Moving On

Moving On
S2 Bab 70



Beberapa hari kemudian.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hembusan angin semakin kencang. Ombak di lautan terlihat bergulung dengan begitu indah. Walau langit terlihat mendung. Sorot lampu dari kapal-kapal dan pelabuhan membuat pantulan cahaya indah.


Di pinggiran dermaga, Agen Mia berdiri dengan derai air mata. Tubuhnya kotor karena terlalu lama di kurung dan tidak di perhatikan. Wajahnya pucat dengan rambut acak-acakan.


Zeroun berdiri di hadapan Agen Mia. Ada Lukas dan Kenzo di samping pria itu. Seluruh pasukan Gold Dragon juga ada di tempat itu. Mereka terlihat tidak sabar melihat Zeroun melenyapkan seorang penghianat. Tentu saja cukup berbeda jika di bandingkan dengan penghianat yang datang sebagai penyusup.


Agen Mia sudah mengetahui rahasia besar Gold Dragon dan sudah sempat menjadi orang kepercayaan Big Boss mereka. Tidak ada lagi pilihan lain untuk Agen Mia selain kematian. Ya, malam itu juga Agen Mia harus mati di tangan Zeroun.


Sebagai Big Bos Zeroun tidak memiliki pilihan lain selain menegakkan peraturan. Hal itu juga berlaku untuk seluruh pasukan Gold Dragon. Tanpa terkecuali Lukas atau Lana. Penghianat tetap penghianat!


“Aku akan berubah. Setelah beberapa hari ini aku merenung di ruangan gelap itu. Hatiku telah menyesali perbuatanku selama ini. Maafkan aku,” ucap Agen Mia dengan bibir gemetar ketakutan. Suaranya lirih dan cukup menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarkannya.


Zeroun hanya diam memandang Agen Mia. Pria itu hanya akan menembak Agen Mia tepat di bagian vitalnya. Senjata api yang di gunakan Zeroun juga senjata api yang bisa menusuk hingga merenggut nyawa korbannya detik itu juga. Bagi Zeroun, itu sudah hukuman paling baik daripada harus menyiksa Agen Mia dengan sepuluh tusukan sebelum malaikat maut merenggut nyawanya.


“Maaf kau bilang? Apa kau pikir kami masih saudaramu saat ini?” hina Kenzo. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku cukup berbelas kasih kepada wanita. Tapi, untuk kelakuanmu saat ini sudah tidak lagi termaafkan. Kau menculik Lana, membuat Adegan penculikan hingga membuat pasukan Gold Dragon meregang nyawa. Bahkan kau juga bekerja sama dengan Morgan untuk membunuh Lana dan Emelie. Kesalahan bagian mana yang bisa di maafkan? Masih beruntung semua rencanamu gagal. Apa yang terjadi pada hidup kami kalau sampai rencanamu itu berhasil?”


Agen Mia menatap wajah Zeroun. Sejak tadi hanya pria itu yang membisu sambil memandang matanya. Ia cukup yakin, kalau Zeroun tidak akan tega melakukan semua ini, “Zeroun. Kau pria yang cukup cerdas. Kau pasti tahu, berapa kali aku menyelamatkan nyawamu. Setidaknya malam ini aku memintamu untuk balas budi.”


“Kami sudah balas budi. Jika malam itu kami tidak menyelamatkanmu dari penjara mungkin malam ini kau masih berada di dalam penjara itu,” sambung Lukas dengan ekspresi dingin favoritnya.


Agen Mia mengukir senyuman tipis, “Hanya itu? Lalu dimana letak hati kalian saat aku menolong kalian menghancurkan istana Damian? Dimana?” teriak Agen Mia dengan suara serak, “Aku menolong kalian saat itu.”


“Maafkan saya, Agen Mia. Tapi, kau memang harus di hukum,” ucap Zeroun tanpa toleransi. Sudah cukup lama ia tidak mengambil tindakan seberani itu. Malam ini Zeroun memang harus bertindak tegas. Ia tidak bisa menggunakan hatinya untuk mentolerin perbuatan Agen Mia.


Secara perlahan, Zeroun mengangkat senjata api yang ada di tangannya. Detik-detik dimana Zeroun harus merenggut nyawa Agen Mia terlihat sangat menegangkan dan menakutkan.



Zeroun menatap wajah Agen Mia dengan tatapan yang cukup tajam. Pria itu mulai menarik pelatuk senjata apinya secara perlahan. Di sela-sela momen menegangkan itu. Teriakan seorang wanita terdengar dengan jelas.


“Kakak, jangan bunuh Miaku,” ucap Shabira lirih.


Agen Mia menatap kemunculan Shabira dengan wajah di penuhi harapan. Ia tidak tahu siapa yang sudah mengakuinya. Satu hal yang di harapkan Mia. Wanita yang baru saja muncul adalah malaikat penolongnya. Tidak hanya sendiri. Shabira muncul bersama dengan Inspektur Tao di sampingnya. Ada Emelie dan Lana juga yang muncul bersama mereka.


Zeroun menurunkan senjata apinya. Pria itu menatap satu persatu wajah orang yang paling ia sayangi. Seperti inilah susahnya berada di posisi Zeroun. Saat jabatannya sebagai big boss harus terlihat goyah karena teriakan orang terdekatnya.


“Kakak, Mia lupa ingatan saat mengalami kecelakaan. Ia juga sudah operasi plastik hingga tidak ingat apapun. Kakak, aku mohon. Maafkan Miaku,” ucap Shabira dengan penuh permohonan. Wanita itu berlutut dengan kedua tangan terkatup.


Kenzo berlari mendekati Shabira. Istrinya sedang hamil anak pertama mereka. Ia tidak tega melihat istrinya menangis dan memohon hingga sesedih itu.


Inspektur Tao menatap wajah Zeroun dengan tatapan memohon juga, “Saya siap untuk menggantikan nyawa Mia. Zeroun, maafkan Mia. Dia hanya wanita yang labil. Ia tidak pernah mendapat kasih sayang sejak dulu. Ia hanya kenal dengan kata memiliki apa yang ia inginkan tanpa tahu resiko apa yang akan ia terima.”


Bujukan-bujukan semua orang membuat posisi Zeroun semakin sulit. Sama halnya dengan Lukas. Pria itu juga bingung harus berbuat apa untuk menolong Zeroun.


Emelie berjalan beberapa langkah. Wanita itu di dampingi Lana di sampingnya. Ia tersenyum dengan manis. Belum saja mengeluarkan kata, Zeroun sudah cukup paham dengan isi pikiran istrinya. Emelie wanita lembut dengan sejuta belas kasih.


“Emelie, maafkan aku. Tapi, malam ini kau harus tahu bagaimana sifatku. Aku memang seperti ini. Tidak ada yang bisa mengganggu keputusanku. Penghianat tidak bisa di biarkan hidup,” ucap Zeroun.


Semua orang yang ada di tempat itu kini memandang wajah Emelie dengan tatapan penuh tanya. Wanita itu seperti sebuah misteri yang memiliki jalan pikiran tidak tertebak sama sekali.


Lana menunduk dalam. Wanita itu memejamkan mata dengan perasaan takut. Ia tahu apa yang ingin di lakukan oleh istri kesayangan bosnya itu.


Suasana hening seketika. Semua orang seolah menanti kalimat selanjutnya yang ingin di katakan oleh Emelie.


Emelie menatap wajah Agen Mia dengan tatapan tidak terbaca, “Maafkan saya, Agen Mia. Malam ini Zeroun tidak akan menjadi orang yang merenggut nyawamu.”


Zeroun menghela napas sambil membuang tatapannya. Tapi, belum sempat pria itu selesai menghembuskan napasnya, sudah terdengar suara tembakan di dekatnya.


DUARRR DUARRR


Emelie memegang senjata api di tangannya. Dua peluru keluar dari senjata api yang di pegang Emelie. Dua peluru itu menusuk bagian dada Agen Mia hingga mengeluarkan darah yang cukup deras.


Semua orang syok melihat kejadian yang baru saja di lakukan oleh Emelie. Termasuk Shabira. Wanita itu berlari dengan kencang untuk memeluk sahabat yang sudah sejak lama ia rindukan.


“Mia,” teriak Shabira. Teriakannya di ikuti dengan ucapan lirih inspektur Tao yang juga memanggil nama Mia dengan nada lirih.


Mia menunduk untuk melihat darah yang berkucur deras di dadanya. Wanita itu memegang dadanya dengan wajah yang sangat menyedihkan. Bibirnya tersenyum sambil melihat Shabira dan Inspektur Tao berlari untuk memeluknya.


“Terima kasih, Tuhan. Setidaknya aku pergi sambil melihat wajah orang yang menyayangiku. Kematian ini terasa sangat indah di bandingkan kehidupanku selama ini. Terima kasih,” gumam Agen Mia di dalam hati sebelum memejamkan mata.


Tubuh Agen Mia yang sudah tidak bernyawa terjatuh ke lautan yang di penuhi ombak. Kenzo menahan tubuh Shabira agar wanita itu tidak berbuat nekad dengan masuk ke dalam lautan. Sama halnya dengan Inspektur Tao. Beberapa pasukan Gold Dragon yang ada di pinggiran dermaga itu menahan tubuh Inspektur Tao agar tidak menolong Agen Mia.


Zeroun menatap wajah Emelie dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu tidak lagi tahu harus berbuat apa. Emelie membalas tatapan Zeroun. Senjata api yang sempat ia genggam telah terlepas dan tergeletak di permukaan lantai. Bibir Emelie tersenyum kecil. Ada banyak kalimat yang ingin ia ucapkan namun hanya tertahan di dalam hati.


Langit yang tadinya mendung mulai menurunkan rintik hujan sedikit demi sedikit semakin deras. Zeroun menatap langit dan rintik hujan yang jatuh dari langit. Seolah langit malam itu juga bersedih melihat kematian Agen Mia.


Zeroun membuka jas hitam yang ia kenakan. Menutupi tubuh Emelie yang telah basah karena derasnya hujan. Pria itu menatap wajah Lukas yang berdiri tidak jauh dari posisinya berdiri, “Temukan jasadnya dan makamkan ia dengan layak.”


“Baik, Bos,” jawab Lukas sambil membungkuk hormat.


Zeroun merangkul tubuh Emelie dan membawa wanita itu pergi dari sana. Beberapa pasukan Gold Dragon berjalan pergi untuk mengawal Zeroun. Sebagian lagi tetap bertahan untuk menerima perintah dari Lukas.


Lukas memandang wajah pasukan Gold Dragon yang tersisa, “Setelah setengah jam kalian bisa mengangkat tubuhnya.”


“Baik, Bos,” jawab seluruh pasukan Gold Dragon secara bersamaan.


Lana masih menunduk dengan perasaan bingung. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana malam itu. Tiba-tiba saja Lukas berdiri di hadapannya. Pria itu menariknya ke dalam pelukan. Lukas terlihat bahagia saat melihat wanita yang ia cinta kini bisa berdiri bahkan berjalan lagi. Satu pemandangan yang cukup membuat hati bahagia bagi Lukas.


Di sisi lain, Kenzo mengangkat tubuh Shabira ke dalam gendongannya. Pria itu tidak ingin istri tercintanya terus-terusan meratapi Agen Mia. Memang seperti itu hukuman yang pantas di dapatkan oleh penghianat. Bahkan Kenzo sendiri sangat paham dengan keadaan yang sekarang ada di depan matanya.


Semua orang pergi meninggalkan dermaga itu. Hanya tersisa beberapa pasukan Gold Dragon yang di tugaskan untuk mengambil kembali jasad Agen Mia yang telah tewas agar bisa memakamnya dengan layak. Biasanya Zeroun tidak pernah selembut itu.


Tapi, untuk menghargai perbuatan Agen Mia selama ini. Zeroun mengambil keputusan untuk memakamkan jasad Agen Mia dengan layak. Tidak ada yang bisa di salahkan malam itu. Semua memiliki sudut pandang masing-masing. Tidak tahu siapa yang benar siapa yang salah.