Moving On

Moving On
Tidak Terduga



Emelie menaiki kuda menuju ke arah hutan tempat Adriana berada. Tadi salah satu pengurus kuda mengatakan kalau Adriana bersama dengan Pangeran Damian menuju ke hutan hanya berdua saja. Hati Emelie diselimuti rasa curiga yang begitu besar. Belum pernah ia melihat Pangeran Damian dan Putri Adriana berbicara dengan akrab.


Pertemuan tersembunyi mereka hari ini menimbulkan cukup banyak tanda tanya. Enam pengawal kerajaan juga megikuti Emelie secara sembunyi-bunyi. Emelie memberi perintah kepada pengawal itu untuk melindunginya secara diam-diam.


Kuda yang ditumpangi Emelie berhenti di pinggiran danau. Tidak terlihat batang hidung Adriana dan Pangeran Damian di sana. Hanya ada dua kuda yang terikat di batang pohon. Emelie memutar-mutar kudanya mencari keberadaan dua orang yang ia cari.


“Dimana mereka?” ucap Emelie dengan penuh tanda tanya.


Terdengar suara tawa seorang wanita dari lokasi yang tidak terlalu jauh. Emelie sangat kenal suara itu. Suara itu milik Adriana. Tidak ingin cepat diketahui keberadaannya siang itu. Emelie memutuskan turun dari kuda dan berjalan menuju keberadaan Adriana.


Di tengah-tengah taman bunga yang tidak terlalu luas. Ada banyak bunga mawar merah yang sedang bermekaran. Harumnya bunga itu, juga tercium di hidung Emelie. Ditengah-tengah taman bunga. terlihat Adriana dan Damian yang sedang memetik bunga. Keduanya terlihat kompak dan bersahabat.


Emelie berjalan pelan mendekati keduanya.


“Putri, kenapa Putri bisa ada di sini?” tanya Adriana dengan wajah kaget.


“Aku ingin menemuimu. Tapi, sepertinya aku mengganggu kalian saat ini.” Emelie memandang wajah Damian dan Adriana secara bergantian.


“Tidak, Putri. Jangan salah paham. Kami tidak sengaja bertemu. Pangeran Damian pria yang romantis dan lembut. Ia datang ke kebun ini hanya untuk memetik bunga untuk Putri.” Adriana tersenyum memandang Pangeran Damian.


“Jika suatu hari nanti Adriana diberi jodoh, Adriana ingin pria baik seperti Pangeran Damian,” sambung Adriana lagi.


“Ambil saja pria itu, Aku juga tidak ingin menikah dengannya.” Emelie memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.


“Putri Emelie, tunggu.” Damian mengejar Emelie untuk mencegah wanita itu pergi.


Adriana tersenyum kecil memperhatikan Emelie dan Damian dari kejauhan. Mencengram kuat kelopak bunga mawar yang ada di genggaman tangannya.


“Keberuntungan masih ada dipihakku hari ini,” ucap Adriana sebelum membuang bunga-bunga yang ada di tangannya.


Sebelum Emelie tiba. Pelayang pribadi milik Adriana telah tiba lebih dulu. Pelayan itu menceritakan tentang kunjungan Emelie dan pil kontrasepsi yang ada di atas meja miliknya. Tidak ingin kalah dengan Emelie, Adriana dan Damian memikirkan cara baru untuk menghilangan kecurigaan Emelie siang itu.


Di tempat lain. Damian menarik tangan Emelie untuk menghentikan wanita itu. Bibirnya tersenyum kecil sambil menyodorkan bunga mawar yang sempat ia petik di taman.


“Putri Emelie, apa anda cemburu?” ucap Pangeran Damian dengan penuh percaya diri.


“Cemburu?” tanya Emelie dengan wajah kesal.


“Anda pergi saat melihat saya dan Putri Adriana di taman bunga tadi. Saya memetik bunga ini khusus untuk anda, Putri. Hari ini anda terlihat sedih setelah pulang dari pemakaman. Saya ingin menghibur Putri Emelie dengan bunga yang indah ini.” Pangeran Damian menatap bunga mawar yang tidak kunjung di sentuh oleh Emelie.


Emelie menerima bunga itu, menciumnya dengan penuh penghayatan. Namun, dalam sekejap ia melemparnya ke tanah. Bunga itu jatuh dengan kelopak bunga yang berserak. Emelie memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan Damian.


Damian masih tetap berdiri di tempat itu memperhatikan Emelie yang pergi dengan kudanya. Melipat kedua tangannya sambil tersenyum tipis.


“Sepertinya Aku harus mencari cara untuk memberimu pelajaran, Emelie.” Wajah Damian berubah jahat.


***


Emelie menunggangi kuda dengan cepat. Ia ingin segera kembali ke istana. Tadinya ia ingin bermain bersama dengan Adriana. Namun, semua keceriaannya luntur saat melihat wajah Pangeran Damian. Wajah Pria yang paling ia benci dan ingin ia musnahkan saat ini.


“Kenapa pria itu tinggal disini terus-terusan. Kenapa dia tidak kembali ke Monako.” umpat Emelie kesal sambil menarik-narik tali kuda agar segera tiba dilokasi yang ingin ia tuju.


“Putri awas,” teriak salah satu pengawal tersembunyi Emelie. Satu anak panah meluncur ke arah tubuh Emelie. Mata Emelie membulat lebar. Dengan sigap, Emelie memutar kudanya lalu menangkap anak panah itu. Memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.


“Putri, anda tidak apa-apa? Maafkan kami Putri.” Beberapa pengawal bersujud di atas rumput.


“Aku baik-baik saja.” Emelie memperhatikan anak panah yang ada di tangannya. Memperhatikan lagi keadaan sekitar yang terlihat sunyi.


“Ayo kita kembali ke Istana. Susul Putri Adriana agar ia juga kembali ke Istana,” perintah Emelie sebelum melajukan kudanya lagi.


Dari balik pohon, Damian tersenyum licik sambil menggenggam busur panah di tangannya.


“Wanita itu cukup waspada juga.” Damian pergi meninggalkan tempat itu.


Beberapa saat kemudian, Emelie telah tiba di Istana dengan selamat. Siang yang terik membuat tubuh Emelie berkeringat. Dengan langkah cepat, Emelie berjalan menaiki anak tangga. Ia ingin segera mandi siang itu. Tubuhnya terasa lengket atas keringat yang berkucur deras di tubuhnya.


***


Satu minggu kemudian.


Malam ini Emelie akan menghadiri pesta untuk menemani Pangeran Damian. Putri Adriana juga akan hadir di pesta itu untuk menghadiri undangan yang ditujukan untuk Istana.


Emelie dan Pangeran Damian masuk ke dalam gedung dengan bergandengan tangan. Sedangkan Adriana, berjalan sendiri di samping Emelie. Kedatangan Anggota kerajaan itu menjadi sorotan semua tamu undangan yang hadir di pesta. Emelie melambaikan tangan dengan senyuman saat melihat beberapa tamu yang menyambut kedatangannya.


Malam itu Emelie mengenakan Gaun panjang berwarna gold dengan taburan mutiara berwarna putih. Kalung berlian dengan rambut tersanggul membuat Emelie terlihat sangat cantik. High Heels berwarna emas dan tas kecil berwarna hitam menjadi penyempurna penampilannya malam itu.


“Sayang, ayo kita duduk di sana.” Damian membawa tubuh Emelie ke sebuah kursi yang sudah di siapkan untuk mereka. Namun, langkah mereka terhenti saat mendengar teriakan Adriana.


Adriana hampir terjatuh saat seseorang menabrak tubuhnya. Tas yang ia genggam terlepas dan jatuh di lantai. Emelie dan Damian memutar tubuhnya untuk melihat Putri Adriana. Memandang wajah pria yang menabrak tubuh Adriana saat itu. Keduanya terlihat kaget, saat melihat sosok pria yang baru saja menabrak tubuh Adriana.


“Zeroun,” ucap Damian dengan senyum penuh arti.


Zeroun menatap wajah Damian dan Emelie secara bergantian. Tatapannya ia alihkan kepada tas Adriana yang terjatuh di lantai.


“Maafkan saya, Putri. Saya tidak hati-hati.” Zeroun mengambil tas itu lalu memberikannya kepada Adriana.


Adriana menerima tas itu dengan raut wajah tidak suka. Namun, tatapannya berubah serius saat melihat wajah Zeroun yang tidak asing bagi dirinya.


“Tuan Zeroun, sudah lama kita tidak bertemu. Ayo ikut masuk bersama dengan kami. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan.” Damian tersenyum kecil memperhatikan wajah Emelie yang hanya diam tanpa kata.


Zeroun mengangguk pelan. Mengikuti rombongan Damian menuju ke sebuah kursi yang ada di aula pesta itu.


Emelie tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Zeroun di tempat itu. Selama ini dia berusaha untuk mencari Zeroun, namun tidak berhasil. Tapi, malam ini ia bertemu secara tidak sengaja. Ada rasa bahagia di dalam hatinya karena bisa bertatap muka langsung dengan Zeroun malam itu.


Like nya makin hari kok makin sedikit. tpi jumlah yang baca nambah...😔 Gimana mau up bnyk, kalau yg baca GK mau like.