Moving On

Moving On
S2 Bab 76



Pagi yang cerah. Matahari baru saja muncul ke permukaan. Cahayanya yang hangat membuat kering rerumputan yang telah basah karena embun pagi. Emelie bangun dari tidurnya saat merasakan tangan kekar memeluknya dengan begitu posesif. Wanita itu mendongakkan kepalanya ke atas. Bibirnya tersenyum saat melihat Zeroun mengukir senyum indah untuknya.


“Selamat pagi, Sayang.” Satu kecupan singkat didaratkan Zeroun di bibir Emelie, “Apa kau sudah bangun?”


Emelie mengangguk pelan. Wanita itu cukup bahagia, karena saat bengun tidur saja sudah mendapatkan sentuhan manis dari pria yang ia cintai, “Kau sudah mandi, Zeroun?” Emelie memegang rambut Zeroun yang telah basah.


“Ya. Aku tidak tenang melihat tubuhmu yang polos ini.” Zeroun melirik ke arah selimut sambil memainkan alisnya.


“Zeroun ...” rengek Emelie sebelum memeluk tubuh Zeroun. Wanita itu memejamkan mata. Kejadian tadi malam kembali berputar di dalam pikirannya. Wajah Emelie merona karena malu.


Zeroun mengangkat kepalanya karena posisi kepala Emelie di bawah dagunya. Pria itu memeluk dan mengusap lembut punggung istrinya yang terbuka.


Ponsel Zeroun berdering. Pria itu mengambil ponselnya dari atas nakas dan memandang layar ponselnya. Tertulis jelas nama Kenzo di dalam layar ponsel tersebut. Zeroun mengangkat panggilan teleponnya sebelum melekatkannya di telinga.


“Apa semua baik-baik saja?” tanya Zeroun dengan wajah khawatir.


“Apa kau bisa ke rumah sakit? Shabira ingin bertemu denganmu,” ucap Kenzo dari kejauhan.


“Baiklah. Aku dan Emelie akan segera ke sana,” jawab Zeroun sebelum mematikan panggilan masuknya. Pria itu menatap wajah Emelie dengan seksama, “Sayang. Kita harus segera ke rumah sakit. Zetta ingin bertemu dengan kita.”


Emelie mengukir senyuman, “ Baiklah. Aku mandi dulu.” Wanita itu berusah untuk bangkit dari posisi tidurnya.


Tapi belum sempat tubuh Emelie menjauh dari tubuh Zeroun. Zeroun lebih dulu menarik pinggang Emelie dan mengecup bibir istrinya dengan durasi yang cukup lama. Mata mereka saling terpejam untuk menikmati momen indah itu beberapa saat. Setelah puas menikmati bibir istrinya, Zeroun mengecup pucuk kepala Emelie.


“Aku mencintaimu,” ucapnya dengan penuh perasaan.


“Aku juga mencintaimu.” Setelah membalas kalimat Zeroun, Emelie beranjak dari tempat tidur. Wanita itu menutup tubuhnya dengan balutan selimut dan berjalan menuju ke kamar mandi.


Zeroun mengatur posisi duduknya. Pria itu bersandar di ujung tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Wajahnya yang semula terlihat santai kini berubah menjadi sangat serius. Baru saja ada kabar pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya.


“Morgan. Sepertinya pria ini sedang bersembunyi di suatu tempat.” Zeroun meletakkan kembali ponselnya. Pria itu menghela napas sebelum turun dari tempat tidur. Zeroun lebih memilih untuk berdiri di depan jendela untuk menikmati cahaya matahari pagi di sana.


Malam ini mereka akan berangkat ke Inggris. Mulai besok pagi, Zeroun tidak lagi bisa melihat keindahan Spanyol saat di pagi hari. Bulan madu mereka kali ini benar-benar dihabiskan untuk bertarung dan menyelesaikan misi.


“Aku tidak pernah menyangka, kalau bulan maduku akan berjalan dengan cara seperti ini,” gumam Zeroun di dalam hati.


***


Beberapa saat kemudian.


Lana terlihat sibuk di dapur. Wanita itu memasak beberapa menu untuk sarapan. Ada Lukas di sana. Pria itu duduk di atas meja dapur sambil memperhatikan kekasihnya yang terlihat sibuk mengolah bahan makanan untuk di masak.


“Kupas ini,” perintah Lana sambil meletakkan dua suing bawang merah di hadapan Lukas.


Lana melirik Lukas dengan wajah menahan tawa, “Tentu saja. Bukankah kau sudah menjadi milikku saat ini. Jadi, sekarang gantian aku yang memberimu perintah.”


Lukas turun dari tempat yang ia duduki. Pria itu membantu Lana mengupas bawang. Sejak tadi ia selalu memperhatikan kekasihnya mengupas bawang. Hingga akhirnya pria tangguh itu tahu cara mengupas bawang yang benar bagaimana.


Lana mengukir senyuman sambil memasukkan bahan makanan dan memasaknya. Keringat berkucur deras di dahinya. Sesekali Lana membersihkan keringatnya dengan lengan baju yang ia kenakan.


Lukas meletakkan kembali pisau yang sempat ia genggam. Pria itu mengambil tisu dan membersihkan keringat yang membanjiri wajah kekasihnya, “Bagaimana mungkin, hanya memasak saja kau sudah terlihat seperti habis lari marathon.”


Lana tidak tertarik untuk menjelaskannya. Wanita itu melanjutkan masakannya dengan wajah penuh semangat. Lukas berjalan ke arah belakang tubuh Lana. Pria itu melingkarkan tangannya di perut Lana dengan posisi memeluk dari belakang.


“Aku ke depan dulu. Ada hal penting yang harus aku sampaikan kepada pasukan Gold Dragon,” bisik Lukas dengan hembusan napas yang mesra.


Lana mengukir senyuman, “Hmm, baiklah. Kembali ke sini saat masakannya telah matang.”


Lukas tidak lagi banyak kata. Pria itu mendaratkan satu kecupan di pipi Lana sebelum berjalan pergi. Wajahnya yang semula terlihat sangat manis, kini telah berubah menjadi dingin seperti biasanya.


Di dapur, Lana menata makanan di atas meja. Tinggal satu menu lagi, maka sarapan yang ia buat siap untuk di santap. Dari kejauhan, Zeroun dan Emelie muncul dengan pakaian yang telah rapi. Sepasang suami istri itu berjalan ke meja dapur tempat Lana berada saat itu.


“Selamat pagi, Nona,” sapa Lana dengan begitu sopan.


“Selamat pagi, Lana,” jawab Emelie dengan senyum indah. Wanita itu terlihat tertarik dengan masakan Lana, “Apa ini masakanmu?”


“Ya, Nona. Satu lagi belum matang.” Lana menunjuk ke arah kompor.


“Sayang sekali. Aku tidak bisa mencicipi masakanmu pagi ini. Kami harus segera berangkat ke rumah sakit untuk menemui Zetta,” ucap Emelie dengan wajah menyesal.


“Tidak apa-apa, Nona,” jawab Lana dengan senyuman yang cukup indah.


“Dimana Lukas?” tanya Zeroun kepada Lana.


“Bos Lukas ada di depan, Bos.” Lana menunduk takut. Walau sudah cukup akrab dengan Zeroun, tapi tetap saja hal itu masih membuat rasa takut di dalam hati Lana saat di tatap langsung oleh Zeroun.


Zeroun mengangguk pelan, “Katakan padanya untuk menjaga markas selama aku pergi. Kalian tidak perlu ikut. Sebaiknya persiapkan saja proses pemakaman Agen Mia nanti siang.”


“Baik, Bos,” jawab Lana penuh semangat.


“Kami pergi dulu, Lana.” Emelie mengukir senyuman sebelum menggandeng lengan kekar Zeroun. Sepasang suami istri itu berjalan beriringan menuju ke pintu depan.


Lana melanjutkan masakannya yang belum selesai. Wanita itu merasa sangat bahagia karena pagi ini ia bisa memiliki banyak waktu untuk berduaan dengan kekasihnya. Masakan yang sudah hampir matang ia cicipi. Lana memejamkan maat saat merasakan masakannya pagi itu sangat lezat.


“Aku yakin, Lukas pasti akan sangat menyukainya,” ucap Lana penuh harap.