Moving On

Moving On
Jebakan Part. 2



Lana terbangun di sebuah stasiun kereta api yang cukup sunyi. Ruangan itu hanya mengandalkan penerangan melalui cahaya lampu. Dengan tatapan belum jelas, Lana mengangkat kepalanya yang terasa cukup berat. Memperhatikan keadaan sekitar dengan wajah penuh tanya.


“Lukas, Joy. Kalian dimana?” ucap Lana sambil menahan sakit. Dengan hati-hati Lana beranjak dari kursi besi yang sempat ia duduki. Ada sosok pria yang berdiri tidak jauh dari posisinya tergeletak. Punggung pria itu cukup ia kenali. Dengan senyuman indah Lana berjalan untuk mendekat. Tapi, belum sempat Lana mendekat pria itu sudah lebih dulu memutar tubuhnya. Menatap wajah Lana dengan seksama.


“Apa kau sudah bangun?” tanya Lukas dengan ekspresi wajah yang menyeramkan.


Lana mengangguk, “Apa kau baik-baik saja?” Lana kembali ingat saat semua belum berubah gelap, Lana melihat jelas Lukas terjatuh di lantai.


“Apa kau berharap aku mengalami masalah?” tanya Lukas sambil menaikan satu alisnya.


Lana tersenyum kecil sambil menggeleng kepalanya, “Aku tidak mau kau terluka. Aku ingin kau baik-baik saja.”


Lana berjalan cepat ke arah Lukas. Kedua tangannya melingkari leher Lukas sebelum mengecup bibir pria itu dengan penuh kerinduan. Hatinya cukup takut jika berada jauh dari Lukas. Lana ingin pria berbahaya itu selalu ada di sampingnya.


Lukas mengeluarkan pistolnya secara perlahan. Detik itu juga ia ingin membunuh Lana atas apa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.


.


.


.


Beberapa jam yang lalu sebelum Lukas tiba.


Lukas terbangun saat Joy dan Lana meninggalkan kamar itu. Tangan kanan Zeroun Zein tidak akan semudah itu terjebak dalam rencana licik Joy. Dengan gerakan cepat, Lukas meraih pistol yang tersimpan di bawah tempat tidur. Jejak kaki polisi itu terdengar semakin mendekat. Lukas memasang wajah waspada untuk membantai habis polisi-polisi yang ingin menangkapnya saat itu.


DUARR DUARR


Tembakan demi tembakan di lepas Lukas. Pria itu bersembunyi di balik lemari untuk menghindari tembakan polisi yang ingin menyerangnya. Saat suara tembakan itu hilang, Lukas keluar dari balik lemari dan melepas beberapa peluru secara bersamaan. Dua polisi yang tersisa dan siap menangkapnya juga tewas saat itu. Ada satu senyuman terukir di bibir Lukas saat pria itu berhasil mengalahkan musuhnya pagi itu.


“Apa kalian pikir bisa menangkapku semudah itu?” Lukas berjalan pergi meninggalkan kamar yang terletak di lantai dua puluh itu. Ia ingin segera menemui Lana untuk menyelidiki latar belakang wanita itu. Entah kenapa, selama beberapa hari ini hatinya mulai curiga terhadap sikap Lana.


Di sisi lain. Joy meletakkan tubuh Lana yang masih tidak sadarkan diri di atas kursi besi. Pria itu duduk di ujung kursi sambil menatap wajah Lana. Mereka akan pergi meninggalkan Monako dengan jalur kereta api yang akan segera berangkat beberapa menit lagi. Ada senyum puas di sudut bibirnya karena berhasil mendapatkan banyak uang dari Damian.


Belum sempat ia menyelesaikan tawanya, satu benda terasa menempel di pelipis kirinya. Joy menahan napasnya saat tahu kalau benda itu adalah sebuah pistol yang cukup menyeramkan. Dengan hati-hati dan penuh ketakutan, Joy memandang wajah seseorang yang kini berani mengancam nyawanya.


“Lukas, kau,” ucapannya terhenti. Ia tidak pernah menyangka kalau Lukas masih bisa berdiri di hadapannya dalam keadaan sehat.


Lukas tidak lagi mau banyak basa-basi pria itu. Secara perlahan ia mulai menarik pelatuk pistol yang ada di genggamannya, “Tunggu dulu. Ini semua karena Lana. Ia ingin aku membantunya melakukan ini semua.”


Lukas menahan tembakannya. Dengan cepat ia memandang wajah Lana yang kini masih tertidur pulas, “Apa kau pikir aku masih percaya dengan semua kata-katamu?”


“Aku punya bukti.” Joy mengeluarkan beberapa lembar foto. Ada foto Lana yang terlihat bermesraan dengan pria yang pernah menjadi musuh bebuyutannya. Salah satu geng mafia yang sekarang identitasnya tidak tahu masih hidup atau sudah tiada. Lukas merebut foto itu menatapnya dengan seksama.


“Apa kau percaya padaku? Lana di kirim oleh pria ini untuk membunuhmu.” Joy mundur beberapa langkah, “Aku di bayar oleh Damian untuk mencelakaimu. Tapi, itu semua juga berkat bantuan Lana. Dia yang memberi semua informasi tentang Gold Dragon selama ini secara diam-diam.”


Lukas menahan sesak di dalam dadanya. Foto itu tidak mungkin salah. Lana memang pernah bilang kalau ciuman satu hal yang biasa bagi dirinya. Bahkan kemesraan Lana dengan pria yang ada di foto itu sudah bisa menggambarkan kalau Lana tidak hanya pernah berciuman dengan pria.


“Aku bisa membuktikannya saat ia terbangun nanti. Setelah kau melihat semua buktinya nanti, kau bisa menembakku sesuka hatimu.” Joy berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


Lukas mere*mas kuat lembaran foto yang ada di tangannya. Hatinya cukup kecewa karena wanita yang cukup ia percaya selama ini hanya berpura-pura manis di hadapannya. Dengan hati yang cukup luka, ia berjalan ke tepian rel kereta untuk menenangkan pikirannya. Lembaran foto itu ia lempar ke atas rel. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit saat melihat kemesraan Lana bersama dengan pria lain.


***


“Aku sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Lana sambil melekatkan dahinya di dahi Lukas. Wanita itu mengatur napasnya yang sempat terputus-putus karena terlalu lama mencium Lukas. Sedangkan Lukas hanya diam membisu. Bahkan ia tidak membalas ciuman atau pelukan Lana saat itu.


“Lukas, apa aku boleh mengatakan sesuatu?” ucap Lana dengan tatapan mata yang sangat tajam.


“Katakan,” jawab Lukas cepat. Ingin sekali ia menembak Lana lagi detik itu juga. Tapi, hatinya masih bersabar. Ia tidak ingin berbuat ceroboh sebelum memergoki wanita itu secara terang-terangan.


“Aku mencintaimu, Lukas,” ucap Lana dengan nada yang sangat pelan. Wanita itu menatap wajah Lukas dengan seksama.


“Apa kau ingin bermain-main lagi dalam keadaan seperti ini, Lana?” Lukas menatap wajah Lana dengan seksama. Hatinya memang akan merasa sangat bahagia saat mendengar kalimat yang diucapkan Lana. Tapi, semua sirna bersamaan dengan bukti foto itu.