
Emelie semakin sulit untuk bernapas saat mobil Zeroun telah tiba di kota Rio. Pemandangan kota itu masih sama seperti saat pertama kali Zeroun membawanya jalan-jalan. Bahkan, jalan yang kini mereka kunjungi juga tidak terlalu jauh jaraknya dari selaron step. Tangga warna warni yang waktu itu menjadi tempat berfoto Emelie dan Zeroun.
“Sayang, apa kau mau berfoto di tempat itu lagi?” ucap Zeroun sambil menatap wajah Emelie sekilas.
“Tidak!” jawab Emelie cepat. Saat ini tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan selain kembali pulang ke markas. Ia ingin berada di rumah itu walau hanya sekedar melihat pantai daripada jalan-jalan seperti ini dengan jantung berdebar cepat.
“Apa kau baik-baik saja, Emelie?” Zeroun meraih tangan Emelie, mengecup punggung tangannya dengan penuh kelembutan, “Apa yang kau pikirkan? Semua akan baik-baik saja.” Zeroun terus berusaha untuk meyakinkan Emelie.
“Zeroun, apa yang ingin kau lakukan? Jika hari ini kau berniat untuk bertarung. Sebaiknya kita segera kembali. Aku tidak mau melihatmu terluka.” Emelie memiringkan tubuhnya sambil menatap wajah Zeroun dengan tatapan memohon.
“Sayang, semua akan baik-baik saja. Apa kau tidak percaya padaku?” Zeroun memeriksa rombongan Gold Dragon yang sudah mengambil posisi masing-masing. Ada senyuman kecil di sudut bibir Zeroun.
“Aku percaya padamu,” jawab Emelie sebelum membuang tatapannya ke arah lain.
“Sayang, apa kau membawa pistol yang waktu itu aku berikan?” ucap Zeroun dengan ekpresi dingin favoritnya.
Pertanyaan Zeroun membuat Emelie melebarkan kedua bola matanya, “Kau bohong padaku lagi! Aku yakin kau ingin bertarung hari ini bukan?” Emelie memukul lengan kekar Zeroun dengan wajah kesal.
“Aku hanya menanyakan pistol itu. Kenapa lagi-lagi kau menuduhku,” protes Zeroun dengan tawa kecil meledek Emelie.
“Zeroun. Aku tidak bercanda!” teriak Emelie dengan tangan terkepal kuat. Hatinya kini di penuhi dengan rasa takut dan khawatir yang melebur menjadi satu. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Zeroun jika memang benar bertarung hari ini. Namun, pria yang kini ia khawatirkan justru memasang wajah yang cukup santai. Tidak ada beban yang terpancar dari wajah Zeroun.
“Kita sudah sampai,” ucap Zeroun tanpa mau memperdulikan wajah kesal Emelie saat itu. Zeroun membawa mobilnya naik ke atas gedung yang memiliki lantai yang cukup tinggi. Sepanjang jalan yang mereka lewati sudah terlihat beberapa pria berkulit hitam dengan wajah menyeramkan. Emelie semakin sulit bernapas saat itu. Andai saja ia tahu kalau jalan-jalan siangnya seperti ini. Maka ia pasti akan lebih memilih tidur di rumah.
Mobil hitam itu berhenti di lantai paling tinggi. Lantai ke sepuluh. Dari atas gedung itu, bisa terlihat pemandangan kota Rio dengan cukup jelas. Zeroun mengukir senyuman lagi saat melihat kekasihnya hanya menunduk dengan wajah pucat karena takut.
“Emelie,” ucap Zeroun sambil menyelipkan rambut kekasihnya di balik telinga, “Apa kau marah padaku?”
Emelie menggeleng kepalanya, “Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Katakan, apa yang ingin kau tanyakan.” Zeroun memegang dagu Emelie agar wajah Emelie terlihat dengan cukup jelas.
“Zeroun, kau memberiku gelang ini sebagai hadiah. Sekarang kau memberiku kalung yang indah ini.” Emelie memegang kalung yang kini ia kenakan. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Satu kalimat terakhir yang ingin diucapkan oleh Emelie hanya tertahan di tenggorokan. Entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa takut untuk mengatakan kalimat itu.
‘Kapan kau memberiku cincin? Kenapa bibirku terkunci seperti ini. Apa ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu?
Zeroun menunggu dengan wajah cukup serius. Tetapi Emelie tidak lagi mau melanjutkan kalimatnya. Wanita itu hanya menatap bingung wajah Zeroun. Hingga akhirnya Zeroun juga menjadi bingung dengan sikap aneh Emelie siang itu.
“Apa hanya itu yang mau kau katakan Emelie?” ucap Zeroun sambil mengangkat satu alisnya.
Emelie memandang ke arah depan. Beberapa mobil hitam baru saja tiba di lokasi yang sama dengannya berada saat ini. Hal yang paling membuat Emelie syok, saat melihat sosok yang keluar dari dalam mobil hitam itu. Damian dan Adriana turun secara bersamaan. Sepasang kekasih itu terlihat cukup mesra dengan senyuman bahagia.
Zeroun menatap tajam saat musuhnya telah tiba. Pria itu melepas sabuk pengamannya dan Emelie, “Sayang, ayo kita turun.”
Emelie menahan lengan Zeroun agar pria itu tidak turun dari mobil, “Apa yang telah kau rencanakan, Zeroun? Apa ini yang kau katakan sebagai jalan-jalan. Dan kado kedua, apa ini kado keduaku?” Wajah Emelie terlihat menahan amarah. Wanita itu tidak suka jika hari ini harus berjumpa kembali dengan orang yang sangat ia benci seumur hidupnya.
“Sayang, kado kedua yang akan aku berikan adalah nyawa dua orang yang kini berdiri di hadapan kita,” jawab Zeroun dengan wajah santainya.
Emelie membisu saat mendengar kalimat mengerikan yang di ucapkan Zeroun.
“Aku ingin membuat mereka membayar semua yang telah mereka perbuat. Sekarang, ayo kita turun.” Zeroun mengukir senyuman sebelum keluar dari dalam mobil. Pria itu berjalan mengitari mobil untuk menyambut Emelie turun dari dalam mobil.
Dengan hati-hati Emelie melangkahkan kakinya hingga menapak sempurna. Satu tanganya mengenggam erat lengan kekar Zeroun. Tatapan matanya dipenuhi kebencian saat memandang Damian dan Adriana yang ada di lokasi itu.
“Selamat siang, Zeroun Zein. Senang bertemu denganmu kembali.” Damian menatap wajah Emelie dengan tatapan menghina, “Putri Emelia, apa anda baik-baik saja? Oiya, saya sampai lupa. Selamat ulang tahun, Putri Emelie.”
Adriana menatap tajam wajah Emelie. Ingin sekali wanita itu menerkam Emelie dan membunuh Emelie saat itu.
“Terima kasih atas perhatian yang anda berikan, Pangeran Damian.” Zeroun memandang satu persatu wajah Gold Dragon yang kini sudah memenuhi lokasi itu. Beberapa pasukan milik Damian juga ada di situ dengan posisi siap siaga.
“Apa kau pikir aku pria bodoh yang bisa kau kalahkan dengan mudah Zeroun. Siang ini kau tidak hanya ingin membahas masalah kerja sama kita bukan?” Damian menarik pinggang Adriana. Mengecup bibir Adriana dengan cukup mesra, “Aku tahu kalau kau mengincar nyawaku dan calon istriku hari ini.”
Zeroun memasang ekspresi dingin yang cukup menyeramkan, “Bagus jika anda sudah tahu sejak awal. Sepertinya aku tidak perlu terlalu banyak basa-basi.” Zeroun mengeluarkan pistol yang telah ia persiapkan sejak awal. Diikuti dengan pasukan Gold Dragon.
Damian menatap tajam wajah Zeroun dan Emelie secara bergantian. Kini pasukan milik Damian juga sudah menodongkan senjata untuk melindunginya.
“Sayang, kau boleh menembak dua manusia tidak berguna ini sekarang,” ucap Zeroun sambil memberikan pistol yang ia miliki kepada Emelie.
Like dan Vote jangan lupa...💗