarungan mereka. Wanita itu memandang pedang yang ada di tanganya dengan tatapan menyelidik. Ini bukan pertama kalinya Lana bertarung dengan menggunakan pedang. Waktu masih bersama Morgan, ia sering berlatih dengan menggunakan pedang.
Lana menjatuhkan pedangnya di permukaan rumput. Wanita itu membuka jaket hitam yang menutupi tubuhnya. Penampilannya telah berubah menjadi cukup seksi. Celana pendek berwarna hitam dengan kaos berlengan pendek. Di tambah lagi sepatu boot dengan hak tinggi yang berwarna hitam.
Lukas menaikan satu alisnya saat melihat penampilan kekasihnya itu. Dari ujung kaki hingga ujung kepala tubuh Lana tidak ada yang terlewatkan dari pandangan matanya. Lana memang wanita cantik yang selalu terlihat menggoda.
“Kakiku sakit, apa kau bisa datang ke sini untuk memulai pertarungannya?” ucap Lana sebelum meraih pedang yang ada di bawah kaki. Wanita itu memegang erat pedangnya. Ujung pedang yang tajam dan mengkilat itu ia arahkan langsung ke arah Lukas, “Aku tidak bertanggung jawab jika kau terluka. Pertarungan kali ini aku tidak lagi menggunakan perasaan,” ucap Lana dengan wajah kesal.
Lukas bergerak secara perlahan dan tatapan waspada. Walau harus berusaha menang malam itu, tapi Lukas tetap tidak ingin melukai wanita yang ia cintai. Ajakannya kali ini hanya ingin melatih kekasihnya sebagai persiapan penyerangan yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
Lukas mulai memainkan pedangnya dengan teknik penyerangan. Pedang milik Lukas dengan mudah di tahan oleh Lana. Wanita itu mengukir satu senyuman sebelum menepis pedang kekasihnya.
“Lumayan,” ucap Lukas saat pedangnya hampir terhempas. Ujung pedang lelaki itu mulai mengincar bagian perut Lana. Lagi-lagi Lana berhasil menghindar dengan cara memutar tubuhnya. Lana masih berdiri pada posisinya berdiri. Ia masih berusaha untuk berakting seolah kakinya sakit dan tidak bisa bergerak.
Setelah penyerangan kedua Lukas masih tetap gagal, lelaki itu memberi kode kepada Lana agar menyerang lebih dulu. Ia mundur beberapa meter untuk menjebak kekasihnya. Ia ingin menangkap basah Lana kalau kaki wanita itu tidak sakit. Lukas cukup yakin kalau semua yang terjadi hanya sandiwara Lana semata.
Lana menatap tajam wajah Lukas saat lelaki itu memberinya kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Ada senyuman kecil di bibirnya. Ia mulai melangkahkan kakinya lalu mengincar lengan kekasihnya.
Lukas tertawa kecil saat melihat kekasihnya berlari. Lukas menatap kaki Lana yang tidak terlihat sakit. Bahkan langkah wanita itu cepat dan pasti tanpa ada kendala sediktipun. Kali ini tidak ada perlawanan dari pria tangguh itu. Ia menyerahkan dirinya sebagai pelampiasan kekasihnya.
Lana menebas lengan Lukas hingga menyebabkan satu sayatan yang tidak terlalu lebar. Darah segar keluar dengan begitu deras. Secara spontan pedang itu terlepas dari tangan Lana. Ia menutup mulutnya dengan tangan.
“Apa yang kau lakukan! Kenapa kau tidak menghindar, Lukas!” teriak Lana tidak terima.
Lukas menatap luka yang ada di lengannya. Sakitnya memang belum terasa. Hanya ada rasa sedikit basah karena darah yang membasahi bajunya, “Itu tandanya aku yang kalah. Kau bebas dari hukuman yang harus kau terima,” jawab Lukas dengan ekspresi dingin favoritnya.
“Kau pria yang cukup bodoh!” teriak Lana tidak terima dengan mata berkaca-kaca. Dengan cepat ia menarik pedang yang di genggam Lukas. Melemparnya ke tempat yang lebih jauh, “Apa ini. Ini bukan pertarungan! Kau menyerahkan nyawamu kepa-” ucapan Lana tertahan. Wanita itu telah sadar dengan tujuan Lukas mengajaknya bertarung. Seharusnya ia tahu kalau sejak awal Lukas tidak memiliki niat untuk menyakitinya. Bahkan lelaki itu dengan rela menyerahkan nyawanya kepada Lana.
“Bukankah kau bilang kakimu sakit! Kenapa bisa berlari hingga sejauh itu,” ucap Lukas sambil memandang kaki Lana yang kini terlihat baik-baik saja.
“Kau pasti sudah tahu sejak awal. Kenapa sekarang bertanya lagi,” jawab Lana. Dengan gerakan cepat ia menarik tangan Lukas. Ia ingin segera mengobati luka pria itu.
Lukas menghentikan langkah kakinya. Ia justru menarik tangan Lana agar wanita itu ada di dalam dekapannya, “Kau harus tahu, kalau waktuku tidak bisa 100 persen untukmu. 50 persen waktu dan hidup yang aku punya milik Bos Zeroun. Kau tidak bisa marah tanpa sebab seperti tadi. Apa yang akan terjadi jika hal yang tidak di inginkan menimpahmu?”
Lana tertegun saat mendengar perkataan Lukas. Ada rasa menyesal di dalam hatinya karena telah melakukan hal ceroboh seperti tadi sore. Andai saja ia lebih berpikiran dewasa maka semua ini tidak akan terjadi.
“Kesalahanku?” ucap Lukas bingung. Lelaki itu menarik dagu kekasihnya agar menatap wajahnya dengan seksama, “Dimana letak kesalahanku?”
“Karena kau sudah membuat hidupku selalu bergantung kepadamu selama ini. Hingga aku merasa kesulitan jauh darimu dan tidak terima mendapat perlakuan cuekmu seperti tadi.” Lana menepis tangan Lukas yang ada di dagunya, “Itu cukup membuatku sakit hati. Setidaknya kau bisa mengukir senyuman untukku.”
Lukas kembali mengingat sikapnya tadi sore. Ia tidak pernah menyangka, kalau watak aslinya selama ini bisa menimbulkan satu masalah. Selama ini ia selalu bersikap seperti itu dan Lana tidak pernah protes sedikitpun.
“Lana, hubungan kita tidak sama dengan pasangan pada umumnya. Semakin banyak orang yang tahu kalau kau adalah wanitaku. Itu akan membuat posisimu sendiri dalam bahaya.” Lukas berusaha menjelaskan maksud dari sikapnya seperti itu.
Lana mengangkat kepalanya untuk menatap kedua mata kekasihnya. Ada kesungguhan dari kalimat yang baru saja di ucapkan Lukas. Lana percaya kalau apa yang di lakukan Lukas selama ini adalah untuk kebaikannya juga, “Maafkan aku,” ucap Lana pelan sebelum memeluk Lukas. Satu tangannya memegang luka yang kini sudah tidak lagi mengeluarkan darah, “Aku akan mengobati lukamu.”
Lukas mengukir senyuman. Kedua tangannya membalas pelukan Lana, “Apa kau masih marah padaku?”
Lana menggeleng kepalanya, “Aku yang salah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan merubah sifat burukku.”
Lukas mengusap lembut punggung Lana. Hatinya cukup lega karena masalah yang terjadi di dalam hubungannya dengan Lana kini masih bisa di atasi.
“Jangan pernah berubah. Tetap seperti ini dan selalu menjadi Lana yang aku cinta.”
Lana mengukir senyuman indah. Hatinya yang sempat kesal kini telah dipenuhi bunga-bunga indah yang sedang bermekaran, “Jangan mengucapkan kalimat romantis seperti itu. Nanti aku jadi terbiasa dan menagihmu untuk selalu mengatakan kalimat romantis seperti itu.”
Lukas tertawa kecil saat mendengar jawaban Lana. Lelaki itu mempererat pelukannya sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana. Hatinya memang selalu saja bisa tenang saat berada di dekat Lana. Bahkan Lukas sendiri tidak tahu sejak kapan Ia tidak bisa hidup berjauhan dari wanita tangguh itu.
.
.
.
Besok malam up 3 Bab ya Readers,,, gak tahu kenapa. Hari ini author gak bisa ngayal tentang hidupnya babang Zeroun. 😆
dari pada ngetiknya ngawur lebih baik satu bab aja... besok aku ganti 3 bab dech... janji😘😘😘