Moving On

Moving On
S2 Bab 55



Lukas meletakkan tubuh Lana di atas tempat tidur. Pria itu duduk di tepian tempat tidur dengan wajah khawatir, “Bagian mana yang sakit?”


Lana menggeleng pelan, “Aku tidak tahu. Seluruh tubuhku terasa sakit.”


Dari arah pintu, Dokter wanita yang sempat merawat Emelie masuk ke dalam kamar Lana. Dokter itu datang atas perintah yang di berikan oleh Emelie. Putri kerajaan itu sangat khawatir saat mendengar kabar Lana diracuni. Di samping Dokter wanita itu ada Agen Mia yang sedang membawa segelas air putih.


“Minumlah,” ucap Agen Mia sambil meletakkan gelas itu di atas nakas.


Lukas melirik gelas itu dengan tatapan curiga. Pria itu cukup waspada atas penyakit yang kini di terima kekasihnya, “Apa kau mau meminumnya?” ucap Lukas kepada Agen Mia.


Agen Mia melebarkan matanya dengan tatapan tidak suka, “Apa kau menuduhku memiliki niat buruk kepadanya?” ucap Agen Mia dengan nada mulai meninggi, “Aku akan meminumnya agar kau percaya.”


Agen Mia mengambil gelas yang ia bawa. Wanita itu meneguk air putih yang ada di dalam gelas, “Apa kau puas!” Agen Mia membanting gelas yang masih terisi itu kembali ke atas nakas. Ia pergi meninggalkan kamar dengan wajah kesal.


Lukas tidak terlalu peduli dengan perasaan Agen Mia pagi itu. Yang ia tahu, Agen Mia benar bukan penghianat.


“Kenapa kau menuduhnya? Dia wanita yang baik,” ucap Lana sambil menatap wajah Lukas dengan wajah sendu.


“Aku hanya tidak tahu harus bagaimana saat ini.” Lukas memandang Dokter wanita yang berdiri di sampingnya, “Dok, anda tidak perlu memeriksa Lana. Kami sudah tahu, bagaimana keadaannya saat ini. Lana di larang mengkonsumsi obat apapun demi keselamatannya.”


Dokter wanita itu mengukir senyuman, “Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan.”


Lukas mengangguk sebelum memandang wajah Lana lagi. Ia mengambil tangan Lana dan menggenggamnya dengan erat, “Aku akan segera menemukan penawarnya. Bertahanlah, Lana. Andai sakit ini bisa di pindahkan. Aku akan meminta sakit ini berada di dalam tubuhku.”


Lana mengukir senyuman tipis, “Dimana penawarnya?”


“Aku tidak tahu. Ada beberapa nama kota yang harus kami datangi. Dokter bilang, di salah satu kota itu kami akan menemukan pembuat racunnya.”


“Kau yakin orang yang membuat racun masih ada di kota itu?” tanya Lana dengan dahi mengeryit.


“Apa maksudmu, Lana?” Lukas terlihat bingung dengan pertanyaan Lana.


“Aku mengenal Morgan. Ia sudah tahu bagaimana musuh yang saat ini ia hadapi. Orang yang membuat racun pasti kini bersama Morgan. Kau tidak perlu memeriksa kota itu satu persatu. Tapi, carilah keberadaan Morgan saat ini.” Lana memejamkan mata untuk menekan rasa sakit yang ia derita.


“Terima kasih, Sayang. Aku akan mencari pembuat racun di markas milik Morgan.” Lukas mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana, “Bertahanlah. Aku akan segera kembali dengan membawa penawar racun itu.”


Lana mengangguk pelan. Wanita itu memandang kepergian Lukas dengan senyuman kecil, “Tapi aku tidak yakin, kalau dia masih ada di kota ini.”


Lukas berjalan cepat menuju ke arah pintu. Baru beberapa meter kakinya berjalan, langkahnya harus kembali terhenti. Zeroun berdiri untuk menghadang kepergian Lukas.


“Ikut denganku,” ucap Zeroun sambil berjalan menuju ke sebuah ruangan yang berada tidak jauh dari ruangan itu.


Lukas mengikuti langkah Zeroun dari belakang. Ia tahu, kalau kini bosnya itu meminta satu penjelasan.


“Maafkan saya, Bos.”


“Lukas, kau banyak berubah akhir-akhir ini. Apa ini karena Lana?” ucap Zeroun dengan wajah serius.


Lukas mengangkat kepalanya untuk menatap langsung wajah Zeroun, “Ini semua bukan karena Lana, Bos.”


Zeroun menghela napas, “Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi pada Lana saat ini.”


Lukas kembali menunduk. Pria itu kembali menceritakan percakapan terakhirnya bersama dengan Morgan setelah Zeroun pergi. Bahkan pemeriksaan yang di lakukan Dokter di laboratorium juga ia ceritakan dengan begitu jelas tanpa mau menutup-nutupinya lagi.


“Kau memiliki masalah sebesar ini dan berniat merahasiakannya dariku?” protes Zeroun dengan satu alis terangkat.


“Maafkan saya, Bos.”


“Lalu sekarang, apa yang ingin kau lakukan?” Zeroun mengeluarkan ponselnya dan mengotak atik layar ponsel miliknya.


“Saya ingin mencari Morgan, Bos. Saya ingin mencari keberadaan orang yang membuat racun itu untuk meminta penawarnya.”


“Kau tahu dimana Morgan saat ini berada?” tanya Zeroun santai masih dengan tatapan ke layar ponsel.


Lukas terdiam beberapa saat. Pria itu kembali mencerna kalimat tanya yang baru saja di tujukan Zeroun untuk dirinya, “Morgan sudah pergi meninggalkan kota ini, Bos?”


“Sepertinya begitu,” jawab Zeroun santai.


Lukas terlihat sangat kesal. Harapan terakhirnya untuk bisa menemui Morgan harus gagal sebelum berjuang.


“Tapi, jangan khawatir. Aku akan membantumu menemuinya.” Zeroun melekatkan ponselnya di telinga. Sorot matanya yang tajam menatap wajah Lukas dengan seksama, “Pergilah. Temani Lana. Malam ini kita akan menemuinya,” ucap Zeroun dengan senyuman kecil.


Lukas terlihat ragu. Tapi, Zeroun tidak pernah mengingkari janjinya. Lukas cukup yakin, kalau Zeroun akan menolongnya kali ini, “Terima kasih, Bos.”


Zeroun mengangguk sambil menunggu seseorang menjawab teleponnya. Pria tangguh itu menatap punggung Lukas yang sudah pergi meninggalkan ruangan, “Ternyata seperti itu sifatnya saat jatuh cinta,” ucap Zeroun dengan tawa kecil.


Walau kini masalah yang mereka hadapi terbilang sangat sulit. Tapi ada keyakinan di dalam hati Zeroun kalau ia akan berhasil melewatinya. Zeroun meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku saat seseorang yang ia hubungi tidak juga mengangkat teleponya, “Kemana dia.”


Zeroun beranjak dari kursi yang ia duduki. Ia berjalan pergi untuk meninggalkan ruangan itu. Pagi itu Zeroun ingin kembali menemani istrinya yang sedang kurang sehat. Sama halnya dengan Lukas, Ia juga tidak mau jauh-jauh dari wanita yang ia cintai. Ia ingin menemani Emelie dan selalu ada di sisi wanitanya.


Ponsel Zeroun kembali berdering. Zeroun mengeluarkan ponselnya dan melekatkannya di telinga. Pria itu mengukir senyuman saat melihat nama orang yang ia butuhkan tertulis di layar ponsel, “Aku ingin malam ini bertemu denganmu. Ada hal penting yang membuat rencana kita harus di percepat. Ini menyangkut keselamatan bawahanku.”


Zeroun mengukir senyuman kecil saat mendapat persetujuan dari lawan bicaranya, “Baiklah. Kita bertemu di tempat dan jam yang sama saat kita bertemu sebelumnya.” Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Hatinya kembali lega saat membayangkan rencana barunya kini berjalan lancar.