
Lukas membuka matanya secara perlahan saat merasakan cahaya matahari memenuhi kamar tidurnya. Pria itu mengukir senyuman yang cukup indah saat melihat tubuh Lana di dalam pelukannya. Satu kecupan ia daratkan di pucuk kepala istrinya sebelum mengusap lembut punggung wanita itu.
Lana membuka matanya secara perlahan. Wanita itu mengukir senyuman juga sebelum mendaratkan kecupan di bibir Lukas, “Aku lapar,” ucap Lana dengan nada manja.
“Aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan pagi,” ucap Lukas sambil berusaha meraih telepon yang ada di nakas.
“Aku ingin kau yang memasaknya,” rengek Lana sambil mengusap lembut perutnya sebagai pertanda kalau bayi yang ia kandung yang meminta.
Lukas menaikan satu alisnya, “Lana, aku tidak pandai memasak.”
“Aku ingin masakanmu pagi ini,” ucap Lana lagi dengan ekspresi wajah yang cukup menyedihkan.
“Baiklah. Jangan pasang wajah jelek seperti itu,” ucap Lukas menyerah. Pria itu melepas pelukan Lana lalu beranjak dari tempat tidur. Lukas berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya lebih dulu sebelum memasak di dapur.
Lana tertawa jahat saat melihat reaksi Lukas pagi itu. Ia duduk dengan selimut menutupi tubuhnya yang polos. Wanita itu tampak bahagia karena sudah berhasil mengerjai suaminya, “Maafkan Mommy, Sayang. Mommy terpaksa menggunakan dirimu untuk mengerjai daddy.”
Beberapa saat kemudian.
Lukas berdiri di dapur dengan wajah cemberut. Pria itu sedang memotong-motong daun bawang. Ia berencana membuat omelet untuk sarapan pagi Lana. Keringat berkucur deras walau saat itu ia masih pada tahap mengiris bahan masakan.
Lana muncul dengan penampilan yang cukup cantik. Sejak mengandung, wanita itu terlihat semakin cantik. Wanita itu mengenakan kemeja putih sedikit kebesaran. Ada celana hotpand yang tertutup kemeja di dalamnya. Wajah wanita itu terlihat segar pagi ini. Ia tidak mengalami mual muntah berlebihan seperti yang dialami Emelie.
Lana melingkarkan kedua tangannya di perut Lukas dan memeluk pria itu dari belakang. Bibirnya tersenyum bahagia. Lana menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
“Sayang, apa pagi ini kau masih mual?” ucap Lukas masih dengan tatapan fokus pada masakannya.
“Sedikit,” jawab Lana dengan mata terpejam. Wanita itu terlihat sangat menikmati tubuh Lukas yang kini ada di dalam pelukannya.
“Aku tidak tahu bagaimana cara menyembuhkannya,” ucap Lukas sambil meletakkan beberapa bahan di samping kompor.
Lana melirik beberapa bahan yang sudah dipersiapkan Lukas. Wanita itu mengeryitkan dahi. Ia tidak menyangka kalau Lukas bisa tahu bahan-bahan apa saja yang di gunakan untuk membuat omelet.
“Darimana kau tahu bahan-bahan ini?” tanya Lana penuh selidik.
“Kau memberiku sarapan seperti ini setiap hari, bagaimana mungkin aku tidak hafal dengan bahan-bahannya,” ledek Lukas dengan tawa kecil.
“Lukas,” rengek Lana sambil melepas pelukannya dari tubuh Lukas. Wanita itu lagi-lagi harus memasang wajah cemberut dan membelakangi Lukas.
Lukas mengukir senyuman sambil melirik tubuh istrinya. Pria itu mematikan kompor lalu menarik tangan Lana. Lukas mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas meja dapur, “Aku hanya bercanda. Kenapa kau menjadi lebih sensitif seperti ini,” ucap Lukas sambil menatap serius wajah Lana.
“Aku juga tidak tahu. Sejak hamil, aku kesulitan mengendalikan emosiku,” jawab Lana sambil mengusap lembut pipi Lukas.
Lukas memegang tangan Lana dan meletakkannya di leher jenjangnya. Pria itu tidak lagi ingat dengan omelet spesial untuk Lana. Ia terlalu asyik dengan adegan mesranya bersama dengan sang istri. Lukas mulai mencium leher Lana, tiba-tiba saja sentuhan yang dibuat Lukas membuat Lana menikmatinya dan mulai melingkarkan kakinya di pinggang suaminya.
Kemeja Lana bagian atas terbuka sedikit hingga membuat Lukas terlihat kesulitan mengendalikan dirinya. Rambut Lana yang tergerai berantakan di atas bahu membuat wanita itu terlihat cantik dan menggoda.
“Aku mencintaimu, Lana,” ucap Lukas sebelum kecupannya pindah ke bibir. Memberi godaan yang lembut namun lama kelamaan berubah panas dan menggoda. Lukas kembali bercinta dengan Lananya yang cantik dan menggemaskan.
Sejak menikah sifat pria itu telah berangsur berubah menjadi pribadi yang jauh lebih lembut dan penyayang. Hanya kebahagiaan Lana yang memenuhi pikiran Lukas setiap detiknya. Segala kesibukan Gold Dragon juga sudah tidak terlalu ia pikirkan. Sifat manja Lana yang tiba-tiba muncul sejak hamil membuat Lukas tidak tahu cara membagi waktu antara istrinya dan Gold Dragon.
Beberapa menit kemudian, adegan mesra itu telah berlalu. Lukas kembali berdiri di depan kompornya. Pria itu mengatur matanya agar tidak lagi memandang tubuh seksi milik istrinya. Masakannya pagi ini bisa gagal jika ia melakukan adegan yang sama lagi.
“Aku ingin menembak. Sudah cukup lama tidak menembak,” ucap Lana sambil menatap wajah Lukas. Wanita itu merapikan penampilannya yang berantakan. Ada harapan besar di dalam hatinya kalau suaminya akan menyetujui permintaan anehnya itu.
Lana berjalan ke arah meja makan. Wanita itu duduk sambil memandang Lukas yang sudah hampir siap dengan masakannya.
“Kau ingin aku hukum? EH? Apa kau lupa kalau kau sedang hamil?” Lukas menyajikan makanan spesial yang baru saja ia masak di atas meja. Pria itu berjongkok dan melekatkan telingannya di perut Lana, “Bagaimana kalau anakku kaget nanti.”
Lukas mengangkat kepalanya, “Baiklah. Ayo kita latihan menembak. Tapi, sebelumnya daddy mau menyuapi mommy dulu ya sayang.” Lukas mengusap lembut perut Lana.
“Hmm, so sweet. Kau menjadi manis seperti itu. Jika tahu kalau sifatmu bisa berubah manis seperti ini setelah menikah. Aku pasti akan memintamu menikahiku sejak pertama kali kita jumpa,” ucap Lana dengan wajah berseri.
Lukas melirik Lana sekilas sebelum mengambil piring di atas meja. Pria itu mulai memotong-motong omelet spesial untuk istrinya. Wajahnya terlihat sangat sabar dan telaten. Ia tidak terlihat keberatan sama sekali kalau harus menyuapi Lana pagi ini. Cintanya cukup besar untuk Lana. Apapun permintaan wanita itu akan selalu ia usahakan agar bisa terwujud.
"Kapan kita bulan madu? Aku ingin mencoba jet pribadi milikku," ucap Lana sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Besok pagi," jawab Lukas cepat.
***
Cambridge.
“Jangan pergi,” rengek Emelie sambil meneteskan air mata. Bahkan sudah ada banyak tisu tergeletak di permukaan lantai. Sudah berulang kali wanita itu berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi di dalam perutnya. Semakin hari, mual muntahnya semakin menjadi.
Zeroun menghela napas. Pria itu berjalan pelan mendekati tempat tidur yang diduduki Emelie, “Sayang, aku hanya pergi sebentar saja. Sekitar 20 menit. Ada masalah kerajaan yang harus aku selesaikan. Ini semua karena aku menggantikan pekerjaanmu. Aku akan kembali,” ucap Zeroun sambil mengusap lembut pipi Emelie.
“Aku tidak mau ditinggal,” ucap Emelie sambil memeluk tubuh Zeroun. Wanita itu merasa aneh dengan perasaannya sendiri sejak hamil. Ia tidak ingin Zeroun meninggalkannya walau hanya lima menit. Emelie ingin Zeroun ada di depan matanya setiap saat.
“Hmm, aku sudah mengabaikan istanamu ini selama beberapa hari. Aku tidak peduli dengan apapun. Hanya kau yang aku pedulikan saat ini. Tapi, ini semua demi nama baikmu. Ada tanggung jawab yang harus kita selesaikan agar namamu tetap di kenal dengan baik.” Zeroun mengusap lembut punggung Emelie.
“Baiklah. Kau boleh pergi. Aku tidak akan melarangmu. Demi kerajaan Cambridge,” ucap Emelie sembari menjauh dari tubuh Zeroun. Wanita itu berbaring lalu memiringkan tubuhnya. Ia membelakangi tubuh Zeroun.
Zeroun menghela napas. Akan selalu ada drama menyedihkan seperti ini setiap kali ia ingin pergi meninggalkan Emelie untuk bertugas. Padahal Zeroun sudah mengurangi kesibukannya. Ia hanya muncul sesekali saja. Tapi, itu juga belum berhasil untuk membuat sang istri bahagia dan kembali tenang.
Zeroun mengambil ponselnya. Pria itu lagi-lagi harus menghubungi Paman Arnold untuk meminta pertolongan. Selama ini, memang Paman Arnold yang selalu hadir untuk menolongnya, “Selamat pagi, Paman. Apa semua pekerjaan itu bisa di kirim ke Istana? Saya akan menyelesaikannya di sini.”
“Tentu saja, Yang Mulia. Saya akan mengirimkan berkas-berkasnya sesegera mungkin,” ucap Paman Arnold dari dalam telepon.
Zeroun mengukir senyuman, “Terima kasih, Paman.”
Emelie mengukir senyuman indah. Wanita itu merasa bahagia. Jika pekerjaan yang dilakukan Zeroun ada di dalam istana. Tentu saja ia bisa ikut dengan sang suami saat bekerja. Emelie tidak perlu merasa sedih karena Zeroun ada jauh dari pandangan matanya.
“Sudah. Apa kau bahagia sekarang?” bisik Zeroun dengan lembut. Pria itu berbaring di tempat tidur dengan posisi memeluk Emelie dari belakang. Satu tangannya mengusap lembut perut sang istri.
“Ya. Kau memang suami idaman.” Emelie memejamkan matanya saat merasa posisi itu sangat nyaman.
Zeroun mendaratkan kecupan di pipi Emelie. Pria itu merasa bahagia melihat Emelie bahagia, “Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu, Emelie. Bukan hanya waktu, nyawaku akan aku berikan untukmu,” ucap Zeroun dengan ketulusan.
Emelie mengukir senyuman. Satu tangannya mengusap lembut lengan pria itu, “Ya. Aku tahu kalau kau akan selalu mencintaiku,” jawab Emelie.
***
Reader : Serena masih cinta sama Zeroun?
Author : Gak lah, Sayang. Kan Daniel nyeritakan dulu. Waktu keadaan masih kacau balau. 😂 Jadi jangan salah paham.
Reader : Zeroun tega nyakiti Emelie.
Author : Ya, memang part emosi itu. Aku juga ngetiknya sedikit emosi 🤣
Reader : Lah, Kenapa ada part itu Thor?
author : Agar ada part pertemuan Emelie dan Daniel. Gak ada sebab gak akan ada akibat donk... Aku seneng...jadi pada komen panjang2.. aku suka baca komen...walau kadang balasnya gak bisa. Tapi selalu aku luangkan waktu buat baca. kadang aku ss aku simpen...buat kenang2an..🥰