Moving On

Moving On
S2 Bab 4



Matahari terus naik ke permukaan hingga pagi yang cerah berubah menjadi siang yang terik. Zeroun berdiri di hadapan Lukas dan Lana. Dua bawahannya itu harus segera kembali ke Hongkong. Ada rasa tidak rela di dalam hati Zeroun saat harus berpisah dengan Lukas. Wajahnya terlihat murung dan sedih. Ingin sekali ia menahan pria tangguh itu agar selalu ada di sampingnya. Tapi, Zeroun bukan pria pemaksa. Ia mau semua orang ada di sampingnya karena kemauannya sendiri. Bukan karena paksaan.


Zeroun memandang wajah Lukas dan Lana secara bergantian. Sudah hampir lima menit pria itu tidak mengeluarkan kata. Hanya ada sorot pandangan sedih dengan hati yang tidak rela.


Lukas membungkukkan tubuhnya saat Zeroun tidak kunjung mengeluarkan kata, “Selamat tinggal, Bos.”


Zeroun mengukir senyuman kecil, “Apa kali ini kau ingin balas dendam padaku?” ucap Zeroun dengan suara yang pelan, “Kemarilah.” Zeroun kembali ingat pada momen kepergiannya meninggalkan Lukas. Tapi, siang ini ia yang berada di posisi di tinggal.


Zeroun membuka tangannya untuk memeluk Lukas. Tiba-tiba saja situasi itu berubah menjadi sebuah drama sedih yang cukup menyayat hati. Lana yang sejak tadi diam membisu juga mulai meneteskan air mata. Perpisahan yang terjadi di depan matanya bahkan jauh lebih sedih daripada putusnya orang berpacaran.


Zeroun dan Lukas seperti satu kesatuan yang sulit untuk di pisahkan. Dimana ada Zeroun berdiri pasti ada Lukas di sampingnya. Selalu bersama dan saling melindungi. Strategi apapun akan dengan mudah mereka lewati saat bersama. Tidak di sangka pilihan hidup Zeroun kali ini membuat mereka harus berpisah.


Perpisahan ini bukan perpisahan antara atasan dan bawahan. Tapi, lebih ke perpisahan antara kakak dan adiknya. Mulai besok mereka tidak lagi bisa saling menjaga dari jarak yang dekat.


“Bos, saya akan selalu ada jika anda membutuhkan saya,” ucap Lukas saat mereka saling berpelukan.


“Aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi. Sebisa mungkin masalah yang akan aku hadapi, akan aku selesaikan sendirian.” Zeroun menepuk punggung Lukas sebelum melepas pelukannya, “Inspektur Tao akan kembali ke kota asalnya. Sedangkan Agen Mia, ia ingin menjadi bagian dari Gold Dragon. Aku harap kalian bisa bekerja sama.”


Lukas mengangguk pelan, “Baik, Bos.”


“Kalian berpisah?” celetuk Serena yang tiba-tiba muncul dari belakang Zeroun. Wanita itu berjalan secara perlahan mendekati posisi Zeroun berdiri. Mulutnya mengunyah apel yang sejak tadi ada di genggaman tangannya, “Aku tidak percaya kalau kalian akan berpisah.”


“Selamat siang, Nona,” sapa Lana dan Lukas secara bersamaan.


Serena mengangguk pelan, “Selamat siang.” Serena menaikan satu alisnya. Wanita itu cukup penasaran dengan kedekatan Lana dan Lukas selama beberapa hari ini, “Apa kalian berpacaran?” tanya Serena saat tubuhnya berdiri di samping tubuh Zeroun.


“Mereka seperti kita,” jawab Zeroun sebelum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


Serena memandang wajah Zeroun dengan senyuman manis, “Seperti kita yang sekarang atau seperti kita yang dulu?”


“Tebak sendiri,” jawab Zeroun singkat sebelum memandang wajah Lukas, “Sudah waktunya. Hati-hati.”


“Baik, Bos,” ucap Lana dan Lukas secara bersamaan. Sepasang kekasih itu membungkuk hormat sebelum pergi menjauh dari Zeroun dan Serena.


Serena memandang punggung Lana dan Lukas hingga menghilang di balik pintu. Wanita itu menghela napas sebelum memandang wajah Zeroun, “Pangeran Zeroun. Apa kau dan Putri Emelie mau menemani kami berkeliling di kota London? Sepertinya akan sangat seru jika kita berjalan-jalan.” Serena menggigit buah apelnya, “bersama Shabira dan Kenzo juga. Tapi, ada satu permintaanku.”


“Kau sudah menyebutkan dua permintaan. Kenapa bilangnya hanya satu,” ucap Zeroun sambil menatap wajah Serena.


“Pertama kau memintaku untuk pergi bersama Emelie. Kedua kau memintaku untuk setuju pergi bersama Kenzo.”


“Hmm. Sejak jadi Pangeran kau jadi sedikit perhitungan.” Serena memajukan bibirnya hingga memasang wajah yang cukup menggemaskan miliknya.


“Lalu yang ketiga?” ucap Zeroun dengan senyuman kecil.


“Siapkan tiga mobil sport. Aku ingin kita jalan-jalan di kota London dengan mobil sport,” ucap Serena dengan kegirangan, “Kita akan balap bersama dengan Kenzo nanti.”


“Bagaimana dengan baby Al dan baby El?” ucap Zeroun sambil mengeryitkan dahi.


“Tentu saja mereka juga ikut. Kau harus menyiapkan mobil sport yang bisa membawa dua bayi kembarku,” sambung Serena dengan bibir tersenyum. Wanita itu sudah tidak sabar menikmati perjalanan indahnya bersama sabahat-sahabat terbaiknya.


“Baby Al bersamaku. Biar Emelie yang membawanya,” ucap Zeroun dengan wajah serius.


“Kau suka dengan bayi laki-laki?” Serena menunjuk wajah Zeroun dengan satu tawa kecil, “Kau sudah tidak sabar ingin memiliki bayi bukan?”


“Serena, apa kau bahagia sudah meledekku seperti itu? Aku hanya menolongmu.” Zeroun membuang tatapannya ke arah lain.


“Baiklah. Kapan kalian akan bulan madu?” ucap Serena dengan wajah berseri.


Zeroun mengangkat kedua bahunya, “Ada banyak masalah di istana ini yang harus di selesaikan oleh Emelie. Masalah di dalam istana ini jauh lebih sulit jika di bandingkan masalah di perusahaan. Masalah yang di miliki oleh Emelie adalah masalah yang di miliki oleh semua rakyat. Aku selalu membunuh banyak orang dan tidak pernah peduli dengan nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Tapi, kali ini. Aku di beri tugas untuk melindungi dan menjaga orang-orang seperti itu dari bahaya.” Zeroun menatap wajah Serena dengan seksama, “Aku mulai merasa bersalah dan menyesali perbuatanku selama ini.”


Serena mengukir senyuman, “Semua sudah berlalu. Sekarang kita sudah berubah menjadi yang lebih baik. Mulai saat ini, kita tidak akan membunuh lagi kecuali untuk menolong orang yang kita sayang.”


“Kenapa kalian suka sekali berduaan!” protes Daniel yang tiba-tiba muncul. Lagi-lagi pria itu memasang wajah cemburu saat melihat Zeroun dan Serena berduaan. Langkahnya cepat dan pasti untuk mendekati Serena. Setelah berada di dekat Serena, ia menarik tangan Serena agar menjauh dari Zeroun, “Pangeran Zeroun, kau sudah memiliki Putri Emelie. Apa kau bisa untuk menjaga jarak dengan Nyonya Daniel Edritz Chen.” Daniel mempertegas kalimatnya saat memperingati Zeroun.


Serena dan Zeroun tertawa secara bersamaan. Kali ini mereka telah ceroboh. Biasanya setiap kali Daniel ada di dekat mereka, mereka selalu tahu lebih dulu.


“Sepertinya bakat kita mulai menghilang,” ucap Serena sambil melipat kedua tanganya di depan dada.


“Ya, kau benar Serena,” sambung Zeroun dengan tawa kecil. Pria itu justru semakin suka mengganggu Daniel yang terlihat sangat posesif terhadap Serena, “Daniel, aku hanya meminjam istrimu beberapa menit.”


“Meminjam?” celetuk Emelie yang tiba-tiba saja juga muncul di ruangan yang sama dengan Zeroun dan yang lainnya. Putri kerajaan itu meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan ekspresi wajah tidak terbaca.