Moving On

Moving On
Rencana Kenzo



“Baiklah. Jika kau meminta seperti itu, aku akan bersamamu hingga pesta pernikahan selesai. Aku harap tidak ada lagi musuh yang harus di habisi di hari pernikahan.” Kenzo mengukir senyuman, “Emelie wanita yang sangat berbeda dengan Serena. Dia sangat cocok denganmu.”


Zeroun mengangguk pelan, “Serena juga cocok dengan Daniel. Mereka seperti melengkapi satu sama lain. Aku dan Serena seperti sebuah cermin yang tidak bisa untuk dibedakan. Apapun yang ia lakukan aku bisa melakukanya. Apapun yang aku lakukan, ia bisa melakukannya. Kami menjalani kehidupan yang tidak membutuhkan bantuan satu sama lain. Tapi, aku tetap menyayanginya seperti aku menyayangi Shabira.”


“Tidak ada yang bisa menolak Serena. Wanita itu bahkan membuatku tertarik sejak pertama kali bertemu. Hingga aku juga sayang padanya dan menganggapnya sahabat terbaikku.” Kenzo tertawa kecil saat membayangkan wajah polos Serena.


“Aku tidak sempat meminta maaf kepada Daniel. Karena kiriman Jesica, kedua orang tuanya celaka.”


Kenzo menggerakkan kedua bahunya, “Sekarang yang terpenting bagaimana caranya membebaskan dua polisi yang baru saja kau katakan. Mereka di tahan di Inggris. Itu cukup sulit mengingat kau akan menjadi Pangeran di Inggris. Namamu akan rusak dan semua rencana pernikahanmu bisa gagal jika pihak kepolisian tahu ini semua rencanamu.”


Zeroun berpikir keras. Apa yang dikatakan Kenzo memang benar. Pernikahannya dengan Emelie yang akan menjadi taruhannya kali ini, “Aku akan mengambil resiko itu.”


Kenzo menatap wajah Zeroun dengan seksama, “Aku akan meminta Daniel untuk mengirim pasukan yang ia miliki. Aku akan melakukan penyerangan tiga hari lagi. Lakukanlah pernikahan setelah kita berhasil menyelamatkan dua polisi itu.”


“Aku tidak ingin kau membawa Serena lagi.” Zeroun mengeryitkan dahi.


“Tidak akan. Aku akan meminta Serena untuk duduk diam di rumah utama. Wanita itu sudah seharusnya pengsiun dari pekerjaan seperti ini dan fokus mengurus dua anaknya.” Kenzo tertawa kecil.


“Terima kasih, Kenzo.” Zeroun mengukir senyuman, “Kau memang sahabat yang selalu mengerti keadaanku sejak dulu.”


Kenzo beranjak dari duduknya, “Berhentilah mengucapkan kata terima kasih. Karena aku belum melakukan apapun untukmu, Zeroun Zein.” Lelaki itu menepuk pelan pundak Zeroun sebelum berjalan menuju ke arah kamar. Ia ingin kembali istirahat dan menenangkan pikiran. Tidak lama lagi ia harus melewati pertarungan penuh darah dan cukup berbahaya.


Zeroun juga beranjak dari duduknya. Lelaki itu mulai menyadari hilangnya Lukas. Tidak biasanya tangan kanannya itu menghilang tanpa kabar. Bahkan hingga hitungan jam lamanya, “Kemana dia?” ucapnya pelan.


Namun tidak ada tugas besar yang harus diselesaikan oleh Lukas. Zeroun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Lukas. Lelaki itu berjalan menuju ke arah kamar untuk beristirahat. Tubuhnya juga terasa lelah dengan mata yang mengantuk.


***


Lukas menghentikan laju mobilnya di parkiran yang sama saat beberapa jam yang lalu. Hari sudah terlihat gelap. Perjalanan yang ia tempuh menuju ke markas Gold Dragon memang memakan waktu berjam-jam. Lelaki itu memandang wajah Lana yang masih tertidur pulas. Walau dalam keadaan mabuk, tapi tetap saja wajah Lana terlihat cukup menggemaskan.


Lukas turun dari mobil lalu berjalan menuju ke arah bangku penumpang. Bibirnya mengukir senyuman sebelum mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Dengan hati-hati ia membawa tubuh Lana menuju ke apartemen yang di tempati Lana.


Beberapa menit kemudian Lukas tiba di depan pintu apartemen Alika. Satu tangannya mengetuk pintu hingga pintu itu akhirnya terbuka.


“Dimana kamar Lana?” ucapnya dengan nada yang tegas.


“Di sana, Bos.” Alika menunjuk pintu yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri.


Tanpa banyak kata lagi Lukas berjalan menuju ke kamar itu. Ekspresi wajahnya yang dingin membuat Alika hanya bisa menunduk dengan rasa takut. Ada banyak pertanyaan yang tersimpan di dalam pikirannya. Hanya saja, wanita itu tidak berani untuk mengungkapkan isi hatinya.


Lukas meletakkan tubuh Lana dengan hati-hati di atas tempat tidur. Bibirnya mengukir satu senyuman sambil mengusap lembut rambut pendek kekasihnya. Dengan penuh kelembutan Lukas menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Lana.


“Tidur yang nyenyak,” ucap Lukas sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana. Hatinya benar-benar luluh kepada Lana. Hanya saja, ia tidak ingin terlalu lembut dengan wanita itu.


Lukas berjalan pergi meninggalkan kamar Lana. Menutup pintu kamar itu dengan hati-hati. Sorot matanya yang tajam menatap wajah Alika yang berdiri tidak jauh dari kamar Lana, “Dia mabuk. Ketika bangun buatkan minuman hangat agar kepalanya tidak pusing.” Lukas berjalan pergi dengan kedua tangan di dalam saku.


“Baik, Bos. Terima kasih,” jawab Alika pelan.


Lukas berjalan dengan tenang menuju ke arah lift. Lelaki itu melirik jam yang melingkar di tangannya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Lukas mengeryitkan dahi saat menyadari waktunya yang sudah terlalu lama meninggalkan Zeroun.


Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa pesan yang masuk. Wajahnya berubah kaget saat melihat seseorang memberi informasi kalau ada tamu dari Inggris yang datang berkunjung hari ini.


Saat pintu lift terbuka, Lukas masuk dengan segera. Tangannya menekan nomor yang menghubungkannya dengan lantai parkiran. Tidak menunggu lama ia tiba di lantai itu.


Lukas berjalan cepat menuju ke arah mobilnya. Sudah cukup banyak informasi yang tidak ia ketahui hanya gara-gara menyelidiki tentang masa lalu kekasihnya. Kini lelaki tangguh itu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera bertemu dengan Zeroun dan meminta maaf kepada lelaki itu.


.


.


.


**Vote ya reader... biar babang Zeroun bertaahn di 20 besar.


Like dan Komen jangan lupa. terimakasih**.