
Hari kembali berganti. Emelie dan Zeroun baru saja menerima kabar atas penangkapan Adriana. Kini wanita jahat itu sudah berada di dalam penjara. Inspektur Tao meminta Zeroun untuk mengantar Emelie kembali ke Kota Cambridge. Emelie harus memberikan kesaksian atas bukti yang ia berikan.
Kini, Zeroun dan Emelie berada di dalam mobil. Mereka akan kembali ke kota Cambridge. Sepanjang jalan, tidak ada yang berani mengeluarkan kata lebih dulu. Suasana di dalam mobil itu terasa sangat hening.
Zeroun dan Emelie bertarung dengan pikiran masing-masing. Ada rasa gengsi untuk mengeluarkan kata lebih dulu. Hingga akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk mengunci mulutnya agar tidak mengeluarkan kata.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama berjam-jam. Kini Zeroun dan Emelie, telah tiba di Istana. Zeroun mengantarkan Emelie dengan selamat, hingga wanita itu tiba di depan pintu istana.
Di depan pintu Istana sudah ada beberapa keluarga dan Pangeran Damian yang menyambut kedatangan Emelie. Emelie dan Zeroun turun dari mobil secara bersamaan sambil memandang wajah-wajah orang yang menyambutnya siang itu.
“Tuan Zeroun, terima kasih. Karena anda telah menyelamatkan tunangan saya.” Ada penekanan di dalam perkataan Damian. Pria itu memperingati Zeroun untuk tidak terlalu dekat dengan wanitanya.
“Senang membantu anda, Pangeran,” jawab Zeroun dengan senyuman.
“Sayang, ayo kita masuk. Kau pasti sangat lelah bukan?” Damian menggandeng pinggang Emelie layaknya sang kekasih. Tubuh Emelie tidak bertenaga saat itu, ia tidak memiliki kekuatan untuk berdebat dengan Damian. Putri Kerajaan itu hanya menurut saja, saat tubuhnya di rangkul dengan mesra oleh Damian.
“Oiya, Tuan Zeroun. Sebagai bentuk permintaan maaf kami. Kami mengundang anda makan malam di Istana. Semoga anda tidak keberatan untuk menghadirinya.”
“Saya akan datang,” jawab Zeroun cepat.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan.” Damian memasang senyuman indah untuk Zeroun.
Zeroun mengangguk lalu memutar tubuhnya ke arah mobil. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan lingkungan istana.
Emelie menghentikan langkah kakinya. Wajahnya berubah sedih saat meliat kepergian Zeroun siang itu.
Apa ini detik-detik terakhir kita bertemu. Setelah malam ini, apa Aku tidak bisa melihat wajahmu lagi?
Di dalam mobil. Zeroun mengambil ponselnya. Ia meminta pilot yang bertugas, untuk menunggunya di bandara. Tidak ada waktu lagi, malam ini juga Zeroun berencana untuk berangkat ke Brazil dan menyelesaikan semua masalah yang ada.
Nama baiknya telah kembali. Kini ia bisa meninggalkan kota Cambridge tanpa status buronan. Tekadnya hanya satu, mengalahkan Jesica saat ia tiba di Brazil. Zeroun tidak akan membiarkan Jesica lolos kali ini. Ia akan membunuh Jesica dengan tangannya sendiri.
***
Malam telah tiba. Zeroun sudah duduk di meja makan panjang yang ada di Istana. Emelie terus-terusan mencuri pandang dengan Zeroun. Ingin sekali ia berbicara dengan Zeroun malam itu. Tapi, melihat keadaan yang sangat ramai. Di tambah lagi, ada Damian di meja itu. Membuat Emelie mengurungkan niatnya.
Makan malam yang hening itu telah berlalu. Beberapa menu masih tersisa sedikit di atas meja. Beberapa pelayan membersihkan meja makan sebelum kembali menghidangkan hidangan penutup. Ada beberapa menu yang sangat menggiurkan. Emelie mengambil salah satu menu dengan wajah tidak terbaca. Wanita itu tidak lagi kosentrasi dengan apa yang ia lakukan. Hingga tangannya menyentuh gelas kaca dan membuat gelas itu jatuh ke lantai.
Semua orang yang mengelilingi meja menatap wajah Emelie dengan seksama. Termasuk Zeroun, pria itu juga memperhatikan sikap aneh Emelie malam itu.
Emelie memejamkan matanya sejenak, sebelum memasang wajah angkuh favoritnya.
“Pelayan, bersihkan semua kekacauan ini.” Emelie memandang seluruh tamu yang ada di meja makan.
Aku selalu berubah menjadi bodoh setiap kali ada di dekatnya.
Umpat Emelie dalam hati dengan penuh kesal sambil terus berjalan ke arah pintu samping.
Di meja makan, hanya tersisa Zeroun dan Damian. Dua pria itu saling memandang satu sama lain sambil memandang kepergian Emelie.
“Apa anda akan pergi malam ini, Zeroun?” Damian memandang wajah Zeroun dengan senyuman kecil.
Zeroun mengangguk, “Aku harus segera pergi dari kota ini. Ada banyak urusan yang harus Aku selesaikan di luar sana.” Zeroun bersandar dengan begitu tenang.
“Terima kasih karena Anda telah menolong dan melindungi tunangan saya selama beberapa hari ini. Anda pria tangguh yang sangat bertanggung jawab.” Damian beranjak dari duduknya.
“Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan malam ini. Maafkan saya karena tidak bisa mengantarkan anda hingga ke Bandara, Zeroun.” Damian memandang ke arah pengawal yang berdiri di sampingnya.
“Siapkan mobil, kita harus pergi ke suatu tempat malam ini.”
“Baik, Pangeran.” Pengawal itu menunduk sebelum pergi untuk melaksanakan perintah Damian.
“Senang bertemu dengan anda, Zeroun. Sepertinya Putri Emelie ingin berbicara dengan anda sejak tadi. Mungkin mengucapkan kata perpisahan atau terima kasih.” Damian menepuk pelan pundak Zeroun.
“Jangan terlalu dekat dengan gadis nakal itu,” bisik Damian dengan senyuman kecil. Pria itu berjalan menuju ke arah pintu untuk pergi meninggalkan istana.
Zeroun tersenyum kecil mendengar perkataan Damian, “Aku sangat suka dengan gadis nakal. Itu jauh lebih menantang daripada yang terlalu lembut.”
Zeroun beranjak dari duduknya, berjalan ke tempat Emelie berada malam itu. Sesekali ia memperhatikan beberapa pengawal yang menjaga istana. Hatinya masih merasa bingung saat melihat pengawalan yang begitu ketat.
Tapi, Emelie selalu saja bisa kabur dari Istana. Bahkan, seekor nyamukpun terlihat tidak luput dari penjagaan pegawal-pengawal berseragam itu.
“Sepertinya Emelie sudah terlatih untuk kabur sejak ia kecil. Aku harus banyak belajar darinya.”
Zeroun tertawa kecil sambil terus berjalan menelusuri halaman samping Istana megah itu. Lorong itu terlihat terang namun tetap sunyi. Tidak ada seorangpun yang bisa ia temukan di lorong itu.
Zeroun sedikit bingung untuk mencari Emelie malam itu. Tidak pernah terpikirkan kalau kini ia bisa tersesat saat berjalan-jalan di Istana Emelie. Bukan hanya megah dan mewah. Setiap lorong, selalu saja ditemukan pintu yang entah menghubungkan dengan ruangan apa.
Dari ujung lorong terlihat cahaya terang yang berwarna-warni. Terdengar jelas suara gemericik air dari tempat itu. Zeroun sangat yakin, kini Emelie berada di tempat itu.
Dengan penuh keyakinan, Bos Mafia itu bertekad untuk mengucapkan kata perpisahan kepada Emelie. Walaupun hatinya merasa berat untuk meninggalkan Emelie.
Tetapi, itu semua harus ia lakukan. Zeroun berharap, seiring berjalannya waktu. Ia bisa melupakan kenangannya bersama dengan Emelie. Kenangan singkat namun terkesan begitu indah. Satu kenangan yang mungkin cuma terjadi sekali seumur hidupnya.