Moving On

Moving On
Takut



Emelie dan Zeroun berjalan ke arah meja makan. Putri kerjaan itu ingin memasak sesuatu untuk sang kekasih. Bibirnya tersenyum manis saat itu. Emelie memilih untuk memasak telur mata sapi dan roti bakar dengan selai strawberry favoritnya. Wajahnya terlihat begitu cerah secerah mentari di langit. Sesekali Zeroun menjahili Emelie dengan memberinya kecupan di pipi. Membuat wajah Emelie merona seperti tomat yang matang sempurna.


Dari kejauhan, muncul pasukan Gold Dragon dengan beberapa kertas di tanganya. Pria tangguh itu membungkuk sebelum meletakkan berkas penting itu di atas meja. Emelie tidak lagi kosentrasi dengan masakannya. Putri kerajaan itu ingin tahu apa yang kini di baca oleh kekasihnya. Zeroun duduk di salah satu kursi sambil membaca isi berkas itu dengan seksama.


“Tuan, semua sudah dipersiapkan. Kami akan membawa barangnya malam ini.” Pria itu menatap wajah Emelie dengan seksama. Satu sendok melayang tepat di hadapan wajah bawahan Zeroun itu. Membuat rasa kaget dan sakit muncul secara bersamaan. Tanpa banyak kata, Zeroun melanjutkan membaca isi berkas itu.


“Maafkan saya, Bos.” Pria itu membungkuk dengan wajah penuh rasa bersalah.


“Jika kau masih memikirkannya, pisau itu akan melayang ke jantungmu detik ini juga.” Kalimat Zeroun membuat pria itu bersujud di bawah kakinya dengan wajah takut. Kedua tangannya terkatup sebagai bentuk memohon maaf.


“Maafkan saya, Bos,” ucapnya dengan tubuh gemetar.


“Pergilah.” Zeroun melemparkan berkas itu tepat di wajah bawahannya.


“Jangan lakukan kesalahan sekali lagi. Kau hanya punya kesempatan terakhir.” Zeroun beranjak dari kursinya.


“Baik, Bos. Terima kasih atas kemurahan hati anda.” Bawahan Zeroun pergi dengan langkah cepat setelah selesai memungut kertas yang berserak di lantai.


Pemandangan yang ada di depan mata Emelie, membuat wanita itu sedikit bingung. Tadi pria yang berstatus bawahan Zeroun itu baik-baik saja. Tetapi dalam waktu singkat Zeroun melempar sendok ke wajahnya hingga menyisakan luka kecil. Bukan mau meminta maaf, justru korbannya Zeroun yang bersujud di bawah kakinya.


“Baby, apa sudah selesai?” Zeroun memeluk tubuh Emelie dari belakang.


“Apa Kau mau Aku hukum juga karena memperhatikan bawahanku tanpa berkedip?” bisik Zeroun dengan senyuman kecil.


“Menghukumku? coba saja kalau kau berani.” Tantang Emelie dengan wajah penuh percaya diri.


Zeroun melepas pelukannya. Kedua bola matanya menatap wajah Emelie dengan seksama. Ada yang aneh dari penampilan kekasihnya saat ini. Wajah wanita itu terlihat pucat dengan suhu tubuh yang hangat.


“Emelie, Kau sakit?” Zeroun memegang dahi Emelie dengan wajah khawatir.


“Tidak,” jawab Emelie sambil memegang tangan Zeroun yang ada di dahinya.


“Aku biasa seperti ini saat datang bulan,” sambung Emelie dengan suara yang semakin menghilang.


Zeroun mengeryitkan dahinya saat mendengar jawaban kekasihnya. Baru ini bos mafia itu menemukan wanita polos dan cukup jujur seperti Emelie.


“Apa seperti itu reaksinya?” ucap Zeroun kurang yakin.


Emelie mengangguk pelan sambil menyajikan menu sarapan pagi yang sudah selesai ia masak. Wanita itu terlihat terampil dalam melayani Zeroun di meja makan. Memang sejak dulu, sang Ratu telah mengajarinya. Sehingga saat ini, Emelie terlihat memiliki tata krama yang cukup sempurna.


“Apa itu akan berlangsung lama?” Zeroun masih belum puas dengan jawaban Emelie. Bagaimanapun juga itu menyangkut kesehatan kekasihnya. Ia tidak ingin Emelie sakit dan merasa menderita.


“Hanya sehari saja sakitnya. Besok juga sudah jauh lebih baik.” Emelie mengukir senyuman sambil menatap wajah Zeroun. Hatinya cukup bahagia mendapat perhatian manis dari Zeroun pagi itu.


“Sekarang, ayo kita sarapan.” Emelie menarik tangan Zeroun dengan lembut. Tetapi pria itu tidak juga bergeser dari posisinya. Ia masih mematung dan menarik tangan Emelie agar tubuhnya mendekat.


“Sayang, Aku tidak ingin kau terluka apalagi sakit.” Zeroun mengusap lembut rambut Emelie.


“Tidak akan. Ini sudah biasa Aku alami selama satu bulan sekali.” Emelie menarik tangan Zeroun lagi agar segera memakan sarapan yang sudah ia persiapkan. Kali ini Zeroun mengikuti permintaan kekasihnya. Walaupun masih ada keraguan di dalam hatinya.


“Aku akan menyuruh Lukas memanggil Dokter,” ucap Zeroun sambil memperhatikan wajah Emelie yang semakin pucat.


Emelie menggeleng pelan. Ada rasa sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Walaupun rasa sakit itu memang selalu datang saat dirinya sedang datang bulan. Tetapi tetap saja, Emelie tidak bisa menahan rasa sakitnya. Wanita itu justru ingin menangis atas rasa sakit yang tidak bisa ia tahan lagi.


“Emelie?” Wajah Zeroun memucat saat melihat kekasihnya menahan rasa sakit dan menekan perutnya.


“Apa semua baik-baik saja?” Zeroun beranjak dari posisi duduknya untuk mendekati Emelie. Emelie tidak lagi bisa menjawab pertanyaan Zeroun pagi itu. Perutnya benar-benar terasa sangat sakit detik itu juga.


“LUKAS!” teriak Zeroun. Dalam waktu hitungan detik, Lukas muncul dengan posisi siap siaga. Dahinya mengeryit saat melihat Emelie menahan sakit.


“Panggilkan Dokter!” ucap Zeroun cepat.


“Baik, Bos,” jawab Lukas sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.


“Jangan!” tolak Emelie dengan wajah yang semakin pucat.


“Kenapa jangan?” Zeroun tidak lagi mau berdebat dengan Emelie. Pria itu mengangkat tubuh kekasihnya ke dalam gendongannya dan membawanya menuju ke kamar.


“Dalam hitungan menit, jika Dokter itu tidak tiba. AWAS KAU!” Zeroun menatap wajah Lukas dengan tatapan membunuh. Membuat Lukas berusaha keras untuk menghubungi Dokter yang bisa tiba dalam waktu hitungan menit. Tidak ada lagi posisi nyaman baginya, jika Dokter itu tidak tiba sesuai dengan hitungan waktu Bos Mafia itu.


Zeroun membuka pintu kamar dengan dorongan kuat. Pria itu benar-benar panik saat melihat wajah kekasihnya semakin pucat seperti orang kehabisan darah. Dengan hati-hati Zeroun meletakkan tubuh Emelie di atas tempat tidur.


“Aku tidak apa-apa. Ini tidak akan berlangsung lama.” Emelie meremas perutnya untuk menekan rasa sakit di area itu.


“Baby, jangan di cengkram seperti itu. Kau bisa membuat kulit perutmu terluka.” Zeroun meraih tangan Emelie. Menggenggam tangan itu sebelum mengecupnya dengan penuh cinta.


Emelie merasakan darah yang keluar cukup deras. Wanita itu tidak lagi nyaman dengan keadaannya saat ini. Ia harus segera mengganti pemba*lutnya saat ini. Emelie tidak ingin darah segarnya membekas di atas seprei putih itu. Dengan sekuat tenaga, Emelie beranjak dari tidurnya.


“ Mau kemana?” protes Zeroun dengan wajah paniknya.


“Aku mau ke kamar mandi,” jawab Emelie sambil menurunkan satu kakinya.


“Biar Aku antar,” jawab Zeroun cepat sambil menahan kaki Emelie yang hampir menyentuh permukaan lantai.


“Tidak mau,” tolak Emelie sambil menggeleng kepalanya.


“Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di kamar mandi dalam keadaan seperti ini.” Zeroun memegang pipi Emelie dengan hati yang cukup sedih.


“Aku malu ....” ucap Emelie dengan wajah menunduk. Satu tangannya yang lain tampak meremas kuat seprei tempatnya berbaring. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi setiap waktunya.


“Panggilkan Lana saja. Biar Lana yang menemaniku di kamar mandi.”


Mendengar permintaan Emelie, Zeroun menatap ke arah pintu dengan tatapan tajam. Pria itu tahu tidak ada seorangpun yang kini berdiri di depan pintu kamarnya. Dengan hembusan napas kesal, Zeroun beranjak dari tempat tidur itu. Melangkah cepat ke arah pintu kamarnya. Bos mafia itu berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan memeriksa sekeliling ruangan itu.


“LUKAS! LANA!” teriak Zeroun hingga suaranya memenuhi isi ruangan itu.


Dari arah yang berlawanan, Lukas dan Lana muncul secara bersamaan. Dua tangan kanan Zeroun itu terlihat panik saat mendengar teriakan bosnya yang tidak biasa.


“Temani Emelie di dalam,” perintah Zeroun sambil menatap wajah Lana.


“Baik, Bos.” Tanpa banyak tanya lagi, Lana masuk ke dalam kamar itu. Sedangkan Lukas hanya bisa menunduk dengan wajah bingung. Dokter yang ia hubungi masih berada di dalam perjalanan. Tidak akan mungkin bisa, jika Zeroun meminta Dokter itu tiba detik ini juga.


“Apa Dokter yang kau hubungi Dokter wanita?” tanya Zeroun penuh selidik.


“Dokter wanita, Bos?” tanya Lukas dengan wajah kaget.


“Lukas! Kau ingin Dokter pria itu menyentuh wanitaku!” Zeroun lagi-lagi meninggikan nada bicaranya.


“Saya akan meminta Dokter wanita untuk memeriksa Nona Emelie, Bos.” Lukas menunduk dalam. Ini pertama kalinya Zeroun panik saat melihat wanita yang ia cintai sakit di hadapannya.


“Cepat!” bentak Zeroun sebelum kembali masuk ke dalam kamar itu.


“Baik, Bos!” jawab Lukas dengan menundukkan kepala. Setelah melihat Zeroun masuk ke dalam kamar, Lukas baru berani mengeluarkan ponsel miliknya. Memberi perintah kepada bawahannya untuk mengganti Dokter yang datang dengan Dokter wanita.