Moving On

Moving On
S2 Bab 89



Zeroun meletakkan ponselnya di atas meja. Pria itu memandang wajah Emelie dengan tatapan yang serius. Sorot matanya tidak terbaca sama sekali.


Kabar Lana masuk rumah sakit hingga kematian Morgan baru saja sampai di telinga Zeroun. Dalam waktu yang bersamaan, pria tangguh itu harus disibukkan dengan persiapan acara pelantikan Emelie menjadi seorang Ratu.


“Bagaimana?” tanya Emelie yang sejak tadi duduk di samping Zeroun.


“Sayang, Lana baik-baik saja. Bahkan Lukas telah melamarnya. Dalam waktu dekat, mereka akan menikah,” jawab Zeroun dengan bibir tersenyum indah.


“Benarkah?” ucap Emelie dengan ekspresi wajah tidak percaya. Wanita itu memeluk Zeroun dengan rasa bahagia yang luar biasa,


“Akhirnya. Aku sangat senang mendengar kabar pernikahan ini. Mereka pasangan favoritku selama ini.”


Zeroun mengusap lembut punggung Emelie, “Ya. Sepertinya aku mulai ikut-ikutan sepertimu. Menjadikan Lukas dan Lana pasangan yang selalu aku khawatirkan hubungannya.”


Emelie melepas pelukannya. Wanita itu menatap wajah Zeroun dengan seksama.


“Apa yang sempat kau khawatirkan atas hubungan asmara Lana dan Lukas?”


Zeroun menarik tubuh Emelie. Pria itu meletakkan kepala wanitanya di atas dada bidangnya, “Karena Lukas mencintai wanita yang pernah mencintai pria lain. Aku hanya mengkhawatirkan perasaannnya saja.”


Zeroun tahu, bagaimana rasa sakitnya dirinya dulu. Dengan begitu percaya diri kalau Erena akan memilihnya. Namun, di akhir justru wanita itu harus berpihak kepada pria lain. Padahal saat itu mereka sama-sama baru pertama kali menjalin hubungan. Zeroun cinta pertama bagi Erena. Erena cinta pertama bagi Zeroun.


Emelie kembali ingat dengan cerita Lana. Wanita itu cukup paham, dengan apa yang kini di pikirkan oleh suaminya, “Tentu saja percintaan Lukas berbeda. Kau tidak berani menyentuhku. Sedangkan Lukas,” ucapan Emelie tertahan. Wanita itu bahkan menutup mulutnya dengan tangan. Ada tawa yang tertahan saat itu. Ia ingin melanjutkan kalimat selanjutnya, namun takut sang suami marah.


“Sayang, aku tidak ingin merusak wanita yang aku cintai. Aku juga tidak menyangka, jika pria seperti Lukas bisa melakukan hal seperti itu.” Zeroun menghela napasnya.


“Aku juga tidak tahu, jika Lana tidak cerita. Aku sangat sedih saat mendengar ceritanya.” Suara Emelie merendah. Wanita itu kembali membayangkan kisah sedih yang pernah diceritakan Lana kepadanya.


“Beberapa waktu yang lalu, saat aku menemani Lana di kamar....”


Lana menunduk dengan tetes air mata yang tidak bisa berhenti. Wanita itu memegang foto Alika. Ia sangat rindu dengan Kakak kesayangannya itu. Selama ini, setiap kali ada masalah. Wanita cantik yang di dalam foto itu yang selalu membantunya menemukan solusi.


“Lana, kenapa kau menangis?” ucap Emelie dengan wajah khawatir.


Lana cukup kaget saat melihat Emelie sudah ada di dalam kamarnya. Wanita itu terlalu sedih hingga tidak menyadari kemunculan Emelie di dalam kamarnya.


“Nona, maafkan saya karena tidak tahu kalau anda ada di dalam kamar saya,” ucap Lana dengan wajah bersalah.


“Jangan sungkan. Aku hanya ingin menemanimu. Aku tahu, kalau kau pasti sangat sedih saat ini. Maafkan kami karena tidak bisa menemukan jasad Alika.” Emelie memasang wajah sedih.


Lana menggeleng pelan, “Saya baik-baik saja, Nona.”


Emelie melihat wajah Lana dengan ekspresi wajah yang cukup serius, “Kau bisa menjadikanku pengganti Alika. Jika kau ingin menangis, kau bisa menggunakan ini sebagai tempatmu melampiaskan kesedihan.”


Emelie memukul pelan pahanya. Ia meminta Lana untuk tidur di atas pangkuannya.


“Lana, apa hubunganmu dengan Lukas baik-baik saja? Siapa Morgan? Ada hubungan apa di antara kau dan pria itu? Aku sempat tahu kalau ia mantan kekasihmu. Tapi, dia hanya mantan. Apa bagusnya untuk di ingat. Bukankah ia juga meninggalkanmu saat itu.” Emelie mengusap rambut Lana dengan penuh kasih sayang.


“Morgan cinta pertama saya, Nona. Lukas pria pertama saya dan saya harap juga bisa menjadi cinta terakhir saya,” jawab Lana dengan suara yang pelan.


“Apa kau masih mencintai Morgan?” Emelie menunduk untuk memamdang wajah Lana.


Satu pertanyaan yang cukup sulit untuk di jawab oleh Lana. Wanita itu mengukir senyuman penuh arti.


“Saya kehilangan kehormatan saya malam itu. Tidak di sangka, pria itu adalah Lukas. Karena terlalu marah dengan takdir, saya terjun ke dunia gelap penuh darah seperti ini, Nona. Saya bertemu dengan Morgan dan jatuh cinta padanya. Karena terlalu cinta, saya rela menyerahkan apapun yang ia inginkan. Itu salah satu penyesalan saya selama ini. Seharusnya, sebagai seorang wanita saya harus bisa menjaga diri saya.” Lana memejamkan matanya. Ada tetes air mata yang jath di pelupuk matanya.


“Apa Lukas tahu?”


“Dia tahu semuanya. Apa yang bisa kita tutup-tutupi dari Bos Zeroun dan Lukas? Bukankah mereka pria yang selalu tahu akan segalanya.” Lana tertawa kecil.


Emelie menghapus air mata Lana, “Ya. Kau benar Lana. Mereka selalu tahu rahasia apapun yang kita sembunyikan. Bahkan yang kita sembunyikan di dalam hati.” Emelie mengusap lembut rambut Lana, “Lana, apa aku boleh mengetahui sesuatu?”


“Katakan saja, Nona. Saya akan menjawab semua yang ingin anda ketahui.”


“Apa kau dan Lukas pernah melakukan hal seperti itu setelah kalian berpacaran?” ucap Emelie ragu-ragu. Masih teringat jelas saat ia meminta Zeroun untuk melakukannya justur pria itu menolaknya dengan keras.


Wajah Lana memerah seperti sebuah tomat saat mendengar kalimat yang di ucapkan Emelie. Wanita itu malu. Namun, ia tidak berani untuk berbohong, “Pernah, Nona. Malam itu kami mabuk. Lukas tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu jika malam itu ia tidak mabuk berat dengan pikiran yang cukup kacau.”


Emelie menaikan satu alisnya sambil mengangguk pelan, “Lana, aku tidak tahu bagaimana caranya melupakan pria yang pertama kali kita cintai. Di dalam hidupku, aku mengenal Zeroun dan mencintainya. Aku juga telah berhasil menikah dengan cinta pertamaku. Aku tahu, bagaimana besarnya cintamu terhadap Morgan. Namun, kau harus ingat kalau ada hati yang harus kau jaga. Hati itu milik Lukas. Pria tidak suka di dalam hati dan ingatan wanitanya ada nama pria lain.”


***


“Baby... Kau melamun?” bisik Zeroun dengan penuh godaan.


Emelie tersadar dari lamunan singkatnya, “Kau yang menyebabkan hubungan di antara mereka terjadi, Sayang,” ucap Emelie menyalahkan Zeroun.


“Kenapa kau menyalahkanku?” ucap Zeroun tidak terima.


“Kalau saja saat itu kau tidak membuat drama pengusiran Lana dari Gold Dragon, maka hal seperti itu tidak akan terjadi. Bagaimana kalau Lukas dan Lana tidak berjodoh. Aku akan sangat sedih jika ada di posisi Lana. Tubuhnya pernah dimiliki oleh dua pria.”


Zeroun menggeleng pelan, “Sayang, kau berpikir terlalu jauh. Sekarang yang terpenting, kau harus mempersiapkan dirimu untuk pelantikan nanti. Aku yakin, kau akan terlihat anggun dan cantik di acara penobatan nanti.”


Emelie mengukir senyuman, “Aku sangat bahagia. Sebentar lagi, mahkota Ratu akan ada di atas kepalaku.” Emelie menunjuk atas kepalanya.


“Ya. Kau harus tetap menjaga kesehatan. Jangan terlalu sibuk hingga membuatmu kelelahan.” Zeroun mengusap lembut bibir Emelie dengan jarinya, “Aku mencintaimu. Jadilah seorang Ratu untuk kerajaan Cambridge dan seorang ibu untuk anakku nanti.”


Emelie mengukir senyuman indah. Wanita itu mendekati wajah Zeroun secara perlahan sebelum mendaratkan bibirnya. Kali ini Emelie yang memiliki inisiatif mencium duluan. Wanita itu merasa sangat bahagia dan bersyukur memiliki pria nyaris sempurna seperti Zeroun.