
Beberapa saat kemudian, Pemakaman.
Di sebuah pemakaman yang cukup luas, ada beberapa pasukan Gold Dragon yang sedang memberi penghormatan terakhir kepada Agen Mia. Foto wanita itu terletak di depan batu nisan dengan senyuman yang cukup indah. Suasana haru dan cukup hening.
Dedaunan kering dari pepohonan berterbangan mengikuti kemana arah angin membawanya. Di depan pemakaman, Shabira berdiri dengan tetes air mata yang cukup deras. Di sampingnya ada Kenzo yang sedang merangkul pundak wanita hamil itu.
Shabira meletakkan foto dirinya dan Agen Mia waktu dulu di depan batu nisan. Foto dua wanita itu terlihat kompak dan ceria. Ada gunung salju yang menjadi latar foto mereka berdua. Shabira mengukir senyuman, “Aku akan selalu mengingatmu.”
Kenzo membantu Shabira agar berdiri, “Kita harus kembali.”
Shabira mengangguk pelan. Sekali lagi ia melihat makam Agen Mia sebelum akhirnya memutar tubuh dan memutuskan untuk pergi. Diikuti beberapa pasukan Gold Dragon yang berbaris rapi di belakangnya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ada Lukas dan Lana yang berdiri di sana. Mereka tampak belum berbaikan hanya karena masalah tadi. Lukas menatap waspada ke segala arah pemakaman tersebut. Ia tidak ingin sampai kehilangan Inspektur Tao lagi. Hari ini, saat pemakaman Agen Mia merupakan momen yang tepat untuk bertemu dengan Inspektur Tao.
Namun, sudah cukup lama Lukas menunggu. Pria itu tidak juga muncul di lokasi pemakaman. Lukas tidak tahu, harus dimana mencari keberadaan Isnpektur Tao. Ia cukup yakin, kalau Inspektur Tao masih ada di kota yang sama dengannya.
Lana memperhatikan kepergian Shabira dan Kenzo. Wanita itu memutar tubuhnya dengan niat untuk kembali ke markas. Namun, gerakannya terhenti saat Lukas mencengkram kuat tangannya. Pria itu menggeleng pelan lalu membawa Lana bersembunyi di balik pohon yang cukup besar.
Tubuh Lana bersandar di pohon. Lukas berdiri di hadapanya dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan napas pria itu juga bisa di rasakan dengan jelas oleh Lana.
“Apa yang kau lakukan?” ucap Lana pelan.
Lukas meletakkan satu jarinya di bibir Lana. Pria itu menatap wajah kekasihnya dengan seksama. Tiba-tiba saja jari yang tadi ada di bibir Lana sudah berpindah ke pipi Lana. Pria itu mengusap lembut pipi kekasihnya dengan penuh perasaan.
Lana mengatur debaran jantungnya yang sudah tidak karuan. Ia kembali ingat, kalau kini sedang marah dengan Lukas. Lana tidak ingin memaafkan kelakuan Lukas secepat itu.
Lana menaikan satu tangannya berniat untuk mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya. Namun, gerakannya terhenti Lukas mengambil pistol dan mencengkramnya dengan erat. Kedua bola mata pria itu tidak lagi memandang wajah Lana.
Dari arah pemakaman, telah muncul seorang pria mengenakan topi dan kaca mata hitam. Gerak-gerik pria itu sama dengan Inspektur Tao. Hanya saja, Lukas masih ragu. Dengan seksama, Lukas memperhatikan pria itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Suasana di lokasi pemakaman itu cukup hening, hingga membuat Lukas bisa mendengar perkataan pria itu dengan jelas.
“Mia, maafkan aku. Aku sudah ceroboh. Seharusnya aku memperingatimu sejak dulu. Maafkan Aku, Mia. Tidurlah dengan tenang di sana. Kau harus bahagia di sana.”
Setelah mendengar pria itu mengeluarkan suara. Lukas semakin yakin kalau pria itu benar Inspektur Tao. Lukas keluar dari tempat persembunyiannya. Diikuti Lana di belakangnya. Pria itu ingin menangkap Inspektur Tao dan membawanya untuk bertemu dengan Zeroun.
Dengan gerakan cepat, pria itu berdiri dan menodongkan senjata ke arah Lukas, “Jangan mendekat. Aku tidak ingin berbicara dengan siapapun bahkan bertemu dengan siapapun itu.”
Lukas menahan langkah kakinya. Pria itu semakin yakin, kalau pria itu benar Inspektur Tao, “Bos Zeroun ingin bertemu dengan anda. Ada hal penting yang ingin ia jelaskan kepada Anda, Inspektur Tao.”
Inspektur Tao tertawa kecil dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca sebelum akhirnya, wajahnya kembali sedih, “Aku tidak ingin bertemu dengan kalian lagi. Kalian tidak memiliki hati.”
“Anda harus ingat, kalau kami mafia bukan polisi. Kami akan menghukum orang yang bersalah dengan kematian.” Lukas mengangkat senjata apinya, “Menurutlah. Jangan membantah lagi agar kita tidak bermusuhan.”
“Cih, semudah itu kau memintaku menyerah. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun!” ucap Pria itu lalu memalingkan wajahnya. Ia berjalan dengan tenang untuk meninggalkan pemakaman itu. Pria itu cukup yakin, kalau Lukas tidak akan berani melukainya.
“Inspektur Tao,” ucap seseorang dari kejauhan.
Zeroun dan Emelie baru saja muncul di pemakaman itu. Ada Shabira dan Kenzo juga di belakang pria itu. Mereka menatap wajah Inspektur Tao dengan tatapan yang cukup serius.
“Zeroun, aku masih menganggapmu sebagai sahabatku. Jadi, tolong jangan membuat diriku membencimu. Aku ingin sendiri dan jangan ganggu aku lagi.” Inspektur Tao menatap wajah Zeroun dengan seksama.
Zeroun mengeluarkan kertas dari dalam sakunya, “Aku hanya ingin memberikan ini. Kami menemukannya di dalam kamar Mia.”
Inspektur Tao memandang surat itu. Ia berjalan mendekat untuk menerima surat tersebut. Setidaknya ia masih bisa membaca sebuah kata yang ditulis langsung oleh tangan adik kesayangannya.
Zeroun memberikan surat itu. Pria itu menarik Emelie ke dalam pelukannya untuk berjaga-jaga jika Inspektur Tao berbuat yang aneh-aneh, “Kau bisa tahu, alasanku membunuhnya malam itu.”
Inspektur Tao membuka surat itu. Betapa kagetnya pria itu saat melihat tulisan Agen Mia di dalam surat itu. Semua berisi nama-nama orang yang ingin ia bunuh. Ada Lukas, Lana, Emelie bahkan Inspektur Tao. Hanya Zeroun yang tidak tertulis di dalam keras itu.
“Tidak mungkin. Kau pasti merekayasa semua ini,” ucap Inspektur Tao tidak percaya, “Mia tidak mungkin membunuhku.”
“Apa kau yakin kalau Mia tidak memiliki dendam apapun terhadap dirimu?” ucap Zeroun dengan tatapan membunuh.
Beberapa jam sebelum penembakan.
Zeroun dan Emelie baru saja tiba di markas. Mereka terlihat sangat bahagia. Sepasang suami istri itu berjalan ke arah kamar dengan canda tawa.
“Sayang, aku ingin pergi bersama dengan Lukas. Sebentar saja, Aku akan kembali secepatnya.” Zeroun berdiri di hadapan Emelie dengan wajah yang cukup menyakinkan.
“Kakak, biar aku yang menemani Kak Emelie,” ucap Shabira dari kejauhan. Wanita hamil itu muncul bersama dengan Kenzo di sampingnya.
Shabira dan Kenzo sudah tahu urusan penting apa yang ingin diselesaikan oleh Zeroun. Mereka berusaha untuk membantu Zeroun agar Emelie tidak mencurigainya sama sekali.
“Aku akan menemanimu.” Kenzo mengukir senyuman penuh arti.
Zeroun mengangguk pelan, “Sayang, aku pergi dulu.” Zeroun mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Emelie sebelum berlalu pergi dari tempat itu.
Di depan markas, pasukan Gold Dragon telah berbaris rapi. Ada Lukas juga yang sedang menyambut kedatangan Zeroun. Pria itu menunduk hormat diikuti dengan pasukan miliknya di belakang.
“Bos, saya menemukan ini di dalam kamar Agen Mia. Wanita itu tidak waras. Bagaimana mungkin ia memiliki niat untuk membunuh semua orang termasuk Inspektur Tao.” Lukas memberikan kertas yang baru saja ia temukan.
Zeroun menerima surat tersebut. Pria itu tidak memasang reaksi apa-apa saat melihat tulisan di dalamnya. Wajahnya tetap terlihat tenang dan tidak terbaca, “Kita harus segera menyelesaikan semuanya.”
Zeroun memberikan surat itu kepada Lukas, “Simpan dengan baik. Kita pasti akan membutuhkannya nanti.”
Zeroun, Lukas dan Kenzo pergi menuju ke dermaga tempat Agen Mia akan di eksekusi. Tiga pria itu tiba setelah beberapa menit kemudian. Dermaga itu sudah penuh akan pasukan Gold Dragon. Mereka terlihat kompak untuk menyambut kedatangan Zeroun malam itu.
Zeroun berdiri di depan Agen Mia. Wanita itu kakinya sudah terikat hingga tidak bisa berlari untuk kabur. Tubuhnya berdiri di pinggiran dermaga dengan wajah yang cukup menyedihan. Bibirnya gemetar karena ketakutan.
“Mia, ada hal lain yang ingin kau sampaikan? Kau memang memiliki niat jahat dengan keluargaku sejak awal. Aku hampir saja melakukan kesalahan dengan memasukkan pembunuh di dekat orang-orang yang kusayangi. Tapi, aku tidak menyangka kalau kau juga ingin membunuh orang yang menjadi keluargamu.”
Mia tertawa cukup keras. Wanita itu seperti orang gila yang telah kehilangan harga dirinya, “Maksudmu, Inspektur Tao?” ucap Agen Mia masih dengan tawa yang cukup keras.
“Ya. Jika kau tidak keberatan, aku bisa membantumu untuk menyampaikan rasa sakit hatimu kepadanya,” ucap Zeroun dengan ekspresi wajah yang tenang.
“Dia terus-terus saja menghalangiku. Aku membencinya. Aku ingin dia ada di pihakku. Membunuh setiap orang yang aku benci.”
“Kau memang wanita gila yang pantas mati,” ucap Kenzo dengan wajah jijik.
“Kau tidak menyukai orang baik?” Zeroun menghela napas, “Baiklah. Sepertinya wanita sepertimu memang tidak layak untuk hidup.” Pria itu mulai mengangkat pistol yang sejak tadi ia bawa.
***
Semua orang membisu saat mendengar cerita Zeroun. Inspektur Tao menatap wajah Zeroun dengan seksama. Tiba-tiba saja pria itu terjatuh di rerumputan dengan posisi berlutut. Ia menangis dengan wajah sedih dan tidak terima, “Aku yang salah. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu padanya. Seharusnya aku mendukung semua keinginannya.” Surat yang ada di dalam genggamannya ia remas dan ia buang begitu saja. Inspektur Tao terlihat sangat menyesali perbuatannya.
“Anda tidak salah, Inspektur Tao. Mia yang bersalah. Wanita itu telah dibutakan oleh cinta, hingga akhirnya membuat dirinya menjadi pribadi yang serakah. Anda sudah benar, menjadi sosok yang menasehati adik anda agar tidak terjebak di dalam masalah,” ucap Emelie dengan wajah yang cukup serius.
Inspektur Tao hanya diam membisu. Ia masih belum bisa menerima kenyataan pahit, dimana Agen Mia juga memiliki niat untuk membunuhnya.
“Kami, keluarga anda. Sejak kemarin dan seterusnya,” ucap Zeroun dengan penuh ketulusan.
Inspektur Tao beranjak dari posisinya. Ia berdiri dan menatap wajah Zeroun dengan seksama, “Terima kasih, Zeroun. Kau memang pria yang baik. Pantas saja Mia tergila-gila denganmu hingga menjadi seperti sekarang.”
“Saya bukan pria baik. Anda salah jika mengatakan hal itu. Saya pria yang jahat bahkan sangat jahat,” jawab Zeroun sambil memandang wajah Inspektur Tao.
Inspektur Tao menggeleng pelan, “Namaku sudah bersih. Mulai sekarang, aku sudah bisa menjabat sebagai polisi lagi. Itu salah satu bukti kalau kau pria yang baik.”
“Aku melakukan semua itu karena ada tujuannya,” sambung Zeroun.
Emelie mengukir senyuman, “Zeroun ingin, anda menjadi pengawal pribadi saya selama ada di Istana Cambridge,” ucap Emelie dengan suara yang lembut.
“Putri, apa anda serius dengan perkataan anda? Saya bisa menjadi pengawal pribadi Putri?” Inspektur Tao sangat bahagia. Memang itu impiannya sejak dulu.
“Ya. Anda pria yang pas untuk menjaga istri saya selama saya menyelesaikan tugas di luar istana.” Zeroun memberi keyakinan kepada Inspektur Tao agar pria itu percaya.
“Terima kasih, Pangeran Zeroun, Putri Emelie,” ucap Inspektur Tao dengan wajah bahagia. Ia tidak lagi ingat dengan kesedihannya atas kepergian Agen Mia.
Semua orang kembali tersenyum bahagia. Setidaknya, masalah dengan Inspektur Tao berakhir dengan persahabatan. Tidak ada lagi dendam yang harus di bayar.
Emelie memandang langit biru yang terbentang di atas kepalanya. Wanita itu mengukir senyuman sambil membayangkan wajah-wajah orang yang ia sayangi. Orang-orang yang sudah tidak bisa lagi ia temui di dunia ini.
“Aku merindukan kalian semua,” gumamnya di dalam hati.
************
Senengnya bisa dapet banyak respon dari reader. Komennya bagus2 lagi. Belum nyasar si reader julid ke novel ini. Alhamdulillah…
🥰
Reader : Thor, Kira2 gimana ya reaksi pasukan Gold Dragon lihat bos mereka pake baju coupel.😀
Author : Cukup Lana sama Emelie aja yang jahil. Kalian jangan ikut-ikutan atuh.
🙄
Reader : Kan lucu Thor. Bos mafia pake baju coupel dengan gambar hati. Warna pink. lagi.🤣
Author : Awas di Doooorrr Lu sama Boz Zeroun bilang2 lucu.😎
Reader : Thor, Serena gak datang? Kangeeeennn🤗
Author : Ya, dia datang. Tapi tunggu part mau tamat. Jadi di tunggu aja ya reader sayang.😁
Reader : Thor, Morgan mana? Gak di lupain kan?😅
Author : Gak lah. Nanti malam dia uda muncul.🤭
Reader : Thor, aku gak bisa vote karena gak ada koin.🤧
Author : Bisa sayang, bisa. Pake Poin. Ada di pusat misi bisa di ambil setiap hari.
🤗
Uda segitu aja pertanyaan yang gak bisa di balas satu persatu. Author sayang kalian. Love-love pull.💓💓💓💓💓