
Di dalam pesawat.
Emelie duduk bersandar dengan hati di selimuti kekhawatiran. Ia sangat ingin bertemu dengan Zeroun. Tapi, hingga naik ke dalam pesawat dan pesawat itu terbang sosok yang ia rindukan tidak kunjung muncul. Ada rasa kecewa dan kesedihan yang kini memenuhi hatinya. Ia tidak ingin lelaki itu terluka lagi. Tidak berjumpa selama satu minggu rasanya seperti berpisah puluhan tahun.
Masih terbayang jelas di dalam ingatannya saat Zeroun terbaring lemah dan tak berdaya. Hingga sekarang ia juga masih penasaran dengan apa yang akan di lakukan tunanganya.
“Nona, ada titipan dari Bos Zeroun.” Seorang pramugari cantik berdiri di samping Emelie. Tangannya menyodorkan sepucuk surat kepada Emelie. Bibirnya mengukir senyuman yang cukup indah.
“Apa dia menungguku di Hongkong?” tanya Emelie dengan wajah penuh harap.
“Maaf, Nona. Saya sendiri juga tidak tahu dimana Bos Zeroun saat ini berada. Ia hanya memberi perintah untuk menunggu anda di bandara dan membawa anda kembali ke Hongkong dengan selamat.” Pramugari itu menjelaskan apa yang telah terjadi tanpa mau menambahi atau mengurangi keadaan sebenarnya.
“Terima kasih,” ucap Emelie pelan.
“Saya permisi dulu, Nona.” Pramugari itu menundukkan tubuhnya sebelum pergi meninggalkan kursi yang di duduki oleh Emelie.
Di kursinya, Emelie menatap surat itu dengan seksama. Hatinya kini di selimuti dengan sejuta tanya atas isi surat yang ada di genggaman tangannya, “Dia sempat menulis surat tapi tidak sempat untuk menemuiku.”
Surat itu di buka oleh Emelie. Bibirnya mengukir senyuman saat membaca beberapa kata yang di tuliskan oleh Zeroun di dalamnya.
Maafkan aku, Baby.
Aku akan segera kembali.
Jangan cemberut seperti itu, kau terlihat jelek.
I Love You ....
Emelie menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang empuk. Surat itu ia lekatkan di depan dada sambil memeluknya dengan penuh cinta. Matanya terpejam dengan hembusan napas yang tidak karuan, “Kenapa kau selalu saja membuatku takut.”
***
Zeroun menatap wajah Jesica dengan tatapan tajam sebelum memandang Serena dengan satu senyuman, “Aku sudah berusaha secepat mungkin tiba di sini.”
Serena menghela napas beberapa detik sebelum memutar kakinya. Saat itu Damian lengah hingga ia tidak lagi fokus pada pistol yang ada di genggamannya. Tendangan yang di lakukan Serena pada tangan Damian berhasil membuat pistol itu melayang ke udara.
Melihat Serena fokus pada Damian, Jesica memanfaatkan kesempatan berharga itu. Wanita itu menendang perut Serena hingga menyisakan sakit yang luar biasa. Bahkan wanita tangguh itu mundur beberapa langkah dari posisinya semula.
“Aku akan mengalahkanmu, Erena!” teriak Jesica sambil berusaha berdiri dengan satu senyuman. Wanita itu mengeluarkan sebuah pistol yang kini ia arahkan ke arah Serena.
Lompatan yang di lakukan oleh Damian gagal saat Zeroun mengeluarkan satu tembakan tepat di kaki kiri Pangeran Monako itu, “Tidak semudah itu, Damian!”
Serena berhasil mendapatkan pistol itu. Kini wanita itu menodongkkan senjata ke arah Jesica dengan tatapan yang cukup tajam, “Lumayan.”
Kedua wanita tangguh itu berdiri saling berhadapan. Pistol itu mengarah tepat di dahi mereka masing-masing. Hanya satu tarikan pelatuk saja mungkin sudah cukup berhasil merenggut nyawa lawannya. Tapi, dua wanita itu tidak melakukan pergerakan apapun. Mereka hanya asyik memandang sorot mata lawannya dengan tatapan yang cukup tajam.
Zeroun mengambil alih pertarungannya dengan Damian. Lelaki itu memberi satu pukulan kepada Damian tepat di kaki yang di penuhi darah akibat tembakannya. Damian tidak ingin kalah secepat itu. Ia memberi perintah kepada bawahannya untuk keluar dan membantunya menyerang Zeroun saat itu.
Beberapa pria berbadan tegab berjalan cepat untuk menghajar Zeroun. Anggota yang di bawa Damian ada sekitar sepuluh orang yang lengkap dengan senjata api di genggaman.
Serena melirik sekilas sebelum menatap wajah Jesica lagi. Hatinya diselimuti rasa khawatir saat melihat kemeja putih yang di kenakan oleh Zeroun mengeluarkan rembesan darah yang segar. Sepertinya luka tembakan yang ia terima belum kering dengan sempurna.
Zeroun menembak satu persatu pasukan yang dimiliki oleh Damian. Sebagian pelurunya berhasil namun sebagian lagi meleset. Tidak ingin menyerah, lelaki itu terus saja menembak hingga akhirnya ia kehabisan peluru.
“Zeroun,” teriak Serena. Dengan gerakan cepat wanita tangguh itu melempar pistol yang ada di tangannya agar bisa membantu Zeroun. Tubuhnya menerjang tubuh Jesica dengan gerakan cepat agar wanita itu tidak bisa mengancamnya dengan senjata api kecil yang ada di genggamannya.
Zeroun menangkap pistol yang di arahkan oleh Serena. Melihat Damian ingin kabur, Zeroun menghadiahkan lagi satu tembakan tepat di perut lelaki itu. Tembakan itu cukup membuat Damian terjatuh dan merasakan sakit yang luar biasa, “Si*al!” umpat Damian saat tubuhnya terduduk di atas lantai berdebu dan tidak bisa berjalan lagi.
Zeroun sengaja menembak di bagian perut. Lelaki itu tidak ingin Damian mati secepat itu. Setidaknya sebelum ia puas untuk menyiksa pria yang sudah menyebabkan kehidupannya menjadi berantakan.
Kini Serena dan Zeroun tidak lagi bisa menolong satu sama lain. Mereka berdua terlalu fokus pada lawan yang kini mereka miliki.
Serena menarik tangan Jesica yang kini menggenggam sebuah pistol. Wanita itu memelintir tangan kanan Jesica hingga pistol yang ada di tangan Jesica terlepas. Saat terlepas, Serena berusaha untuk meraih senjata api itu. Tapi, usahanya sia-sia. Jesica lebih dulu memberinya satu pukulan di bagian perutnya untuk yang kedua kali. Setelah puas dengan serangan balasannya, Jesica mendorong pistol itu dengan sepatu yang ia kenakan agar menjauh dari posisi mereka berada.
“Serena, apa kau pikir aku masih sama dengan Jesica yang dulu? Aku bukan Laura yang bisa dengan mudah kau tembak dan kau kalahkan. Aku Jesica Gigante, wanita yang akan selalu diingat karena berhasil membunuh wanita pembunuh seperti dirimu.” Jesica tertawa kecil. Wanita itu mengeluarkan benda keci seukuran korek api. Ada senyum puas di sudut bibirnya.
Serena melebarkan bola matanya saat melihat benda kecil berbahaya itu. Sebuah bom mini dengan daya ledakan yang tidak terlalu hebat. Namun, itu sudah cukup berhasil membuat tubuhnya dan Jesica tercabik-cabik hingga tidak terbentuk.
Satu tangan Serena menahan jemari Jesica agar wanita itu tidak berhasil meledakkan bom mini itu. Dua wanita tangguh itu saling tarik-tarikkan hingga akhirnya keseimbangan yang mereka miliki tidak ada lagi. Tubuh Jesica dan Serena sama-sama jatuh ke permukaan lantai dan saling bergulat untuk memperebutkan bom kecil itu.
Rambut Serena terlihat sangat berserak saat itu. Napas dua wanita itu terlihat terputus-putus dengan keringat yang berkucur deras.
“Kau memang wanita gila, Jesica,” ucap Serena di sela-sela pertahanannya. Ia tidak pernah berpikir akan bertemu dengan wanita yang gila bunuh diri dan mengajak lawannya ikut mati seperti Jesica.
“Aku memang sudah gila, Erena. Tepat di saat kau membunuh Wubin!” teriak Jesica tidak terima dengan luapan amarah, “Jika kau tidak membunuhnya mungkin aku tidak akan dendam seperti ini kepadamu!”