Moving On

Moving On
Tidak Kembali



Di dalam kamar yang terlihat hening dengan hembusan angin yang kencang. Rambut panjang berwarna cokelat itu berterbangan dengan begitu indah. Emelie duduk di tepi tempat tidur menghadap ke arah jendela.


Sejak Zeroun pergi meninggalkannya tadi pagi. Hatinya tidak lagi bisa merasakan ketenangan. Debaran jantungnya dipenuhi rasa khawatir dan gelisah. Sesekali Emelie berdiri sambil memandang ke arah pintu. Tidak ada suara apapun yang terdengar.


Lorong kamar itu benar-benar terasa sangat sunyi seperti tidak ada penghuni. Emelie mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Wanita itu membuka gorden kamarnya untuk melihat tamu yang datang. Telah terparkir mobil hitam dengan bentuk yang biasa di gunakan oleh Zeroun Zein di halaman depan.


Bibirnya mengukir satu senyuman indah. Putri Kerajaan itu berlari kencang meninggalkan kamarnya yang terletak di lantai dua. Berlari cepat menuruni anak tangga. Emelie sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh tunangannya.


Emelie membuka pintu rumah itu dengan wajah ceria. Ia berlari kencang menuju mobil Zeroun. Langkahnya terhenti saat tidak melihat wajah Zeroun di tempat itu. Wanita itu terus-terusan menggerak-gerakkan kepalanya untuk mencari.


Hanya ada Lukas dan Lana yang berdiri di hadapannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja napasnya terasa sangat sesak dan bibirnya gemetar. Matanya perih walalupun ia tidak tahu, kenapa juga harus sedih.


Lana dan Lukas menunduk dengan wajah sedih. Kedua tangan kanan tunangannya itu mengunci mulutnya tanpa berani mengeluarkan kata.


Emelie berjalan mendekati mobil Zeroun. Masih tersimpan harapan besar di dalam hatinya kalau Zeroun bersembunyi di dalam mobil.


“Dimana Zeroun?” Emelie mencari–cari ke dalam mobil. Tetapi, tidak ada seorangpun didalamnya. Hanya ada beberapa senjata api yang berserak di atas jok mobil.


“Apa dia masih ada urusan?” Emelie berusaha tegar. Ia tidak ingin pikiran negatife itu mempengaruhi perasaannya. Wanita itu berdiri dengan senyuman terpaksa dibibirnya untuk memandang wajah Lukas dan Lana secara bergantian.


“Apa yang terjadi?” Entah kenapa, saat mengeluarkan perkataan itu tubuhnya terasa gemetar. Ia belum siap untuk mendengar satu kalimat yang selalu ia benci selama hidupnya.


Lana terlihat menyeka air mata dengan tangisan senggugukan, sedangkan Lukas berdiri tegak dengan mata berkaca–kaca.


“Ada apa? Dimana Zeroun?” Suara Emelie mulai serak. Napasnya terasa semakin sesak, matanya tiba–tiba saja terasa perih dengan buliran air mata yang tiba-tiba saja menetes. Kakinya mulai terasa lemah seperti tidak siap untuk menerima kenyataan buruk itu.


“Maaf Nona, kami tidak berhasil menolong Bos Zeroun.” Lukas memejamkan matanya menahan sesak di dalam dadanya. Selama bertahun-tahun bertarung bersama Zeroun. Detik ini adalah titik dimana pria tangguh itu meneteskan air mata karena gagal. Ya, mereka memang berhasil menghancurkan Heels Devils, tapi mereka gagal menyelamatkan Zeroun dalam pertempuran mengerikan itu. Jika masih diberi kesempatan untuk memilih. Lukas lebih memilih kalah hari ini daripada harus kehilangan Zeroun untuk selamanya.


Emelie menggeleng kepalanya sambil mundur beberapa langkah. Wanita itu tidak terima dengan kabar yang baru saja di sampaikan oleh Lukas. Untuk ketiga kalinya ia harus merasakan kehilangan. Gak, Emelie gak mau merasakan perasaan sedih itu. Hatinya menolak untuk kehilangan sekali lagi.


“Kalian bohong! Beritahu saya di mana dia saat ini?” teriak Emelie semakin prustasi. Suaranya hampir hilang karena tangisan yang begitu menyedihkan. Jantungnya seperti diremas hingga ia merasakan satu rasa perih yang sangat menyakitkan.


“Kalian Mafia besar, kenapa ini semua bisa terjadi?” Kaki Emelie tidak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk di atas permukaan tanah.


“Nona.” Lana berjalan mendekati Emelie.


“Dia janji ....” Air mata itu tidak lagi bisa dibendung. Putri Kerajaan itu lagi-lagi menangis sambil meratapi nasip sedih yang selalu membuatnya merasakan kehilangan.


“Aku ingin bertemu dengannya.” Emelie berusaha bangkit dan berdiri. Kedua bola mata birunya menatap Lukas dengan tajam. Ia berjalan mendekati tubuh orang kepercayaan tunangannya.


“Dimana dia? Dia berjanji untuk kembali dan menikahiku.” Emelie memukul–mukul dada Lukas untuk meluapkan emosinya.


“Kembalikan dia padaku!” teriak Emelie sekali lagi. Wanita itu benar-benar frustasi dengan apa yang ia rasakan saat ini.


“Maafkan saya, Nona,” ucap Lukas dengan nada yang sangat pelan. Lana juga menangis saat melihat kesedihan yang kini di rasakan oleh Emelie. Wanita itu bahkan tidak lagi sanggup untuk mengeluarkan kata.


“Nona, kita harus segera meninggalkan tempat ini.” Lukas menyeka satu tetes air matanya yang sempat jatuh, “Polisi akan menangkap kami jika kami tidak segera meninggalkan Brasil,” sambung Lukas dengan perasaan perih yang luar biasa.


“Pergi kau bilang? Bagaimana kalau Zeroun kembali? Dia akan mencariku di rumah ini. Dia memintaku untuk menunggu.” Emelie menjauh dari Lukas.


“Aku akan tetap di sini untuk menunggunya.” Emelie berusaha tegar. Ia masih menyimpan harapan kalau Zeroun akan segera kembali datang untuk menemuinya sebentar lagi.


“Bos Zeroun meminta kami untuk mengantar anda ke Istana, jika ....” ucapan Lukas terhenti. Bibirnya tidak lagi sanggup untuk melanjutkan kalimat itu.


“Kami akan mengantar anda kembali ke Inggris, Nona,” sambung Lukas cepat.


Emelie membisu. Air mata mengalir begitu saja, untuk yang ketiga kalinya ia harus merasakan kehilangan. Semua janji dan kata–kata manis Zeroun hilang begitu saja. Emelie mematung dengan hati yang dipenuhi luka.


Wanita itu terjatuh lagi dengan tangis senggugukan. Matanya mulai lelah, ia lelah untuk menangis karena kehilangan. Emelie masih berharap ini semua hanya mimpi buruk. Emelie tergeletak di atas tanah dengan kondisi tidak sadarkan diri.


Lana dan Lukas berlari mendekati Emelie. Dari kejauhan, terdengar sirine polisi yang hampir dekat dengan rumah itu. Lukas mengangkat tubuh Emelie dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tidak ada waktu lagi. Kini mereka menjadi salah satu buronan yang dicari oleh seluruh aparat negara yang ada di Brasil.


Lana dan Lukas masuk ke dalam mobil. Lukas melajukan mobil itu dengan cepat untuk menghindari kejaran polisi. Masih mengiang jelas di dalam pikirannya, saat Zeroun dan Jesica jatuh ke dalam lubang yang begitu dalam. Lubang yang disebabkan oleh longsornya jalanan kota akibat ledakan bom di bawah tanah.


Tadi malam, kebersamaannya dengan Zeroun adalah momen terakhirnya bisa melihat senyum ceria itu. Lukas menghapus air matanya yang terjatuh lagi. Lana memandang wajah Lukas dengan perasaan sedih juga.


Emelie tergeletak di atas pangkuan Lana. Dengan lembut Lana mengusap rambut Emelie yang begitu lembut.


“Anda harus kuat, Nona. Bos Zeroun tidak ingin anda sedih seperti ini. Kami hanya bisa berdoa. Semoga keajaiban diberikan kepada Bos Zeroun. Semoga Bos Zeroun selamat dan bisa kembali berkumpul bersama kita.” Lana menyeka air matanya yang jatuh.