
Cambridge
Gedung kantor polisi Cambridge tidak lagi utuh. Ada banyak api dimana-mana. Baru saja terjadi satu ledakan di gedung tinggi milik negara itu. Asap cokelat mengepul dengam tinggi. Pemadam kebakaran bersiap disegala penjuru.
Beberapa tahanan yang berusaha kabur sudah kembali di tangkap oleh polisi. Sebagian tahanan yang terjebak di dalam tahanan harus meregang nyawa dengan cara terbakar. Tubuhnya tidak lagi utuh karena terbakar oleh kobaran api yang begitu besar.
Jesica mengemudikan mobil balapnya dengan penuh semangat. Di sampingnya sudah ada Adriana yang duduk manis dengan seragam tahanan. Wajahnya terlihat tenang, walaupun kini statusnya tahanan yang kabur dari penjara. Semua rencana Damian pagi itu berjalan dengan begitu lancar. Identitas palsu sudah dipersiapkan di tahanan. Semua orang akan mengira kalau Adriana tewas dalam insiden kebakaran itu. Dengan jasad yang tidak lagi utuh.
Adriana menatap wajah Jesica saat Bos Mafia itu terlihat berseri dan bahagia. Tidak terlihat rasa bersalah sama sekali di wajahnya. Pekerjaan membebaskan tahanan seperti order kecil baginya. Dalam waktu sekejap, ia bisa mengatasi semuanya dengan sempurna.
“Apa ini gratis?” celetuk Jesica dengan wajah liciknya.
“Damian akan membayar semuanya?” Adriana memalingkan wajahnya dengan kesal. Pertanyaan Jesica membuat suasana hatinya kembali buruk. Bahkan kini ia tidak memiliki uang sepeserpun. Ia hanya seorang Putri tidak berguna yang terbuang dari sebuah kerajaan.
“Pria itu? Aku tidak terlalu percaya dengannya.” Jesica masih fokus memandang jalanan depan. Membayangkan wajah licik Damian. Wanita itu juga memiliki firasat buruk dengan janji-janji yang diucapkan oleh Pangeran Monako itu.
“Apa yang kau inginkan?” Adriana menatap wajah Jesica sambil mengeryitkan dahi.
“Membunuh polisi dan membebaskan tahanan yang memiliki masalah yang besar sepertimu tentu saja bayarannya tidaklah murah.” Jesica mengecilkan volume musik di mobilnya. Hingga suara musik itu hampir tidak terdengar.
“Ditambah lagi, karena order kecilku yang gagal itu. Kini Aku menjadi musuh yang paling di benci oleh seseorang.” Jesica tertawa kecil saat mengingat nama Gold Dragon. Nama mafia itu selalu melekat di dalam pikirannya saat Bos yang memimpin geng itu sudah mengetahui wajahnya. Bahkan ia berjanji akan bertarung jika mereka bertemu untuk yang kedua kalinya.
“Katakan apa yang sebenarnya kau inginkan?” Adriana tidak terlalu ingin banyak basa-basi. Ia ingin Jesica menyebutkan bayaran yang harus ia bayar sesuai hasil kerja Jesica.
“Bagaimana kalau separuh kekayaan Putri Kerajaan itu.”
“Aku bahkan tidak berhasil mendapatkan sepeserpun, sekarang kau meminta separuhnya?” teriak Adriana tidak terima.
“Tentu saja, kita harus bekerja sama untuk mendapatkannya.”
“Terserah kau saja,” sambung Adriana malas. Di dalam hatinya Adriana tidak lagi tertarik dengan harta Emelie. Sekarang wanita itu ingin Damian segera menikahinya agar mereka bisa hidup bahagia.
Jesica tersenyum puas. Sepertinya mereka sudah menemukan satu kesepakatan. Wanita itu memutar volume musiknya hingga suaranya memenuhi isi mobil sport itu. Ada senyuman licik di ujung bibir Jesica. Bagaimanapun, bos mafia itu adalah seorang pembunuh dan pencuri. Ia tidak ingin ditipu atau dikhianati.
“Jika kau melanggar semua kesepakatan ini. Kau harus berani membayarnya dengan nyawa yang kau miliki itu, Putri Adriana.”
Ucapan Jesica seperti sebuah vonis mati untuknya. Perkataan Jesica di ucapkan dengan sorot mata yang tidak ingin dikhianati. Wanita itu bersungguh-sungguh dengan semua perkataannya.
Adriana merasakan takut dengan tubuh gemetar. Ia tidak tahu, apa nanti ia bisa memberikan apa yang diinginkan oleh Jesica. Kini nyawanya yang berharga yang menjadi taruhannya. Seperti keluar dari mulut singa dan masuk mulut buaya. Kini posisi Adriana tidak terlalu bebas walaupun ia tidak lagi ada di penjara. Sosok Jesica akan terus menghantuinya jika ia tidak berhasil mendapatkan harta yang dimiliki oleh Emelie.
“Putri, apa kau tahu sesuatu?” Jesica menghentikan mobilnya di pinggiran jalan yang terletak dipinggiran laut. Tanpa melanjutkan pertanyaannya, Jesica keluar dari dalam mobil. Berdiri dengan santai sambil bersandar di pintu mobil. Tatapannya ke arah laut lepas dengan gulungan ombak yang begitu indah.
“Apa lagi yang ia inginkan!” umpat Adriana kesal sambil ikut turun dari dalam mobil. Ia berjalan mendekati posisi Jesica berdiri. Memakai kacamata hitam untuk menutupi identitasnya agar tidak dikenali.
“Apa yang belum Aku ketahui?” tanya Adriana tanpa ingin menunggu lama.
“Aku harus bermain-main dengan tamuku di Brazil.”
“Kau ingin meninggalkanku di tempat ini?” Adriana terbelalak kaget, ucapan jesica sudah mewakili keinginan wanita itu saat ini.
Jesica mengangkat kedua bahunya, “Aku juga belum dibayar bukan?”
“Kau!” Adriana mengepal kuat tangannya. Menahan amarah yang ingin meluap-luap saat itu.
“Selamat tinggal, Putri.” Jesica masuk ke dalam mobil. Tanpa memandang wajah Adriana lagi, bos mafia itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Adriana sendiri di pinggiran jalan yang tidak tahu ada di wilayah mana.
Adriana mengumpat kesal melihat perlakuan Jesica pagi itu. Ini pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini oleh seseorang yang pernah menjadi bawahannya.
“Wanita itu, Aku juga akan membunuhnya saat dia berhasil membunuh Emelie nanti.”
Adriana mengumpat kekesalannya. Dari kejauhan, ada mobil hitam yang berjalan mendekati posisi Adriana. Satu pria berjas resmi keluar sambil membungkuk hormat.
“Selamat Pagi, Putri. Saya dikirimkan oleh Pangeran Damian untuk membawa anda.”
Adriana tidak ingin mengeluarkan kata lagi. Ia masuk ke dalam mobil masih dnegan wajah yang sangat kesal. Duduk sambil menunduk dengan wajah dipenuhi emosi. Mobil itu berjalan dengan kecepatan tinggi.
“Dimana Damian?” tanya Adriana tanpa memandang.
“Pangeran kembali ke Monako pagi tadi, Putri. Pangeran meminta Putri untuk menunggunya. Sebelum Pangeran tiba, Putri tidak boleh pergi ke sembarang tempat.” Supir itu menyampaikan pesan singkat Damian. Mulai detik ini, ia ditugaskan oleh Damian untuk melindungi Adriana. Kemanapun Adriana berada, wanita itu akan menjadi tanggung jawabnya saat ini.
“Sekarang, kita mau kemana?” Adriana mengeryitkan dahi saat melihat lokasi yang mereka tuju kini adalah bandara.
“Kita akan berangkat ke Brazil, Putri.”
“Brazil?” Mata Adriana melebar.
Adriana mengatur posisi duduknya dengan tatapan keluar jendela. Ia tidak pernah menyangka kalau Damian sudah menyiapkan semua rencana ini.
Sepertinya Aku akan segera bertemu dengan wanita itu lagi. Untuk pertemuan kita kali ini, harus ada yang kalah. Emelie, Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Kau harus membayar setiap penderitaan yang pernah aku alami.
Vote, like, komen...
biar author semangat.
Terima Kasih untuk Reader setia.
Love u Pulll....💗