Moving On

Moving On
Latihan Menembak



Matahari terlihat sangat cerah saat itu. Hembusan angin membuat rasa panas akibat sengatan matahari tidak terlalu terasa. Emelie mengukir senyuman saat melihat Zeroun muncul dengan satu senjata api di tangannya. Pistol berwarna hitam mengkilat itu akan segera ada di genggamannya. Putri kerajaan itu sudah tidak sabar untuk bermain-main dengan senjata berbahaya itu. Ada senyum bahagia yang sejak tadi terukir indah di wajah cantiknya.


Zeroun memberikan pistol itu kepada Emelie. Pria itu menatap tajam wajah kekasihnya yang kini terlihat berseri. Perasaan di dalam hatinya cukup campur aduk. Ini pertama kalinya ia mengajari seorang wanita untuk menembak. Bukan hanya wanita biasa. Wanita yang akan menjadi muridnya adalah kekasihnya sendiri. Wanita yang sangat ia cintai.


“Apa kau tahu cara memasukkan pelurunya, Emelie? Jangan bilang kalau kau bisa menembak dengan bagus tetapi tidak tahu dimana letak pelurunya,” ledek Zeroun sambil menarik tubuh Emelie agar membelakanginya. Bos mafia itu mendekap tubuh kekasihnya dari belakang. Mengajari Emelie cara mengisi peluru ke dalam senjata api itu, “Di sini,” bisik Zeroun di telinga Emelie.


Emelie mengatur napasnya saat kini tubuh pria itu lagi-lagi melekat di tubuhnya. Wanita itu menatap wajah Zeroun yang masih ada di atas bahunya. Kedua bola mata Zeroun terlihat sangat jelas siang itu. Aroma tubuh Zeroun juga sangat terasa. Emelie mengukir senyuman saat menatap wajah sempurna milik kekasihnya itu.


“Baby, jangan menatapku. Tapi, lihatlah bidik sasaran itu.” Zeroun mengecup pipi Emelie.


Emelie tersadar dari lamunannya. Wanita itu mengangkat pistol yang kini ada di genggaman tangannya. Dengan penuh kosentrasi Emelie berusaha untuk menembakkan peluru itu agar tepat sasaran.


DUARR


Lagi-lagi tembakan wanita itu tepat sasaran. Sepertinya benar-benar tidak sulit bagi Emelie untuk menguasai senjata api itu.


“Kau memang wanita yang hebat. Darimana kau belajar menembak?” tanya Zeroun penasaran. Pria itu memeluk tubuh Emelie dari belakang.


“Ini pertama kalinya aku memegang senjata api seperti ini,” jawab Emelie sambil tersenyum.


“Benarkah?” tanya Zeroun sambil mengeryitkan dahi.


Emelie mengangguk, “Apa aku sudah lulus dan bisa memiliki senjata ini?”


“Ya, senjata itu sekarang jadi milikmu. Ingat, hanya untuk melindungi dirimu selama dalam bahaya. Tidak untuk hal lain yang membuatku khawatir saat memikirkanmu.”


Emelie mengukir senyuman, “Baik, Bos.”


Sepasang kekasih itu tertawa bersama-sama dengan wajah bahagia. Kolam renang dengan genangan air berwarna biru cukup mengugah keinginan Emelie untuk mandi. Wanita itu melepas tangan Zeroun yang sejak tadi melingkari tubuhnya.


“Ayo kita berenang. Bukankah sudah berulang kali rencana renang kita gagal?” Emelie menatap wajah Zeroun dengan seksama. Kini putri kerajaan itu berdiri tepat di hadapan Zeroun. Menantang Zeroun untuk berenang bersama di bawah cahaya matahari yang bersinar terang.


“Baiklah, kali ini aku akan menuruti semua permintaanmu, Sayang. Seluruh waktu yang aku miliki hanya milikmu,” ucap Zeroun sambil mencubit hidung Emelie. Pria itu mengukir senyum indah yang memancarkan wajah bahagianya.


***


Di pantai.


Lana berlari-lari di pinggiran pantai untuk bermain dengan ombak. Wanita itu cukup bahagia saat itu. Hembusan angin membuat rambutnya yang lembut sedikit berantakan. Dari kejauhan, Lukas berdiri menatap wanita tangguh itu tanpa berkedip. Tingkah laku Lana memang sangat berbeda dari yang lain. Lana tergolong pembakang yang pertama kali ia temui.


Sejak awal, pria itu membawa Lana ke pantai untuk latihan menembak. Tetapi wanita itu justru berlari ke pantai tanpa peduli dengan suasana hati Lukas saat itu. Ada tawa dan rasa bahagia yang sengaja diciptakan Lana.


“Tunggu sebentar. Kau tidak ingin bermain di sini? Kemarilah, tempat ini sangat menyenangkan. Lagian nanti juga aku yang akan menang,” jawab Lana penuh rasa percaya diri. Wanita itu sudah menyiapkan trik agar pertarungannya dengan Lukas kali ini ia menangkan.


“Aku akan memberimu hukuman, jika kau tidak kemari dalam waktu lima detik. Satu,” ucap Lukas dengan suara menantang Lana. Pria itu mulai menghitung detik terakhir yang dimiliki Lana sebelum wanita itu berdiri di hadapannya.


“Kau memang pria yang cukup menyebalkan! Bisanya mengancam,” umpat Lana kesal yang akhirnya menurut dengan perkataan Lukas. Dengan wajah tidak suka, Lana mengambil pistol yang tergeletak di atas pasir putih. Siang ini, wanita itu lagi-lagi harus melatih kualitas tembakannya. Walaupun kualitas tembaknya sudah cukup bagus, tetap saja Lukas kurang puas dengan kemampuan wanita tangguh itu.


“Kali ini apa bidik sasarannya?” tanya Lana penuh semangat.


“Kau,” jawab Lukas santai. Pria itu mengatur posisi Lana agar berdiri dengan tegak sebelum meletakkan apel di atas kepala Lana.


“Apa kau gila, Lukas?” protes Lana tidak setuju. Wanita itu mengambil kembali apel yang ada di atas kepalanya.


“Bukankah kau tidak takut mati?” jawab Lukas santai sebelum pergi menjauh dari posisi Lana. Pria itu juga meletakkan satu buah apel di atas kepalanya, “Kali ini aku yang menjadi taruhannya. Kau pasti sudah tahu, kalau aku pasti bisa memenangkan pertandingan ini dengan mudah,” ucap Lukas penuh percaya diri.


Lana menyipitkan kedua bola matanya saat mendengarkan pernyataan Lukas, “Aku sudah bilang, kau pasti kalah kali ini.” Wanita itu mulai mengokang senjatanya. Ada rasa ragu di dalam hatinya untuk menembak apel yang kini ada di atas kepala Lukas. Sedikit saja tembakannya meleset, maka pria tangguh itu bisa meregang nyawa.


Bagaiman jika tembakan ini tidak tepat sasaran?


Lana cukup ragu saat itu. Tatapan mata Lukas yang cukup tenang, membuat keberanian di dalam hati Lana muncul. Perlahan, Lana mengarahkan pistol itu ke arah Lukas. Dengan hati-hati dan penuh kosentrasi Lana mulai membidik sasaran.


Lana memejamkan mata beberapa detik sebelum menghela napas, “Kau tidak bisa menyalahkanku. Jika tembakan ini meleset, Lukas.”


DUARR


Lana berhasil. Apel yang ada di atas kepala Lukas terpental hingga jauh. Wanita itu melompat kegirangan dengan wajah berseri, “Baiklah sekarang giliranmu,” tantang Lana. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum manis menatap Lukas.


Lukas mengangkat pistolnya dengan begitu ringan. Tanpa membidik dengan begitu serius, sudah di pastikan ia akan memenangkan pertandingan tahap pertama ini.


Tetapi, tepat di saat yang bersamaan dimana Lukas mau menarik pelatuk pistolnya. Lana berteriak dengan satu kalimat yang cukup mengagetkan Lukas.


“I Love You, Lukas,” teriak Lana.


Lukas melebarkan matanya karena kaget. Pria itu sudah terlanjur menarik pelatuk pistolnya. Peluru berwarna emas itu kini telah meluncur dengan arah sasaran yang tidak pas.


“Lana, awas!” teriak Lukas.


Crazy up tunggu Votenya tinggi lagi ya. Terima kasih buat kalian yang sudah vote hingga bisa berada di 50 besar minggu ini.